Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah. Tabaarakallahu Ta'ala.
Event Penulis Tamu Kemilau Cahaya Emas, aku nyatakan selesai. Terima kasih tak terkira untuk teman-teman yang sudah memenuhi undangan menulis di blogku dengan suka cita. Tulisannya bener-bener gyaboo! Masya Allah, suka suka suka. Inilah dia, para penulis tamu tersebut :



Sebelumnya, aku selaku admin Kemilau Cahaya Emas meminta maaf sebesar-besarnya atas segala khilaf dan kekurangan yang terjadi selama penayangan tulisan para penulis tamu. Sungguh, kalau ada kesalahan, itu benar-benar nggak disengaja. Eh, ada juga sih yang disengaja, sedikit. Fufufu~ Yang terpenting, maafkanlah diriku ini yang hanya manusia biasa. Nobody 's perfect, guys! Ano, atashi wa hontou ni gomennasai.

Nah, sebagai rencana lanjutan dari Event Penulis Tamu ini, Insya Allah aku akan membukukan semua tulisan para tamu di blog Kemilau Cahaya Emas. Sebut saja, Proyek Buku Penulis Tamu Kemilau Cahaya Emas. Rencana awalnya, akhir bulan September 2012 ini, aku pengen bukunya udah jadi.

Namun Qaddarullah wa maasya fa'ala, ternyata aku nggak sempat merampungkannya dengan cepat. Yang keburu hanya mengedit dan menayangkan seluruh tulisan tersebut di blog. Now, my time is running out. Alhasil, aku akan menggarap buku antologinya di awal tahun 2013 Insya Allah. Mohon pengertiannya. Dan jangan memaksaku mengerjakannya dengan tergesa-gesa. Ok? Aku bakal mengusahakan yang terbaik kok, eventhough I need more time to do it.

Proyek Buku
Proyek Buku Penulis Tamu - sumber gambar

Warning! Bagi para penulis tamu, mohon perhatian! Tulisan tamu yang akan aku bukukan adalah tulisan hasil editanku yang terpajang di blog Kemilau Cahaya Emas. Begitu pula dengan biodata penulisnya. Bila ada yang kurang sreg atau kurang berkenan, silakan mengubahnya lalu mengirimkannya kembali ke email admin@nurmayantizain.com. Aku tunggu revisinya sampai akhir bulan Desember 2012. Bagi yang tidak merespon berarti aku anggap tulisannya sudah sah untuk kubukukan.

Well well well, I'm waiting for you.
But not for forever.

Terakhir, ucapan terima kasih tak kalah besarnya untuk teman-teman blogger yang selalu setia setiap saat menemaniku. Siapa, katamu? Ya, kamu! Aku tahu akhir-akhir ini aku jarang banget me-reply komentar dan hanya sesekali blogwalking. Berasa deh kayak orang paling sibuk sedunia. Tapi walau begitu, teman-teman tetap berkunjung ke blogku. Huhuhu, aku terharu. Terima kasih banyak! Hontou ni arigatou gozaimasu! I really appreciate that!

Nah, sudah dulu ya!
Kalau bukunya sudah terbit, aku nggak ngasih gratisan loh.
Hohoho, wajib beli sendiri. So, jangan lupa menabung ^^

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

DEAR ZAUJI
Jiah Al Jafara | Sisi Lain

Assalamu'alaikum Suamiku

Semoga Allah senantiasa melindungimu kapanpun dan dimanapun kau berada. Hem, sudah lama ya, 2 bulan lebih aku tak menyapamu. Aku jahat sekali ya? Harusnya seperti biasa aku menulis surat di diary-ku untukmu. Menceritakan berbagai problema yang kualami atau tentang kerinduanku pada malaikat-malaikat kecilku dan pastinya tentang kebahagianku selama menantimu. Rindu padamu yang kini memuncak, semua kupasrahkan pada-Nya. Aku yakin, Dia akan selalu menjagamu.

Saat ini, aku tak ingin merayumu karena aku memang bukan seorang yang puitis. Aku tak tahu romantis itu seperti apa. Kupikir, romantis bukan hanya lewat puisi atau setangkai bunga mawar putih yang mungkin nanti akan kau berikan padaku. Kalaupun sebuah rayuan keluar dari bibirku, mungkin saat itu aku sedang gila. Kau tahu sendiri, aku seseorang yang dingin, romantis bukan keahlianku. Aku hanya ingin belajar menjadi perempuan yang dewasa, yang layak kau banggakan dan pantas menjadi bidadari surgamu.

Cinta dan jodoh memang aneh. Kau ingat saat aku bercerita tentang teman tidurku? Dia seseorang yang menemaniku selama dua tahun. Kita menangis bersama, tertawa bersama, sepiring dan sesendok berdua. Jangan kau kira kita selalu sejalan. Mana mungkin? Aku juga sering marah padanya. Ah, betapa aku merindukannnya. Lalu akhirnya, bulan Juni yang lalu dia menikah. Aku melihatnya duduk bahagia di pelaminan. Aku memeluknya, mengusap kepalanya dengan manja. Dia tak menangis, karena dia tahu ayahnya melihat kebahagiannya meskipun di alam berbeda. Kau tahu siapa suaminya?

Aku menyaksikan kisah cintanya bersama dia, dia dan dia. Aku tak pernah menyangka jika akhirnya hatinya akan berlabuh pada pria ini. Dulu aku memang ada sedikit feel kalau dia akan menjalin cinta dengan pria ini. Tapi menikah? Siapa juga yang tahu. Saat pertama kali aku bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, dia itu seseorang yang mengawasiku saat ujian kelas XII. Jodoh memang aneh.

lovely sunset

Jodoh, rezeki dan mati adalah takdir Illahi. Romantis tidak hanya terjadi saat kita bertemu di sebuah pantai di waktu senja. Kau tahu sendiri, aku tergila-gila dengan romantisme sunset & mega merah. Aku merekam setiap detik saat matahari bersembunyi ke peraduannya.

Bertemu denganmu
Lewat belaian angin dan pancaran cahaya
Bertemu denganmu
Suatu cerita yang belum pernah kubaca
Bertemu denganmu
Aktor sholeh nan memesona
Bertemu denganmu
Kehalusan kata merangsang ketenangan jiwa
Bertemu denganmu
Lewat sujud dan doa, berdzikir memuji asma-Nya

Aku berdiri, menikmati keindahan senja bersamamu. Saat aku masih takut akan hujan, kau datang menghampiriku. Bukan dengan mobil mewah atau kuda putih seperti dalam dongeng, tapi kau datang dan memayungiku dengan tatapan cintamu. 

Kekasihku, aku mencintaimu. Aku ingin mengatakan pada dunia bahwa aku bangga menjadi tulang rusukmu. Aku tak peduli dengan statusmu. Yang aku yakini adalah kesholehan agama dan tanggung jawabmu sebagai imam dunia akhiratku.

Suamiku, aku selalu yakin kau adalah pria yang hebat. Kau bisa meluluhkan hati bapak dan bisa membawaku menuju ridho-Nya. Kau bukan seperti laki-laki yang datang ke rumah hanya untuk menggodaku. Kau tak mudah menyerah dengan gertakan bapakku. Maka dari itu, aku memilihmu. Percayalah, ini bukan karena fisikmu, melainkan karena keteguhan dan kesholehanmu.

Pernikahan kita untuk menyempurnakan separuh agama. Aku tak ingin memberikan konsep romantis atau apalah yang mereka sebut. Aku hanya ingin kau menjadi halal bagiku, pernikahan sederhana penuh dengan doa, rahmat dan kebahagiaan. Kita menikah, bukan hanya untuk menyatukan dua hati, melainkan lebih dari itu. Ada keluargamu keluargaku, bahasamu bahasaku, negaramu negaraku. Kita memang berbeda, tapi bukan berarti kita tak bisa bersama. Karena perbedaanlah akhirnya kita bisa mengisi, menyempurnakan kekurangan dan melebihkan apa yang belum pernah kita miliki.

Pernikahan bukan akhir dari kisah, melainkan sebuah awal menuju kisah baru menuju rahmat-Nya. Sebuah proses panjang, melewati kerikil-kerikil tajam yang mungkin akan menggoyahkan keteguhan cinta kita. Kita akan menikah, bukan karena nafsu, bukan karena tuntutan usia atau sebagainya. Kita menikah karena rahmat-Nya, cinta-Nyalah yang akhirnya mempertemukan kita.

Di saat hati terpana
Menatap indah sang kekasih
Ku menjadi terdiam 
Benarkah kau kekasihku?
Ku tak percaya
Kau yang dulu hanya dalam mimpi
Kini berdiri menanti
Dengan senyuman penuh misteri
Bukan hanya untuk sehari
Tapi senyuman sampai nanti
Karena kita akan bersanding
Di pelaminan ridho Illahi
Semesta bertasbih memuji keagungan Rabbi
Dan semoga cinta kita abadi
Sampai di akhirat nanti

Semoga saja suratku kali ini bisa menggetarkan hatimu, teman hidupku. Semoga ibumu juga membaca surat ini. Aku bangga bisa mencintaimu dengan sederhana. Ya, mencintaimu karena-Nya. Sampai bertemu suamiku. Dan yang terakhir, sekali lagi aku ingin bertanya, hanya ingin memastikan, siapa namamu?

