HARI KE- 1 / SABTU 14 JUNI 2008
          Setelah persiapan selesai—sarapan pagi, koper-koper, dan lain hal sebagainya—kami berangkat dari rumah menuju bandara Hasanuddin kira-kira pukul 06.00 WITA. Setibanya di bandara, kami langsung naik pesawat menuju Jakarta.
Oia, aku lupa memperkenalkan siapa kami. Ehm, Kami itu berjumlah delapan orang. Ada bapak, mama, kakak perempuan yang sekarang kuliah di FK angkatan 2006, Saya, adik laki-laki yang baru mau masuk kuliah, adik perempuanyang sekolah di SMAN 17 kelas XI, adik laki-laki yang sekolah di SMPN 4 kelas IX, dan tante (kakak dari bapak).
Lalu saat tiba di Jakarta, kami harus menunggu lantaran pesawat ke Jeddah boarding pukul 13.20 WIB padahal saat kami sampai baru pukul 08.15 WIB. Nah, jadilah kami seperti anak terlantar. Duduk-duduk tidak jelas dan yang dilakukan hanya makan dan foto-foto saja.


Kemudian akhirnya kami berangkat. Lama perjalanannya kurang lebih 9 jam. Ugh- Di atas pesawat yang saya lakukan hanya berdzikir,  makan, tidur, dan buang air kecil saja. Untunglah kami naik Garuda jadi service-nya mantap! Hehehe.. Terus pukul 18.00 waktu Jeddah kami sampai di bandara King Abdul Aziz Jeddah.
Wow! Sangat menegangkan plus menyenangkan. Tiba di negeri orang tanpa tahu bahasanya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab. Kadang saya seperti orang bodoh yang tersesat karena tidak bisa berkomunikasi. Walau kadang ada beberapa petugas yang bisa bahasa Inggris, itu tidak cukup membantu. Terus, petugas perempuannya sama sekali gak ada! Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah laki-laki, laki-laki dan laki-laki. Katanya, perempuan tidak dibolehkan bekerja. Perempuan hanya boleh tinggal di rumah saja.
Selanjutnya, kami naik bis menuju Hotel “Holiday Inn” yang menempuh waktu sekitar 20 menit dari bandara. Benar saja, di sepanjang jalan pun kami tidak melihat adanya tanda-tanda perempuan. Aku jadi merasa gimana gitu. Lalu tiba di hotel deh. Hotelnya keren! Sangat luas dan mewah. Kamarnya juga asyik punya. Kami dibagi dua kamar. Kamar pertama adalah Bapak dan Mama bersama kedua anak laki-laki. Sedangkan kamar kedua adalah Kakak, saya, adik perempuan, dan tante.
Akhirnya bisa tidur nyenyak juga… Oh, No!!! Mataku tidak bisa terpejam. Sekarang pukul 23.30 waktu Jeddah. Ayolah, ini tengah malam tapi tetap tidak bisa tidur. Oia,Jetlag. Saya lupa. Di Makassar sekarang adalah pukul 04.30 dan saat itu saya sudah bangun dan mengerjakan aktivitas. Uhh.. Gak bisa tidur deh.

HARI KE- 2 / AHAD 15 JUNI 2008
          Eh, akhirnya mata ini bisa terpejam walau tidak lama. Masalahnya, saya selalu terbangun entah karena apa. Ooo.. Sudah pukul 04.30 waktu Jeddah dan itu artinya sudah shalat Subuh. Sayangnya, tidak ada yang mendengar adzan dan saat resepsionisnya ditelepon gak ada yang angkat. Yaa, kalau begitu kami langsung shalat saja. Namun, kami masih memiliki masalah kedua; kami tidak tahu di mana arah kiblat. Gak ada petunjuk sama sekali. Yaa, kalau begitu kami shalat menghadap sesuai hati nurani saja. Toh, di mana pun kamu berada di situlah wajah Allah. Lagipula ini darurat.
          Tadinya saya mau melanjutkan tidur tapi ada telepon dari Bapak. Katanya, sarapan di hotel akan disiapkan pukul 06.00 waktu Jeddah. Jadi kita harus bersiap-siap jangan sampai kehabisan makanan. Lalu kami mandi deh… Kamar mandinya aneh! Luas banget dan banyak kacanya. Mengerikan. Mana bathtub lagi. Untungnya airnya hangat tapi lama kelamaan malah jadi air panas, eh bukan, air mendidih. Kabar bagusnya,  kami tidak perlu menghabiskan waktu berlama-lama di kamar mandi.
          Sarapannya cool! Makanannya cukup membuat takjub. Kami makan roti yang besar tapi gak ada isinya. Lumayan enak sih. Ada juga sosis dan daging yang dipanggang. Terus pake nasi kuning tapi yang gak ada lengkuasnya, rasanya agak hambar. Setelah sarapan, kami menunggu bus hotel untuk pergi ke Balad. Katanya, di sana adalah pusat pertokoan di Jeddah. Kalau mau diibaratkan sih mungkin seperti Mall hanya saja tidak terlalu mewah. Jadi kami berbelanja deh walaupun kami hanya mengunjungi satu toko saja tapi itu cukup melelahkan.
          Ba’da dhuhur kami berangkat ke Makkah. Dari Jeddah kami sudah berpakaian ihram. Kami sudah siap menyambut panggilan-Mu Ya Allah. Kami tiba kira-kira pukul 17.30 waktu Makkah. Kota Makkah itu luar biasa. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Banyak-banyak-banyak-banyak-banyak sekali yang berbeda dari Makassar. Bahkan banyaknya debu yang beterbangan lantaran sedang ada perluasan Masjidil Haram, itu tidak bisa menutupi pesona kota Makkah.
          Ngomong-ngomong, mandi di kota Makkah lebih dahsyat lagi. Airnya semakin lama semakin panas dan bikin kulit melepuh loh. Memang, udara di kota Makkah ini cukup mengherankan. Kalau pagi, panas banget tiada taranya tetapi kalau malam asli sedingin es. Makanya, aku yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan dandan kepaksa harus melakukan perawatan diri secara teratur dan berkesinambungan. Mulai dari pakai lipgloss, handbody, dan pelembab muka. Kalau tidak begitu, bibir akan pecah-pecah plus memerah, kulit akan kering, dan rasanya perih sekali.
Setelah beres-beres di hotel “Hilton Tower” Makkah.Sesegera mungkin, kami bersiap untuk menuju ke Masjidil Haram. Menuju Ka’bah, qiblat umat Islam yang selama ini hanya pernah saya lihat melalui gambar. Masya Allah… kata-kata luar biasa tidak cukup pantas untuk melukiskan Ka’bah dan Masjidil Haram. Suasananya sangat teduh. Yang terdengar di sana, hanyalah nama Allah saja. Sangat dahsyat merasuk ke hati. Jika sudah masuk ke dalam, tidak ada niat sama sekali untuk ke luar.
Selanjutnya kami melaksanakan ibadah umrah sampai tengah malam. Asli ibadah umrah sangat memerlukan kekuatan fisik. Orang Indonesia di sana layaknya anak kecil karena postur tubuh yang mungil. Jadi beberapa kali saya terjepit dan terdorong baik waktu shalat, thawaf, sa’i, maupun waktu saya hanya berdiam untuk berdoa. Segala yang saya lakukan tidak boleh meleng karena bisa saja saya terinjak dan berujung pada kematian. Namun, sungguh saya sangat menginginkan bisa menghembuskan napas terakhir di sana. Bisa dishalatkan dan dimakamkan di sana. Saya pikir, itu lebih baik dari saya mendapatkan semua yang saya inginkan di Makassar. Kira-kira pukul 02.00 waktu Makkah kami kembali ke hotel untuk istirahat.

HARI KE- 3 / SENIN 16 JUNI 2008
          Hari ini kami terkapar. Saking capeknya, kami hanya bisa shalat Subuh di hotel saja. Lalu selanjutnya kami memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Saya banyak bertemu dengan akhwat di sana. Walau kadang hanya bisa senyum-senyum karena tidak bisa mengerti bahasa satu sama lain. Yang saya lakukan di sana yaitu, baca Al-qur’an, berdzikir, memperbanyak doa, minum air zam-zam, kenalan sama akhwat pake bahasa Inggris dan tidur. Kalo soal foto-foto, itu tidak bisa dilakukan di dalam Masjidil Haram. Sebelum kami masuk, kami dirazia secermat mungkin bahkan sampai menyentuh bagian tubuh khusus wanita loh. Itu lantaran banyak orang yang sering menyembunyikan kamera sih. Awalnya agak risih, tapi ya memang harus begitu.

