Bismillah

Seratus Cinta Gamazoe
Award : Seratus Cinta Gamazoe

Cobalah untuk meraih angka 9. Angka ganjil dan baru akan sempurna menjadi sepuluh jika kamu menambahkan angka satu. Yah, senantiasa jadilah angka 9 yang tak henti untuk menambah angka 1 dengan belajar dan terus belajar. Hingga kamu lupa dengan angka sepuluh yang sedang kamu kejar. Sebab adakalanya kita enggan belajar kembali manakala telah merasa angka sepuluh sudah ada di genggaman kita.
(Dhenok Habibie - http://gamazoe.wordpress.com)


Alhamdulillah... Tabaarakallahu Ta'ala...
Suatu hari dapat kabar ceria di blogsphere dari seorang gadis manis berdarah Palembang. Cek per cek, ternyata dapat Award. Hihihihi ^^ Award emang nggak ada matinya =D selalu membuat ceria bagi penerimanya. Seperti perasaanku saat ini. Yei \(^_~)/ sesuatu sekali kan?

Ini adalah Award : Seratus Cinta Gamazoe. Dhe memberikannya sebagai rasa terima kasih untuk semua cinta, hadiah, pengalaman, persahabatan dan semua warna-warni indah yang sudah dirasakan bersama. Lalu ada beberapa kategori pemberian Award. Dan aku termasuk kategori Blogger Hebat yang Sudah Ngasih Award dan Hadiah. Eh, benarkah? Sebenarnya aku mau protes Dhe, rasanya aku masih belum pantas dibilang blogger hebat. Takutnya kalau kedengaran blogger lain, aku malah ditimpuk sepatu. Ahahahaha ^^ tetapi yaaahh MasyaAllah, dhe ini tahu saja cara membuat hati cenat-cenut. Syukran wa jazakilahu khair yaa ukhti.

Siapa yang mau Award ini? Huhuhu, maaf ya, ini bukan Award Berantai jadi tidak bisa kuberikan tongkat estafetnya. Coba deh berkunjung ke blog Gamazoe, siapa tahu bakal dapat Award juga. Ehem, segitu saja cerita hari ini. Sudah ya!

..:: salam award ::..
View Post
Bismillah

Tak pernah aku memikirkan akan bertemu monster sebelumnya. Memangnya siapa sih yang pernah? Hehehe maka dari itu, menurutku pertemuanku dengannya spesial. Ini adalah cerita tentang dia, sesosok monster yang kuat dan romantis di langit blogsphere, kunamai dia, monster matahari.

Aku berkunjung ke dunianya sejak Oktober 2011 silam. Waktu itu aku lebih suka menjadi pembaca tanpa jejak, mengamati dari jauh dan meraba-raba bagaimana pribadinya. Tahu tidak, dengan begitu saja sudah membuatku penasaran ingin mengenalnya lebih dekat. Apalagi kami memijak tanah yang sama, tanah Anging Mamiri. Dua bulan kemudian, Alhamdulillah doaku terkabul. Dengan berbinar aku melihat pesan offline yahoo messenger berisikan nomor ponselnya. Tanpa basa-basi segera kulayangkan sms.

Tringgg...!! 1 New Message.
Maya, namamu sudah tersimpan di HP ini loh! Ternyata kamu temennya adikku ya?

Aku terbelalak, kaget. Loh? Tunggu, memangnya aku seterkenal itu? Apa aku selebritis? Tapi kok aku nggak sadar ya? Ahahahaha, gubrak! Ehem, intinya dunia ini memang hanya selebar kelopak mawar. Percaya atau tidak, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua terjadi untuk sebuah alasan. Hanya saja, yang tersulit adalah menemukan apa gerangan alasan tersebut.

Faktanya, aku memang mengenal baik adik perempuannya yang satu forum denganku. Semenjak itu, aku pun dengan mudah mendapatkan informasi akurat tentang dirinya. Dataku pun semakin bertambah dari hari ke hari. Hingga aku merasa, kehidupan maya sudah tidak cukup lagi bagi kami. Aku harus keluar dari ilusiku dan menampakkan betapa nyatanya diriku di hadapannya. Pertemuan demi pertemuan pun dirancang. Qadarullah wa Masyaa Fa'ala, takdir benang merah di kelingking kami belum tersambung. Ada-ada saja alasan batalnya pertemuan perdana kami.