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


---------------
BIODATA PENULIS
---------------
Jiah Al Jafara adalah gadis biasa asli kelahiran Jepara, Jawa Tengah yang kini berusia 20 tahun. Paling susah jika harus menuliskan siapa dia sebenarnya. Menulis hanya sebuah hobi menyalurkan unek-unek dalam hati. Menjadi muslimah yang bermanfaat adalah cita-cita terbesarnya.  Dalam Setitik Kisah Berbalut Setitik Cinta menjadi penyemangat dalam setiap doa. Kalau dalam dunia teatrikal, dia suka jadi aktris tapi lebih suka jadi orang belakang panggung yang menyukseskan. Itulah alasan mengapa dia lebih suka menjadi penyemangat orang lain. Jika kalian ingin tahu siapa dia, cobalah buka sedikit kisahnya lewat Sisi Lain di alamat http://jiahjava.blogspot.com/. Untuk kontak lebih lanjut, silakan kirim email ke alamat jiahaljafara@yahoo.com.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

KUPU-KUPU CINTA UNTUKKU
Hariyanto Wijoyo | Blogs of Hariyanto

Cinta ibarat seekor kupu-kupu,
semakin dikejar, semakin jauh terbang meninggalkanmu.

Biarkan kupu-kupu itu terbang kemana saja ia suka,
siapa tahu bila ia lelah dan tak sadar akan hadirmu,
ia bakal mengibaskan sayapnya ke arahmu.

Dalam keadaan yang tidak kau sangka.
Menumpang berteduh dari panas hujan badai duniawi.

Bila kupu-kupu yang telah menumpang berteduh,
tetap terbang meninggalkanmu.

Mungkin saja kupu-kupu yang dikejar,
bukan kupu-kupu yang Allah Ta'ala persiapkan untukmu.


Lembayung senja di kaki langit kota Makassar menghanyutkan diriku pada samudra kenangan yang timbul tenggelam terhempas ombak kehidupan. Pikiranku terombang-ambing di antara gelombang yang membawaku melintasi lorong waktu hingga akhirnya diriku terdampar pada suatu tepian masa yang sangat kukenal.

Aku berdiri tegak, terpaku pada tepian masa, menatap hadirmu di hadapanku. Harus kuakui saat itu dirimu adalah The Most Beautiful Girl in The World. Semua akan nampak indah saat engkau mendampingiku, sehingga aku sempat menduga-duga, mungkinkah engkau memiliki Sentuhan Midas?

“Aku tak kenal siapa Midas.” jawabmu sambil  menebar senyum yang memesona, seakan-akan dirimu bisa membaca pikiranku. Midas adalah tokoh mitologi Yunani yang terkenal karena kemampuannya untuk mengubah semua yang ia sentuh menjadi emas, demikianlah aku mencoba menjelaskan siapa sebenarnya Midas. “Tapi aku lebih suka menjadi diriku sendiri.” katamu mencoba menghentikanku membandingkanmu dengan Midas.

Tak seperti gadis lain yang pernah kukenal, dirimu memang  sangat apa adanya dan selalu menjadi diri sendiri. Itulah yang kusukai dari dirimu. Semua moda transportasi di Kota Makassar sudah pernah kita tumpangi bersama. Mulai dari ojek motor, taksi, pete-pete hingga becak beroda tiga. Kecuali bentor, karena pada zaman kehadiranmu, belum ada yang namanya bentor (becak motor, red).

Tanpa ada sedikitpun rasa gengsi di raut wajahmu yang ayu, engkau tetap hadir dengan senyum saat menaiki aneka transportasi tersebut. Gerakmu yang sigap dan luwes saat menduduki kursi penumpang mirip dengan kupu-kupu yang sedang mengepakkan kedua sayapnya. Kupu-kupu cinta dengan sayap yang indah terbang kemanapun yang diinginkan. Terbang mengarungi langit biru, menatap keindahan taman-taman cinta yang penuh dengan bunga-bunga yang sedang mekar dan kelopaknya menebar aroma harum semerbak mewangi.  Semakin tinggi, kau kepakkan sayapmu menembus angkasa, hingga akhirnya kepakan itu berhenti saat mendengar kata pernikahan.

Untukku
Kepakan itu Berhenti - sumber gambar

Pernikahan bukan hanya berarti wujud dari penyatuan dua hati yang saling memadu kasih. Juga bukan hanya sekedar memadukan dua badaniah dalam hakikat melahirkan keturunan-keturunan yang akan meneruskan pelanjut silsilah kebanggaan keluarga. Namun pernikahan adalah penyatuan dua keluarga dengan karakter yang berbeda, saling melengkapi dan saling menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada serta saling menyempurnakan dalam pandangan Allah.

Spontan, pandanganmu menjadi nanar. Kau menatapku dengan kesedihan yang teramat dalam. Perlahan bola matamu mengalirkan sungai bening di kedua pipi. Dalam tangismu, kau mengajakku untuk mengikuti langkah nurani imanmu menuju. Namun, aku tak bisa. Sungguh, aku tak tergerak walau selangkah pun. Kala itu panggilan imanku lebih kuat untuk menangkal semua yang mencoba mengalihkanku dari keimanan kepada-Nya, bahkan untuk alasan dirimu sekalipun. Ketika aku yang akhirnya mencoba mengajakmu untuk bersatu dalam keimananku, engkau pun menyatakan keenggananmu.

Bagimu agamamu dan bagiku agamaku, kalimat Allah yang indah ini selalu hadir mengingatkanku dalam segala kekhilafan. Dan setelah proses melangkah selama dua tahun lebih, akhirnya semua menjadi sirna begitu saja. Don’t look back, begitulah nasihat dari kerabat dan keluargaku. Ya, bagaimana aku bisa mengenangmu kembali dengan hasrat cinta seperti sebelumnya, sedangkan untuk menghadirkanmu kembali dalam mimpi aku sudah tak mampu lagi? Maka di kehidupan selanjutnya, kupu-kupu itu pun kembali mengibaskan kedua sayapnya. Ia terbang meninggalkanku. Tidak mengapa, karena mungkin saja ia bukanlah kupu-kupu yang Allah persiapkan untukku.

Kembali aku tenggelam dalam gelombang samudra melintasi pusaran lorong waktu, hingga seorang wanita yang berhijab melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun menghampirinya sembari hatiku mengucap syukur alhamdulillah akan keindahan yang terbentang luas di hadapanku, saat merekam kembali situasi kala kami berdua duduk mengucap janji ijab qabul dan Allah menjadi saksinya. Duhai mujahidahku, mewangilah hingga ke syurga. 

Love is the most painful feeling if it's focused toward human.
But love will be so beautiful feeling if it's pointed toward Allah Ta'ala.  


----------------
BIODATA PENULIS
----------------
Hariyanto Wijoyo hanyalah seorang dari begitu banyak hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mencoba belajar mengejar ridho-Nya untuk menuju jannah-Nya. Terlahir sebagai seorang pria hasil perpaduan Jawa dan Sulawesi Selatan, makanya pada dirinya terlihat aura Jawa walaupun pribadinya lebih dominan akrab dengan budaya Sulawesi Selatan. Administrator sekaligus owner dari BlogS of Hariyanto yang beralamat di  http://hariyantowijoyo.blogspot.com/. Selain itu juga mengelola Toko Serba Ada dan Murah secara online di http://www.toserbamakassar.web.id/. Saat ini berdomisili di Kota Makassar tetapi dalam kesehariannya lebih banyak wara-wiri ke seluruh pelosok negeri terutama di pelosok pulau Sulawesi. Hal itu dilakukannya demi mencari sesuap nasi dan sepiring berlian. Untuk menghubungi penulis lebih lanjut, bisa melalui email di alamat hariyantowijoyo@yahoo.co.id.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

KETIKA PENULIS KEBELET NIKAH
Muhammad Scilta Riska | Science Ikhlas Takwa

Setiap manusia harus memiliki sahabat.
Seorang yang bisa diajak berbagai kesusahan.
Permisalan manusia yang memiliki teman.
Bagaikan tangan dengan bahu dan jari-jemari.
(Syarif Al-Abbasi)

Hidup memang erat dengan yang namanya perjuangan. Life is struggle. Tentu setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Sehingga dalam pengembaraan dunia ini, kita membutuhkan sebuah visi dan misi. Terlebih lagi, siapa gerangan yang akan membantu untuk mewujudkannya. Seperti sesuatu yang sakral, menentukan pilihan hidup butuh pemikiran yang matang. Karena baik tidaknya perjalanan itu bergantung siapa yang akan menemani. Satu hal yang menarik bagi seorang penulis, jika sudah waktunya dan kebelet nikah.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (Terjemahan QS. Ar-Ruum ayat 21)

lovely love potion
Di antaramu Rasa Kasih dan Sayang - sumber gambar

Menikah Tepat Waktu atau Waktu yang Tepat?
Saya terinspirasi dengan sabda Nabi akan hal ini, “Menikahlah! karena dengannya rezeki kalian akan bertambah”. Jika dipahami secara sepintas barangkali kita mengatakan, “Bagaimana mungkin rezeki bertambah, padahal beban dan tanggung jawab hidup juga bertambah?”