HARI KE- 4 / SELASA 17 JUNI 2008
          Selanjutnya ziarah! Kami mengelilingi kota Makkah Al Mukarramah. Melihat Jabal Tsur yaitu bukit saat Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq berdiam diri di sana, Jabal Rahmah yaitu konon tempat bertemunya nabi Adam ‘Alaihissalam dengan hawa, Mina, Musdalifah, dan Arafah yang merupakan tempat-tempat bagi orang yang berhaji, dan Masjid Ji’ranah yaitu masjid yang dibangun oleh raja untuk putrinya.
          Selanjutnya kami bermiqat lagi di masjid Ji’ranah dan kembali ke Masjidil Haram untuk melakukan ibadah umrah lagi. Sekali lagi saya akan berjuang untuk mendapat ridho Allah SWT.

HARI KE- 5 / RABU 18 JUNI 2008
          Hari ini adalah hari terakhir kami di Makkah. Rasanya sedih sekali harus meninggalkan Makkah. Setelah thawaf untuk yang terakhir kalinya, pukul 15.00 waktu Makkah kami berangkat menuju kota Madinah Al Munawwarah.
          Kami tiba di Madinah sudah hampir shalat Isya. Kota Madinah adalah kota yang menawan. Namun, kalau disuruh memilih, saya lebih suka berada di Makkah. Meski begitu, itu tidak mengurangi rasa kagumku pada kota yang terkenal dengan kota Rasulullah SAW ini. Kami pun makan malam dan istirahat di Hotel “Moven Pick” Madinah. Hotelnya tak kalah mewah dengan hotel di Jeddah dan di Makkah.

HARI KE- 6 / KAMIS 19 JUNI 2008
          Kami ke masjid Nabawi dan ke Raodah. Seperti halnya di Makkah, kalau mau masuk masjid, harus digeledah dulu. Di masjid Nabawi, kalau kita kehilangan sandal atau sepatu, akan digantikan dengan sandal jepit yang baru dengan meminta kepada petugas yang bersangkutan. Tanteku pernah kehilangan sandalnya. Lucunya, sandal yang diberikan hanya memiliki satu ukuran, yakni ukuran kaki laki-laki dewasa.
          Nah, tentang Raodah yang biasa dikenal dengan taman syurga. Di sana adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Sayangnya waktu untuk akhwat terbatas. Hanya ketika pukul 07.00 – 10.00 dan 21.00 – 24.00 waktu Madinah. Selain waktu itu, laki-laki bebas ke sana. Terus, kalau mau beribadah di raodah juga diatur oleh laskar akhwatnya. Dibuat secara bergiliran. Jadi, orang Indonesia dengan orang Indonesia, orang Turki dengan orang Turki, orang Arab dengan orang Arab, begitu seterusnya. Syukurlah ada pembagian seperti itu. Kalau tidak, orang Indonesia tidak akan pernah bisa sampai ke Raodah lantaran kalah berebut tempat dengan muslimah bertubuh tinggi besar dari negara lain.

HARI KE- 7 / JUMAT 20 JUNI 2008
          Waktunya ziarah! Kami mengelilingi kota Madinah. Ke masjid Quba yakni salah satu masjid yang utama untuk dikunjungi, Jabal Uhud yakni tempat terjadinya perang Uhud, masjid Qiblatain yakni masjid tempat berubahnya arah kiblat dan ke pasar Kurma.
          Malamnya kami ke Raodah lagi dan kami juga berpamitan pada Rasulullah SAW karena besok kami akan pulang. Rasanya sedih sekali. Namun, benar-benar sudah tidak bisa tidak kembali ke Indonesia. Maunya sih, tinggal di sini saja selamanya.
Aku lupa bilang, wanita tidak bisa berziarah langsung ke makam Rasulullah SAW dan kedua sahabatnya, Abu Bakar As-Siddiq dan Umar bin Khattab. Melihatnya pun kami tidak bisa. Yang bisa dilakukan hanyalah berdiri di depan tembok tempat makam tersebut dan memberi salam dalam hati. Perempuan juga tidak boleh pergi ke makam Baqi, yaitu pemakaman umat muslim yang gugur dalam medan peperangan. Itu semua hanya bisa dikunjungi oleh para lelaki. Awalnya, aku pikir itu curang, tapi begitu lebih baik karena ada kemungkinan perempuan akan menangis histeris nantinya.

HARI KE- 8 / SABTU 21 JUNI 2008
          Kira-kira pukul 08.00 waktu Madinah kami kembali ke Jeddah. Siangnya kami shalat di Masjid terapung Jeddah dan makan siang di tepi Laut Merah. Pemandangan yang indah sekali.
          Pukul 15.00 waktu Jeddah kami tiba di Airport King Abdul Aziz. Kami harus menunggu lagi karena pesawat boarding pukul 19.00 waktu Jeddah. Menunggu memang pekerjaan yang paling mudah tapi sungguh sangat menyengsarakan. 

HARI KE- 9 / AHAD 22 JUNI 2008
          Seperti yang saya katakan di atas. Kalau di pesawat, yang bisa dilakukan hanyalah berdzikir, makan, tidur, dan buang air kecil. Walaupun begitu, hal tersebut tetap menyenangkan.
          Pukul 09.45 WIB kami tiba di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Lalu pukul 12.50 WIB kami berangkat menuju kota halaman kami, Makassar.
          Pukul 16.00 WITA kami tiba di Makassar. Setelah mengurus barang bagasi dan lain-lain. Kupikir kami akan langsung pulang ke rumah tapi ternyata singgah dulu di rumah nenek.
          Akhirnya pukul 18.45 WITA kami sudah benar-benar pulang di rumah. Saya pun sudah kembali ke kamar yang sangat kusayangi.
          Tadinya saya pikir akan bisa tidur dengan lelap. Hey, ini sudah pukul 01.00 WITA tapi mata ini belum terpejam. Oh, tidak! Sekarang masih pukul 20.00 di Makkah.

HARI KE- 10 / SENIN 23 JUNI 2008
          Saya berusaha memulihkan tenaga dan pikiran. Lalu esok hari, saya akan bertempur di dunia kampus lagi...

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Apa kamu tahu, aku ingin meninggalkan sesuatu yang bisa menetap di hati orang-orang.
Tidak perlu sesuatu yang besar. Tidak perlu sesuatu yang dapat mereka genggam.
Untuk sekejap, aku hanya ingin menyentuh hati mereka.


Aloha! Apa kabar? Apa aku mengenalmu?

Ehem... Jujur, aku sangat gugup sekali. Entah kamu adalah seorang pembaca setiaku ataukah ini kali pertama bagimu menelusuri jejak Kemilau Cahaya Emas, dengan sangat berterus terang, kukatakan, kamu berhasil mendebarkan hatiku. Cenat-cenut. Pasalnya kamu sedang berada di duniaku, membaca kisahku! Subhanallah!

Baiklah, anggap saja ini pertemuan pertama dan biarkan aku memperkenalkan diri. Berikut adalah data resmi diriku yang bisa kamu gunakan untuk menghubungiku lebih lanjut. 

Maya is My Name
IDENTITAS DIRI
Nama Blog : Kemilau Cahaya Emas
URL Blog : http://www.nurmayantizain.com
Awal Nge-Blog : November 2009
Alasan Nge-Blog : Satu Senti Kebahagiaan Kisahku
Sponsor : Blogspot
Pemilik : Nurmayanti Zain
Alias : Maya, Nur, Cinderella, Putri Cahaya
Email : admin@nurmayantizain.com
Yahoo Messenger : nurmayantizain
Google+ : Nurmayanti Zain
Profile Blogger : Nurmayanti Zain
Facebook : Tidak Punya
Twitter : Tidak Punya
Pekerjaan : Insinyur, Lecturer, Da'iyah, Penulis
Domisili : Kota Makassar, Propinsi Sulawesi Selatan
Motto : Keep On Fighting Till The End...!!