Aku tahu, dia sosok yang memukau. Dia pernah mengatakan sesuatu yang membuatku memikirkan kalimat itu sehari semalam. Ketika aku mengidap penyakit demam komentar, tanpa ragu dia hadir dan membantuku sembuh. Secara jelas, dia menuntunku untuk melihat sisi lain diriku.

"May, kamu membangun karakter yang membuat orang penasaran sekali sama dirimu!"

Kalimat itu menerobos masuk ke ruang pikirku dengan cepat. Benar-benar seperti dimakan monster, aku kehilangan kekuatan. Ya Allah Ya Rabb, bahkan yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan asa berupa butir-butir bening dari muara mataku. Hampir sebulan aku mencari jawaban untuk suatu hal yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Subhanallah, aku beruntung di sisiku ada akhwat pejuang, kakak bermata cokelat dan burung pipit yang memegang diriku agar tidak tenggelam dalam kebodohan.

Kenapa orang lain selalu punya konsep ideal tentang bagaimana seharusnya diri kita?

Well, kalimat kedua darinya yang menggodok alam pikirku. Aku sadar, setiap pribadi itu unik. Hanya saja, terlalu banyak interuptor yang ingin mengendarai hidup kita. Aku tersenyum sendiri. Aku tahu, aku tidak bisa mengubah pikiran orang lain tentangku, tidak bisa membuat orang lain memiliki pikiran yang sama denganku, apalagi memintanya untuk berhenti mengagumiku. Susahnya itu seperti meminta matahari untuk tidak bersinar walau hanya sekejap mata. Allahu Akbar, memangnya aku punya daya apa?

Suatu siang, aku iseng mengirimkan sms padanya. Aku katakan, aku ingin sekali bertemu. Tak lama, dia membalas bahwa dia lagi kosong sehingga kita bisa bertemu sekarang. Aku terlonjak dari tempat tidur. Aku belum mandi, belum siap-siap, belum ngapa-ngapain, argh~ sedikit kagok, aku langsung bergerak secepat kilat. Ini gila, pertemuan lalu-lalu yang sedemikian rupa direncanakan malah batal, lalu saat ini? Benar-benar suatu keajaiban, Tabaarakallahu Ta'ala, aku bersama Fatih sudah berada di tempat pertemuan (Karebosi Link - Makassar Trade Centre, red) yang tidak jauh dari kantornya, menunggu kehadirannya.

Putri Cahaya? Tidak menyangka, akhirnya kita bisa bertemu juga

Aku menganga. Bukan karena aku bisa melihat wajahnya secara nyata, melainkan ugh kenapa harus manggil Putri Cahaya sih? Rasanya tuh wajahku seperti terbakar matahari saking meronanya karena menahan malu. Segera aku sambut dirinya dengan senyuman dan genggaman tangan. Melihatnya yang sama sekali tidak grogi, membuatku tersipu untuk kedua kalinya. Tidak tahu ya, tiba-tiba saja aku grogi. Habisnya, dia berucap rupanya aku sedikit berbeda dari gambaran yang terpampang di kepalanya.

Buku Kemilau Cahaya Emas dan Negeri 5 Menara

Dia sosok yang begitu dewasa dengan pembawaan yang riang. Beda sekali jika mengamati di dunianya yang terkesan penuh kegalauan. Aku bahkan sangsi apakah dia benar-benar pernah merasa resah dan gelisah. Iya sih, dia itu seperti mengatakan setiap hal yang terlintas di pikirannya, lugas dan jujur. Sosok yang apa adanya. Banyak orang yang mengatakan dia egois dan sombong karena berprinsip menyukai apa yang dia sukai dan menganggap lalu apa yang tak dia sukai. Namun, kok aku malah suka ya?

Yaa, daripada orang yang tidak punya prinsip dan selalu plin-plan dengan omongan orang-orang di sekitarnya? Sosok yang berdiri tegak di atas kakinya sendiri menurutku sangat keren. Dia begitu menghargai eksistensi tiap-tiap pribadi. Lebih mengedepankan perkara yang membuat hati nyaman dibanding perkara kasat mata. Dengan mantap, aku bisa menjamin kebaikan hatinya.

