Bismillaahirrahmaanirrahiim

Aku mengenalnya sejak sepuluh tahun lalu. Seorang siswi pindahan yang tiba-tiba memegang peranan penting dan menguasai sekolah dalam sekejap. Er-rr, menggelikan. Perempuan kaku, berkacamata dan sama sekali nggak ada manis-manisnya ternyata bisa menjadi Ketua OSIS. Siapa sih yang memilihnya? Ini gila, tanpa sadar satu suara untuknya juga berasal dariku. Mari berpikir aku kehilangan kesadaran waktu pemilihan Ketua OSIS. Yang jelas bukan karena aku tertarik padanya.

Ada sesuatu yang tidak biasa pada dirinya. Aku tahu, aku tidak berhak berkomentar seakan aku mengenal pribadinya. Faktanya, sekelas dengannya pun aku tidak pernah. Setiap hari, aku hanya melihat dirinya dari kelasku yang berseberangan dengan kelasnya. Hey, tolong garis bawahi ini, aku bukan penguntit. Aku hanya ingin memastikan gosip yang beredar tentangnya. Bahwa dia disukai oleh guru-guru karena menunjukkan prestasi belajar yang gemilang di kelas. Bahwa dia menghidupkan OSIS dan menjadikannya sesuatu yang berharga. Bahwa dia berhasil menaklukkan siswa ternakal di sekolah. Bukan dengan otot melainkan dengan hati, dia membuat siswa itu berubah drastis karena jatuh cinta padanya. Ck, kenapa aku begitu penasaran tentangnya? Mari berpikir aku terpengaruh pusaran air yang dibuatnya di lautan tanpa ombak. Yang jelas bukan karena aku tertarik padanya.

Tokyo Disney Sea

Ah, aku tak mampu memasuki SMA yang sama dengannya. Kecewakah aku? Dia memilih SMA Unggulan dengan rating yang tinggi. Aku dan beberapa teman yang lain bahkan tidak punya nyali untuk mengikuti tes masuknya. Aku tak punya kesempatan untuk melihat sosoknya lagi. Kabar baiknya, aku masih berusaha mencuri-curi dengar perkembangan hidupnya. Ah, mari berpikir aku mempunyai jiwa detektif dan objek kasusku adalah dia. Yang jelas bukan karena aku tertarik padanya.

Tiga tahun kemudian, dia melanjutkan kuliah di Teknik Elektro dan aku di Kimia. Kaget, kenapa dia memilih bidang yang di luar batas kemampuan seorang perempuan? Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Setidaknya aku dan dia berada dalam satu lingkup universitas. Jadi mungkin aku bisa bertanya langsung ketika sesekali berpapasan dengannya di koridor kampus. Semakin aneh saja, ketika melihatnya, aku menginginkan nomor ponselnya. Tidak hanya itu, aku jadi punya pikiran untuk membuang masa satu tahun di Kimia lalu mengikuti tes masuk lagi di Teknik Elektro.

"Loh tunggu, jadi kau akan menjadi juniorku tahun depan?! Ke-kenapa? Bukannya kau bilang kuliahmu menyenangkan?" katanya tak percaya setelah aku bercerita panjang lebar.

Aku tersenyum dan berkata lugas, "Ya, sangat menyenangkan. Tapi tetap saja aku merasa tidak cukup. Soalnya, bagaimanapun hatiku ada di Elektro."

"Whoa, gaya sekali kamu ini." dia terkikik, manis sekali. Lalu dia melanjutkan kalimatnya, "Bersemangatlah! Semoga sukses!"

Kalimat darinya cukup untuk menjadi alasan ketekunanku belajar menghadapi SNMPTN lagi. Aku pun lulus. Akhirnya aku berhasil selangkah lebih dekat dengannya. Berada di sekitarnya, aku begitu bangga melihat dia menjadi asisten yang menangani praktikum bagi mahasiswa baru. Hanya saja, aku merasa dia benar-benar tidak bisa diam di tempat. Karena setahun kemudian, dia sudah memakai toga dan menyabet gelar mahasiswa terbaik tingkat universitas saat wisuda. Fantastis, dia menyempurnakan studinya hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Apaan sih dia? Lagi, tahu-tahu sudah menjadi mahasiswa pascasarjana. Aku benar-benar ingin membelah kepalanya dan memeriksa isi otaknya. Mari berpikir aku sudah mulai kehilangan akal sehatku. Yang jelas bukan karena aku tertarik padanya.

Kuberitahu, aku tidak berusaha untuk mendapatkan perhatiannya. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksinya ketika aku ada di hadapannya dan bercerita tentang niatku melanjutkan studi ke jenjang strata-2 yang sama dengannya. Seperti dugaanku, dia memberiku kata semangat dan beberapa nasihat hidup. Saat itu aku benar-benar berharap bisa mengejarnya secepat yang aku bisa. Aku bahkan begitu ingin dia berhenti sejenak sehingga memberiku kesempatan untuk bisa melangkah bersamanya. Namun, aku tahu pasti dia bukan tipe yang seperti itu. Kenyataannya, dia sampai melompat ke Negeri Sakura untuk melakukan penelitian tesisnya lalu berencana untuk menjadi Ph.D student di sana. Mari berpikir aku akhirnya kehilangan arah dan tersesat di kota mati. Yang jelas bukan karena aku tertarik padanya.

Mediteranian Tokyo Disney Sea

Tiba-tiba lamunanku terhenti. Aku melihatnya di luar kelas, dia melambaikan tangan. Hampir saja aku menghampirinya jika tidak menghargai profesor yang tengah mengajar. Aku bertanya-tanya, sejak kapan dia kembali dan sampai kapan dia akan di sini? Ah bagaimana ini, pikiranku berkelebat tak menentu. Aku mencari-cari kesempatan untuk bisa ngobrol dengannya. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengetik sebait SMS dan mengirimkannya. Tak ada jawaban. Ck, aku gelisah. Keesokan harinya, aku kembali mengirimkannya SMS. Tetap tak ada jawaban. 

Tringg! Dering pertanda sebuah SMS masuk di ponselku. Yes, ini darinya! Dia bersedia mengajariku persamaan transformasi Z dalam analisis isyarat dan sistem. Hatiku tertawa lega, dia benar-benar memiliki pengaruh dalam hidupku. Beberapa keputusan sulit pun berani aku ambil karena semangat darinya. Sadar atau tidak, dia adalah sosok yang paling ingin kudapatkan pengakuannya. Konyol memang, aku berharap dia bisa melihatku sebagai seseorang. Dan aku sudah berusaha mati-matian untuk itu selama bertahun-tahun. Namun sepertinya aku tak akan pernah bisa menang darinya, tak akan pernah.

Tanpa sadar, aku melintas di hadapan rumahnya yang berjarak kurang dari 2 kilometer dari rumahku. Ya, dia adalah tetangga jauhku. Sebuah baruga dari bambu dan janur berdiri kokoh di depan rumahnya. Dalam adat Bugis itu lebih dikenal sebagai gerbang pengantin. Aku terperangah, kapan dia akan menikah? Atau jangan-jangan dia sudah menikah? Argh, jantungku berdetak tak karuan. Mari berpikir saat ini aku tengah terkena serangan jantung. Yang jelas bukan karena aku tertarik padanya. Aku menghela napas. Ugh, sampai kapan aku akan mengingkari fakta bahwa aku tertarik padanya?

"Eh, kenapa bisa berpikir seperti itu? Bukan aku yang menikah melainkan kakak perempuanku." dia tersenyum menjelaskan.

Aku kembali bergumam, "Kupikir kau sudah menikah."

Spontan dia tersipu malu sebelum akhirnya dia tergelak lepas. Aku baru sadar, mungkin sejak dulu aku menginginkan tawanya. Detik ini, aku tidak tahu apa aku masih punya kesempatan untuk itu atau tidak. Aku tidak meminta banyak, berkhayal pun aku tak berani. Aku hanya bisa bilang, aku bersyukur bisa mengeluarkan begitu banyak usaha karena terpicu olehnya. Dia itu spesial. Dia bisa membuatku percaya bahwa aku bisa melakukan hal-hal yang kuanggap tidak bisa. Sosok luar biasa yang aku doakan bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mari berpikir aku akan bahagia jika dia bahagia. Yang jelas, bukan karena aku tertarik padanya. Eh, salah. Yang jelas, ini karena aku tertarik padanya.