Fakta di lapangan, kebanyakan orang tidak puas dengan suguhan identitas diri tersebut yang [katanya] masih labil. Padahal menurutku itu sudah sangat manis loh, hehehe oops my bad! Dan dan dan yang bikin gemes, aku tidak pernah menampilkan foto asli diriku. So, remember this: jika kamu ingin melihatku, kamu harus menemuiku di dunia nyata. Ehem... tak ayal lagi, aku pun sukses mendapatkan gelar membuka diri tanpa membongkar jati diri!


Lalu Nurmayanti Zain itu Orang yang Seperti Apa?

1. (Rezky Batari Razak, Akhwat Pejuanghttp://rezkybatari.wordpress.com)
Maya itu sangat terkenal di dunia maya. Saya bahkan dibuat geleng-geleng sebab saat mencoba mengetikkan namanya di mesin pencari google, sebelum sempat sempurna mengetikkan namanya maka google telah menampilkan kemungkinan nama yang akan saya ketikkan, dan itu namanya... Nurmayanti Zain. Dek, ternyata dikau adalah blogger yang terkenal yah?? Itu apa istilahnya yah May??

2. (Ririe Khayan, Kidung Kinanthihttp://www.ririekhayan.com)
After all, saya pribadi sungguh salut dan kagum pada Puteri Cahaya, di belia usianya bertabur gemerlap pencapaian prestasi akademik, non akademisnya dan lompatan kuantum dalam sisi religiusnya yang tercermin dari ‘isi’ hati dan pikirannya yang dewasa dan mampu memberikan sinar bagi sekitarnya dan dalam spectrum cahaya yang lebih luas lintas ruang, waktu, gender, social dll melalui istananya yang ber ‘kemilau cahaya emas’.

3. (Insan Robbani, Media Robbanihttp://www.mediarobbani.com/)
Ada sekelebat cahaya melintas lembut di depan mataku. Cahaya itu berkilau memendarkan cahaya kuning keemasan. Indah laksana cakrawala jingga di ufuk timur. Menorehkan goresan tinta emas di alam raya. Hanya harap yang ku pinta pada sang Maha Raja. Semoga kemilau cahaya emas tidak akan silau dengan indahnya sinar mentari, tidak akan memudar oleh keperkasaan sang mentari. Tetaplah menjadi kemilau cahaya emas yang bisa mewarnai dunia dengan karya emasmu. Semoga Allah Ta'ala menjagamu.

4. (Ria Hidayah, Memories of My Lifehttp://riahidayah.blogspot.com)
Makasih Ya Allah, telah memperkenalkan Aya pada sosok yang ber KEMILAU CAHAYA EMAS, hamba sholehah-Mu yang cerdas luar dalam, benar-benar muslimah luar biasa. Terima kasih Ya Allah... Makasih Kak... Terima kasih banyak atas persaudaraan ini Kak... Walau hanya baru kenal di dunia maya dan komunikasi via blog, email, juga hp, semoga Allah mengikatkan hati-hati kita dalam ikatan persaudaraan karena-Nya ya... Semoga Allah mengekalkan ikatan ini.

5. (Yuna Kiva, Be a Secrethttp://yunakiva.blogspot.com/)
Nur itu sosok yang istimewa, memesona. Nggak mudah untuk menjadi seorang Nurmayanti Zain. Disebut takdir atau jodoh ya, sampai bisa mengenal sosok Nurma. Seorang pendengar yang baik, pemberi nasihat yang baik dan pemberi semangat. Sahabat supeeerr ^_~

6. (Nurfitra Magfira, Daun Cintahttp://jingga-dauncinta.blogspot.com)
Barbie, pertemuan kita hari ini adalah sebuah cerita terindah yang kan kusimpan selamanya di hatiku, semampuku. Sungguh kau memberiku hari yang takkan terlupakan seumur hidupku. Terima kasih barbie... maksudku... cahayaku.

7. (Stumon, Stupid Monkeyhttp://www.stupidmonkey.web.id)
Tahukah anda apa yang saya dapatkan, dengan template sederhana berwarna pink, blog ini jelas-jelas milik seorang wanita, saya sih yakin aja, tapi betulkah itu. Gaya penulisan yang ringan, mudah dipahami dan ceria, menguatkan keyakinan saya kalau blog ini lebih mirip diary yang segaja dishare untuk umum.

8. (Ar Rifa'ah, Sajak yang Berhamburanhttp://rausyanfiqr.blogspot.com/)
Kepadamu, wahai Putri Cahaya, tahukah betapa aku akan terus percaya. Bahkan meski gelap telah berlapis-lapis kelamnya, kau akan terus kemilau, bersinar!

9. (A. Asmi Pratiwi, In Every Tearhttp://ineverytear.tumblr.com)
Pink Biru Hijau Merah adalah warna-warna kesukaan kami. Pink: Andi Asmi Pratiwi dan Nurmayanti Zain. Biru: Nadhifah Sakka. Hijau : Julianti Habibuddin. Merah : Risnayati Mustafa. Dark Blue: Nadia Novira. Ketuanya adalah ?????? Nurmayanti Zain… hehehe…. Berhubung Andi Asmi Pratiwi n Nurmayanti Zain sama-sama suka warna Pink… jadi setengah-setengah ta’ mo pade :p


Tahukah kamu, dari blog ini telah lahir sebuah buku fenomenal yang berjudul sama, Kemilau Cahaya Emas. Karyaku! Si Nurmayanti Zain yang rada-rada aneh binti ajaib itu, hehehe you know what I mean. Spektakuler, aku sangat-sangat-sangat merasa spesial karenanya. Tabaarakallahu Ta'ala.


Kemilau Cahaya Emas


Beritahukan padaku, Apa arti Kemilau Cahaya Emas bagimu?

1. (Pembaca Setia KeCE, Si Pelukis Jejak Lakaran Minda, www.azura-zie.com)
Saya percaya dalam perjalanan seseorang ada banyak sekali intisari yang manis, sebuah formula untuk berkaca diri dan penumbuh alamiah harapan baru. Membaca kisah dari serial Kemilau Cahaya Emas ini, bagaikan menemukan harta karun yang berisi itu semua. Satu senti kebahagiaan yang benar-benar menjanjikan. Silakan nikmati setiap jeda maknanya!

2. (Shofiyyah, Ners & Pengurus Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia)
Bukunya bagus, jujur saya suka. Ceritanya ringan mengalir, bagus dibaca kalau lagi bad mood. Soalnya bukunya seperti penulisnya, dimanapun dia, dia selalu membuat suasana menjadi lebih baik.

3. (Wita Adriyana Wardani, Freelancer, Mataram)
Keren sekali gaya menulisnya. Ditambah lagi ceritanya bagus banget. Plus puisinya bikin nangis, Subhanallah keren! Kemilau Cahaya Emas yang sangat menginspirasi. Ajaib, tulisannya membuatku bangkit!

4. (Rezki Amaliah, Pelajar SMA, Makassar)
Kemilau Cahaya Emas, di balik setiap halamannya tersimpan makna cinta yang begitu lucu dan jujur. Dengan gaya bahasa sederhana, penulis menyulap kisah cintanya menjadi lebih hidup, mengesankan dan mengharukan.

5. (Chyntia Puti Army, Karyawan Swasta, Pontianak)
Suka! Pengen selalu mengikuti karya-karya Nurmayanti Zain. Soalnya tulisannya polos, apa adanya.

6. (Mirna Andriani, Sarjana Teknik Elektro, Makassar)
Saya selalu suka ketika Maya bicara cinta. Tidak hanya lewat tulisan tapi juga obrolan lepas kami yang tak pernah direncanakan. Perasaan yang dalam namun tetap cerdas. Kata-katanya gamblang tapi tetap santun, tetap berada di koridor yang dilaluinya selama ini. Saya membaca karya Maya tentang cinta merasa kurang. Kurang karena ternyata lembaran kertas justru membatasi cintanya yang luar biasa. Keep on writing, Kanda Maya. Keep on fighting ‘till the end.

7. (Muchlis Zain, Maintenance Engineer – Kontraktor Batubara, Samarinda)
Tidak semua orang dapat memaknai hidupnya. Apalagi mengangkatnya dalam bentuk tulisan. Saudari Maya adalah salah satu dari sedikit manusia-manusia langka yang telah meneladani para ulama. Tulisan ini sangat inspiratif. Wajib dibaca bagi anda yang ingin memaknai hidupnya. Tremendous, Amazing, Incredible.