Buktinya, dia membeli buku Kemilau Cahaya Emas langsung dari penulisnya loh. Ahahaha, promosi terselubung. Selain itu, dia juga mentraktirku makan pizza dan akan meminjamkan buku Negeri 5 Menaranya. Itu berarti akan ada pertemuan kedua, ketiga dan selanjutnya untuk kami InsyaAllah. Syukran wa Jazakillahu khair. Aku seperti diberi keberkahan terus menerus hari itu, MasyaAllah. Aku benar-benar senang bisa bertemu dengan Monster Matahari.

Kenapa monster? Bisa jadi karena monster itu pembuat masalah, sering hilang kontrol dan tidak bisa mengatasi dirinya sendiri. Seperti itukah sosoknya? Ehem, setidaknya pengakuannya seperti itu. Kalau untukku, dibanding monster sebenarnya aku lebih pengen menyebut dirinya peri matahari tapi ihh masa aku dibilang error karena sebutan itu? Ahahaha~ Memang error sih, habisnya emang ada monster yang cantik? Bagiku dia cantik. Kamu cantik... cantik... dari hatimu.

Dia bernama Syam Matahari. Pemilik resmi Rumah Matahari. Baru kali ini aku bercerita detail tentang seseorang. Apalagi sampai pasang foto #disuruh pasang sih, katanya suka sekali. Suka. Suka. Suka. Aku tahu, pasti karena bukunya kan? Tidak, jangan kubur aku hidup-hidup! Aku mengaku, aku juara 2 keren. Juara 1 diambil alih olehnya. Hahaha, sesuatu sekali kan?

Foto tumpukan buku di atas itu jepretannya loh. Kalau foto yang di bawah ini udah diset terlebih dahulu lalu tinggal aku jepret. Hohoho, keren kan? Memang, soalnya selain Rumah Matahari ada juga Photos365 miliknya, pecinta foto gitu loh. Aku juga sempat difoto dan serius aku terlihat w-o-w di foto itu. Tapi maaf saja, foto itu konsumsi pribadi. Eh? Lagi-lagi aku membuat karakter yang bikin penasaran ya? *Jleb. Dilarang keras penasaran...!

Syam Matahari

Lalu bagaimana kesan Monster Matahari setelah bertemu Putri Cahaya? Bener nih, aku mau protes! Masa aku dibilang anak kecil yang hiperaktif? Er-rr, luar biasa. Mana ditambahin kata-kata aku ini pecicilan, calleda dan tukang ketawa nggak jelas...(?!) Huhuhu, image apaan itu? Ya Allah... #pingsan.

Apa hal yang paling kamu banggakan dari dirimu?

Itu tanya terakhir, ketika aku bersama Fatih mengantarnya ke tempat dimana dia akan bertemu dengan temannya lagi. Aku tertegun, tidak bisa menjawab. Lalu saat aku mengajukan pertanyaan yang sama padanya. Dengan sigap, dia menjawab, "Percaya diri. Bagaimanapun kondisiku, aku bisa membuat orang lain menerimaku apa adanya."

Aku mengangguk, Subhanallah, terpesona dengan ketegasan dan kekuatan hati yang dimilikinya. Giliranku menjawab. Aku menggigit bibir bawah dan mengerutkan dahi. Ahh, aku masih belum menemukan jawabannya.


Makassar, Maret 2012
Jumadil Awal 1433 H

View Post
Bismillah

Suatu petang, denting bel di rumah Plop Petok berbunyi. Tergesa-gesa Plop Petok membuka pintu dan sedikit kaget melihat Plop Bubble dan Plop Dido tersenyum cengengesan. Plop Petok langsung memberikan pelukan untuk kedua teman yang sudah dua tahun mengarungi asam, manis dan pahit getirnya masa sekolah.

"Ini untukmu. Sudah ya!" Tutur Plop Dido seraya menyerahkan secarik kertas pada Plop Petok. Plop Dido dan Plop Bubble memutar punggung lalu beranjak pergi.

"Apa?! Jadi alasan kalian kemari hanya untuk kertas ini...(?)"

Love Letter ~ Original picture was from here

Plop Bubble menjulurkan lidahnya, "Iya! Jangan terlalu serius, nanti kau cepat botak! Ahahaha." Plop Dido ikut tertawa cekikikan di sampingnya. Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah tidak kelihatan lagi dari pagar rumah. Tinggallah sendiri Plop Petok yang menautkan kedua alisnya.

