Si Dia, Pasca-Menikah

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Suatu siang, tanpa diduga, pikiranku tidak membiarkan kerongkonganku menelan makanan. Sekeras apapun aku mencoba untuk menggugah selera, sesuap nasi itu tidak jua bisa kunikmati. Kalut. Sedari tadi, aku hanya memainkan sendok yang bertengger manis di piringku. Sebenarnya aku niat makan nggak sih?

"Ada apa?" celetuk Kak Hera tiba-tiba.

Aku menatap ke sumber suara, kakunya wajahku terpaksa dipermak menjadi cerah. Kaget, aku bahkan tidak merasakan kehadiran kak Hera di meja makan.

Dengan lahap, kak Hera memakan santap siangnya. Selera super. Subhanallah, padahal dulu-dulu, sebelum menikah, dia nggak pernah tuh makan sekenceng itu. Sumpah, berat badannya pun nggak jauh-jauh dari kisaran 45 kg. Tapi coba lihat dirinya kini? Berat badan kami setara, euy! Bahkan aku ragu, mungkin aku lebih kurus darinya.

Malam Sebelum Akad Nikah - 22 Desember 2012

"Kak Hera..." aku membuka pembicaraan. Senyum simpul menghias bibirku, "Bagaimana rasanya setelah menikah? Apa ada yang berubah?"

Kak Hera menghentikan makannya. Dia mengedipkan mata lalu berkata, "Banyak!"

Wow! Aku terperangah mendengar jawabannya. Tidak kusangka, dia akan menjawab seceria itu. Perlahan tapi pasti, aku pun mulai terhisap dalam dimensi yang diciptakannya.

"Tahu nggak, May? Psikologis perempuan dan laki-laki itu bertolak belakang. Sebelum menikah, perempuan akan merasakan kecemasan yang bertubi-tubi, sedangkan laki-laki tidak pernah berpikir ke sana, mereka tipe yang easy going dan tenang. Nah pasca menikah, keadaannya berbalik."

"Cemas dalam artian apa?" tanyaku.

"Oh, come on Maya. You must be afraid of being alone forever. Kayak punya pikiran, aku bakal menikah nggak ya? Atau semacam, jodohku siapa sih? Bahkan sampai bilang, emang ada ya yang suka sama aku? Itulah cemas yang dimaksud. Paham nggak?"

Aku mengangguk. Sou, desu yo. Kadang-kadang bahkan sering kali, aku memikirkan hal-hal demikian. Ternyata faktor psikis toh. Hey hey, aku juga perempuan. Jadi tentu saja, aku tidak termasuk dalam pengecualian kecemasan.

"Pasca menikah, hati lebih tenang. Alhamdulillah. Aneh tapi fakta, aku sudah tidak peduli lagi dengan carut-marut di sekelilingku. Misal, ada berita-berita miring di rumah sakit atau kusutnya penelitian di mikrobiologi bahkan status-status gosip yang membahana di bbm atau facebook, I don't feel it anymore."

"Ya, iya. Kak Hera kan sudah punya dunia sendiri. Berasa dunia milik berdua kan?"

Kak Hera tersenyum dengan sangat manis. Asli. Ah, kakak perempuanku itu, benar-benar membuatku terinspirasi. Di antara The Zain Princess, dialah top of the top. Wajahnya cantik, otaknya brilian, akhlaknya santun dan kini sudah menyempurnakan separuh dien-nya.

Maasyaa Allaah, aku sangat-sangat bersyukur dijatuhkan di dunia teknik. Sehingga aku bisa melangkah tanpa dibanding-bandingkan dengannya, meraih jalanku dengan caraku sendiri. Begitu pula dengan Ulfa, adik perempuanku. Sungguh, memiliki dua orang kakak seperti kami, pasti akan sangat menekan alam bawah sadarnya.

"Bukan hanya itu, Maya. Pasca menikah, aura keibuan akan spontanitas muncul. Sekekanakan apapun seseorang, ketika telah menikah, dia akan tampak dewasa. Sikapnya sudah tidak meragu lagi, tidak akan segan-segan lagi dan yang terpenting, mampu mengungkapkan pendapatnya dengan bijak."

Aku melirik makananku, cepat-cepat kusendokkan sesuap nasi ke dalam mulutku. Tiba-tiba saja aku merasa harus makan. Mungkinkah aku sudah terprovokasi?

"Maya..." kak Hera merendahkan suaranya. Dia menatapku penuh kasih, "Sekarang giliranmu, May. Temukan pilihanmu sendiri. Sebenarnya lanjut sekolah ke Jepang, bukan ide yang benar-benar buruk. Yakin deh, tidak peduli seberapa jauh kamu akan pergi, kalau memang sudah takdir, kamu pasti akan menemukan jodohmu."

Aku tertawa. Luar biasa terima kasih kak Hera. Setidaknya beberapa beban yang ada di pundakku seakan terangkat. Lepas, diterbangkan asa dan semangatmu pasca menikah. Tabaarakallahu Ta'ala.

"Eh, May! Tertarik nggak, hidup didampingi oleh seorang dokter? Dia baik loh. Alim pula. Mirip-mirip Maya. Mau kukenalkan? Ah, tapi Maya kenal kok orangnya."