8. (Enha, Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UNS, Surakarta)
Perpaduan yang menarik antara ungkapan hati, motivasi, ukhuwah serta kisah keseharian yang diselingi humor. I like it. Buku ini mengajakku menyelami dunia Putri Cahaya, melihat melalui sudut pandangnya. Membuatku mencemburui Nurmayanti Zain, sang penulis. Seorang muslimah yang inspiratif, energik, dan ceria.

9. (Meutia Rahmah, Dosen dan Blogger, Aceh)
Ajaib, setiap kisah mengalir indah mengerucutkan sisi penasaran pembaca akan sosok Nurmayanti Zain, membuka diri tanpa membongkar jati diri. Really like it. 

10. (A. Anistahara Ayari Putri, Mahasiswi S2 Pendidikan Bahasa Jepang UPI)
Buku ini dikemas dengan manis. Dengan pembawaan yang ceria dan gaya bercerita anak muda. Namun, tetap anggun dalam balutan penjiwaan seorang muslimah. Isinya menceritakan tentang kehidupan Putri Cahaya. Tentang cara memandang musibah sebagai hikmah. Tentang semangat menggapai mimpi. Dan tentang kebesaran hati. Jangan baca buku ini kalau tidak siap terinspirasi. Jangan baca buku ini kalau tidak siap cemburu dengan Putri Cahaya.

11. (Wawan Setiawan, Blogger asal Cirebon, http://penghuni60.blogspot.com)
Membaca buku KeCE seperti kita sedang memandang pelangi yang penuh warna, bertabur cahaya emas. Warna-warni kehidupan bisa kita temukan dalam tiap lembarannya. Setiap jengkal kisah yang tertulis dengan khas oleh penulisnya, sanggup membawa kita terbuai dan larut dalam warnanya. Seolah kita enggan beranjak dan ingin terus terbuai bersamanya. Nah, jika kalian membaca buku ini sampai habis, dijamin kalian akan menemukan Kemilau Cahaya Emasnya. So, don't miss it!


Hai Hai Hai! Kamu, Maukah berkenalan denganku?

Aku tidak akan sungkan jika kamu mau memberi komentar setelah mengunjungi blog ini. Atau mungkin, terbersit asa untuk mengenalku lebih dekat? What a zing! Itu suatu pertanda bahwa aku mampu menggerakkan hatimu. Well, itulah tujuanku menulis. Untuk menginspirasi dan mendorong hati orang lain menuju ke kehidupan yang lebih bermakna. Bisakah aku?


.:: Salam Pertama ::.

View Post

Ini adalah tulisan yang dipersyaratkan ketika saya mendaftar untuk menjadi seorang asisten. Wah, walau sekarang saya telah menjadi bagian dari keluarga besar asisten laboratorium itu... saya masih tidak tahu apakah tulisan saya ini benar terjadi atau tidak. Hehehe... Setidaknya saya akan berusaha semaksimal mungkin.

Saya adalah seorang gadis biasa. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk menjadi sosok yang menurut saya spektakuler, seorang asisten, sampai saat ini datang. Awalnya saya agak ragu untuk mengajukan lamaran ini tetapi bayangan masa lalu pada praktikum Dasar Telekomunikasi membuat saya menghapus keraguan itu. Saya ingin menjadi asisten layaknya sosok asisten yang telah dengan sangat sabar membimbing saya waktu itu. Saya ingin kebaikan hati asisten juga dirasakan oleh praktikan yang lain. Saya selalu merasa miris bila di sela-sela kesibukan praktikum ada suara-suara miring tentang kelakuan asisten. Padahal semua asisten datang dengan membawa kebaikan, hanya saja bentuk kebaikan itu berbeda-beda untuk tiap-tiap orang. Tak jarang kesalahpahaman pun terjadi di tengah-tengah perjalanan praktikum. Satu-satunya hal yang bisa memuluskan hal tersebut adalah kebaikan yang tulus karena asisten datang bukan untuk menyakiti, bukan untuk menghakimi, bukan untuk mencela, melainkan untuk menjadikan kegiatan praktikum tersebut benar-benar memiliki manfaat dan esensi untuk diikuti. Itu salah satu sosok asisten yang InsyaALLAH akan terlihat pada diri saya.


            Saya pernah merasa terpuruk dan terjatuh ke lubang yang sangat dalam lantaran kelakuan seorang asisten. Pasalnya, asisten tersebut tidak sadar kalau praktikannya telah tampak sangat konyol dan bodoh. Terkadang ada suatu masa asisten merasa dirinyalah yang paling pintar. Tidak berhenti sampai di situ, praktikan dibuat tidak berkutik dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Sudah begitu, praktikan yang tengah berusaha keras menjawab tetap tidak mendapatkan sambutan yang hangat. Dan parahnya, asisten tidak mengklarifikasi jawaban tersebut sehingga penjelasan menjadi mengambang dan tidak mengembang. Kesimpulannya, ilmu yang seharusnya bisa tersampaikan menjadi tidak tersampaikan. Sayang sekali, padahal satu-satunya warisan yang tidak akan pernah hilang adalah ilmu. Makanya, sebagai seorang asisten kelak InsyaALLAH saya akan berusaha agar ilmu saya bisa tersampaikan secara tepat dan jelas.

            Satu hal yang membuat asisten tampak spektakuler adalah image yang melekat pada sosoknya. Seperti berada di atas angin, sulit disentuh, dan selalu menghilang. Entah sampai kapan image itu akan melekat. Masalahnya, hal  itu adalah sesuatu yang bersifat generalisasi. Saat ini saya masih bisa menggambarkan image tersebut secara jelas di benak saya tetapi kelak InsyaALLAH ketika saya berada di tengah pusaran angin itu saya ragu akan bisa menggambarkannya lagi atau tidak. Karena berada di area yang sama, sesuatu tentang diri sendiri akan sulit terlihat. Namun, saya ingin menjaga existensi pribadi saya, warna saya, dan aura saya. Saya akan membentuk sebuah benteng pertahanan kokoh untuk melindungi jati diri saya. Sehingga tak ada kepribadian yang hilang. Hanya saling melengkapi satu sama lain. InsyaALLAH.

Menjadi asisten berarti memiliki amanah yang baru, memiliki tanggung jawab yang baru. Dengan demikian saya harus rela meluangkan waktu untuk memikirkan hal-hal yang bersangkutan dengan tugas seorang asisten. Saya harus mampu mengatur waktu saya sedemikian rupa sehingga kegiatan saya tidak ada yang saling bertabrakan. Oleh karena itu, perlu penyesuaian diri yang optimal, tidak setengah-setengah, dan penuh semangat. Karena tuntutan menjadi semakin berat, segala sesuatunya harus matang. Maka dari itu, saya kelak InsyaALLAH akan menjalankan tugas sebagai asisten dengan penuh tanggung jawab dan selaras dengan kemampuan saya.
Bagaimanapun yang tertera pada tulisan ini belum tentu sepenuhnya akan terlaksana 100 %. Namun, bila tidak ada peluang untuk bisa mewujudkannya, tentunya saya tidak akan berani untuk mengajukan diri. Oleh karena itu, saya bertekad InsyaALLAH usaha saya untuk mencapainya tidak kurang dari 100 %. Bukankah kesuksesan diperoleh dari 99 % kerja keras dan 1 % bakat? Jadi tidak ada alasan untuk bermalas-malasan atau berpangku tangan.
Terakhir, dengan segala kerendahan hati, saya memohon maaf bila dalam tulisan ini terdapat kata-kata yang menyinggung dan menyakiti hati para asisten. Saya juga mengucapkan terima kasih karena telah bersedia membaca tulisan ruwet ini. Sebagai kata-kata kampanye saya, tidak ada alasan untuk tidak mempertimbangkan saya sebagai seorang asisten. Sekalipun hanya 1 % saja.

View Post
Gak nyangka...!! Setelah bongkar sana-sini, aku menemukan file yang benar-benar polos. Hehehe.. Check it out!