"Yang benar saja, kebotakan lazimnya hanya berlaku bagi para pemikir bergenre laki-laki. Nah, untuk perempuan itu sendiri, tidak akan botak tapi beruban. Huh!" Keluh Plop Petok seraya membuka kertas di tangannya. Dia membaca dan terhanyut ke dalamnya.


Tujuh Belas Kata Mutiara
  1. Teman adalah orang yang peduli padamu dan menunjukkannya.
  2. Teman adalah keluarga yang kau pilih.
  3. Akan selalu ada orang yang menyukaimu dengan alasan yang salah. Temukanlah mereka yang menyukaimu apa adanya.
  4. Waktu terbaik untuk berteman adalah sebelum kau membutuhkan mereka.
  5. Pilihlah temanmu dari karakternya dan kaus kakimu dari warnanya. Memilih kaus kaki dari karakternya tidak masuk akal dan memilih temanmu dari kaus kakinya tidak masuk akal sama sekali.
  6. Banyak orang yang akan ikut naik limousine bersamamu, tapi yang kau inginkan adalah orang yang akan mau naik bis denganmu.
  7. Ketika kau punya masalah, temanmu tidak akan bilang kau harus bagaimana, ia hanya akan mengatakan hal-hal yang membantumu mengambil keputusan yang tepat.
  8. Teman sejati adalah ia yang untuknya tidak ada yang tidak akan kau lakukan.
  9. Banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupanmu, namun hanya teman sejati yang akan meninggalkan jejaknya di hatimu.
  10. Anugerah yang bisa kau dan temanmu miliki adalah penilaian bahwa tiap-tiap dari kalian adalah yang terbaik.
  11. Sesekali kau butuh menangis dan menapakkan kakimu. Kau butuh seseorang yang berkata, "Apa kau baik-baik saja?"
  12. Seorang teman akan mendengar irama dalam hatimu. Lalu memainkannya untukmu ketika kau lupa.
  13. Saran yang kau minta dari temanmu seringkali merupakan sesuatu yang kau sebenarnya tahu, tapi kau mengingkarinya. Seorang teman bisa mengatakan padamu hal-hal yang tidak ingin kau katakan pada dirimu sendiri.
  14. Teman, kau sekuat yang kau inginkan. Yang tersulit hanyalah membuat langkah pertama.
  15. Dengan otak di dalam kepalamu dan kaki di dalam sepatumu, kau bisa membawa dirimu ke arah mana pun yang kau pilih.
  16. Untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar berharga, terkadang kau harus kehilangan segalanya.
  17. Milikilah rasa percaya diri yang jauh lebih besar dari rasa tidak percaya orang padamu.


Plop Petok tertegun. Dia tersadar, hari ini usianya genap tujuh belas tahun. Senyum mengembang di wajahnya. Plop Petok mengambil handphone dan segera menekan tuts angka. Dering panggilan menunggu pun terdengar. Setelah tersambung, Plop Petok berujar, "Hey, cara kalian mengingatkanku sukses besar loh! Jadi mau ditraktir dimana?"

"Gyahahaha. Besok saja! Soalnya kami lupa membawa enam belas benda lain yang menyertainya."

*Gubrak!


Makassar, Oktober 2006 silam
----- Aku merindukan kalian -----


View Post
Bismillah


Ubai bin Ka'ab Radhiyallahu'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam pernah shalat Subuh, kemudian berkata, 'Apakah kalian menyaksikan bahwa si Fulan shalat?' Mereka menjawab, 'Tidak'. Beliau berkata lagi, 'Si Fulan?' Mereka menjawab, 'Tidak'. Maka, beliau pun berkata :

"Sesungguhnya dua shalat ini (Subuh dan Isya') adalah shalat yang berat bagi orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat Subuh dan Isya' maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak."

(HR. Ahmad dan An-Nasa'i)
View Post
Bismillah

Langit Biru *) Dari jendela pesawat terbang

Suatu siang di musim panas, peri cahaya tengah asyik memainkan sinar teriknya untuk bumi. Tiba-tiba angin berhembus membawa segumul awan putih. Terpesona dengan langit yang berhias nuansa biru putih, peri cahaya tidak menyadari kedatangan peri langit.