Makassar, dalam penyakit ke-ge-er-an egoism penulis
30 Desember 2012 Miladiyah - 16 Safar 1434 Hijriyah
Untuk dan hanya untuk seorang teman di luar sana
Apa benar kau berpikir seperti itu tentangku, eh?
Maaf ya. Aku benar-benar minta maaf.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Menjelang Pernikahan


Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khair

Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dan memberikan berkah atasmu
serta menyatukan kalian berdua di dalam kebaikan.
Insya Allah. Aamiin.


Makassar, Pangeran Yaris Merah untuk Sleeping Beauty
23 Desember 2012 Miladiyah - 09 Safar 1434 Hijriyah
dr. Ekachaeryanti Zain mendapatkan dr. Indra Sukmana Putra


View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

pink rose

さいご に わたし は この けんきゅうしつ に うけいれさせて いただいて かんしゃ します。 うれしかった です。 にかげつ ぐらい ここ に たいざい しました。 けんきゅうしつ で たくさん はなし と おもいで が できました。 しょうじき に いって むずかしい ですよ。 はじめて は にほんご が はなせません それに にほん の ぶんか と いんどねしあ の ぶんか が ちがいます ので けんきゅうしつ で なに を すれば いい のか わかりません でした。 でも せんせい と みなさん は たすけて くださいました。 わたし は すこし なれて きました。 よかった です。 にほんじん は とても しんせつ と すごく ていねい と きんべん な ひと です。 にほん は すごい ですよ。

せんせい と みなさん と であえて よかった です。 けんきゅうしつ で べんきょうしたい です。 じゃ がんばりましょう! もっと もっと けんきゅうして ください。 もちろん わたし は にほんご が もっと べんきょうします。 たいへん おせわ に なりました。 どうも ありがとう ございました。

Saigo ni, watashi wa kono kenkyushitsu ni ukeiresasete itadaite, kansha shimasu. Ureshikatta desu, ni ka getsu gurai koko ni taizai shimashita. Kenkyushitsu de takusan hanashi to omoide ga dekimashita. Shoujiki ni itte, muzukashii desu yo. Hajimete wa nihon go ga hanasemasen sore ni nihon no bunka to Indonesia no bunka ga chigaimasu node kenkyushitsu de nani o sureba ii no ka wakarimasen deshita. Demo sensei to mina-san wa tasukete kudasaimashita. Watashi wa sukoshi narete kimashita. Yokatta desu. Nihon jin wa totemo shinsetsu to sugoku teinei to kinben na hito desu. Nihon wa sugoi desu yo.

Sensei to mina-san to deaete yokatta desu. Kono kenkyushitsu de mata benkyoushitai desu. Jya, Gambarimashou! Motto motto kenkyushite kudasai. Mochiron watashi wa nihon go ga motto benkyoushimasu. Taihen osewa ni narimashita. Doumo arigatou gozaimashita.


タンポポ - (*^o^*) - December 2012
Pesan Kesan untuk Sekiya Lab saat Farewell Party.
Bagiku kenangannya seperti mawar pink, manis sekali.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

shinkansen tokyo - homing

Abdullah bin Mubarak berkata,
Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati
Membiasakannya mengakibatkan kehinaan
Meninggalkannya adalah kehidupan bagi hati
Selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagi Anda


Makassar, I'm here, at home sweet home, looking for me?
12 Desember 2012 Miladiyah / 28 Muharram 1434 Hijriyah


View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

S-Lab Member
S-Lab Members

Hi Maya,
Did you have a good time in JAPAN? If "yes", it is very happy for me.
It is also good opportunity for my laboratory students to make great friendships with you.
I hope that you'll let your Indonesian friends know the Japanese cultures.
I look forward to your coming back Chiba University as a Ph.D student!

Cheer,
Hiroo

❤❤❤


マヤちゃん
We met just over a month.
I will always remember your smile.
Just wishing you good luck!

From : Ma Jing

❤❤❤

Dear Maya,
I really appreciate the opportunity to meet and spend the time with you!
Thank you for coming to Sekiya lab. I really hope to see you again!

Your Friend,
Nagashima

Laboratory Seminar

Dear Maya,
This is SANADA. 
I enjoyed studying with you!
I hope to see you again.
I will study hard to fluently for the next time we see.
Darth Vader said, Hi! I'm your father!
Good by!


Dear Maya,
When I heard that the exchange student would join our laboratory, I was very uneasy. It is because I am not good at English. But, since you tried to hear my English, I could talk to you in English. I was also glad that you willingly ate the food (takoyaki, sushi, etc.) which we prepared. It was very fun day while you were here. Don't forget the memories of your stay in Japan. If there is an opportunity, I will go to Indonesia.

Sho Motegi

❤❤❤

道 を 歩まん。
満足 の ゆく。
おもしろく。 こともなき を おもしろき

This is Manzoku,
When there is not any interesting, I think that it will be interesting ... depending on how to hold your heart. Good Bye World!

❤❤❤

I wish you all good fortune and happiness for the future. Take care of yourself.
これから の 人生 に たくさん の 幸 が あります ように!
お元気で。

From : 張 志才

❤❤❤

From majestic mountains and valleys of green, to crystal clear waters so blue, this wish is coming to you. It's joy to know you. Wishing the nicest things always for you, not only today, but all the year through because you are really a joy to know.

史 進


To MAYA
How was your life of Sekiya Laboratory? I'm glad if it was fun for you. You have impressed me by your smile and greeting. When you came in laboratory, you always said "Ohayo Gozaimasu". And when you got home, you always said "Minasan Otsukaresama deshita" with a good smile! It gave me a good impress for you. I never forget that you were a member of the laboratory. I'll see you again someday.

Kazuhide Inoue


Dear Maya,
Two months passed in no time after Maya came to the laboratory. How was the Japanese culture? I'm not good at speaking English but was able to talk with you because you understood it! Thank you! I'll do my best to boost my English communication skill. If there's an opportunity to meet you again, let's chat with me in English fluently. Take Care.

Best Regards,
Shimoyamada Yuta

❤❤❤

Dear Maya,
How was your student life Japan for about two months? I think you was unfamiliar to life in Japan at first. But I think you like the Japanese culture and Chiba through your student life. I was not good at speaking English. But I got a little confident through conversation with MAYA. I think I should tell you more about simulation. We are grateful that encounter with MAYA become a good experience. We look forward to the day we meet again. Good luck with your studies, research and everything.

From Okazawa

❤❤❤

マヤさんへ
Thank you for coming my laboratory! I'm very glad to meet you because there are a few girls in my laboratory :) we made a lot of precious memory. We went to Tokyo, Lunch Meeting, Salmon Party. I can't forget this memory forever. Do you remember? On our way from Tokyo, you give me a charm, "Omamori". I was very surprised! Why did you give me a charm of love!! Ok ... I really wish I'll be able to meet handsome guy who is tall and kind XD. I will treasure not only it, but also the other present from you. And then, I had a good experience to have an Indonesian dishes. You are a cooking expert!! "Enak". Now, I don't believe you soon go home. Please keep in touch even after you go back to Indonesia. I will go to Indonesia next Spring or Summer with Salmon member! Absolutely! Please guide us! See you next time. I hope all of you are happy :D

あみ

❤❤❤

We had short time but we had a great time! Thank you so much.
I wish we had more time. I look forward to seeing you again.

Yuji Ikeda

Japanese Food

Dear Maya
I really appreciate your kindness at a short interval. Maya's presentation was splendid. How was living in Japan? Did you have a good time in Japan? When you come to Japan next, you should after making Japanese study. So you can enjoy Japan more. I'm sorry in poor English.
See you again. Bye-Bye. Fight!

From Takuya Koyanagi


It was a very short period that I was able to meet you, but thank you very much. I wish I talked more with you! Please take care of yourself.

山田 裕太
Yamada Yuta

❤❤❤

マヤさんへ
It was a short time to stay together in Sekiya Laboratory. But I was affected by your presentation in November 30th. At that time, I thought I want to be able to make excellent presentation like Maya-san. And, thank you for your great present! I wish your great performance at Indonesia too.

Kazuhiro Okabe

===========================================================
S-Lab, December 7th, 2012
Indulge in reminiscense, In the end we compromised.
For us, that magic world of childhood has already faded memory.
Nothing ever goes the way one want it to.
===========================================================

Salmon Party
Salmon Club

Thanks for inviting me at your room on December 5th. I had a very good time with you at SALMON PARTY too!!! :D I never forget you forever. I hope we can meet again in Indonesia or Japan Someday!! See you soon!

Hitomi :)

Salmon Club

Maya \(^o^)/
Thank you for coming to my cafe!
I'm sure I'll go to Indonesia next year.
Jumpa lagi!