Tak terasa sudah kurang lebih enam bulan Saya mengikuti tahapan-tahapan Praktikum Dasar Komputer. Awalnya, Saya sudah sangat senang berpikir bahwa setelah semua percobaan telah ACC maka selesailah tahapan dari Praktikum Dasar Komputer. Ternyata Saya salah besar! Ada yang namanya jurnal lengkap. Parahnya, Saya sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk asistensi jurnal lengkap tersebut. Hufft.. hampir saja Saya berputus asa tapi tidak jadi. Makanya saat ini Saya akan mencoba menggali lubang ingatan Saya selama mengikuti Praktikum Dasar Komputer. Ehm.. Kita mulai.


       Kesan pertama itu waktu responsis umum. Saya datang terlambat! Tahu-tahu ditutupkan pintu. Hiks! Sedihnya. Padahal tadi sudah lari-lari sampai ngos-ngosan dari asistensi gambar. Eh, sesaat sebelum air mata Saya tumpah, pintunya terbuka! Ada kanda senior yang menyuruh Saya dan kawan-kawan yang terlambat untuk masuk. Lalu disuruh tulis nama di secarik kertas karena terlambat. Aduh, suasana di dalam ruangan cukup tegang. Teman-teman yang sedari tadi sudah ada di dalam hanya bisa melontarkan wajah tanpa ekspresi. Saya jadi tak tahu harus bersikap bagaimana. Mana kepala Saya pusing sekali. Untungnya dengan cepat ada kanda senior yang membacakan aturan-aturan responsi umum dan praktikumnya.

       Beberapa hari setelahnya Saya sudah kasak-kusuk cari jawaban tugas responsi umum yang jumlahnya 41 soal. Ehm, tidak ada kejadian yang cukup penting pada masa-masa itu. Kalaupun ada, Saya sudah tidak terlalu mengingatnya lagi. Yang jelas, waktu itu Saya hanya mengenali asisten pemeriksa Saya saja. Eh, dengan kak Akbar. Dulunya Saya pikir kak Akbar itu namanya kak  Arlan Nurdin selaku koordinator. Soalnya yang selalu bersentuhan langsung dengan kami saat mendaftar, pengumuman-pengumuman, dan kumpul responsi adalah kak Akbar. Gak tahunya salah. Saya baru tahu kesalahan itu saat mau praktikum. Nah, di situ kami disuruh menghubungi koordinator. Saya pikir tinggal cari kak Akbar saja ternyata lebih rumit dari perkiraan. Ada kanda senior yang mau carikan kak Arlan jadi bertemulah kami dengan sosok koordinator yang sebenarnya.

       Selanjutnya hari-hari praktikum. Setiap masuk lab Saya selalu merasa tidak aman tanpa alasan yang jelas. Masalahnya asistennya jarang tersenyum. Apalagi pas ada masalah yang angkatan 2007 menghina asisten. Whoa! Saat itu asisten gencar sekali mencari-cari kesalahan praktikan untuk menuliskan kata BATAL di kartu kontrol.

       Hari-hari selanjutnya, kehidupan sudah agak normal. Maksud Saya ketegangan sudah sedikit menipis. Sikap asisten mulai melunak walau kadang muncul juga sikap-sikap yang super-duper menyebalkan. Overall, saya suka menjalani Praktikum Dasar Komputer. Banyak peristiwa yang terjadi. Saya pernah dibuat menangis karena perasaan capek menunggu jurnal yang tidak ACC-ACC padahal batas ACC sudah di ambang mata. Entah itu karena kelalaian praktikan, entah itu karena kesibukan asisten, entah itu karena jurnalnya susah sekali dikerja. Hufft.. sampai-sampai Saya pernah lupa kalau mengambil mata kuliah Praktikum Dasar Komputer saking lamanya. Saya pernah merasa sangat kesal pada asisten lantaran sikapnya sangat tidak bersahabat dan tidak mengerti keadaan praktikan.  Namun, mau marah juga tidak bisa. Mau berpendapat juga lidah ini terasa kelu. Mau mengadu juga hanya akan bikin masalah baru saja. Yang bisa ya diam. Berdoa agar keesokan harinya hati asisten itu menjadi selembut kapas.
       Tidak semua kejadian itu menyebalkan. Ada juga yang bikin hati senang. Saya pernah merasakan kebaikan hati asisten. Waktu itu Saya melakukan banyak kesalahan tetapi tidak ada hukuman yang diberikan kepada Saya. Saya merasa sangat bersyukur. Saya juga pernah merasakan ketulusan hati asisten dalam membimbing praktikannya. Saya sangat senang pernah mengetahui kalau hal-hal seperti itu tidak hanya berupa angan-angan.
       Pesan Saya, jika kelak di kemudian hari kami angkatan 2007 membutuhkan uluran tangan kanda asisten. Mohon jangan menyembunyikan tangan tapi sambutlah uluran tangan kami. Itu saja. Terima kasih atas segala bimbingan, arahan, dan tuntunannya selama ini. Saya meminta maaf secara pribadi bila ada kata-kata dan tingkah laku Saya yang menorah luka di hati baik yang tidak disengaja maupun yang terang-terangan disengaja. Sekian.


Makassar, 24 Februari 2008

View Post
Aku tak habis pikir, kok bisa segitu sulitnya mencari toilet bersih di kampus yang bergengsi ini. Aku mengerutkan dahi, berpikir keras. Ada satu toilet di lantai IV yang cukup bisa dipakai tapi di sana ada petugas laki-laki yang rada suka marah-marah, belum lagi jarak tempuhnya jauh, dan terakhir kali aku ke sana, toilet itu sedang direparasi.
            Harap-harap cemas, akhirnya aku tiba jua di depan toilet itu. Wah, gak nyangka toiletnya jadi mirip-mirip toilet elit di hotel terkenal. Ketika aku masuk, beberapa perempuan keluar dan seorang lagi masih becermin. Di dalam toilet itu terdapat empat kloset yang masih kosong. Rupanya aku beruntung karena tak perlu mengantri lagi. Setelah meletakkan tas, aku lekas masuk ke dalam kloset yang paling ujung.
            Ketika aku keluar, perempuan yang tadi becermin sudah tidak ada dan pintu toilet tetap terbuka. Serta merta aku menutup pintu tersebut dan merapikan diriku di depan cermin. Terdengar beberapa kali bunyi knop pintu toilet yang ditekan untuk membuka pintu tersebut.  Sayangnya, tak seorang pun yang masuk ke mari. Beberapa suara riuh di luar toilet membuatku semakin penasaran. Ada apa sebenarnya?


            Aku terkunci! Terkunci sendirian di dalam toilet ini. Astaghfirullah. Pantas saja pintu toiletnya selalu dibiarkan terbuka. Pasalnya ketika pintu toilet itu tertutup maka tak kan bisa terbuka lagi. Mata pintu toilet tersebut tak bergeming saat gagang pintunya digerak-gerakkan. Urat-urat panik mulai menjalariku. Aku harus memberi tahu seseorang kalau aku berada di sini.
            “Huahahaha.. Kenapa bisa kau terkunci di sana? Saya ke sana sekarang. Tunggu ma” masih terdengar tawa sahabatku, Riani, dari ujung saluran telepon sebelum dia menutupnya. Aku mendengus kesal, sempat-sempatnya Riani tertawa. Ups, sabar Aya...sabar. Aku membatin, menyadari saat ini aku sedang berpuasa di bulan Ramadhan yang penuh Kemuliaan ini.
Duk! Duk! Duk! Aku terlonjak kaget mendengar ketukan bertubi-tubi di pintu toilet. Astaghfirullah. Seorang petugas toilet berteriak dari balik pintu, “Ada orang di dalam?” Aku membalas dengan suara bergetar, “Iya, ada orang”. Seorang petugas yang lain mengintip dari balik jendela, memastikan bahwa benar-benar ada orang yang terkurung di dalam toilet.
“Aya, kau ada di dalam?” aku lega mendengar Riani meneriakkan namaku. Itu berarti Riani sudah berada di luar toilet. Aku bisa merasakan betapa kasak-kusuknya orang di luar sana. Astaghfirullah. Tiga, empat, atau lima orang laki-laki berteriak satu sama lain mencari cara bagaimana membuka pintu tersebut. Seseorang ingin mendobraknya tetapi tidak disetujui oleh yang lain. Menit demi menit berlalu, suara orang-orang di luar sana mulai terdengar ketus dan kesal. Astaghfirullah… aku melantunkannya di dalam hati dengan lebih khusyuk lagi.
Seorang petugas bertubuh mungil mencoba masuk lewat balik jendela tapi tak berhasil. Akhirnya petugas tersebut masuk ke dalam toilet lewat lubang angin di atas pintu toilet. Dia pun mencoba membuka pintu dari dalam. Aku tahu dia bermaksud menolong tapi kecemasanku memuncak. Apalagi setelah usaha pembukaan pintunya gagal dan dia berkata padaku, “Tidak bisa mi terbuka ini. Kita bermalam saja di sini”. Astaghfirullah.. Aku tidak mampu merespon kata-katanya. Aku terlalu takut memikirkannya. Kemudian aku kembali menyibukkan lisan dengan memohon ampunan kepadaNya, berharap agar aku bisa segera keluar dari masalah ini.
Selang beberapa menit akhirnya mereka berhasil membobol pintu tanpa harus menghancurkannya. Jangan tanya bagaimana caranya. Saat itu yang kuingat hanyalah ucapan terima kasih yang kulontarkan pada orang-orang yang menolongku. Selama ini memang petugas-petugas itu tampak tidak ramah tetapi aku tahu terdapat kebaikan di hati mereka. Ketika langkahku telah berada di luar toilet—aku berpikir—seburuk apapun kejadian yang menimpa anak Adam, selalu terdapat hikmah di dalamnya. Aku sadar, seseorang dinilai bukan dari penampilan atau raut wajahnya melainkan dari tutur hatinya.