"Ehem... Aloha!" Peri langit membuka percakapan.

Peri cahaya terlonjak. Nalarnya beraksi, kenapa peri langit datang ke istananya? Peri cahaya mengerutkan kening, berpikir. Menangkap kecemasan itu, lekas peri langit tersenyum, "Alasanku berkunjung untuk membicarakan masa depanmu."

"Eh?"

"Entah kenapa, akhir-akhir ini aku kepikiran tentang dirimu dan peri bumi. Aku pikir kau sangat cocok dengannya. Tingkahmu yang polos dan ceria bisa menghidupkan jiwanya yang sunyi. Tidakkah kau pikir kalian begitu serasi?"

Pupil mata peri cahaya membesar, "Apa kau lupa? Dia peri bumi, pribumi loh, seorang manusia. Aku bahkan tidak tahu dia mengenalku atau tidak. Serasi bagaimana?" Tanda tanya besar muncul di kepala peri cahaya.

Peri langit berkata lembut, "Musim panas setahun silam, saat kau tinggal di bumi, aku pernah menanyakan padamu, 'Bagaimana sosok yang bisa memalingkan duniamu?' lalu apa kau masih ingat apa jawabanmu?" Melihat peri cahaya yang perlahan menggeleng, peri langit meneruskan bicara, "Kau bilang, 'Aku sangat penasaran dengan sosok berkacamata' sim salabim, peri bumi yang notabene pakai kacamata tiba-tiba melintas di hadapanmu. Sejak detik itu, aku merasakan adanya benang merah di antara kalian."

"Kejadian satu tahun yang lalu? Benarkah itu?" Peri cahaya menganga kebingungan.

Setengah menjerit, peri langit berseru, "Tentu saja benar! Aku mengingat setiap senti detailnya. Kau tahu, empat musim berganti tapi tak sekalipun aku mengganti posisi dia dengan orang lain sebagai sosok yang pantas mendampingimu. Musim panas setahun lalu itu memang aku begitu menggebu selaksa bara api yang melahap kayu ketika memikirkan kalian. Sampai datangnya musim gugur yang membawa daun kecemasan, aku sadar ternyata kalian berbeda. Musim dingin pun membekukan keinginan terdalamku untuk menyatukan kalian. Namun, aku tak menyerah. Musim semi tiba dan memekarkan bunga harapan untuk kalian. Kini, musim panas datang kembali dan aku pun tak ragu mengutarakan hal ini padamu."

"Tunggu, kau berpikir terlalu jauh. Aku sungguh bisa memahami begitu besar perhatianmu pada masa depanku. Tapi, ini... aku... hmm... "

"Peri cahaya, kau tahu cara terbaik meramal masa depan?"

Peri cahaya merona, "Ya, dengan menciptakannya."

"Tepat."

"Ta-ta-tapi..."

"Aku tidak mau mendengar kata tapi. Maaf telah bersikap lancang. Setidaknya, hargailah keberadaannya. Tolong masukkan dirinya dalam pikiranmu. Bisa kan?"

Peri cahaya bergeming, membisu. Peri langit menggenggam tangan peri cahaya, "Kuanggap diammu sebagai jawaban iya." Kemudian peri langit pun berlalu pergi meninggalkan peri cahaya yang amat kusut dengan pikirannya.

Helaan nafas peri cahaya membuat kilauan sinar bertaburan. Peri cahaya membaringkan tubuh, membiarkan dirinya bersatu dengan langit membentuk langit yang bermandikan cahaya.

Hey, peri langit tidak tahukah dirimu? Pertemuan pertama antara aku dan peri bumi bukan terjadi satu tahun yang lalu melainkan hampir enam tahun yang lalu. Waktu itu -selama musim semi- aku yang masih belia dan tidak tahu apapun datang ke bumi untuk menimba ilmu. Sosok peri bumi yang tenang, serius dan tidak banyak bicara langsung menarik hatiku. Seingatku, aku bahkan tidak pernah berani mengajaknya ngobrol. Jangankan ngobrol, bertemu muka pun aku tak kuasa. Aku sepenuhnya mengerti, dia hanya menganggapku sebagai peri kecil di langit yang tak terjangkau. Terlalu banyak beda yang merusak keinginanku untuk berharap lebih. Sekarang aku memang bukan peri kecil lagi tapi sungguh aku tak pernah memikirkan hal-hal seperti ini terjadi.