うっち
Ucchi

❤❤❤

Dear Maya
I am really glad to see you. You are so friendly that it is easy and so fun to talk with you. You should start Facebook to keep in touch with each other. When we go Indonesia, please meet us and let us stay at your house! ^^ I want to eat your dishes because next is your turn to make dishes for us! See you next time. Good Luck!

Hiraku

===========================================================
Salmon Club, December 4th, 2012
Memories are what warm you up from the inside.
But actually they are also what tear you apart.
Nothing is ever really lost to us as long as we remember it.
===========================================================
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Awal mula bertemu denganmu, tengah hari ketika daun-daun masih menghijau di pucuknya. Ya, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di Sekiya Laboratory, awal November, awal musim gugur. Entah kau masih mengingatnya atau tidak, waktu itu kau memasuki ruangan dengan wajah tertunduk. Saat menengadah, kau terkejut melihatku berdiri di hadapanmu. Terbata-bata, aku memperkenalkan diri. Kau pun tersenyum seraya menyebutkan nama. Kikuk menghampiriku, maaf ya, sekilas hampir saja aku salah mengenali gendermu.

Suram, kata itu berhasil naik di urutan pertama untuk menggambarkan dirimu. Bukan apanya, setiap hari aku mencuri pandang melihatmu tengah mengacak-acak rambut dengan gusar. Sesulit itukah penelitian yang kau lakukan? Well, tema kita memang berbeda. Tentunya aku sama sekali tidak mengerti dengan rangkaian elektronik daya yang kau rancang. Tapi bukan berarti kerutan demi kerutan harus selalu terlukis di dahimu kan? Aku tidak tahu ada apa denganku, hanya saja aku begitu ingin mengenalmu lebih dekat. Sayangnya wajah seriusmu membuatku tak bisa mendekat. Apalagi, kau itu suka menghindar ya?

Ah-hh, kau akhirnya mengajakku bicara. Walau aku tahu, kau melakukannya karena sensei yang meminta. Hu um, sensei pengen aku diajak ke CEATEC alias Combined Exhibition of Advanced Technologies di Makuhari Messe. Kau pun menyesuaikan diri dengan jadwal akhir pekanku. Dan saat ke pameran teknologi itu, aku benar-benar kagok berada di sampingmu. Tata bahasaku seketika hancur blepotan, tak tahu harus berkata apa. Dari yang tidak pernah ngobrol, malah harus menghabiskan waktu bersama. Coba katakan bagaimana aku harus memulai percakapan denganmu? Eh tapi dengan santai, kau berhasil mencairkan kekakuan dengan menuntunku memutari pameran. Yang lebih hebat lagi, hari itu aku mendapatkan senyum pertamamu. Waw, manis sekali.

Senyum Momiji Merekah
Senyum pertamamu, semerah momiji yang bermekaran.

Hari selanjutnya, welcome party diadakan untukku. Dengan cool, kau memilih meja yang terjauh. Padahal aku pengen ngobrol denganmu. Aku cemberut. Parahnya itu tidak terjadi sekali saja. Kau benar-benar suka menyendiri ya? Saat laboratory seminar pun kau memilih tempat tersudut. Aku menghela napas. Kalau begini caranya, gimana aku bisa mengajakmu makan siang bareng? Ugh, ayolah aku butuh kesempatan. Kalau kesempatan itu tidak datang, berarti aku yang harus menciptakannya sendiri. Baiklah, aku akan berusaha duduk di sampingmu pekan depan. Lihat saja, aku bertekad kau akan mengakui keberadaanku.

Lalu laboratory dinner yang dilaksanakan sebulan sekali, diadakan di sebuah restoran keluarga. Tak kuduga, teman-teman merancang agar kau duduk di sampingku. Aku senang sekali. Malam itu aku bisa ngobrol denganmu tanpa beban. Aku pun bisa mengetahui banyak hal tentangmu. Tahukah kau? Reaksimu ketika salah tingkah begitu lucu. Dan sensei berhasil mengeluarkan tawamu, sampai-sampai aura keseriusan lenyap dari bayangmu. Di antara tawa itu, tiba-tiba kau dengan lembut bertanya tempat apa saja yang ingin aku kunjungi. Katamu, kau akan menemaniku ke sana. Menemaniku kemanapun aku ingin pergi. Aku sempat bengong, tak percaya dengan apa yang kudengar. Dalam hati aku menjerit kegirangan. Gyaaa, apa ini magic dari sensei?!

Chiba Daisai
Festival Daisai.
Di Festival Daisai, aku menggosok mataku, tidak yakin sosok yang kulihat itu adalah dirimu. Ya, kau yang berkemeja rapi, lengkap dengan jas dan pantofel. Ragu menghadang, aku tak berani menyapamu. Aku hanya diam dan melihatmu berlalu pergi. Eh, tiba-tiba kau melintas lagi di hadapanku untuk yang kedua kalinya. Hahaha, aku bisa gila. Kalau ini bukan takdir, lalu apa namanya? Aku melepas celemek dan menghambur keluar dari stand Indonesia yang tengah menjual sate kambing, soto, pisang goreng dan risoles. Tanpa peduli dengan orang-orang di sekelilingmu, aku datang menghampirimu. Aku memegang lenganmu, kau terkejut, raut wajahmu melukiskan rona yang sama ketika kau pertama kali bertemu denganku. Ah, tidak! Tatapanmu kini lebih menghangat. Kau pun sudah tidak sungkan lagi melontar senyum padaku. Tergesa-gesa, kau menjelaskan tugasmu sebagai panitia Mr. & Ms. Contest yang super padat hari ini. Esok hari adalah waktu bebasmu. Jadi kau memintaku untuk menunggumu besok. Ya, untuk menikmati festival daisai bersama. Lagi-lagi aku takjub, tak menyangka kau mengajakku. Padahal di sini tidak ada sensei.

Welcome party Sannensee
Welcome party sannensee.
Satu bulan berlalu, laboratorium kedatangan mahasiswa tingkat tiga yang akan memulai penelitian bersama. Welcome party pun diadakan di rumah makan depan stasiun Nishi Chiba. Senangnya, tanpa aba-aba kau langsung duduk di sampingku. Ehem, ternyata berkeliling bersama di Festival Daisai benar-benar ampuh mendekatkanku padamu. Kabar baiknya, kali ini aku bisa merasakan getar hatimu ketika tertawa. Bahkan kau mulai bercerita padaku tentang dirimu, tentang hal-hal yang kau sukai dan tentang hal-hal yang tidak kau sukai. Mencengangkan! Setelah tiga jam, akhirnya welcome party usai. Larut malam pun menghampiri. Gerak-gerikmu begitu gelisah ketika tahu aku pulang ke asrama sendirian dengan berjalan kaki. Kau lalu bertanya pada teman-teman siapa gerangan yang bisa mengantarku pulang. Dan saat kau tak menemukan seorang pun, kau mengajukan diri menemaniku berjalan kaki sambil menenteng sepeda. Aku tersenyum penuh terima kasih. Malam itu aku benar-benar menemukan sisi lain dirimu. Satu jam berjalan di sampingmu membuatku sadar bahwa kau bukanlah sosok yang tak bisa kujangkau. Aku bersyukur kau yang mengantarku pulang malam ini. Karenanya aku bisa tahu kalau kau itu sosok yang rapuh, ceroboh, perhatian dan hangat.

Odaiba at night
Odaiba dengan gemerlap lampu.
Hey, kau menepati janji untuk menemaniku ke Asakusa! Aku sudah merasa ini bukan karena permintaan sensei lagi. Toh pagi hari, hujan deras mengguyur Senso ji. Namun kau tetap setia memberitahuku hal-hal yang dilakukan orang Jepang ketika ke kuil. Kau sangat paham aku berbeda, aku memeluk Islam dan aku tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya. Kau menghormati diriku dan agamaku. Aku jadi merasa nyaman berada di dekatmu. Selain Asakusa, tempat-tempat menarik lainnya pun dikunjungi seharian penuh. Melanglangbuana ke Shibuya, Omotesando dan Odaiba. Bahkan sampai dinner takoyaki, kehujanan di rainbow bridge dan ketiduran di kereta. Menyenangkan sekali. Sebelum beranjak pulang ke rumah masing-masing, aku memberikan bungkusan putih padamu. Asli, aku gugup setengah mati. Aku memberikan souvenir yang kau sarankan membelinya ketika singgah di Asakusa Kannon Temple tadi. Ada apa denganku, kenapa nggak bisa ngasih dengan normal sih? Ah, kau tersenyum menerimanya. Hahaha, aku terlihat bodoh sekali. Maaf ya, aku tidak tahu bagaimana cara berteman dengan baik. Terlalu banyak kekhawatiran akan perbedaan budaya, takut kau tersinggung, cemas kau tak suka, resah bila aku menyalahi adat dan lain sebagainya. Aku tidak meminta banyak darimu. Paling tidak, aku berharap kau tidak menganggapku aneh. Tapi kalau mau ngatain norak, nggak apa kok hehehe, yang penting jangan menghindariku.