Tak perlu bingung, kalau kita melihat hadits Rasulullah yang lain, bukankah dikatakan salah satu penyebab tertundanya rezeki itu gara-gara dosa dan maksiat yang kita lakukan? Utamanya, menikah adalah salah satu pintu rezeki karena menikah akan lebih menjaga diri seseorang dari ujian syahwat. Dulu sebelum menikah masih sering bergaul bebas, tak mampu menahan nafsu atau memikirkan hal-hal yang negatif.

Terlebih lagi saya pernah mendapati seorang teman bertanya kepada Ustadz, “Kenapa akhir-akhir ini saya merasa ada gangguan jin?”

“Segeralah menikah! Karena setelah menikah, jin tidak akan mau lagi tinggal bersamamu!" jawab Ustadz dengan singkat.

Waduh, sampai masalah gangguan jin pun turut andil gara-gara masih jomblo. Karena boleh jadi ketika masih bujang alias tidur sendirian, kita selalu memikirkan hal-hal yang aneh. Maka setelah menikah, jin akan malu atau mungkin cemburu karena ternyata kita sudah memiliki teman tidur. Setelah menikah pula, pandangan akan lebih terjaga dan tidak perlu lagi memikirkan anak orang yang belum tentu berjodoh. Jadi ketika pintu maksiat telat diminimalisir maka rezeki pun akan bertambah.

Secara logika, kalau misalnya rezeki seorang laki-laki 2 miliar, lalu menikah dengan perempuan yang rezekinya 2 miliar juga, maka rezeki laki-laki dan perempuan yang sudah menjadi suami istri itu tentu akan bertambah menjadi 4 miliar. Bukankah begitu?

Ketika hidup itu pilihan maka setidaknya kita harus mempunyai pilihan-pilihan itu. Target bahkan impian yang akan dicapai. Seingat saya, waktu SMA dulu saya sudah merancang bagaimana model rumah saya ke depan. Rancangan terumitnya adalah bagaimana, kapan dan siapa isi rumahnya. So, ketika penulis kebelet nikah maka saya akan memberikan dua pilihan, menikah tepat waktu atau pada waktu yang tepat!

Menikah Tepat Waktu
Prinsip ini seolah sama dengan  penerbangan maupun pertandingan, apalagi pertemuan. Atau sekaliber lomba secara umum, terkhusus lagi lomba kepenulisan yang syarat akan tepat waktu. Tetapi menikah kan bukan kejar deadline, loh. Ya walau setidaknya ada target kapan mengakhiri masa lajang. Untuk sisi penulis sendiri terlebih saya, sungguh mengimpikan kalau pas hari pernikahan bakal ada launching buku. Sekalian jadi kado terindah buat sang kekasih. Cita-cita ini selalu saya sampaikan kalau ada yang bertanya. Sampai-sampai saya pernah bercanda sama teman, “Kalau perlu maharnya buku best seller!”

Di zaman ulama dahulu, yang namanya menikah tepat waktu itu ada. Semisal selesai mempelajari suatu ilmu atau pas umur 25 tahun sesuai sunnah Nabi. Ada juga yang mengakhirkannya karena takut disibukkan hingga lupa menuntut ilmu. Bahkan sekaliber Ibnu Taimiyyah atau Imam Nawawi –rahimahumullah- tidak menikah seumur hidup. Bukan berarti menyelisihi sunnah Nabi, tetapi mereka sibuk mempelari, mengumpulkan dan menulis hadits. Waktu bagi mereka benar-benar bermanfaat. Saking sibuknya, ada yang 20 tahun tidak makan malam dengan tangan kanannya. Bukan karena cacat melainkan disuapi oleh saudara perempuannya karena mata begitu sibuk membaca dan tangan begitu aktif menulis.

Seorang dosen pernah mewariskan satu wasiat, “Jangan menikah sebelum selesai S2! Jangan terburu-buru menikah, hanya karena melihat teman begitu cerianya setelah menikah. Jadinya juga ikut-ikutan berharap merasakan hal yang sama. Padahal belum tentu apa yang kita lihat itu sesuai kenyataan. Telinga juga harus mendengar realita hiruk-pikuk setelah menikah. Jangan cuma pikirkan enaknya tidak mau anaknya." Setidaknya itu menjadi pengalaman beliau, kenapa keburu menikah sebelum selesai studi. Seolah masih mau belajar, tetapi tiba-tiba harus memikirkan kebutuhan rumah tangga.

Tetapi ini relatif. Kalau mengambil kebanyakan orang, pastinya agak sulit konsentrasi belajar sementara sudah berkeluarga. Kecuali yang kuliah di luar negeri, istri dalam negeri. Memang benar apa yang dikatakan Rasulullah, “Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.” (HR. Al- Hakim). Menikah itu menghalangi menuntut ilmu bahkan kadang membuat orang bakhil. Mau membeli buku harus berpikir karena mau membelikan susu anaknya. Mau berlama-lama di majelis ilmu tak mampu karena istri dan anak sudah menunggu. Mau pergi berjihad tiba-tiba jadi penakut, siapa yang akan menjaga keluarganya. Apalagi mau menulis, terpaksa harus fokus sambil menjaga anak!

Menikah pada Waktu yang Tepat
Nah, kalau pilihan ini bagaimana? Boleh disimpulkan opsi ini lebih fleksibel. Artinya, tetap ada target kapan menikahnya, tetapi sewaktu-waktu akan berubah sesuai kondisi dan kebutuhan. Kalau memang sudah waktunya, no problem! Rasulullah mengatakan, “Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah. Maka segeralah menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barangsiapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa. Karena berpuasa menjadi benteng (dari  gejolak birahi).” (HR. Bukhari).

lovely time
Waktu yang Tepat - sumber
Meskipun targetnya umur 25 tahun, tapi belum sanggup maka tidak masalah menunda hingga benar-benar siap. Atau setelah sarjana tetapi masih juga belum siap maka mengakhirkan untuk suatu kebaikan tidak jadi masalah. Karena terkadang ada sesuatu yang akan lebih indah jika memang pas momennya. Kurang terasa gaungnya kalau bukan pada waktunya. Pepatah Arab mengatakan, “Siapa yang tergesa-gesa mengambil sesuatu sebelum waktunya. Maka suatu saat dia pasti akan dihukumi kegagalan mendapatkannya”.  

Jika melihat kondisi zaman sekarang yang penuh fitnah. Suatu masa dimana fitnah wanita sudah tak bisa dipungkiri lagi. Kata Rasulullah, “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki dari (fitnah) wanita.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Maka salah satu solusi di zaman sekarang  adalah segera menikah. Demi menjaga kesucian diri dari segala cobaan syahwat. Ulama menggolongkan, menikah itu hukumnya berbeda-beda. Bergantung kondisi seseorang. Ia bisa menjadi wajib jika sudah mampu secara fisik dan finansial serta tidak bisa lagi membendung hawa nafsunya. Menjadi mubah atau sunnah kalau sudah mampu fisik maupun finansial, tetapi hawa nafsunya masih bisa ditahan. Bahkan haram kalau sekedar memenuhi kebutuhan syahwat saja tetapi belum siap menjalankan hidup setelahnya.

Menikah memang syarat dengan pribadi seseorang. Boleh jadi ada yang justru setelah menikah semangat belajarnya, kerjanya lebih meningkat karena ada yang terus memotivasi. Lebih spesial lagi kalau kerjanya bersama-sama. Seperti seorang penulis, tiba-tiba semangat menulisnya meningkat drastis. Ternyata pasangannya juga penulis. Antarpasangan ada sharing kepenulisan, akhirnya satu buku ditulis keroyokan berdua. Dan begitulah seorang penulis, tentu akan lebih berpikir ke depannya. Semangat menulisnya akan lebih banyak dipengaruhi oleh siapa yang akan mendampinginya. Akan lebih sejalan sebuah tujuan jika sama-sama satu berada dalam satu background. Sehingga menikah pada waktu yang tepat, juga harus membutuhkan pilihan yang tepat. Kalau memang belum mendapatkan waktu dan pilihan yang tepat. Maka tidak ada salahnya ditunda untuk sementara, sampai benar-benar telah terpenuhi.