Hatiku tergelitik. Aku bertanya, "Siapa?"



Makassar, teruntuk putri pertama keluarga Zain.
Tanggal 04 Juli 2013 Miladiyah / 25 sya'ban 1434 Hijriyah.
Sepertinya aku mengerti, mengapa seseorang bisa gemuk pasca menikah.

30 comments:

  1. ehmm, smoga segra menyumpurnakan diennya may :)..insyallah biiznillah segara yah :), aamiin ya rabb

    ReplyDelete
  2. eheem.. siapa tuuh? hihihi..
    aku juga ngrasain yg dirasain kakaknya Maya. Setelah menikah tuh rasanya lebih tenang. Smoga Maya segera menyusul :)

    ReplyDelete
  3. Wah, sebentar lagi sebar undangan nih. Semoga segera bisa menggenapkan separuh dinn-nya :)

    ReplyDelete
  4. Subhanallah, ceritanya bikin cepet2 nikah..
    hehehhe.. Semangat juga buat mbak Maya, semoga lekas bertemu jodoh.. aamiin :)

    ReplyDelete
  5. aku juga tergelitik dan menanti jawaban..siapakah dokter itu...sekaligus menunggu kapankan undangan walimah-nya beredar...bulan may....may be yes may be no.....iya kah May :-)

    ReplyDelete
  6. Ciyee Kak Maya.. ^^ Anak orang hebat, bibit bebet bobotnya sekeluarga baik semua, duuuh betapa sempurnanya keluarga Kak MAYA ZAIN...

    ReplyDelete
  7. hmm... kisahnya mulai mengerucut ya dek..

    smoga pilihannya yg terbaik.. aamiin

    ReplyDelete
  8. antek sama ana' fk..perpaduan yg mantap tuh..hehe

    ReplyDelete
  9. Wah siapa tuh yang mau dikenalkan sama kak Hera mbak Maya? Penasaran sendiri jadinya.

    Ane sependapat dengan kak Hera, kaum hawa setelah menikah biasanya tenang. Berbanding terbalik dengan kaum Adam.

    ReplyDelete
  10. My beloved Mayakuw..
    Allah sudah menyediakan pangeran baik hati untuk Maya yang baik hati, 50.000 tahun sebelum langit dan bumi dicipta-Nya..Hanya menanti waktu terindah, for u and for him, untuk berkalam,
    Kun fayakun..
    So, satu gelar lagi yang harus May kejar, Ath-Thayyibaat...

    ReplyDelete
  11. Aaaamiinn..semoga yang terbaik untukmu adikku

    ReplyDelete
  12. Ciiieee...
    tuit tuiiittt...

    sapa kak? sapa? kenalin dong :p

    undangan jangan lupa undangan. hhaa..

    ReplyDelete
  13. hmmm, kira2 kalau aku menikah nanti apa yang berubah ya? hihihi :p

    ReplyDelete
  14. iya, aku meng-gemuk after married...
    belom nyampe 3 bulan udah naek hampir 5 kilo Alhamdulillah... *lap keringet yg ga netes

    Semoga dimudahkan nyusul si kakak ya May ;)

    ReplyDelete
  15. cieee cahayaku x)
    undangan wajib kudu ya kakak cantik :*

    ReplyDelete
  16. Sepakat dengan kanda Muhyina..

    ReplyDelete
  17. setelah menikah banyak kaum wanita yang menyepelekan singsetnya tubuh, karena mereka pikir toh saya sudah laku...hehehe

    wah dokter yang baik dan pastinya bersih, putih dan ganteng tuh may...udah hajar azh....hehehe

    ReplyDelete
  18. semoga kak Maya mendapatkan yg terbaik buat kak Maya.
    :)

    ReplyDelete
  19. hahahaa.. yund.. tau ga dulu aku mupeng banget dapet jodoh dokter hafid (dokter yang hafal alquran), tapi kayaknya limited edition yang kaya gitu.. ujung2nya dapet dokter hafid juga (dokter cinta yang orangnya mengayomi banget) hihihihii.. semoga jodoh may makin dekat.. amiin.. bener kata hera (pengalaman dari yg sama2 sudah menikah) :D

    ReplyDelete
  20. siapa? siapa? DOng ... ? #duduk nunggu cerita

    ReplyDelete
  21. Siapapun dia ikutan ngikik...
    kira2 mau gak dia diajak ke Jepang sma Mbak Maya? :D

    ReplyDelete
  22. yaya,, siapa tuh pak dokter? :p

    ReplyDelete
  23. ciyeee, seorg dokter ya?
    setuju deh... ^_^

    ReplyDelete
  24. assalamualaikum, link sobat sudah saya pasang dengan rapi di blog saya,, silahkan di cek..http://dennyaby321.blogspot.com/
    pasang link saya juga ya sob.

    ReplyDelete
  25. assalamu'alaikum may..beberapa tahun diteknik qt blum sempat bertemu yah.. pdhal dlu semasa sd qt srg bgt main bareng drumahmu yg banyak mainan kerennya, hihihi

    ReplyDelete