Salmon Club
At salmon party. Guess, where you are? LoL.
Esok harinya, kau menyapaku duluan. Aku tidak mimpi kan? Ya, aku yakin sedang tidak tidur. Tadi kau memanggil namaku. Keren, kau mengajakku makan siang bareng. Hatiku meleleh. Kau bilang ingin sekali makan ikan segar dan merekomendasikan restoran enak favoritmu. Aku tidak tahu apa yang tengah terjadi tapi kau tampak begitu ceria. Sampai-sampai aku tidak menemukan aura suram yang pernah tampak pada dirimu. Makan siang berdua yang begitu mengagumkan. Apalagi hari-hari setelahnya, kau memperkenalkanku pada teman-teman klubmu. Aku bertemu dengan orang-orang yang selalu hang out bareng denganmu. Kau pun tak risih memasukkanku ke dalam lingkaran persahabatanmu. Tiba-tiba saja aku merasa telah menjadi bagian dari hidupmu. Kau tahu? Salah satu targetku selama di Negeri Sakura adalah dianggap sebagai teman yang benar-benar bukan basa-basi. Dan itu terwujud ketika bersamamu. Entah bagaimana menyampaikan rasa ini, aku sungguh berterima kasih.

Eeeh- aku mendapat teguran karena akrab denganmu. Seseorang melihatku berjalan bersamamu tempo hari. Waktu itu aku tengah menggandeng lenganmu, katanya. Dia bertanya-tanya, mengapa aku bisa bertindak sekacau itu. Aku sadar, dia pasti melihat adegan itu saat Festival Daisai. Seperti benang kusut, aku rasa ada yang salah di sini. Aku pun mengajakmu bertemu dengan dia. Seseorang yang kemungkinan besar salah mengenali gendermu karena penglihatan sekilas. Wajar saja, dengan rambut bob sebahu, tubuh semampai dengan tinggi badan 165 sentimeter dan raut wajah yang tegas, kau tampak begitu maskulin. Padahal kau nyata seorang perempuan, manis pula. Satu-satunya teman perempuanku di laboratorium. Satu-satunya orang yang gencar aku dekati. Satu-satunya teman pertamaku yang berharga di Jepang. Satu-satunya putri yang kutemukan di Negeri Sakura. Ya, Putri Sakura yang mencelupkanku ke dunianya, membantuku berdiri dan membuatku merasa seperti seorang putri pula. Hey Putri Sakura, aku menemukanmu!


Kokusai-koryu-kaikan, Sepenuh hati dan terima kasih
1 Desember 2012 Miladiyah - 16 Muharram 1434 Hijriyah
Untuk dan hanya untuk  亜美ちゃん。ありがとう ね!

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ketika jiwa terpuruk perih dan asa terjatuh dalam kepungan malam, secercah cahaya di pelupuk mata pun akan sulit terlihat. Jika kebahagiaan itu mempunyai bentuk, kira-kira bentuknya seperti apa? Mungkinkah seperti kaca yang tak kasatmata? Karenanya, walau kebahagiaan begitu nyata, kadang kehadirannya tak terasa. Padahal kebahagiaan itu rasa yang paling sederhana. Menerima keramahan dan memberi ketulusan merupakan contoh terkecilnya. Masih banyak lagi contoh kebahagiaan yang terangkum dalam buku kumpulan kisah-kisah menarik tentang kebaikan hati yang tak akan mampu dihargai dengan emas.
Sang Dewa Penolong


Judul              : Sang Dewa Penolong
Pengarang      : Risty Arvel dkk
Ukuran           : 13 cm x 19 cm
Tebal              : iv + 132 hlm
Terbit             : Oktober 2012
Harga             : Rp 38.000,-
Penerbit          : AE Publishing

Kontributor :
---------------
Pelangi Putih, Nyi Penegah Dewanti, Deanitha Rizky, Anna Lulus, Samudrawan Kertapati, BOLIN, Nenny Makmun, Nay Riskara, Titi Haryati Abbas, Yusrotun Kharimah, Gemintang Halimatussa’diah, Uchie Ef-el, Sandza, Tulip, Afifah Haryanti, Fuatuttaqwiyah El- Adiba, Vina N Istighfarini, Robertha Drea, Mulyoto JJ, Arinda Sari, Putrie Ve, Peri Bulan, Nurmayanti Zain, Fauziah Abdul Aziz.

Sinopsis Salah Satu Kisah :
-----------------------------
Dihimpit rasa takut, lapar dan haus, saat itulah pertahananku roboh. Air mataku bercucuran keluar, isak tangisku pun terdengar. Aku anak usia lima tahun, baru kali ini jauh dari rumah, tak tahu arah pulang, sendiri tanpa ibu dan kakakku. Teringat pesan ibuku, tentang penculikan anak kecil untuk dijual, tangisku tambah meledak. Otakku terasa sudah buntu, tak tahu harus bagaimana. “Bagaimana kalau aku tak bisa bertemu lagi dengan Bapak, Ibu dan Kakak-kakakku?” Kelebatan wajah-wajah orang yang kusayangi membayang silih berganti, tangisku pun semakin kencang.

Tiba-tiba, seorang bapak berkumis yang mengenakan kaos putih usang dan celana tiga perempat warna hitam menghampiriku. Aku merapat ke pohon, memeluk pohon dengan sebelah tanganku, ketakutan setengah mati. Tampangnya sangar, mungkinkah dia penculik?

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah benar Bapak sangar itu adalah penculik? Apakah aku bisa kembali ke rumah dan bertemu dengan keluarga? Apakah ada orang yang akan menolong? Temukan jawabannya hanya di buku ini. Buku yang berisi 25 kisah tentang Dewa Penolong dalam kehidupan penulis. Yang mengajarkan untuk berhati-hati dalam bertindak dan berprasangka.

-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-

Cara Mendapatkan Buku Antologi Sang Dewa Penolong :
------------------------------------------------------------
1. SMS ke AE Publishing
Ketik : SDP # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 082333535560
Nanti akan mendapatkan balasan SMS berisi No. Rek dan jumlah biaya yang ditransfer.

2. Email ke Penulis
Tulis : SDP # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : admin@nurmayantizain.com
Nanti akan mendapatkan balasan Email berisi No. Rek dan jumlah biaya yang ditransfer.

-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-

Bias Sang Penulis :
--------------------
Alhamdulillah wa Tabaarakallahu Ta'ala. Ini bukuku yang keempat, tepatnya Buku Antologi yang ketiga. Tak banyak cerita yang bisa aku paparkan. Habisnya bukunya terbit setelah aku berada jutaan mil dari rumah. Alhasil aku sendiri belum melihat wujud buku tersebut. Ya, aku masih penasaran. Gyaboo!

Buku Antologi : Sang Dewa Penolong terdiri dari 25 kisah yang super hangat dan memesona. Masya Allah deh. Dijamin bisa menggelitik sanubari yang tertidur. Ehem, salah satu kisahnya yang berjudul Wahai Ksatria Penjaga adalah milikku. Kisah nyataku dengan sosok keren dan rupawan yang tak kenal lelah menjagaku bak seorang ksatria. Mau tahu siapa dia? Baca bukunya ya! Hohoho promosi.

Well, kalau tentang sampul dan layoutnya, aku no comment ya. Silakan dinilai sendiri. Kan sudah kubilang, aku bahkan belum menyentuh buku tersebut. Ck, aku beneran bingung mau ngomong apa. Waduh timbul kesan reviewnya malah asal-asalan gini ya. Pokoknya buku ini bagus, seriusan. Mau protes? Hihihi. Tak apalah, yang jelas satu buku lagi telah memajang namaku di sana. Lalu mana namamu?

.:: salam penolong ::.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

"Maya tidak sadar ya?"

Tiba-tiba saja suaranya memelan. Seorang laki-laki paruh baya yang sehari-hari bekerja sebagai kepala dinas di salah satu bidang pemerintahan itu menatapku lurus. Rasa kikuk merayap begitu cepat melalui tengkukku. Beliau melanjutkan kalimatnya, "Waktu pertama kali kenal, Bapak kira Maya itu remaja berusia 19 tahun yang baru menginjakkan kaki di dunia kampus. Soalnya Maya itu imut, cantik dengan pesonanya sendiri."