Peri cahaya memejamkan mata sejenak lalu bangkit berdiri. Kedua tangannya memukul-mukul pelipis kepalanya seakan ingin menghalau serbuan pikiran menyesakkan. Tak pernah terpikirkan olehnya, peri cahaya di istana matahari bisa memiliki peluang untuk bersatu dengan peri bumi di istana pertiwi. Apa jadinya ya? Bumi yang bercahaya?

View Post
Bismillah

Suatu siang yang terik, otakku benar-benar memanas usai mengitari fitur tercanggih calon teknologi komunikasi generasi ke empat. Aku mengerutkan kening ketika ketua kelas mengumumkan bahwa dosen untuk kuliah berikutnya sudah dalam perjalanan menuju ruangan ini. Itu artinya -kurang dari lima menit- aku harus siap bergumul dengan buku dan pena lagi. Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan waktu dhuhur. Aku melirik ketua kelas dan rupanya dia langsung paham maksudku, "Iya, tidak apa. Izin shalat saja dulu." tukasnya pelan.

Aku beranjak dari kelas bersama seorang kakak, teman kuliah yang begitu sabar menghadapi tingkah kekanakanku. Kami melangkah beriringan ke arah WC (water closet, red) untuk mengambil air wudhu. Aku memaku pandangan ke lantai. Setengah berbisik aku berucap, "Semakin hari, semakin banyak hal yang harus dipikirkan ya Kak. Ng, sebegitu sulitnyakah menjadi dewasa?" Tak ada jawaban. Kakak terdiam di sampingku. Melihatnya termenung, aku pun tidak bertanya ulang dan memilih ikut diam.

"Maya, mau masuk duluan?" tanya kakak sesaat setelah berada di dalam WC. Aku meresponnya dengan anggukan manis dan langsung menghambur ke dalam kloset. Br-rrr, benar-benar sensasi yang menyegarkan ketika air menyapa kulitku. MasyaAllah. Rasa lelah dan penat seakan menguap entah kemana. Ketika keluar dari kloset, kakak menyambutku dengan senyum tertahan. Eh?

"Maya, tolong peluk aku."

Gimme a Hug ~ Original picture was from here
Tanpa perlu diminta dua kali, aku serta merta membuka kedua lenganku. Aku membiarkan kakak mengalungkan lengan ke bahuku dan membenamkan wajah ke pangkal leherku. Tak elak lagi, pelukan balasan dariku pun langsung kuberikan. Sayangnya, tubuhku yang lebih pendek 15 cm dari kakak membuatku merasa luar biasa tidak berguna. Soalnya -ugh- mau bagaimana lagi, nyatanya ini sih aku yang dipeluk, bukan aku yang memeluk.


Hening merasuk di WC yang didiami oleh kami berdua semata. Satu-satunya kebisingan hanyalah dentingan detik di jam tanganku. Tak ada sepatah kata pun yang keluar. Aku bingung mau berkata apa. Aku hanya bisa mengelus punggung kakak, lembut. Perlahan, aku merasakan getaran kecil dan isakan mulai terdengar. Kakak mengeratkan pelukannya. Saat itu juga aku berharap aku membeku saja. Tidak hanya itu, aku bahkan menahan nafas. Aku tidak mau posisi berdiriku berubah, habisnya hal itu akan membuat kakak tidak nyaman. Sungguh, kalau aku bisa jadi penopang laranya, aku bersedia.

Pikiranku mendadak kosong. Tubuhku seakan melayang ribuan kilo dari tanah, terbang bersama kakak yang begitu dekat denganku. Derau nafas kakak menghembus pelan di telinga. Jujur, aku kehilangan akal. Lucu sekali, di saat seperti ini, memikirkan kata-kata mutiara saja aku tak sanggup. Mencari celah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi juga tak mampu kulakukan. Saking cemasnya, dengan sepenuh jiwa, hatiku hanya terus berdoa, Ya Allah Ya Rabb berikanlah kebahagiaan untuk kakak. Aku nelangsa, jika bisa aku mau menukar ceriaku dengan derita yang kakak rasakan saat ini. Bulir-bulir bening yang keluar dari pelupuk matanya sangat membuatku gundah. Selama ini kakak selalu menampakkan wajah cerah di hadapanku.