View Post
A
duh, aku gugup sekali. Pasalnya ini hari pertamaku di sekolah ini. Perlahan aku membuka pintu kelas di hadapanku. Whoaa! Ada apa dengan kelas ini? Beberapa anak berkejar-kejaran, yang lain saling melempar bundelan kertas seenak perutnya, di sudut kelas ada yang main perang-perangan dengan mengandalkan sapu ijuk sebagai senjata, dan yang lebih parah lagi ada yang melompat-lompat di bangku, dikiranya mungkin itu trampolin.
            “Diiaaammmm!!”
Loh, itu kan suaraku. Kenapa aku berteriak? Ugh… Bodohnya aku. Semua mata memandangiku. Lari! Cepatlah! Perintah itu beredar di otakku tapi rasa syok terlampau menggerogotiku. Seorang anak laki-laki—berambut landak—berjalan ke arahku. Dia menunjukku dan mengangkat satu alisnya, “Siapa kau?”
            “Faya si anak baru, kan?” Seorang anak perempuan hitam manis mengajakku duduk di bangku terdekat. Oh, dari mana dia tahu namaku?
“Aku Fitri, ketua kelas IX B. Aku sudah diberitahu tentangmu oleh bu Ruby. Kita berteman ya?” Aku menyambut uluran tangannya dengan hangat. Ternyata jadi anak baru tidak terlalu buruk juga. Refleks, aku tertawa kecil. Anak laki-laki itu mencibir, “Menertawakan kebodohanmu?”
“Apa?!” Aku menunduk dan memperhatikannya. Padahal lebih pendek dariku tapi bicaranya sok jago banget. Mana semua anak laki-laki berdiri di belakangnya lagi. Masa dia yang jadi bosnya?
Bukk!! Awh, perutku terhantam meja. Anak laki-laki sok bossy itu menendangnya dengan telak. Dasar berandalan! Aku mendorong keras meja itu, berusaha untuk berdiri. Sayangnya itu jebakan. Saat aku berdiri, dia mengambil tasku lalu mengopernya ke anak lain. Aku ingin meraihnya tapi tak bisa. Aku terjepit. Bos kecil itu menahan meja sampai wajahnya memerah. Aku meledak! Aku bersikeras menciptakan sedikit ruang antara aku dan meja itu. Yak! Berhasil!
Secepat kilat, kakiku melompat ke bangku lalu menginjak atas meja. Si kecil itu segera mengambil alih tasku kemudian berlari menjauh. Serta merta aku mengerjarnya ke luar kelas, “Hey, kembalikan tasku!”
 Wekk! Dia menjulurkan lidahnya, mengejekku. Dengan cepat dia berbalik tapi kemudian terpelanting ke belakang. Lho? Seorang anak laki-laki bertubuh atletis menabraknya lalu memungut tasku, “Ini milikmu, kan? Ngomong-ngomong aku baru pertama kali melihatmu di sini. Anak baru?” Aku tersenyum.
Tiba-tiba Fitri datang bersama seorang guru muda cantik, ibu Ruby. “Sebenarnya apa yang terjadi di sini?”