Uhuk! Aku tersedak. Wajahku, oh-hh aku tidak tahu semerah apa ronanya sekarang. Ya Allah, padahal kalau diri sendiri yang narsis, aku baik-baik saja tuh. Kenapa rasanya begitu memalukan ketika mendengarnya dari mulut orang lain ya?

Tiba-tiba saja seorang dosen dari universitas lain pun ikut menimpali, "Apalagi Maya ini punya website pribadi. Tulisannya bagus loh, mengalir sesuai hati pemiliknya. Sayangnya, akan sangat sulit menemukan sosok yang pas mendampingi Maya kelak. Tahu tidak, Maya itu ibarat putri dalam kotak kaca. Terlihat begitu memukau sampai orang lain takut mendekat karena tak terjangkau."

Putri dalam kotak kaca? Yang benar saja, itu berlebihan. Aku sudah sering ditegur karena sikapku yang selalu membuat orang lain penasaran. Kesannya tebar pesona, sok misterius atau apalah namanya. Ini aneh. Sejujurnya, aku malah tidak menyembunyikan apapun. Namun dengan mudahnya orang-orang menyematkan kata sempurna padaku. Sebenarnya apa yang salah pada diriku? Huh, jika aku putri dalam kotak kaca, aku butuh pangeran dengan palu besi.

Speechless. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menanggapi forum kecil yang mendadak terbentuk dengan bahasan tentang diriku. Belum sempat aku menjawab, wakil rektor universitasku muncul. Aku tersenyum manis berharap beliau tidak mendengar pembicaraan barusan.

Beliau bertutur, "Kalau begitu ini kesempatan buat Maya, mumpung masih muda dan belum berkeluarga. Nanti lanjut daftar beasiswa unggulan luar negeri dari universitas ya. Jadi bisa kembali ke Jepang secepatnya untuk sekolah lagi Insya Allah. Nah, pulang ke Indonesia untuk wisuda saja. Bagaimana?"

Aku menaikkan alis, tersenyum kikuk. Melihatku yang tidak merespon, seorang dosen senior di universitasku berkata, "Kenapa ragu? Maya punya pacar?" Aku menggeleng perlahan. "Ada seseorang yang menunggu kepulangan ke tanah air?" Lagi, aku menggeleng. "Dijodohkan dengan calon dari keluarga?" Untuk ketiga kali, aku menggeleng. "Lalu apa yang Maya tunggu? Kesempatan tidak datang dua kali."

Spontan, aku melepas tawa lalu mengangguk penuh terima kasih. Aku berkata lembut, "Insya Allah, akan dipikirkan dan direncanakan dengan matang terlebih dahulu."

Syukurlah detik berikutnya, forum kecil itu pun bubar. Pasalnya, hidangan santap malam telah siap. Satu per satu dari kami pun mengambil tempat untuk bisa makan dengan lahap.

Sungguh hidangan kala itu begitu mewah. Namun tenggorokanku tak jua bisa menikmatinya. Pikiranku semrawut. Bukan karena aku tidak sadar aku imut. Atau karena blog Kemilau Cahaya Emas dibaca dosenku. Apalagi karena tawaran beasiswa untuk lanjut kuliah mengambil gelar Ph.D di Jepang. Aku hanya sedang kacau. Hanya itu.

Aku teringat hampir dua tahun lalu, ketika aku mempersiapkan kelulusan dari bangku kuliah. Tekad yang bulat untuk membangun istana cahaya tak berjalan seiring dengan takdir. Mau bagaimana lagi, faktanya sang putri telah memiliki rumah tetapi sayang tak ada pangeran yang membawa tangga. Alhasil rumah tangga tak kunjung tercipta. Akhirnya keputusan untuk melanjutkan sekolah pun diambil. Dan di sinilah aku sekarang, di bumi momiji kemerahan yang berguguran. 

Chiba Daigaku
Sepanjang Jalan Chiba Daigaku Bertabur Daun Maple yang Berguguran

Bersama dengan kebekuan di bawah 6 derajat celcius, aku termenung. Pertanyaan sederhana pun terlontar, apa kali ini kejadian yang sama akan terulang kembali untuk kedua kalinya? Apa aku akan kembali menempuh jalan yang kuambil dua tahun yang lalu? Ah, putri dalam kotak kaca. Itu menyesakkan, tahu.


Kokusai-koryu-kaikan, dalam kepingan keputusan
20 November 2012 Miladiyah - 5 Muharram 1434 Hijriyah

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kau tahu, cinta tidak pernah mengikuti sajak atau alasan. Tidak peduli sebesar apa perasaan yang bersarang di hati, kalau tidak memberi tahu pada orang yang bersangkutan, maka itu tak berarti sama sekali. Setidaknya, jika kau mencintainya atau sangat mencintainya, nyatakanlah cintamu dengan baik.

Saat itu siang hari dengan awan yang begitu mendung. Beruntung, posisi tempat dudukku menghadap ke arah jendela. Jadinya aku bisa melayangkan pandangan tak terbatas. Ya, mengaburkan keramaian yang terjadi karena tawa teman-teman selaboratorium. Maklum saja bohlamnya tengah putus dan bermasalah, karenanya kondisi super sunyi seperti hari-hari sebelumnya nyaris tak tampak. Ditambah lagi petugas yang memperbaiki bohlamnya keluar masuk sambil membawa tangga dan peralatan lainnya.

Aku berdeham, sangat tidak nyaman dengan situasi sekarang. Bukan apanya, mereka ngobrol santai dengan bahasa jepang fasih lagi cepat. Bahkan sesekali aku mendengar namaku disebut. Emang ada ya kata Maya dalam kamus bahasa jepang? Ketika aku mencoba mengintip ke belakang, eh Manzoku-san tepat melirik ke arahku. Alhasil mata kami beradu! Spontan aku langsung membuang muka. Ck, benar-benar awkward moment yang bodoh. Aa-ah seseorang, tolong culik aku dari sini!

Hmm begini ya, dalam sejarah sebulanan aku di S-lab ini, aku tuh jarang bahkan bisa terhitung nggak pernah ngobrol ngalur-ngidul dengan anggota laboratorium yang lain. Kalau seputar penelitian sih, sering diskusi sama Ma-chan, Sanada-san, Okazawa-san dan Motegi-san. Tapi untuk cerita-cerita ringan tuh nggak banget deh kecuali pas party atau acara masak plus makan bersama. Soalnya kalau sudah berada di kursinya masing-masing, berasa ada tempelan di dahi mereka yang bertulisan, "Jangan ganggu, lagi sibuk". Seriusan! Makanya moment seperti ini benar-benar mengubah paradigmaku. Sayangnya aku bersikukuh nggak mau sedikitpun meninggalkan kursiku lantas bergabung dengan mereka. Huum, tiba-tiba saja aku merasa layaknya seorang diri. 

Melankolis merayap. Pelupuk mataku sedikit basah. Ada apa denganku? Rasa apa ini yang tiba-tiba membuncah dan tak terkendali? Rindukah aku akan cintamu? Ehem mungkin saja, karena kenyatannya, jiwa yang sendiri itu lebih pedih dibanding raga yang luka. Aku sadar, aku benar-benar bodoh nggak ketulungan. Maaf, aku bahkan tidak menyadari betapa cinta itu nyata untukku. Betapa ada sosok yang begitu merindukan kehadiranku. Betapa cinta itu tersimpan rapi di bumi pertiwi.

Aku hanyalah burung yang tak bisa terbang, sampai aku bertemu denganmu.
Aku hanyalah burung yang tak bisa terbang, sampai aku bertemu denganmu.

Aku bertemu dengan orang-orang baik di bumi sakura. Bahkan beberapa dari mereka benar-benar terasa begitu menghangatkan. Hanya saja, tetap saja ada hal-hal yang tak bisa tergantikan. Faktanya, detik ini aku galau seratus persen karenamu. Pada seseorang yang membuatkan surat cinta di sajak yang berhamburan. Pada seseorang yang menanti kartu pos dariku dengan penuh harap. Pada seseorang yang sangat cemas aku beneran dipinang pangeran sakura. Pada seseorang yang selalu mengajakku makan pizza berdua sambil berburu matahari tenggelam. Pada seseorang yang siap memarahiku ketika aku berlaku manja dan genit. Pada seseorang yang begitu merindu sampai berharap terbang ke Jepang untuk mencariku, menemukanku dan memelukku.

