Hadiah Dari Langit

Bismillah

Ini adalah kisahku ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Aku tak habis pikir. Ini terlalu ajaib dan menakjubkan. Apakah itu? Ehem... Ehem... Ehem... Bukan apa-apa sih sebenarnya tapi cukup membahagiakan sekaligus menakutkan. Silakan baca sendiri~


~ Part 1
Adzan shalat Isya berkumandang, aku dan adik kesayanganku yang biasa kupanggil Teru bergegas menuju masjid di depan rumah. Kami berjalan kaki sekitar 3 menit. Alih-alih mendengarkan adzan, Teru malah berlari-lari di sampingku dan bergerak ke sana ke mari (-_-)' kadang-kadang dia malah mengagetkanku dan berkata, "Kak Maya awas ada mobil!" padahal tidak ada kendaraan yang nyelonong sembarangan.

Aku berdecak sambil mengerutkan dahi, "Ehh, Teru jangan main-main donk. Ini juga lagi adzan, jangan sembarangan ngomong." Teru menimpali perkataanku dengan ketawa yang lebih tidak jelas lagi. Aku hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tiba-tiba saja, sesuatu terjadi.

Bukkk!!
Sesaat aku terperangah antara kaget bercampur takut. Setelah dia terlihat baik-baik saja, tawaku lepas, "Hahaha, ada apa denganmu Teru?" Dia tersenyum kecut. Teru menghantam mobil yang terparkir di depannya. Di bawah sinar rembulan, muka teru terlihat seperti kepiting rebus. Dia salah tingkah. Hahahaha lucunya~

~ Part 2
Masih di malam yang sama, sepulang tarawih, aku dan Teru berjalan pulang beriringan. Tiba-tiba saja, aku tersandung kerikil. Keseimbanganku goyah~ hampir-hampir jatuh, aku tetap berjalan melangkah seperti orang aneh nan pincang. Melihat hal itu, spontan Teru tertawa keras, "Ada apa Kak Maya? Kenapa cara jalannya bodoh sekali?"

Setelah keseimbangan kudapatkan kembali, aku pun tertawa lepas dan berkata, "Ckckck, masa tidak tahu?! Itu cara jalan orang jenius. Tadi aku hanya mengetesmu saja!"

Tidak terima dengan alasanku, Teru malah tertawa lebih keras. Sedetik kemudian, srettt! bukk! teru pun tersandung kerikil. Dia berusaha mempertahankan keseimbangannya sambil mulutnya komat-kamit, "Aduh.. Aduh.. Aduh.." Refleks, aku tertawa dan berkata, "Hey, cara jalanmu lebih bodoh lagi tuh!"

Tiba-tiba ada motor menderu kencang di samping kami. Aku langsung menggenggam kedua lengan Teru dengan erat. Kami bertatapan. Kami sadar, sesuatu terjadi. Tanpa ba bi bu lagi, kami langsung berlari menuju ke rumah. Ketakutan~

~ Part 3
Kami menceritakan hal ini kepada saudara-saudara kami yang lain. Yudi manggut-manggut menyetujui, apalagi ini berkah sepuluh malam terakhir Ramadhan, katanya. Rahmat yang kala itu duduk di sampingku hanya senyum-senyum tipis. Dia setengah tertawa tidak percaya, "Kak Maya, ada hal yang lebih penting." Aku menatapnya lurus, "Apa?"

"Kenapa ada peluru di dahinya kakak? Ha-ha-ha-ha-ha"

"Eh?" Aku menyentuh dahiku dan menyadari peluru yang dia maksud adalah jerawatku yang sebesar peluru bb airsoft gun. Serta merta aku memukulnya gemas sampai dia minta ampun.

Esoknya, wah wah jika alurnya seperti ini~ mudah ditebak kan apa yang terjadi selanjutnya? Iya, benar sekali. Aku melihat Rahmat dan tersenyum cengengesan, "Habis digigit sama vampir ya, adikku? Hihihihi."

Rahmat menggangguk dan menautkan alisnya, menyadari di pipinya ada dua jerawat seukuran peluru bb juga yang saling berdekatan. Aku mengusap-usap kepala Rahmat, "Makanya jangan sembarangan bicara."

Sangat keren. Benar-benar hal yang ajaib. Apa yang ditanam, beberapa detik kemudian, sudah bisa dirasakan apa yang dipetik. Ya Allah... Masya Allah.. Tabaarakallahu Ta'ala. Semenjak itu, aku dan adik-adikku selalu menjaga ucapan dan tindakan kami. Tidak tidak lagi deh~ 

Itu adalah hadiah terindah dari langit untuk kami ^^


*Ramadhan 1432 H

6 comments:

  1. Jadi "hadiah Dari Langit" itu jerawat ya?? hhaha,,
    =))

    ReplyDelete
  2. Elfira >_< tahu ajaaaaa~
    =)) jerawat itu perhiasan wajah kan ^^

    ReplyDelete
  3. Haha.. Membacanya sambil terus menahan tawa..
    :D
    Like it!

    ReplyDelete
  4. @Bianglala Basmah
    Basmah, xixixixixi >_< pelaku utamanya saja yang saya suruh baca ternyata ketawa ngakak :D lucunya~

    ReplyDelete