©©©
            “Jadi, kau bisa menyerahkan bundel klipingnya besok? Err, A-ya…?!” Aku tersentak kaget. Kupandangi Satria yang kini mengerutkan dahinya. Dia yang dijuluki ksatria es lantaran ke-cool-annya itu memperbaiki letak kacamatanya, “Tak bisa dipercaya, kau melamun!” Aku menggigit bibir bawahku dan menampakkan wajah menyesal. Satria spontan memalingkan wajah, “Kalau besok tugasmu tidak beres, kau akan mendapat tugas tambahan”. Apa? Aku melongo.
Fitri memegang lembut bahuku, “Tenang saja. Aku akan membantumu”. Aku mengirimkan sinyal terima kasih kepada Fitri dengan mengerlingkan mataku. Tiba-tiba tangan Ferdi—laki-laki nge-bossy itu—memegang bahuku yang satu lagi, “Mau apa kau, hah?”
            “Aku juga akan membantumu”, Ferdi mengangguk sok meyakinkan. Kenapa tingkahnya mendadak jadi mengerikan begitu? Biasanya dia kan sangat brutal.  Tiara, yang duduk di samping Ferdi, bergumam, “Sepertinya kita perlu break dulu. Mempekerjakan otak selama 3 jam nonstop bukan ide yang baik, loh”.
“Gimana kalau turun ke lapangan? Main kasti bukan ide yang buruk kan?” Detik berikutnya—sebelum yang lain menjawab—aku sengaja sudah berlari ke lapangan. Aku tidak ingin Satria menyadari kalau satu-satunya alasan aku tidak mendengarkannya adalah karena aku sibuk memperhatikan sahabatnya, Aldi.
Oh, tiba-tiba anak laki-laki dan perempuan membagi diri. Itu berarti kita akan main antargender. Saat melempar koin, yang maju adalah Aldi—sosok bak pahlawan bagiku karena menghentikan tingkah Ferdi cs dan mengembalikan tasku di hari pertama sekolah—dan Tiara, sobat terbaik yang juga selalu membantu menyelesaikan tugas hukumanku. Eh? Belum tahu apa hukumanku?
Semua anak yang membuat keributan—di hari pertamaku sekolah—dihukum menyapu selama satu bulan, hanya aku dan Ferdi yang tidak. Ibu Ruby malah menggabungkan kami dengan tim kebersihan sekolah yang tugasnya berlarut-larut. Hiks! Hari-hariku diisi dengan piket kelas, membuat mading sehat, merawat tanaman, dan sekarang membuat kliping kerusakan lingkungan.
Ternyata yang duluan memukul adalah anak laki-laki, Ferdi. Aku bersiaga di bagian depan lapangan. Sebelum memukul, aku melihat Ferdi menyeringai. Ng, aku merasakan firasat buruk. Dukk! Benar saja, bola melambung tepat ke mukaku. Rasanya hidungku mau patah. Ferdi yang tertawa terbahak-bahak sudah berada di base satu. Argh! Tunggu pembalasanku!
Pemukul selanjutnya Satria. Dia itu ketua kebersihan sekolah yang kelewat tegas. Untungnya ada Fitri—sekretaris tim—yang selalu membela kecerobohanku. Konon, mereka itu pasangan kompak yang melebihi ketua-sekretaris. Namun, kupikir itu hanya cerita lama karena Fitri tak mengatakan apa pun padaku. Whoa, bola itu melambung jauh. Kini Satria berada di base satu dan Ferdi di base dua.
Giliran Aldi datang. Deg! Jantungku berdebar. Bolanya melambung tinggi dan dengan sigap Tiara menangkapnya lalu bukk! bola itu tepat mengenai betis Ferdi yang mencoba berlari ke base tiga. Dia terjerembab ke tanah. Kini aku yang tertawa terbahak-bahak. Tak kurasakan lagi Fitri yang menarik lengan kananku dan Tiara di lengan kiri untuk membawaku berlari ke base awal.
Pemukul pertama kami adalah Fitri. Bola melambung indah dan dirinya lolos ke base satu. Bagus! Rupanya dewi fortuna berada di pihak kami. Bola tak pernah menyentuh tangan mereka hingga aku, sang pemukul terakhir, sedang beraksi. Wah, ini kemenangan mutlak. Eh, mungkin tidak.
Pats! Aldi menangkap bolaku. Senangnya. Eh, bukan, ini gawat! Dengan cepat, teamwork Satria-Aldi membalikkan keadaan.
Kami berpencar. Untung bukan Ferdi yang akan melempari kami bola melainkan Aldi. Eh, tapi dia terlihat sangat grogi—lemparan bolanya kacau. Tiara adalah orang pertama yang lolos dari incarannya. Lalu dia pun mengarahkan bola pada yang lain tapi meleset. Sayangnya itu tidak membuatku senang, soalnya aku dicueki dan diincar paling akhir. Akhirnya kami mendapatkan satu poin tetapi aku malah minta pergantian pemain.
Aku menyusuri taman sekolah. Kegalauan merasuk dengan cepat di dadaku. Mungkin kabar yang mengatakan bahwa Aldi menyimpan nama teman masa kecilnya, Tiara, di lubuk hatinya itu benar. Aku terpukul sekali.
Tiba-tiba Tiara datang, “Faya, coba dengar. Anak laki-laki membantai kita 3-1 setelah menghabisi Aldi. Kasihan dia, sepertinya dia jadi bodoh karena seseorang.” Jangan bercanda, seseorang itu ya kamu, Tiara. “Oia, ada yang ingin kupastikan. Siapa orang yang kau sukai?” Aku terhenyak tak menyangka dia melontarkan pertanyaan selangsung itu. Glek!
“Aldi.”
Huahh! Apa yang telah kuucapkan? Lagi-lagi bibirku bergerak sendiri. Jika ada lubang di bawahku sekarang, rasanya aku ingin masuk saja daripada harus mendengar tanggapan dari Tiara. Eh? Dia malah tertawa kecil.
“Aku suka Satria”. Apa? Bukannya yang melelehkan hati Tiara itu Aldi...?
“Aldi itu tak berarti apa pun bagiku. Lagian aku adalah sang putri yang akan mencairkan hati ksatria es itu!” Mulutku menganga, tak percaya.
“Ih, kau gak pernah dengar teori Strawberry On the Shortcake ya? Itu loh, teori tentang stroberi alias makanan yang paling enak apakah dimakan duluan atau disisakan paling akhir. Kalau si Aldi, dia memakan kuenya dulu baru stroberinya. Aku tahu itu karena aku sudah berteman lama dengannya. Dia menyisakanmu paling akhir di permainan tadi kan? Jadi, kamu adalah stroberi baginya!”
Aku terperangah, Tiara tahu bagaimana cara menghilangkan kecemasanku. Eh, tunggu dulu. Menurut teori, bukannya kalau disisakan paling akhir akan ada kemungkinan stroberinya direbut sama orang lain?
©©©
            Pagi itu, aku terlalu cepat datang ke sekolah. Mau bagaimana lagi? Hatiku lega menyadari aku masih punya harapan menempati ruang di hati Aldi. Jadinya, tak bisa tidur deh. Aduh, kepalaku jadi terasa sedikit pusing.
            “Kau baik-baik saja?” Aku tak percaya, itu kan suaranya Aldi. Aku menengok dan menemukan Aldi berbalut baju kaos putih basah dengan cucuran keringat di wajah dan tubuhnya. Sungguh, bila aku bisa melihat Aldi yang seperti ini, tidak tidur seratus kali pun aku mau. Perlahan, aku mengangguk.
            “Sepertinya tidak begitu. Kemarikan tasmu, biar aku yang bawa” sebelum aku sempat bereaksi, Aldi mengambil tas dari tanganku lalu berakting seolah-olah tas itu sangat berat. Serta merta kami berdua tertawa.
            “Kau tadi habis melakukan apa?” Aku bertanya pada Aldi yang berjalan di depanku. Dia menoleh, “Tadi aku membantu Satria menata ulang pot-pot bunga. Huh, kupikir itu pekerjaan mudah, ternyata cukup makan tenaga juga”.
            Saat itu, rasanya waktu berjalan luar biasa cepat. Kami berdua telah sampai di kelas. Aku mengucapkan terima kasih pada Aldi ketika dia memberikan tasku kembali. Tiba-tiba Satria datang lalu melemparkan minuman kaleng yang ditangkap dengan sigap oleh Aldi, “Trim’s atas bantuanmu”. Aldi tersenyum seraya mengangkat jempolnya.
            Satria melirikku dan berkata, “Bagaimana tugasmu?” Ah, aku lupa. Dia pasti akan marah besar. Aku menautkan kedua alis dan menggeleng pelan. Satria pun menautkan kedua alisnya lalu cepat-cepat tersenyum, “Kalau kau kesulitan, jangan sungkan meminta bantuanku”. Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata Satria bisa baik juga.
©©©
“Ay, g-a-w-a-t! Ferdi menelepon semalam. Dia bilang dia ingin bicara padaku sepulang sekolah nanti. Feelingku, dia berniat menyatakan perasaannya. Ferdi itu tipe orang yang memakan stroberinya terlebih dahulu. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku pasti akan melukainya”. Tiara mondar-mandir gelisah.
Aku tak habis pikir. Ternyata tidak hanya otot tetapi otaknya juga bisa bertindak cepat. Pantesan dia selalu berlaku manis saat rapat tim kebersihan. Rupanya dia sudah terjangkit virus merah jambu gara-gara pesona Tiara.
Jam demi jam berlalu dengan cepat. Aku tidak jua menemukan solusi tepat untuk si Ferdi sampai bel pelajaran terakhir berbunyi. Ibu Ruby yang akan mengajar Bimbingan dan Konseling—karena akan memenuhi undangan kerabatnya—tidak bisa hadir sepenuhnya di kelas. Kami hanya diserahi tugas. Sementara aku mengerjakannya, Ferdi datang sambil mengemut es batangan. Dia merebut buku tugasku, “Disuruh buat apaan?”