Sementara pandanganku mulai mengabur karena genangan bening, aku terus mengingat wajah-wajah tersenyum yang memanggil namaku. Aku tidak menyangka, angin bisa begitu lembut mengembuskan pesan-pesan cinta itu untukku. Sama halnya aku tidak menduga, daun-daun yang berguguran bisa begitu manis menjatuhkan memori-memori cinta itu untukku. Benarkah itu untukku? Benarkah rindu dan cinta itu tak salah sasaran?

Maaf sekali lagi, bukannya aku meragu. Hanya saja, ini terlalu nyata untuk seorang Maya. Aku bukan siapa-siapa. Aku tahu persis banyak orang yang mencercaku habis-habisan karena langkah yang kuambil berbeda dari langkah pijakan pada umumnya. Bahkan beberapa orang sudah mengambil kesimpulan asal tentang siapa dan bagaimana diriku padahal belum pernah bertemu denganku. Pertanyaanku, kenapa kau masih di sini? Kenapa kau masih ada untukku? Apa kau tahu, kau membuatku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih dengan manis.

Aku kaget, rupanya kau mengikuti perkembanganku. Kau tahu semua tentangku, bahkan sisi gelap yang selalu kututupi darimu, bisa terbaca dengan jelas. Jujur aku merasa segalanya menjadi tidak baik. Bahkan terbersit asa bahwa lebih baik jika aku ditinggalkan. Namun aku terperangah ketika tahu ternyata kau membelaku mati-matian di hadapan orang-orang yang memandangku sebelah mata. Tak ragu kau juga meluruskan benang kusut kehidupanku dan meminta orang lain pun bersikap demikian. Tanpa kata, kau sukses merasuk ke relung hatiku yang terdalam. Oh, Ya Allah.

Lalu bagaimana sekarang? Aku tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan untukmu. Mengungkapkan cinta saja aku tidak mampu. Parahnya aku. Benar adanya, aku tidak sekuat yang kau duga. Kadang aku malah lebih cengeng dari anak kecil yang permennya direbut. Namun kau tidak perlu cemas karena dalam kondisi terjepit sekalipun aku masih bisa menampilkan senyum yang memesona. Itu bukan senyum palsu. Hanya saja menurutku, pada dasarnya jika mau membuka hati dan menerimanya, semua hal di dunia ini akan terasa indah. Jadi jangan terlalu khawatir tentangku. Aku cintamu, ingat?

Untukmu, aku akan berusaha melakukan yang terbaik di sini. Kabar baiknya, hari dimana aku mengingatmu adalah hari dimana program simulasi wireless buatanku bisa running. Alhamdulillah ala kulli haal walau masih perlu perbaikan di sana sini, itu cukup membuat sensei tersenyum dan memintaku belajar lebih keras lagi. 

Untukmu, aku akan berusaha istiqomah di tengah terpaan kelabilan yang menghadang. Kabar baiknya, hari dimana aku mengingatmu adalah hari dimana aku berhasil menelepon sosok yang kau rekomendasikan untukku. Ya, aku sudah mengikat janji untuk bertamu ke rumahnya Insya Allah. Dengan begitu semoga aku bisa menambah kadar ilmu dan imanku Insya Allah.

Untukmu, aku akan berusaha makan teratur dan istirahat cukup sehingga penyakitku tidak kambuh. Kabar baiknya, hari dimana aku mengingatmu adalah hari dimana flu dan demamku sudah lenyap disapu sehat nan bugar. Tenanglah, aku akan menjalani hari-hariku dengan penuh semangat. Apa itu cukup? Oke, aku akan lebih ceria lagi. Lalu selanjutnya, aku tidak sabar untuk pulang ke tanah air lalu bertemu denganmu. Semoga saat itu aku bisa mengungkapkan cintaku dengan baik. Ukhtayya, Uhibbukifillah.


Kokusai-koryu-kaikan, bersama waktu Subuh
Untuk mereka yang begitu mengharap kepulanganku
15 November 2012 Miladiyah / 1 Muharram 1434 Hijriyah

View Post
Bismillaahirrahmaanirraahiim

Hai, Apa Kabar Blog? (✿ ♥‿♥)ノ Aku tahu, akhir-akhir ini ada sesuatu yang tidak beres. Padahal masih terekam jelas kisah betapa kerennya aku di Citra Blog atau cerita begitu manisnya diriku di nurmayantizain[dot]com. Tak kusangka kali ini aku akan mengakui bahwa aku nggak keren apalagi manis. Huum, hanya seorang aku yang aneh. Eh bukan aku sih melainkan blogku, Kemilau Cahaya Emas.

CUEK Jangan dipikirkan~ jadi malu Hanya sekadar perbodohan yang mendalam~


#1 Kembalinya Sitelinks Google
Well, ketika mengubah domain dari blogspot[dot]com menjadi [dot]com, aku kehilangan enam sitelinks yang telah rapi berjejer. Lima bulan setelah optimasi blog, sitelinks tak kunjung datang. Ah, ya sudahlah. Tanpa sitelinks, blog juga bisa tetap hidup kan? Nah anehnya, ketika aku mulai tak peduli, ketika aku tidak sedang memperjuangkan reward dari google, ketika aku berada jutaan mil dari kampung halaman, ternyata Kemilau Cahaya Emas sudah dicantol sama dua sitelinks. Aneh ya?

Sitelinks Kemilau Cahaya Emas
Sitelinks Kemilau Cahaya Emas

Aku bukannya nggak senang, Alhamdulillah blogku sudah diakui lagi sama google. Hanya saja ini tuh semacam hadiah yang terlambat. Ya, aku mendapatkan sesuatu yang sudah tidak aku cari lagi. Kadang-kadang hal seperti ini bisa membuat hati tergelitik dari penatnya urusan di laboratorium. Ehem, kesenangan yang aneh menurutku.

#2 Pesatnya Page Rank dan Alexa Rank
Well, aku kaget melihat page rank blog Kemilau Cahaya Emas berada di posisi 2. Padahal dulu masih bertelur loh. Anehnya lagi, per tanggal 10 November 2012 alexa rank mencapai peringkat 194.767 alias ramping banget. Percaya nggak sih?

page rank kemilau cahaya emas
Page Rank KeCE
alexa rank kemilau cahaya emas
Alexa Rank KeCE

Alhamdulillah Tabaarakallahu Ta'ala, jauh di lubuk hati aku sungguh bersyukur. Toh ini berarti blogku banyak yang akses. Akan tetapi tak bisa dipungkiri, ini suatu keanehan yang nyata. Beneran deh, syok! Soalnya sekarang kan aku jarang blogwalking karena sok sibuk. Aku juga sudah kesusahan me-reply komentar yang masuk. Lalu darimana datangnya jubelan pembaca yang menaikkan peringkatku sampai ke angka yang tak pernah kubayangkan ini? Aneh, karena jumlah komentar yang masuk tidak memperlihatkan jumlah pengunjung. Jujur, jadi sedikit terharu, aku punya ratusan pembaca tanpa jejak.

#3 Unggulnya Pengunjung dari Jepang
Well, sepertinya aku bisa jadi selebritis di Jepang nih. Kok di Indonesia aku tidak laku ya? Ha-ha-ha! Habis mau ngomong apa lagi, coba? Lihat, di Indonesia aku berada di urutan 30.217 sedang di Jepang aku nangkring di posisi 7.956. Menurut data, sekarang 91% pengunjungku berasal dari Jepang. Nah loh, bagaimana mungkin hal ini terjadi? Aneh kuadrat, emang ada ya orang Jepang atau orang Indonesia berdomisili di Jepang yang mau berkutat selama 11 menit memelototi tulisanku di Kemilau Cahaya Emas? Ehem, kemana perginya pembaca yang mendorongku naik ke urutan 2392 se-Indonesia dan urutan ke 55 se-Makassar?

pengunjung kemilau cahaya emas
Negara Pengunjung Kemilau Cahaya Emas

Terlepas dari itu semua, aku sungguh berucap Alhamdulillah. Walau ini sedikit membuat bulu kudukku menari. Aku benar-benar nggak mau memikirkan misalnya teman-teman laboratoriumku ternyata membaca blogku menggunakan google translate. Oh Yaa Allah, cowok-cowok itu atau bahkan sensei? Nggak mungkin. Kalau ada kemungkinan lain, aku memilih kemungkinan itu. Loh jadi lebih mending pembaca blogku itu orang Indonesia yang berada di Jepang ya? Ah-hh, aku juga nggak mau memikirkan hal itu. Lebih nyaman memikirkan kalau keanehan ini terjadi karena sistem analisisnya rusak atau salah perhitungan. Setuju? Yup, sangat setuju. Mari menertawakan kebodohanku, tepatnya kekikukanku. Ha-ha-ha!