Ulama dahulu sangat hati-hati dalam mempersiapkan apalagi memilih pasangannya. Tentu seorang penulis juga lebih berpikir dewasa lagi. Pilihan pasangan hidup sangat menentukan bagaimana impian melahirkan generasi penulis ke depannya. Orang-orang kagum pada Imam Syafi’i yang bisa menghafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun. Atau Hasan Al-Bashri yang begitu luas ilmunya.  Ataupun ulama-ulama lainnya. Sayang kita sering luput menelaah, siapa ibundanya para ulama. Tentu mereka adalah orang-orang pilihan. Maka menikah tak harus menjadi sesuatu yang dipaksa-paksakan. Apalagi terburu-buru. Karena ini menyangkut perjuangan kita dalam mengarungi samudra kehidupan.

Jadi menikah bagi seorang penulis, harus lebih mendapat perhatian yang lebih banyak. Terkhusus bagaimana pasangan hidupnya nanti. Karena dari sinilah cikal bakal lahirnya penulis-penulis handal. Setidaknya ada yang selalu memberikan dukungan dan motivasi untuk terus menulis. Pernah seorang teman memberikan tips memilih pasangan dengan tiga “si”. Koleksi, seleksi dan resepsi. Betul-betul harus melalui proses yang tidak gampang. Rasululah juga pernah mewasiatkan, “Pilihlah karena kecantikannya, keturunannya, harta dan agamanya, jika tak mendapatkan keempatnya, cukuplah karena agamanya”. Untuk seorang penulis kalau boleh saya tambahkan parameter yang kelima, “Pilihlah karena dia penulis!”

Satu hal yang tak luput dari orang-orang sholeh dahulu, sekiranya kita mengetahui besok hari kematian atau kiamat, maka hendaklah permintaan terakhir seorang hamba untuk bisa menikah terlebih dahulu. Karena malu rasanya menghadap Rabb dalam keadaan bujangan. Maka kalau ada penulis yang kebelet nikah, saya akan menyeru, “Jangan menikah tepat waktu, tetapi menikahlah pada waktu yang tepat! Karena apa yang Allah pilihkan untukmu itulah yang terbaik!"

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan
supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.”
(Terjemahan QS.Adz-Dzaariyaat ayat 49)



----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Muhammad Scilta Riska,  nama lengkap pemilik blog SCience IkhLas TAqwa dengan alamat http://muhammadscilta.blogspot.com/ yang dikelolanya sejak Juni 2010. Seorang muslim yang lahir pada tanggal 28 Juli ini mengawali karirnya di dunia tulis menulis ketika memimpin bulletin remaja Superteenager. Kemudian memutuskan bergabung dan aktif berkarya lewat FLP Makassar. Tulisannya sudah pernah dimuat di eramuslim, majallah elfata, bulletin Al-Fikrah dan http://www.rumahrohis.com/. Interest dalam dakwah, jurnalistik, motivation, entrepreuner, psikologi dan sains. Penulis bisa dihubungi di alamat email dan FB muhammadsciltariska@yahoo.co.id.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

KETIKA KUJATUH CINTA
Haris Samaranji | Debu Semesta

Ketika kujatuh cinta, duh sungguh semuanya terasa berwarna warni dan berubah. Sungguh! Bibir ini bawaannya pengen senyum terus-terusan. Ketika kujatuh cinta, mulai kuperhatikan penampilanku dari ujung kaki sampai ujung kepala, harus perfect. Ya, jaim (jaga imej) gitu deh, tapi tetep jaga iman, kok. Hehehe.

Kawan, ketika kujatuh cinta, ingatkan aku bahwa akan ada sebuah akhir. Entah putus cinta ataupun maut yang memisahkan. Ingatkan aku sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir. Ketika aku merindukan seseorang kuberharap rindu pada sosok yang juga rindu cinta sejati Tuhan, agar kerinduanku terhadap-Nya tak pernah pudar. Cinta adalah fitrah, bukankah demikian yang tercantum dalam firman Allah Ta'ala di Al-Qur'an?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia jadikan di antara kalian mawaddah dan rahmah (rasa kasih dan sayang). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Terjemahan QS. Ar Ruum ayat 21)

Mencintai harus memiliki, setidaknya begitulah prinsipku. Namun memiliki tidak harus menikahi. Ya iyalah, masa ketika cinta pada orang tua, guru, negara dan segala sesuatunya harus dinikahi juga? Hahaha. Ups! Kok jadi ngelantur tentang cinta universal sih? Ini kan lagi ngomongin cinta sesama pasangan. Oke, kembali ke topik bahasan.

you are mine
Berjanjilah untuk berkomitmen - sumber
Cinta sungguh sulit diungkapkan dengan kata, cinta terkadang membuat kita buta. Ketika seorang pria mencintai seorang gadis jelita tentu mata selalu ingin menatapnya, ingin lebih dekat, dekat dan dekat, lalu berharap dapat menggandeng tangannya. Plaaak! Jangan! Jangan dulu sebelum halal, Kawan! Rasa memiliki bukan begitu caranya. Jika seseorang benar-benar punya rasa memiliki maka berjanjilah pada diri sendiri untuk berkomitmen mengarungi bahtera pernikahan.

Ketika bertepuk sebelah tangan, ketika ada halangan dari keluarga, ataupun dia membuat hati menjadi luka, maka percayalah bahwa dia bukan cinta sejati yang tertulis takdir. Tentunya, lelaki punya hak untuk memilih tapi jangan lupakan bahwa perempuan juga punya hak untuk menolak. So, jangan persulit diri sendiri jika gagal dalam percintaan.

Yaa Allah, jika kami mencintai seseorang, cintakanlah kami dengan orang yang mencintai-Mu. Agar bertambah kuat cinta kami pada-Mu. Yaa Allah, kami sadar bahwa cinta adalah fitrah manusia, fitrah seluruh makhluk. Namun kami juga sadar bahwa kami hanya manusia biasa. Jika cara kami saling mencintai tidak sesuai syari'at-Mu, ampuni kami, bimbing kami agar cinta ini selalu suci terjaga dalam ridho-Mu. Yaa Allah, ketika aku harus berucap I Love You, biarlah kukatakan pada hati yang juga tertaut pada-Mu. Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu.

Mencintai seseorang membuat hati bahagia, dicintai seseorang membuat jiwa terpesona. Tentu saja perasaan yang berbalas, mencintai dan dicintai sangatlah berarti. Dan ketika hati terluka karena putus cinta, percayalah bahwa dicintai oleh Sang Pencipta adalah segalanya. Semoga bermanfaat.


----------------
BIODATA PENULIS
----------------
Haris Samaranji adalah seorang karyawan di salah satu SPBU kota Semarang, Jawa Tengah. Pernah belajar di sebuah Pesantren Nonformal Semarang. Bercita-cita memiliki sekolah gratis untuk anak anak kurang mampu dengan sistem pendidikan seperti yang dirintis oleh Ranchodas Shyamaldas Chanchad (Punshuk Wangdu) dalam film 3 idiot. Blog Debu Semesta | Just For You di alamat http://debu-semesta.blogspot.com/ yang dibangun sejak bulan Oktober 2010 lalu ini adalah wadah baginya untuk memberikan manfaat bagi sesama dan menggapai ridho Allah Azza wa Jalla. Demi keamanan tingkat lanjut, alamat email tidak bisa ditampilkan. Untuk mengenal penulis, silakan bereksperimen sendiri dengan pendekatan langsung melalui blog pribadinya.
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

KUPILIH ENGKAU KARENA DIA
Abi Sabila | Abi Sabila's Note

Fulan, sebut saja demikian. Ia salah satu makhluk Tuhan yang sedang menikmati anugerah bernama cinta. Maka tak berlebihan rasanya jika ia begitu bersyukur telah bertemu dengan seseorang yang telah memberi kesadaran bahwa cinta harus disyukuri, bukan diingkari. Dan seperti kebetulan–padahal tak ada satupun kejadian yang terjadi kecuali Allah yang telah mengatur dan menetapkan sebelumnya–saat itu sebuah pesan masuk ke handphone Fulan.

Musim Cinta
Menikmati Anugerah Bernama Cinta - sumber gambar

"Apa alasanmu memilihku?"

Sebuah pertanyaan terbaca di sana. Singkat namun sulit untuk Fulan menjawabnya. Bahkan sebenarnya pertanyaan serupa itulah yang belum berhasil ia temukan jawabnya, mengapa hatinya memilih dia? Dia bukanlah orang pertama, telah ada beberapa sebelumnya, namun tak satupun yang berhasil menghadirkan getar di hatinya. Hanya dia yang bisa.

Seperti halnya hidup dan rejeki, maka jodoh pun adalah misteri. Ke sana ke mari mencari, ternyata jodohnya sudah ada di sisi. Lama menjalani ikhtiar justru berakhir dengan yang baru beberapa hari dikenal. Begitupun yang Fulan rasakan. Banyak kejadian tak terduga, di luar keinginan dan kemampuannya selaku manusia. Dua kali berjumpa, pertemuan pertama tanpa ada muatan rasa di dalamnya, tapi ternyata menjadi awal terbinanya rasa, melahirkan satu asa, hidup bersama demi ketenangan beribadah menuju ridho-Nya.