Aku nyaris kesal dibuatnya tetapi aku merasakan adanya suatu kesempatan. Aku menyuruhnya duduk di sampingku agar aku bisa menerangkannya. Selang beberapa lama Ferdi larut dalam menulis. Kata-kataku memaksanya untuk memalingkan wajahnya dan melihatku, “Ada seseorang kan yang kamu sukai?”
Dari jauh aku melihat Tiara berdiri dan meninggalkan kelas. Aduh, dia pasti berpikir aku akan cerita macam-macam. Ugh, setidaknya aku harus berhasil.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan” Ferdi kembali menulis. Aku perlu sedikit umpan. Aku berkata pelan, “Jangan bohong, aku tahu hari ini kau berniat mengungkapkan perasaanmu”. Refleks, Ferdi terlihat canggung. Dia bahkan berbicara lebih pelan dariku, “Dari mana kau tahu?” Aku mengangkat bahu dan tersenyum puas, “Firasat perempuan. Terlihat jelas dari wajahmu, kok. Dia sangat berarti ya untukmu?”
 “Dia orang yang sangat menawan. Mungkin dia tidak sadar bahwa dia telah menjadi sosok yang membuatku bersemangat setiap hari ke sekolah.” Wah, baru kali ini aku melihat Ferdi tersipu. Hampir saja aku tertawa tapi aku ingat misi kali ini bukan untuk mengejeknya.
“Kalau begitu dia pasti menganggapmu sebagai sahabat terbaiknya. Namun, belum tentu dia bisa menyambut perasaanmu. Sekali kau merobek tabir persahabatan dengan tajamnya rasa di hatimu itu, kau tidak akan pernah mendapatkannya kembali.”
“Maksudmu?” Aku menghela napas panjang.
“Kau harus lebih memikirkan keadaan dirinya. Jangan sampai kau malah menyulitkannya setelah apa yang akan kau katakan nanti. Bertindaklah dengan bijak.” Ferdi terdiam. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah padanya.
“Faya! Bisa ke mari sebentar?” Fitri melambaikan tangannya dari luar kelas. Syukurlah aku tertolong dari situasi ini. Aku menitipkan tugasku pada Ferdi sebelum mendatangi Fitri.
Aku dibawa Fitri ke kelas sebelah yang ternyata muridnya sudah pulang semua. Eh, tidak! Ada satu orang di sudut ruangan. Satria? Tiba-tiba atmosfer dalam ruangan berubah. Ng, perutku mules. Kuharap itu pertanda baik.
“Faya, aku… AKU SUKA KAMU!” Apa?! Kenapa aku? Kenapa dia harus berteriak sekeras itu? Refleks, aku menggenggam tangan Fitri seerat mungkin.. Satria menatapku lembut dan berkata, “Maukah kau selalu ada di sisiku?”
Tentu saja tidak. Aku sempat ragu-ragu mengucapkannya karena aku tidak tega menyakiti Satria yang kini wajahnya memerah seperti kepiting rebus tetapi aku lebih tidak tega lagi menyakiti Tiara. Kukerahkan keberanianku untuk mengatakannya, eh? Fitri membalas genggaman tanganku lebih erat lagi. Dia menatapku tajam. Air mataku hampir jatuh karenanya.
Fitri menepuk bahuku, “Berpikirlah dengan tenang. Jawabannya tidak usah kau katakan sekarang”.
Aku terdiam sejuta bahasa. Aku tidak punya pilihan. Aku berusaha menahan bergetarnya suaraku, “Iya, beri aku waktu”. Satria menyunggingkan senyum ksatrianya yang aku yakin mampu membuat Tiara luluh tetapi tidak padaku. Aku meninggalkan kelas itu dengan perasaan berkecamuk. Saat tiba di kelas, aku melihat Tiara termenung sendirian. Kelihatannya teman-teman yang lain sudah pulang.
“Aku dengar semuanya. Faya pembohong! Dasar pengkhianat! Apa tidak cukup kau sudah meruntuhkan harga diriku di depan Ferdi? Aku benci kamu!”
            Setelah berkata begitu, Tiara berlari pergi. Buru-buru aku mengambil tas dan mengejarnya. Aku berhasil meraih lengannya, “Kau salah paham. Dengar—” Tiara menepis tanganku sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Air mata menetes di pipinya. Dia berkata lirih, “Aku tidak mau mendengar apa pun sekarang. Kumohon…” Aku berdiri mematung. Tiara pun berlalu dari hadapanku.
Perlahan, aku berjalan ke gerbang sekolah. Dari kejauhan aku melihat Satria naik mikrolet. Beberapa meter dari tempat itu, aku melihat Fitri yang bergeming. Tatapannya… orang yang sedang jatuh cinta bisa dilihat dari matanya. Berarti bukan cerita lama, sampai sekarang pun Fitri masih menyukai ketua kebersihan sekolah itu. Lalu kenapa dia sampai rela membunuh perasaannya? Aku sudah tidak tahan. Bulir-bulir air mataku menetes bersamaan dengan derap langkahku menghampiri Fitri.
“Sampaikan pada Satria, aku tak bisa berada di sisinya. Maafkan aku…”
©©©
            Ini yang ketiga kalinya Tiara memalingkan wajahnya. Dia terang-terangan menghindariku. Aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mendekatinya bahkan untuk sekadar berkata halo. Akhirnya, aku membuka buku Fisika dan mulai membenamkan diri dengan rumus-rumus. Toh, masa ujian sudah dekat.
            Teng! Teng! Teng!
Waktu istirahat pun tiba tapi Satria tidak kunjung muncul. Aku merasa khawatir padanya. Jangan-jangan karena penolakanku? Aku lega ternyata bukan itu alasannya saat kutanyakan pada Fitri. Katanya, Satria pergi ke luar kota untuk sementara waktu karena urusan keluarga. Melarikan diri, eh? Entahlah…tapi kupikir mungkin lebih baik begini. Soalnya aku tak tahu harus berwajah seperti apa kalau bertemu dengannya.
            “Faya.. apa kau benar-benar tidak bisa menerima Satria?” Nada bicara Fitri sedikit memelas. Aku merangkul Fitri lalu berbisik padanya, “Fit, memang dia adalah orang yang paling tidak layak ditolak. Seorang ksatria sejati gitu loh. Namun, dia bukan stroberi bagiku…”
            Fitri melepaskan rangkulanku. Aku menggenggam tangannya, “Fit, jujur pada diri sendiri akan membuatmu lebih lega”. Sebelum meninggalkan kelas, dia tersenyum simpul padaku. Aku sedikit cemas, lalu bagaimana dengan Tiara ya?
            Beberapa detik kemudian penghuni kelas hanya tinggal aku saja. Tiba-tiba Aldi muncul dan aku tidak berani mengangkat mukaku. Saat itu waktu berjalan luar biasa lambat dan aku tidak berhenti berharap agar dia cepat pergi.
            Bukk! Bundelan kertas menimpuk kepalaku. Aku melihat Ferdi di luar kelas yang menertawakanku, menjulurkan jari telunjuk, dan menggerakkannya ke depan ke belakang. Jelas sekali dia menantangku. Aku berlari ke arahnya tapi si kecil itu sudah kabur duluan. Gedubrak! Tiba-tiba Ferdi jatuh tersungkur lantaran menginjak lubang di lantai. Aku jadi merasa iba melihatnya, “Kau tidak apa-apa?”
            Ferdi tersenyum, “Terima kasih ya”. Aku menaikkan alisku tidak percaya. Selanjutnya dia pergi begitu saja seraya mengacungkan kedua jempolnya. Dengan perasaan bingung, aku kembali ke kelas.
Tak kuduga, aku dan Aldi berpapasan. Mata kami beradu. Spontan, kami berdua saling membuang muka. Jantungku berdegup kencang karena dia tidak kunjung beranjak dari posisinya. Akhirnya setelah detik ke empat puluh lima kami berdua bergerak ke arah yang berlawanan. Aku segera bernapas lega setelahnya.
            “Kok suasananya kikuk banget…?” Aku kaget, Tiara muncul dan mengajakku bicara. Saking terharunya aku lompat memeluknya.
            Tiara berkata, “Maaf ya. Aku salah paham. Ternyata Ferdi tidak tahu kalau kau tahu bahwa akulah orang yang disukainya. Kemarin Ferdi memberi boneka dan puisi yang judulnya ‘Sahabatku’. Aku senang sekali. Dan… tentang Satria. Aku memang sangat kesal kenapa dia malah suka padamu tapi biarlah. Aku yakin suatu saat akan datang seseorang yang lebih kusukai darinya untuk menempati posisi stroberi di hatiku. Lalu, ada apa antara kau dan Aldi tadi?”
            “…Aku menolaknya. Kemarin dia menelpon dan menyatakan perasaannya padaku. Perasaanku kacau. Aku merasakan senang dan takut di saat yang sama.”
            “Apa kau yakin dengan keputusanmu?”
            Senyum tipis mengembang di bibirku, “Iya. Aku tidak bisa membiarkan diriku terjepit di antara dua sahabat itu. Walau aku harus merelakan satu-satunya hal yang paling kuinginkan sekalipun, aku yakin ini yang terbaik”.
©©©
Aku sudah tidak tahu berapa lama aku menangis. Aku menyeka air mataku dan beranjak dari tempat tidur. Sesaat setelah aku ke luar dari kamar, telepon rumah berdering. Aku mengangkat gagang telepon itu dengan ogah-ogahan.
“Faya, ini aku.” Deg! Aldi meneleponku? Wuih, rasanya senang sekali.
“Kudengar, Satria telah menyatakan perasaannya padamu. Namun, kupikir aku masih memiliki peluang meski hanya satu persen sekalipun.” Jantungku nyaris melompat mendengarnya. Tunggu, sepertinya tadi aku berhalusinasi.
“Sejak awal pertemuan kita, tak pernah terlintas di benakku kalau nantinya sosokmu yang lincah dan ceria itu bisa membuatku tampak bodoh dan kikuk. Faktanya, aku benar-benar sudah jatuh hati. Walau hanya lewat telepon, saat ini aku sedang berusaha mencuri hatimu. Apa aku berhasil?”
©©©

View Post