#4 Banyaknya Followers
Well, kalau ini aku benar-benar pengen minta maaf dulu. Ayo tunjuk tangan siapa yang belum aku follow balik? Silakan komentar, Insya Allah aku akan merespon as soon as possible. Makasih loh. Alhamdulillah followerku mencapai 603 orang. Jumlah yang menurutku cukup menggiurkan.

followers kemilau cahaya emas
Followers Kemilau Cahaya Emas

Ini masuk aneh nggak ya? Ehm, bisa jadi. Soalnya aku tahu pasti aku mengenal baik beberapa followerku di dunia nyata tapi anehnya dia tuh nggak sadar kalau aku itu Nurmayanti Zain yang itu. Ya, Maya yang bodoh dan payahnya nggak ketulungan itu. Jadi geli sendiri ketika seseorang bersikap begitu ingin mengenalmu padahal dia sudah tahu pasti siapa dirimu. Memangnya aku seberbeda itu ya? Memangnya di dunia ini Nurmayanti Zain ada berapa sih? Ratusan... Lebih! #Gubrak.

#5 Kesimpulannya
Alhamdulillah ala kulli haal, aku memang aneh. Tapi nggak apa, deh. Begini-begini aku masih tetap keren dan manis. Toh masih ada yang suka padaku? Misalnya saja kamu, yang tengah membaca postingan ini sampai akhir. Iya kan? Eh, enggak ya? Yaa, sudahlah~


Sepertiga malam di Chiba University International House.
10 November 2012 Miladiyah / 24 Dzulhijjah 1433 Hijriyah.
Apa kabar blog? Semoga tidak ada mata-mata di sini.

View Post
Bismillah

Ada apa dengan mataku? Aku menelan ludah, penglihatanku mengabur. Belum lagi sesuatu bergejolak di perutku, sakit sekali. Parahnya, aku ingin muntah! Ya Allah Ya Rabb, aku menggigil ketika tengkukku terasa begitu dingin.

Ketika ujian usai, teman-teman kuliahku mulai menyadari ada yang tidak beres padaku. Aku menunduk lalu bergegas meninggalkan ruangan.

"Maya, mukamu pucat sekali! Kau baik-baik saja?"

Belum berapa langkah, tiba-tiba aku goyah. Gyut! Lenganku ditarik dan tubuhku tidak jadi terhempas ke lantai. Aku menatap sosok yang menahanku. Siapa? Seorang kakak dengan raut wajah cemas di wajahnya. Dia berujar, "Jangan pulang! Kau tidak akan bisa menyetir dalam keadaan begini. Yang ada kau dan Fatih bisa celaka. Istirahat dulu di musholla. Aku antar ke sana. Mau ya?" Aku mengiyakan. Akupun dipapah olehnya.

Di tengah jalan, aku berpapasan dengan seseorang yang serta-merta mencubit pipiku. Kakak melepaskanku sehingga dia berhasil memelukku. Siapa? Aku mengenali wajah iseng teman seangkatanku itu. Dia memerhatikanku lekat, "Putih sekali. Kau tambah cantik, May. Tapi lihat lingkar mata pandamu ini? Kau apakan malam-malammu, huh? Dasar gila belajar."

Aku tergelak lemah, "Enak saja, siapa yang gila belajar?! Eh duluan ya, ukh! Barakallahu fiik. Ma'assalamah." Aku tersenyum padanya kemudian berjalan menjauh. Aku heran, pucat dan putih beda tipis ya?

Kakak berjalan mendampingiku lagi. Di depan musholla -setelah memaksaku berjanji tidak akan pulang sebelum merasa baikan- kakak pamit meninggalkanku. Aku melangkah masuk dan langsung merebahkan diri. Tak ada seorang pun di musholla. Aku meringis. Rasa sakit di perutku semakin menjadi, membuat sendi-sendi kakiku ngilu. Aku merintih tertahan. Laa Haula wa Laa Quwwata illaa Billaah.

Aku mengatur posisi tidur dengan menekan bagian tubuh sebelah kanan. Tak lupa, tangan kanan menyanding pipi kanan dengan tas sebagai bantalan. Tabaarakallahu Rabbul 'Aalamiin. Lantunan dzikir tak putus dari lisanku. Berharap aku segera berlabuh ke pulau kapuk. Hasilnya, negatif. Aku tidak bisa tidur dengan rasa nyeri di tulangku.

Bagaimana mungkin aku bisa pulang? Astaghfirullah. Aku merasa tubuhku tidak akan membaik. Aku pun mengeluarkan handphone dan mengetik sms. Selang beberapa menit, tak ada balasan. Akhirnya aku menelepon.

"Kenapa bisa, Nak?"

Aku menangis dalam diam mendengar suara Mama dari seberang telepon. Aku berbisik menjelaskan kondisiku. Mama berkata pelan, "InsyaAllah satu jam lagi Mama jemput. Tidak apa, nanti Mama minta tolong mahasiswa untuk bawa pulang Fatih. Tunggu Nak, ya. Bersabarlah."

Still Love You Forever
I Love You [sumber gambar]

Tinggal satu jam. Sakit. Tinggal lima puluh menit. Sakit. Tinggal tiga puluh menit. Sakit. Oh ya Allah, aku ingin tidur dan melupakan rasa sakit ini. Aku resah dan gelisah. Gawat! Tiba-tiba aku tidak bisa merasakan tubuhku. Aku tidak bisa bergerak! Aku seolah terbuai tidur tapi entah kenapa aku masih bisa mendengar langkah beberapa akhwat yang masuk ke musholla. Aku masih bisa mendengar tiap kata yang mereka ucapkan. Aku masih bisa berpikir. MasyaAllah aku mohon, tidurlah.

Cup!

Mataku terbuka. Aku merasakan kecupan manis mendarat di pipi kiriku. Milik siapa? Aku duduk dan menyelidik sekitar. Beberapa akhwat tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Aku jadi semakin gelagapan dibuatnya. Dengan lembut, sang pelaku kekikukanku itu mengelus kepalaku dan bertanya apa yang terjadi padaku. Sayangnya aku hanya bisa mengangguk apapun pertanyaan yang terlontar. Seseorang berkata usil, "Maunya sang putri terbangun karena kecupan manis dari pangeran, ya?"

Suara lain berceloteh, "Hahaha bukan begitu, coba perhatikan wajahnya Maya. Tak terbayang kalau tadi Maya terbangun dan di depannya ada sosok berkumis tipis. Hiiii! Menyeramkannya!"

Aku bergidik. Ck, akhwat ada-ada saja. Secepat kilat aku berbaring lagi dengan posisi semula. Eh? Aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Siapa? Ah, aku tidak ingin menyelidik lagi. Syukran wa jazakillahu khair, ukhtayya. Aku mendekap erat pergelangan tangannya yang merengkuh lenganku. Sejenak aku merasa aman dan nyaman. Subhanallah, membuatku lupa akan rasa sakit yang kuderita. Tak sadar, aku tertidur.

Tringgg!! Aku terbangun karena deringan handphone. Siapa? Aku merekah bahagia ketika melihat nama kontak "My Mama" tertera di layar. Alhamdulillah, akhirnya.

Hmm, hari ini aku benar-benar membuat orang lain kerepotan. Hanya dalam satu hari, begitu banyak rasa yang aku alami. Mencengangkan, di antara perih itu masih terselip cinta tulus yang terasa. I know you're out there. And I know you care. Cause I feel you like an angel watching over me. Ah-hh, satu senti kebahagiaan dalam hidupku. Teruntuk semua cinta, terima kasih banyak. Aku baik-baik saja, InsyaAllah.


Makassar, Lantai tiga kampus merah hitam
Hari-hari sebelum keberangkatan meminang sakura
09 Juli 2012 Miladiyah / 19 Sya'ban 1433 Hijriyah

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Give a girl the right shoes and she can conquer the world. Because shoes are like friends, they can support you, or take you down. Well, Cinderella proof that a new pair of shoes can change the whole things in her life! So please before you judge me, walk a mile on my shoes! 

sepatu

Sepatu. Tak kusangka satu kata itu bisa membuatku amburadul pagi ini. Lantaran sol sepatuku jebol di tengah jalan, aku harus menyeret kakiku di antara kerikil. Oh ya Allah, aku tahu percuma memaki sepatu. Akulah yang salah. Toh kemarin aku sendiri yang menghambur di antara hujan, tak peduli sepatu dan kaus kaki ikut terendam air. Riwayat satu-satunya sepatu yang kubawa dari kampung halaman pun berakhir sudah. Sekarang aku harus memikirkan cara, bagaimana mendapatkan sepatu as soon as possible...(?!)