“Apa alasanmu memilihku?"

Pertanyaan itu mengembalikan Fulan ke alam kenyataan. Ia harus segera menemukan jawaban, atau rela kehilangan kesempatan. Entah kata atau kalimat mana yang bisa mewakili perasaannya, bahwa ia mencintai, menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, berharap bisa saling mengisi, melengkapi dan mencukupi. Rasa itu tiba-tiba ada, getar itu benar-benar terasa. Ini memang seperti teka-teki, tapi Fulan yakin bahwa semuanya memang telah tercatat di Lauh Mahfuzh; kapan, dimana ia akan bertemu jodohnya, siapa yang akan mendampingi menjalani sisa waktunya dan menghabiskan sisa hidupnya.

Seperti ada yang membisikkan, menggerakan jari-jari Fulan, ia menemukan jawaban atas semua pertanyaan. Dalam hitungan menit, seseorang nun jauh di sana, dengan jemari lentiknya mengambil handphone mungil di atas meja, membuka sebuah pesan yang masuk untuknya. Sebentuk senyum hadir mengiringi tasbih dan tahmid di hatinya. 

Kupilih engkau karena Dia.
Dia yang menghadirkan perasaan indah ke dalam lubuk setiap hamba-Nya.
Dan keindahan itu aku rasa bersama dengan kehadiranmu, 
mengisi  hari-hari dan  juga hatiku.


----------------
BIODATA PENULIS
----------------
Abi Sabila adalah seorang muslim yang bangga menyebut dirinya dengan nama kuniyah dari putrinya yang manis, Sabila. Pribadi yang selalu berharap bisa berbagi manfaat sekaligus menambah sahabat dan menemukan kerabat. Walau tercatat sebagai kontributor di situs eramuslim, kotasantri dan dakwatuna, dia selalu rendah hati dan beranggapan bahwa dirinya hanyalah seorang pembaca yang sedang belajar menulis. Buku Remah-Remah Hikmah (LeutikaPrio, 2012) adalah karyanya yang tercipta dengan mengamati kisah sehari-hari lalu mengemasnya dalam sebuah kisah inspiratif. Goresan tangannya begitu sederhana dan sarat makna. Tidak percaya? Silakan kunjungi blog Abi Sabila's Note yang beralamat di http://www.abisabila.com. Untuk menghubungi penulis lebih lanjut, boleh kirim email ke alamat admin@abisabila.com.


View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

JODOH DI UJUNG DUNIA
Dina Desriany | My Precious Life

Kisah ini beranjak dari dua belas tahun yang lalu ketika umurku masih 15 tahun. Yeah, first grade on senior high school. Aku punya seorang sahabat sekaligus senior yang sudah seperti saudaraku sendiri. Namanya Amalia. Aku memanggilnya kak Ame. Kami berada dalam satu organisasi (pramuka, red) yang sama makanya keakraban itu mudah melekat. Kukatakan layaknya saudara sendiri karena aku sering mampir ke rumahnya bahkan tak segan untuk menginap.

Setahun berjalan, tak heran aku pun bisa akrab dengan keluarganya. Dan rupanya keakraban itupun menular ke orang tuaku dan orang tuanya. Keluargaku dan keluarganya sudah seperti satu keluarga besar. Karenanya saling mengunjungi kampung ketika lebaran sudah merupakan hal yang lumrah dilakukan, sampai-sampai para sepupu, om, tante, kakek dan neneknya pun tak ada yang terasa asing bagiku. Luar biasa. Hihihi.

full of dandelion
Seseorang yang menggetarkan hatiku - sumber gambar

Suatu ketika aku bertemu dengan dia. Seseorang yang menggetarkan hatiku. Pertemuan singkat itu terjadi di rumah kak Ame, setelah pulang dari kursus berenang. Namanya juga masih 16 tahun ya, masih ababil belia yang pas lihat cowok cakep langsung deh kelepek-kelepek. Hahaha. Eh, padahal hampir semua keluarga kak Ame aku ketahui tapi kok yang satu ini, mana keren lagi, bisa luput ya? Aku dengan berani bertanya ke kak Ame, “Siapa sih dia?”

“Sepupu satu kaliku, saudaranya Wanti.” jawab kak Ame ringan. Aku mengerutkan kening, mencoba membayangkan sosok Wanti. Hmm, ya aku tahu pasti siapa Wanti, berikut ibu bapaknya yang tinggal di Soppeng. Lalu entah keceplosan atau memang dorongan hati, lidahku seenaknya berseru, "Salam ya untuk dia." 

Menjelang maghrib, aku pun pulang ke rumah. Jika mengingat kejadian tadi, aku langsung senyam-senyum malu sendiri. Firasatku mengatakan kak Ame telah menyampaikan salamku untuknya. Wah, apa yang bakal terjadi selanjutnya ya?

Kring...!! Kring...!!

Telepon rumah berdering. Aku bergegas mengangkatnya, “Assalamualaikum, halo!”
“Wa'alaikumussalam.” suara pria terdengar di ujung telepon.
“Cari siapa ya?” tanyaku kemudian.
“Bisa bicara dengan Dina?” 

Eh, tenggorokanku tercekat. Siapa gerangan yang mencariku? Bingung pun menyerang. Seumur-umur aku tak pernah mendengar suara pria ini. Ya, suaranya tidak familiar di telinga. Ah, nanti juga aku tahu. Jadi kujawab, “Iya ini aku, Dina. Ada apa ya?”

“Enggak, cuma mau tanya. Apa benar Dina yang menitip salam untukku melalui Ame?”

What?! Er-rr, aku mohon jika ada lubang, cepat sembunyikan aku di sana! Waduh, wahai mukaku mulai detik ini entah mau ditaruh dimana engkau. Menutup malu, otomatis aku berseru, “Loh, kata siapa? Aku nggak nitip salam, tuh."

"Oh, iya. Aku mengerti. Terima kasih ya." tukasnya. Telepon pun ditutup.

Ya Allah, mana berani aku menjawab iya. Aku benar-benar ketangkap basah! Cuek, itulah solusi yang terpikir di kepalaku. Lagipula rasa-rasanya, aku nggak bakal ketemu dia lagi kok. Namun ketika usiaku genap 17 tahun, ketika aku mengundang kak Ame dan keluarganya untuk ke pantai, takdir mempertemukan kami kembali. Pertemuan kedua itu memberi sensasi yang menyegarkan. Dari situlah aku mengenalnya lebih dalam, Wanto namanya. Ngobrol dengannya sudah tak keteteran dan percikan di hati pun sudah mulai menyala.

love flower
Percikan di Hati - sumber gambar
Setelah lulus SMA, orang tuaku mulai cemas ketika putrinya memiliki teman lelaki. Ya, tidak ada istilah pacaran dalam kamus keluargaku. Akhirnya bapak berinisiatif, “Minta pemuda itu datang ke rumah, kalau perlu orang tuanya juga datang.”

Aku pun meminta ibunya Wanto untuk datang ke rumah. Saat para orang tua bertemu, aku pikir masih sekadar bicara ngalor-ngilur, eh nggak tahunya, sebuah lamaran! Sayang, mama tidak setuju. Mama pikir aku masih muda, sementara kuliah dan perjalanan hidup masih panjang. Lamaran ditolak.

Berselang beberapa bulan, akhirnya lamaran kedua datang lagi. Sayang beribu sayang, dengan gigihnya Mama tetap menolak lamaran itu. Ternyata eh ternyata mama kepengen aku dijodohkan dengan saudara laki-laki kak Ame, bukan sepupunya. Wah tapi gimana ya, aku hanya bisa bilang, "Saudara laki-laki kak Ame sudah seperti kakak sendiri. Tak ada rasa cinta setitik pun untuknya. Aku tidak bisa menikah dengannya. Maaf.”

Bulan berlanjut, tetap dengan semangat juang, Wanto memberanikan diri untuk melamar sendiri tanpa ditemani orang tuanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya Mama setuju. Alhamdulillah tepat tanggal 19 Oktober 2003, pernikahan pun berlangsung dengan penuh hikmat. Dengan umur 18 tahun yang terbilang masih sangat-sangat muda, aku menapaki bahtera rumah tangga. Masya Allah! Tak ada perasaan takut sedikit pun untuk mulai membina sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Saat itu aku malah merasa senang, haru dan berucap syukur, "Terima kasih ya Allah, ternyata dia adalah jodohku di ujung dunia."

Sekarang sudah hampir masuk tahun ke sembilan masa pernikahan kami. Tabaarakallahu Ta'ala, masih dengan rasa cinta dan sayang yang sama bahkan Insya Allah tiap tahun semakin bertambah. Tertanggal 05 April 2005, lahirlah seorang putri yang cantik. Kuberi dia nama, Nabilah Az Zahra. Alhamdulillah Yaa Rabb, Engkau telah menyempurnakan diriku sebagai seorang wanita dengan memberikan anak yang cerdas dan sholehah serta suami yang senantiasa menemaniku dalam sakit maupun sehat.

Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana tips menjaga hubungan pernikahan?” Dengan renungan yang panjang, aku menjawab, “Menjalani kehidupan rumah tangga itu tidaklah mudah. Kadang senang, kadang sedih, kadang mulus dan kadang terbentur kerikil. Yang paling penting dari pernikahan adalah bagaimana menyikapi segala problema yang muncul dengan mengedepankan sikap saling mengerti dan menghargai.”

Lucunya, banyak orang yang spontan berucap bahwa aku memiliki mata yang serupa dengan suamiku. Katanya, wajah kami bagai pinang dibelah dua. Kalau kata orang Bugis sih, alosi ri polo dua. Bahkan beberapa di antaranya beranggapan suamiku itu saudaraku alias anaknya bapak. Loh? Hahaha. Kami berdua pasti merespon dengan tawa ketika pernyataan-pernyataan seperti itu muncul. Soalnya seseorang memang akan bertemu dengan jodoh yang wajahnya serupa. Walau di awal pernikahan wajah kedua mempelai tidak mirip, seiring dengan perjalanan waktu, wajah keduanya pasti akan mirip. Tidak percaya? Buktikan sendiri, hehehe.

Tulisan ini kupersembahkan untuk pasangan jiwaku dan untuk seluruh wanita yang sedang atau akan melangsungkan pernikahan. Yakin dan percayalah bahwa dia (sang calon suami) merupakan jodohmu di ujung dunia. Seperti kata pepatah bugis, idi’ni toto’ku lettu cappana ri lino alias engkaulah jodohku sampai ujung dunia. Insya Allah. Aamiin.


----------------
BIODATA PENULIS
----------------
Dina Desriany adalah seorang ibu satu anak yang berdomisili di kota Anging Mammiri, Makassar. Kesibukannya sehari-hari adalah sebagai seorang istri teruntuk suami tercinta, sebagai abdi negara yang mengajar di salah satu universitas swasta, sebagai mahasiswi pascasarjana Universitas Hasanuddin. Saat ini tergabung dalam forum layanan ipteks bagi masyarakat bernama FLipMAS Anging Mammiri di bawah naungan Pendidikan Tinggi (DIKTI). Tujuan hidupnya adalah wanna be a beneficial person for many people especially for her lovely family. Untuk mengenal pribadinya lebih lanjut, silakan mengunjungi blognya My Precious Life yang beralamat di http://deenayla.blogspot.com/. Mau bertanya kepada penulis? Boleh mengirim email ke alamat deenayla_cest@yahoo.com.
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

MENIKAH ITU TAK MELULU INDAH
Mugniar Marakarma | Sebuah Renungan

Tak ada ruginya mengamati banyak rumah tangga di sekitar kita. Bukan untuk dipergunjingkan, bukan. Tapi untuk mengambil hikmah yang banyak terserak di dalamnya. Tak ada ruginya yang sudah berumah tangga mengamati rumah tangga lain sebatas yang diamati, untuk mengambil pelajaran bagi rumah tangganya sendiri, selama tidak mengubek-ubek hal yang menjadi privasi rumah tangga yang tengah diamati itu.

Bagi para lajang, tak ada ruginya pula mengamati sekitar kalian. Amati rumah tangga kakak-kakak, orangtua, tetangga dan teman-teman kalian supaya kalian memiliki banyak bekal bila kelak melangkah ke jenjang yang sepintas oleh kalian terlihat seperti bertabur bunga, madu dan segala hal yang indah-indah itu. Rauplah sebanyak-banyaknya pengetahuan karena memasuki jenjang pernikahan itu ibarat menuju ke sebuah tembok tinggi yang di baliknya ada miliaran tanda tanya besar yang menunggu untuk dituntaskan.

Bagi adik-adikku, saudara-saudaraku, keponakan-keponakanku, tolong ingat dua hal ini :
  1. Menyegerakan menikah memang sunnah, tetapi tergesa-gesa itu dekat dengan mudharat. Namun bedakan antara menyegerakan dan tergesa-gesa. Ada orang-orang yang mengira sedang menyegerakan tetapi pada kenyataannya ia tergesa-gesa. Akibatnya banyak orang terdekat yang dirugikannya selama proses pernikahan bahkan selama ia berumah tangga karena ia tak dapat memikul tanggung jawab yang banyak pasca pernikahan.
  2. Tanggung jawab adalah hal yang akan berkali-kali dituntut dalam berumah tangga. Lihat saja, begitu banyak anak terlantar karena orangtua mereka yang tak siap menerima kehadirannya. Juga semakin banyak perceraian yang terjadi setelahnya karena berbagai sebab.
Mempersiapkan diri sebelum menikah bukan hanya persiapan fisik, organ reproduksi dan ilmu tentang malam pertama. Tetapi juga menyangkut kepemilikan akhlak yang baik. Buka mata kita. Ada orang-orang yang secara kasat mata terlihat begitu shalih tetapi setelah berumah tangga ia tega melakukan hal-hal yang tak baik, menyiksa istrinya dengan pukulan misalnya. Ini karena keshalihan perbuatannya tak merasuki batinnya. Teliti akhlak kalian. Sudah layakkah kita membuat pasangan kita menerima kita sebagai pribadi yang komplit, dengan kelebihan sekaligus kekurangan?

bunga hati
Sudah layakkah kita? - sumber gambar

Menikah itu tak melulu indah. Kolaborasi dengan pasangan akan membuka semua, tidak hanya kelebihan tetapi juga kekurangan kita. Jangan sampai ada pihak yang terzalimi kelak.

Waspada dan berdo’alah dari empat hal yang bisa merusak keharmonisan rumah tangga ini. Jangan sampai kita sendiri yang memilikinya. Sifat-sifat ini bisa ada pada siapa saja, bahkan pada orang-orang yang sepintas lalu terlihat shalih sekali pun :
  1. Konsumtif. Ada orang-orang yang tak bisa membedakan mana barang yang memang benar-benar dibutuhkan atau sekadar diperlukan. Sudah punya tiga tas yang masih bagus, masih saja tergiur dengan tas model baru yang harganya cukup menguras kantong. Kalau keadaan keuangan memungkinkan, okelah. Tapi kan bisa saja tak selamanya demikian? Lebih baik sifat konsumtif tidak dipelihara, masih banyak orang yang butuh disedekahi di dunia ini.
  2. Pembicara yang baik, bukan pendengar yang baik. Ada orang-orang yang sepintas bisa melenakan dan menghibur ketika berbicara tetapi ketika orang lain bahkan pasangannya sendiri yang berbicara tak diindahkannya. Tak bisa diajak bertukar pikiran, hanya mau menang sendiri. Diberi usulan saja tak mempan, apalagi didebat.
  3. Temperamental. Sekali dua kali pertemuan tak bisa membongkar watak seseorang temperamental ataukah tidak. Bayangkan jika kita seumur hidup terjebak dengan orang yang memiliki sifat ini, sedikit-sedikit marah. 
  4. Sulit membedakan yang penting dan tidak. Banyak sekali waktunya terbuang untuk hal yang sia-sia. Tanpa sadar waktu dan perkembangan zaman bisa menggilasnya. Ada orang-orang yang sibuk dengan hal-hal tak penting semisal ngobrol ngalor-ngidul, main catur, game, dan lain-lain selama berjam-jam.
Coba bayangkan kalau pasangan kita memiliki keempat-empatnya. Wuiii, seram ya? Tapi bagaimana kalau ternyata kita yang memiliki keempat-empatnya? Lah satu saja tapi kronis sudah menyusahkan orang lain. Iya kan?

Kalau kita ikhlas menerima apa adanya pasangan, syukurlah. Tapi yang namanya manusia, biasanya ada batasnya. Bayangkan saja kalau puluhan tahun sekamar dengan orang yang seperti ini? Lebih baik tidak berangan-angan mengubah orang lain. Sudah banyak kisah, orang-orang yang akhirnya hanya bisa memble karena gagal mengubah pasangannya. Lah kalau yang bersangkutan tak merasa ada yang perlu diubah pada dirinya, tak merasa ada yang salah pada dirinya, adakah kuasa orang lain untuk mengubahnya?