Aku tidak tahu berapa lama waktu berjalan. Yang jelas, ribuan tahun pun rasanya tidak cukup banyak untuk menakarnya. Akhirnya, selang beberapa menit kemudian kakak melepaskan pelukannya. Kakak mengambil tisu dan mengusap kelopak matanya.

"Maaf, kakak menangis di hadapan Maya. Benar-benar cengeng ya?"

Lambat-lambat aku menggeleng dan tersenyum, "Tidak cengeng. Kakak, jangan cemas. InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Ada Allah. Kakak pasti bisa melewatinya. Allah tidak akan pernah meninggalkan kakak. Allah tahu apa yang terbaik untuk kakak. Saat ini, Allah mau kakak lebih mendekatkan diri pada-Nya. Kakak, perbanyaklah sujud di keheningan malam."

Jantungku berdegup kencang melihat kakak sesenggukan lebih keras. Aku menggertakkan gigi sekuat tenaga, menahan tangis. Tiba-tiba saja aku tidak mau ikut menangis. Entah kenapa, setidaknya kali ini aku ingin tampil sebagai sosok yang kuat nan tegar. Kakak tersenyum merona lalu mengelus kepalaku.

Ketika kakak masuk ke kloset, tinggallah aku sendiri bergulat dengan pikiranku. Aku tidak bisa bohong dengan mengatakan aku tidak punya masalah atau tidak punya hal-hal yang sedang mengganggu pikiranku saat ini. Namun, tiba-tiba saja pelukan tadi mengurai semua keruwetan yang ada. Benar. Aku merasa bebas dan merdeka. Padahal tadi akulah yang seharusnya menerangi ruang hati yang gelap gulita tapi kok jadinya malah aku yang diberi cahaya semangat yang luar biasa...(?) Subhanallah!

Krek! Pintu kloset terbuka dan kakak keluar dari kloset. Mata kami beradu, suasana pun menjadi hangat. Kami lalu bersuka cita merapikan diri di depan cermin. Setelah tampak manis, kami bergegas keluar. Spontan, kakak menggenggam tanganku. Aku pun bergeming dan menatapnya lama. Kakak berseru cantik, "Ini rahasia ya."

Aku mengangguk. Kami pun segera menuju mushollah. Saat melewati ruang kuliah, kami hanya bisa melontar senyum sopan. Di tengah perjalanan, dengan satu tangan kakak merangkul bahuku dan berkata, "Terima kasih, Maya."

Aku terpukau. Tadinya kupikir hanya aku yang merasakan efek pelukan tadi. Hmm, aku menerka-nerka seberapa bebas perasaan kakak saat ini. Kuharap lebih besar dari apa yang kurasakan. Dunia ini unik sekali ya. Satu hal yang perlu diperhatikan. Jangan membawa beban dunia ini di pundakmu selama masih ada orang yang mau menerima sebagian beban itu, supaya kamu merasa sedikit lebih ringan. Bukankah itu yang namanya hidup berukhuwah?


Makassar, Maret 2012 Miladiyah.
Rabiul Akhir 1433 Hijriah.
View Post
Bismillah

Aduh,
susahnya punya hati
letaknya tersembunyi,
tapi geraknya tampak sekali

Makanya,
lebih baik punya istri
kalau tersenyum ada yang menanggapi
kalau berekspresi ada yang memahami
sikapnya lembut tak bikin keki
kadang malah memuji


          "Tuhan tak pernah ingkar janji,
          kalau terus menjaga diri,
          akan mendapat pendamping yang lurus hati."

Tapi kalau masih sendiri,
hati-hati bawa hati
kalau sibuk mencari perhatian,
kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan?
          bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan
          saat-saat tak terbayangkan

Adapun kalau sudah beristri,
jangan lupa mengingatkan
kalau ada yang dilalaikan,
tentang perkara yang disyari'atkan
tapi kalau ia memelihara kewajiban
ingat-ingatlah untuk memberi perhatian
jangan menunggu dapat peringatan

Karangmalang, 1 Maret 1997


*Kado Pernikahan : Kupinang Engkau dengan Hamdalah
Bagian [puisi] dari halaman akhir oleh sang penulis.
View Post