Menikah itu tak melulu indah. So, banyak-banyaklah berbekal. \(^__^)/


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Mugniar Marakarma adalah seorang muslimah berdomisili di Makassar. Lulusan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Istri dari Solihin Tahir. Ibu dari Affiq, Athifah dan Afyad (lahir tahun 2001, 2006 dan 2009). Hanya seorang sederhana penyuka menulis yang suka mendokumentasikan hidup dan renungannya ke dalam sebuah blog yang beralamat di http://mugniarm.blogspot.com/. Buku Lakon Fragmentaris (LeutikaPrio, 2012) adalah bukti nyata gemarannya menuangkan cuplikan-cuplikan realita dari kehidupannya. Mau mengenal penulis lebih dalam atau tanya-tanya lebih lanjut? Silakan kontak penulis via email di alamat mugniarmarakarma@gmail.com.
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Untuk sesaat aku ingin mengajakmu ke negeriku. Tak perlu berkhayal, toh ini terlalu nyata untuk sebuah dongeng. Ini kisah cinta di Kerajaan Zain, tentang Sleeping Beauty yang akhirnya terjaga dari tidurnya. Dan kau tahu, di antara puluhan kisah cinta, menurutku inilah kisah terbaik yang pernah kutuliskan. 

senja dan cinta

Sejak kecil, kerajaan begitu bangga memiliki ketiga putri yang manis dengan karakternya masing-masing. Sebutlah Sleeping Beauty, Cinderella dan Snow White. Kakunya, sang raja begitu protektif dalam mengasuh dan membesarkan putri-putrinya. Ya bisa diperkirakan, tak ada seorang pun pangeran yang berani mendekat. Jangankan bertamu ke istana, dengan menelepon saja akan membuat nyali pangeran manapun ciut karena dihardik raja. Jadilah para putri tumbuh besar tanpa benalu yang menghampiri.

Raja selalu bilang, "Cinta atas nama pacaran adalah pembodohan yang dikendalikan oleh kaum pria. Sebab mereka menginginkan manisnya wanita secara ilegal dan tanpa penghargaan yang sepantasnya".

Suatu hari, kejadian tak terduga terjadi. Raja menerima telepon bahwa Sleeping Beauty pingsan karena kelelahan. Beberapa pekan ini dia memang berkutat dengan buku-buku kedokteran. Ratu pun segera bergerak untuk menjemput Sleeping Beauty. Di depan pagar istana, tiba-tiba sebuah mobil Toyota Yaris berwarna merah menepi perlahan. Ketika pintu mobil terbuka, lunglainya tubuh Sleeping Beauty terlihat jelas.

Selang beberapa hari kemudian, kondisi Sleeping Beauty tidak kunjung membaik. Dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Seakan kehilangan asa dan tak punya selera untuk hidup. Karenanya, tanpa kenal waktu, ratu selalu mendampingi, menjaga dan merawat Sleeping Beauty dengan penuh doa. Sebenarnya aku begitu trenyuh melihat ratu dengan mata terkantuk tetapi tetap bersikeras duduk di samping Sleeping Beauty. Aku sangat tahu bahwa Sleeping Beauty tengah sakit sekarang. Namun, rasa sesak menyerang ketika menyadari kondisi ratu juga semakin merapuh.

Ratu berkata, "Ingatlah hal ini, seorang ibu akan rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya. Tak bisa tak peduli pada anaknya walau sekejap mata pun. Itulah cinta atas nama ketulusan seorang ibu. Bahkan menit dan detik ini, jika diridhoi oleh-Nya, Ibu siap menghadap kepada Rabb Semesta Alam sebagai tebusan atas sembuhnya kakakmu".

Dengan goyah, aku melangkah ke arah jendela. Sembari mencari kemilau cahaya di langit pekat, gemuruh dada akhirnya berhasil meneteskan air di mataku. Mencoba menahan tangis, aku memindahkan pandanganku ke bawah. Eh? Ada siluet seseorang yang berdiri di depan pagar istana. Saat aku berusaha melihatnya lebih seksama, dia berlari menghilang. Siapa dia?

Esok hari, raja mengadakan sayembara cinta untuk sang putri. Jangan berpikir terlalu jauh, ini hanya perjodohan kecil. Sleeping Beauty pernah mengatakan, "Cinta itu obat. Penyembuh dari segala macam penyakit. Bahkan seseorang yang tidak bisa terobati secara medis pun bisa sembuh karena cinta". Mungkin hal inilah solusi terbaik yang dipikirkan raja untuknya. Apalagi usia Sleeping Beauty memang telah sesuai untuk masa pernikahan.

Apa?! Aku ternganga melihat bergugurnya satu per satu pangeran yang mengikuti sayembara cinta. Sadar atau tidak, raja sendirilah yang mengusir mereka pergi. Katanya tak ada yang sesuai. Wah, yang benar saja. Bukankah tadi ada pria yang mantap agamanya? Sayang, dia tak berakhlak mulia. Bukankah tadi ada pria yang baik budinya? Maaf, wajahnya tidak menawan. Bukankah tadi ada pria yang tampan? Dia bukan seorang pewaris tahta. Bukankah tadi ada pria kaya raya? Tapi dia tak berhasil membangunkan Sleeping Beauty dari tidurnya. Lalu mau sosok yang bagaimana?

Ketika aku mengalihkan pandangan, lagi-lagi ekor mataku menangkap siluet seseorang di balik pagar istana. Spontan aku berlari ke arahnya. Ah, dia lebih cepat dariku. Sosoknya sudah tak terlihat lagi. Aku mendesah kecewa. Detik berikutnya, aku mendengar desahan yang sama. Aku berbalik dan melihat raja yang terengah-engah. Oh, kok bisa? Raja bergumam pelan, "Dia hanya pemuda biasa yang tempo hari mengantar Sleeping Beauty pulang. Si Pangeran Yaris Merah".

Aku tertegun. Begitu banyak tanya bermunculan dalam kepalaku. Namun aku tetap bisu, menanti raja melanjutkan penjelasannya. Raja memegang bahuku, tangannya gemetar. Lambat-lambat, raja bertutur, "Tak perlu tahta, tiada berguna wajah tampan, biar saja perangainya buruk, kurangnya pengetahuan agama pun tak mengapa, asal dia bisa menjadi pangeran untuk putri. Asal dia bisa membuat Sleeping Beauty terjaga dari tidurnya. Itu sudah lebih dari cukup".

Dengan intens, raja berusaha mencari tahu siapa gerangan Pangeran Yaris Merah. Tak hanya sampai di situ, raja berani membuang segala beda lalu mengundangnya makan malam di istana. Yang terhebat, raja memintanya segera melamar Sleeping Beauty dengan mahar sesuai dengan kemampuannya. Hari ini aku melihat raja melepaskan egonya. Semurni butiran bening yang mengalir di pipiku, raja tersenyum mendapat pelukan dari Sleeping Beauty.

Pangeran Yaris Merah atau boleh kumenyebutnya sebagai pengagum rahasia Sleeping Beauty. Seorang senior co-ass di rumah sakit yang selalu memperhatikan gerak-gerik Sleeping Beauty dari jauh. Awalnya dia terlihat sombong karena perawakannya yang tenang dan tegas. Namun saat Sleeping Beauty mengalami kesulitan, kebaikan hatinya akan terpancar jelas. Dia anak saudagar yang toko dan jualannya terkena musibah kebakaran beberapa hari lalu. Selain tak ada yang tersisa darinya, rasa tidak sepadan pun membuatnya tidak berani mengikuti sayembara cinta untuk putri.

Rasanya tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari mendengar bahwa lamaran atas Sleeping Beauty telah dijatuhkan. Dan itu berarti, sudah tidak dibolehkan bagi para pangeran lain untuk melirik Sleeping Beauty. Kabar baiknya, Pangeran Yaris Merah benar-benar telah membangunkan sleeping beauty dari tidurnya.

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, "Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang di atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau peminang mengizinkan kepadanya".
(HR. Bukhari dan Muslim)

Alhamdulillahi Rabbil 'Aalamin. Segala sesuatu terjadi untuk yang terbaik. Dan ini benar-benar berkah tersendiri untuk Kerajaan Zain. Aku benar-benar yakin, dibanding cerita cinta fiksi buatan anak manusia, skenario cinta dari langit memang hal yang begitu menakjubkan dan datang dari arah yang tak disangka-sangka.

Dari keramaian massa, aku bertanya penuh harap pada sepoi angin, "Apakah kejadiannya akan tetap seindah ini bila kelak orang yang menemukan sepatu kaca untuk Cinderella bukanlah seorang pangeran melainkan hanya seorang gelandangan lagi pemulung?"


Dalam Beningnya Cinta Orang Tua
Makassar, Syawwal 1433 Hijriyah
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim 

TENTANG NIKAH
Nurul Fadilah | Welcome to My Zone 

Dulu, seseorang bertanya kepadaku apa judul postingan di blogku yang isinya serba serbi tentang aku, suami dan pernikahan kami. Aku tertegun sebentar kemudian menjawab, “Tidak ada.” Dan di lain waktu ketika aku kepayahan dalam menuliskan tentang pernikahan, seseorang yang lain berkata, “Kamu kan sudah menikah, seharusnya mudah saja menuliskannya.” Tapi kata-kata itu seolah membentur dinding dan kembali kepadaku tanpa membawa apa-apa, aku mati gaya! 

Lalu setapak demi setapak aku resapi kembali perjalanan cinta kami, dan ternyata semua yang terjadi memang begitu anggun dirancang oleh-Nya. Dia Yang Maha Kreatif mempertemukanku dengan dia di suasana yang tak terduga, ah memang yang terjadi di dunia ini kadang-kadang di luar dugaan kita, bukan? Pahit getir atau manisnya bahagia selalu saja mengiringi perjalanan cinta dua orang manusia. Tapi yakinlah kalau Ridho-Nya adalah tujuan maka semua susah dan senang akan berbuah manis di penghujungnya.

for you my love
Berbuah manis di penghujungnya - sumber gambar

Menurutku bukan hal-hal besar yang mempertahankan pernikahan, tapi justru hal-hal kecil. Bagaimana kedua insan tersebut saling memandang ketika yang lainnya berbicara, menelepon di sela-sela bekerja hanya untuk menanyakan, “Sudah shalat dan makan?” atau tidak banyak mengeluhkan kebutuhan hidup yang meningkat. Rasa nyaman, itulah yang membuat sepasang suami istri bertahan.

“Aku bukan orang yang romantis!” begitu pembelaanku ketika seseorang menyuarakan kekakuanku dalam menulis romansa pernikahan. Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya benar, aku romantis kok –dengan perbuatan, bukan untuk dikisahkan– aku terbiasa mengatakan cinta di setiap harinya, selalu menggandeng tangannya ketika kami berjalan di tempat umum, atau ... ah sudah sudah aku tidak mau lebih banyak menuliskan hal seperti itu. Bagiku itu seperti makanan empuk untuk muda mudi yang suka menghayal. Eehh ... biarlah nanti mereka merasakannya sendiri, termasuk mengaplikasikan keromantisan ala Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam.

Ketika memainkan jemari di atas keyboard, spontan di pikiranku terbersit kata-kata yang langsung aku torehkan dalam tulisan, "Pernikahan dalam Islam itu bagaikan sebuah rumah yang nyaman lagi berberkah! Cinta kepada Allah adalah atapnya, rasa malu dan menjaga aib pasangan adalah jendela dan pintunya, ibadah keduanya adalah lentera".

Indah tidak? Hmm ... semoga saja bisa seperti itu ya dan semoga bisa menjadi pakaian untuknya seperti dalam Al-Qur'an surah Al Baqarah ayat 187 yang artinya, "... mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka ..."

Ya Allah, gugurkanlah dosa-dosa kami lewat genggaman jemari tangan.
Pandanglah kami penuh kasih sayang seperti kami berdua saling memandang.
Jadikanlah kami penyenang hati dan penjaga kehormatan bagi satu sama lain.
Kumpulkanlah kami dan keturunan kami di Jannah-Mu yang Indah.
Aamiin Allahumma Aamiin.


---------------
BIODATA PENULIS
---------------
Nurul Fadilah hanyalah manusia biasa yang menyalurkan hobi menulis lewat blog. The author of Welcome to My Zone di alamat http://www.nufadilah.blogspot.com/. Seorang muslimah yang suka menulis dan telah menorehkan ceritanya di empat buku antologi. Tersebutlah Bimbang (NulisBuku, 2011), Baby Says (Nulis Buku, 2011), Love The Way You Lie (NulisBuku, 2011) dan Banyak Nama untuk Satu Cinta (Leutikaprio, 2012). Juga sebuah buku Serpihan Kaca (NulisBuku, 2012) berisi kumpulan cerita tentang keseharian. Kata-kata favortinya adalah, "Dengan menulis kau akan abadi dan Menulislah dari hati". Untuk mengenal penulis lebih lanjut, silakan kontak via email di alamat yuyu_nf@yahoo.co.id.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

UNTUKMU YANG BERBAHAGIA
Siti Rahmadayanti | Catatan SU

Kemarilah
Sudah saatnya kita berbicara
Sebelum janji itu benar-benar terucap

Ingin kukatakan padamu
Cita-cita itu masih sama dan kekal di hati
Menjadikan A-Qur’an dan Sunnah sebagai warna kehidupan

Barangkali, di hari-hari kemudian
Kau akan menemukan hal yang tak sesuai harapan
Semoga tak ada gurat sesal tentang aku yang apa adanya

Walaupun sungkan
Aku ingin mendiskusikan cinta 
Inilah benih yang akan dipupuk bersama
Hingga umur bertindak siapa yang lebih dulu

Ingin kutitipkan padamu
Sebuah puisi tentang harapan

Ubahlah sesukamu
Karena setelah janji itu terucap
Aku akan selalu hadir di sampingmu
Membersamaimu menapaki hari-hari perjuangan
Atau sekedar membuatkan teh manis sebelum berangkat kerja

Aku akan menjadi pendatang baru dalam hari-harimu
Sungguh, begitu banyak beda antara aku dan kau

Namun tiada masalah
Beda akan mencipta kebersamaan
Saling melengkapi dalam mengarungi lautan hidup


Di hari-hari depan nanti
Akan banyak keluh-kesah dan pertengkaran kecil
Tapi tak mengapa, asal tak ada yang pergi dari kedudukannya

Di hari-hari depan nanti
Akan banyak riak-riak penguji kesabaran
Semoga hati bisa besabar dengan kesabaran terbaik

Di hari-hari depan nanti
Kuingin masa itu tak berakhir
Berharap akan pertemuan yang lebih kekal
Dengan pakaian terbaik, duduk di atas dipan-dipan

Di suatu tempat yang mengalir sungai-sungai di bawahnya
Bersamamu merajut hari-hari yang telah terlewati
mengenang janji yang kokoh
Mitsaqan Ghaliza

Puisi manis yang tertoreh dari hati istri untuk sang suami. Siapa sangka, puisi itu akan terlebih dulu cocok menempel di kehidupanmu. Ya, tahun ini akan menjadi gerbang awal dari hari-hari barumu kelak wahai saudari yang kucintai karena Allah. Berdirilah dengan berani sebab cerita lama membawa kabar bahwa kehidupan setelah janji itu penuh romantika, manis sekali.

Untukmu yang berbahagia, akhirnya kau menemukannya. Atau dia yang menemukanmu? Kalian dipertemukan, kurasa itu kalimat yang pas. Bukankah tulang rusuk itu pasti tepat? Toh yang memilihkan adalah Sang Pencipta, bukan?

Aku tahu kau tak bisa lagi tidur nyenyak dalam detik-detik menjelang pernikahanmu. Kali ini aku yakin kau akan paham tentang cinta yang pernah kuceritakan. Ya, cinta yang bisa menautkan hati walaupun kata tak terucap.

Mungkin saat ini banyak hal yang membuatmu kuatir. Ah, sosok baru itu berhasil membuatmu resah. Hahaha. Lucu juga, tapi tak perlulah berharap sosok sempurna seperti ceritamu di tengah malam buta beberapa bulan yang lalu. Biarkan dia sedikit kurang karena kehadiranmu akan mengisi hidupnya dengan lebih indah. Sebaliknya, ketika kau merasa tak lengkap maka biarkan dia sebagai pelengkapnya. Ingat ya, jangan terlalu perkasa sebab aku kuatir dia akan merasa lemah. Namun jangan juga teralu lemah agar dia tak terbebani. Itulah kesempurnaan dalam kekurangan.

Mencintaimu
Kesempurnaan dalam Kekurangan - sumber gambar

Tahu tidak, pernikahan adalah keberanian untuk melepaskan kebebasan. Setelah menikah, kebebasan akan berkurang sedikit atau bahkan berkurang hampir seluruhnya. Hal ini aku dengar dari cerita mereka yang sudah mengalaminya. Maka patutlah hal tersebut menjadi pertimbangkan untuk menggores langkah mantap di kehidupan mendatang.

Apapun yang akan terjadi, berbahagialah! Pernikahan itu akan membuatmu bertemu banyak rasa.  Pelajarilah baik-baik secara perlahan. Kelak kesabaranmu pasti akan teruji. Sudah fitrahnya untuk menemui rintangan ketika akan menyatukan dua insan yang berbeda, pita suara yang berbeda, olah pikiran yang berbeda dan lain sebagainya.

Hari-hari selanjutnya, dialah yang akan menjadi orang pertama yang akan kau ajak bicara. Baik kau mendapati dirimu dalam kesusahan maupun kesenangan. Namun biarkan aku sedikit egois untuk tetap menjadi teman yang mengambil sedikit andil. Kalau sempat, hubungilah aku sesekali. Memang kelihatan lebay tapi aku mohon jangan lupakan aku.


----------------
BIODATA PENULIS
----------------
Siti Rahmadayanti adalah seorang muslimah lulusan sarjana teknik elektro Universitas Hasanuddin Makassar. Saat ini berdomisili di Bekasi untuk mencari sesuap nasi dan bekal pengalaman. Catatan SU yang beralamat di http://srahmadayanti.blogspot.com/ adalah blog yang dirintisnya sejak bulan Januari 2012 lalu. Sangat suka jalan-jalan, lari pagi, membaca, berenang, berkebun dan semua tentang listrik. Piawai menuliskan kisah perjalanan, kenang-kenangan hidup, mimpi-mimpi, semangat anak muda dan bagian-bagian kehidupan yang tidak penting. Untuk mengenal penulis lebih lanjut, silakan menghubungi via email di alamat srahmadayanti@gmail.com.

View Post