Alhasil aku meminta Mbak Yanti -roommate yang kebetulan belum berangkat ke kampus- untuk membawakan sepatu indoor (sepatu yang dipakai di dalam ruangan atau rumah, red). Alhamdulillah ala kulli haal, akhirnya kakiku terbungkus sepatu jua. Hanya saja, aku bener-bener nggak nyaman. Kebayang nggak, beraktivitas di laboratorium, kelas dan area kampus lainnya dengan menggunakan sepatu indoor? Aku merasa seperti nggak tahu sopan santun, nggak kenal adat dan yang lebih buruk lagi, aku merasa bodoh. Walau ada yang bilang bodoh itu cinta, kali ini sama sekali nggak berlaku deh. Sungguh! Huhuhu.

Besoknya, teman-teman dari Indonesia berencana shopping. Aku langsung mau ikut, siapa tahu bisa beli sepatu baru. Weks, setibanya di toko, aku baru sadar ternyata harga sepatu mahal ya? Rata-rata 3000 yen ke atas alias sekitar Rp375.000-an ke atas. Aku merasa sangat sayang untuk membeli sepatu dengan harga segitu. Mana semuanya high heels lagi. Dimana-mana boots, dimana-mana wedges, dimana-mana pantofel. Ugh, dilema kelas atas. Ada juga sih sepatu kets tapi seriusan nih, aku bukan tipe pengguna kets. Terlebih lagi harganya tuh dua kali lipatnya loh. Olala, aku pulang dengan tangan kosong.

Di stasiun kereta, tiba-tiba saja pandangan mataku tertumpu pada sepasang sepatu yang dipajang di etalase toko. Modelnya sederhana, merona coklat dan terlihat manis. Mbak Idha -seorang kakak yang lembut dan baik hati- menyarankan untuk membelinya, apalagi harganya hanya 1990 yen. Aku terdiam, memelototi hak sepatu setinggi 3 sentimeter itu. Dalam dunia high heels, 3 sentimeter adalah standar terbawah. Aku meragu, akankah aku bisa menaklukkan dunia dengan sepatu ini? Dengan kata lain, nyaman nggak ya?

Ctak! Aw, sepagi ini aku sudah keseleo karena high heels yang kubeli kemarin. Ya Allah. Me versus high heels. Ciyus? Miapah! High heels kebangetan, masa siang harinya aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan kelingking kaki kananku. Saat kuperiksa, lepuhan cukup besar mencuat di sana. Amat sangat tidak anggun, aku pun berjalan dalam keadaan pincang. Parahnya, aku merasa lepuhan demi lepuhan merayap di jari-jariku yang lain. Tak ketinggalan tumit dan area di bawah mata kaki. Aku meringis, pedis sekali.

band-aid

Esok hari, kondisi kakiku semakin buruk. Aku pengen membungkus tiap lecet pada kakiku dengan band-aid. Sayang, aku tak punya. Ditambah otot paha dan betis yang kejang lagi kaku. Aku benar-benar seperti mayat hidup yang hanya bisa berharap sakitnya berkurang setelah kurendam air hangat semalaman. Jadi jangan tanya bagaimana gaya berjalanku ke kampus. Aku kapok! Namun syukur Alhamdulillah, hari ini aku punya jadwal bermain dodge ball bersama anak-anak SD Chiba kelas enam. Dengan begitu aku bisa melepas high heels itu sejenak dua jenak.

Seharian aku terus memikirkan cara mendapatkan sepatu baru lagi. Well, aku mengibarkan bendera putih. Hiks, menyedihkan. Aku kalah dengan high heels level terendah. Biarin deh, soalnya aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku besok jika aku tetap bertahan dengan high heels itu. Ketika keluh-kesahku sampai pada Yani -sahabat berakhlak ayu yang baru kukenal- dia bersedia membawaku ke supermarket dekat kampus. Katanya di situ ada sepatu murah walau modelnya tak terjamin. Jujur aku sudah nggak mikir model, beneran deh. Pokoknya sepatu tanpa hak, aku mohon.

Flat shoes. Akhirnya kumenemukanmu. Dengan harga 990 yen, sepatu tanpa hak itu bercokol di kakiku. Uhm, masih tersisa beribu rasa nyeri di sana, sebagai bukti kemenangan high heels atas diriku. Tak luput, aku sekalian membeli band-aid lalu menutupi tiap lecet satu per satu. Ya Allah Ya Rabb, kakiku bener-bener kehilangan pesonanya. Aku melirik cewek-cewek Jepang yang dengan santai berjalan ke sana ke mari menggunakan high heels. Baik muda maupun tua umumnya menggunakan sepatu berhak 5, 7, 10 bahkan 15 sentimeter. Phew, memangnya nggak sakit apa?

"Rasa sakit itu nyata adanya. Akan tetapi cewek-cewek Jepang mampu menahan rasa sakit itu demi sebuah gengsi dan kesan. Bagi mereka, penampilan adalah nomor satu." tutur seorang kawan yang telah lama hidup di Jepang dan pernah melihat langsung band-aid yang menyokong kaki cewek-cewek Jepang. Bahkan ada yang menggunakan pad alias bantalan di dalam sepatunya. Oh fine, ternyata lecet yang kualami belum ada apa-apanya. What a day!

Faktanya, aku memang lebih suka flat shoes dibanding high heels. Tapi sedikitnya high heels sudah mengubah satu senti kehidupanku. Aku menjadi lebih bijak. Kalau kata pepatah sepatu sih, "Kau tak akan tahu beratnya kehidupan seseorang, sampai kau berjalan ribuan mil dengan sepatunya!" Arti tersiratnya tuh jangan karena si A melakukan suatu hal yang tidak benar, tuduhan miring terhadapnya sudah diedarkan kemana-mana. Sungguh ironis, padahal si penuduh tidak pernah tahu episode hidup apa yang telah dilalui oleh si A sehingga berbuat demikian. Pokoknya nggak boleh sembarangan menuduh! Nah, kira-kira seperti itulah hikmah yang bisa ditarik dari sebuah sepatu.

Ehem, sepekan ini aku jadi tahu perasaan tersiksa yang dipendam dalam sebuah sepatu. Plus pada akhirnya aku pun sudah bisa menggunakan high heels tersebut dengan anggun. Dengan anggun? Hahaha, yang benar saja. Gyaboo! Kesimpulannya, kalau sang pangeran sudah siap dengan undangan pesta dansanya, Cinderella pun sudah siap beraksi dengan sepatu kacanya. It's perfect, isn't it? ^^


Kokusai-koryu-kaikan, dalam balutan band-aid
31 Oktober 2012 Miladiyah 
15 Dzulhijjah 1433 Hijriyah

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Selepas Ashar, ketika mendung tengah menggawangi kampus Nishi-Chiba, aku menatap beberapa postcard (kartu pos, red) di tanganku. Terhitung ada enam postcard bergambar hal-hal unik Jepang yang rencananya akan kukirim ke Indonesia. Untuk keluargaku, akhwat pejuang, teman seangkatan di kampus, seniorku tersayang dan dua sahabat yang belum pernah kutemui. Ehem, bagaimana caraku mengirimkannya?

Aku melirik Manzoku-san yang duduk tepat di belakangku, dia asyik ber-headset ria. Khawatir suaraku tak terdengar, aku mengalihkan pandangan ke sebelah kanan. Okazawa-san sedang termenung mengamati program routing-nya. Telinganya bebas bising.

"Ano, sumimasen Okazawa-san... Eto..."

Okazawa-san berbalik dan mengangguk, "Hai...!! Nani?"

Sebelum aku sempat merespon, tiba-tiba Manzoku-san melepas headset lalu memutar badannya menghadap ke arahku. Jadi, dia bisa mendengarku? Shimo-san yang duduk di depan Manzoku-san juga berdiri dan menghampiri forum kecil yang tercipta karenaku. Waw, aku jadi salah tingkah. Sedikit gugup, aku bertanya seputar pos dan prosedur pengiriman kartu pos.

Manzoku-san langsung mengaktifkan online map, mencari kantor pos terdekat dari kampus. Okazawa-san kebingungan postcard itu apa, jadi aku memperlihatkan satu kartu pos padanya. Sedang Shimo-san menjelaskan waktu operasi kantor pos, katanya sekarang kantor pos sudah tutup.

Ketika raut mukaku melukis kecewa, cepat-cepat Okazawa-san berkata, "Tomorrow, okay?" Aku tersenyum sambil melingkarkan jari telunjuk dan jempolku. Ah, Masya Allah. Mereka ini sudah baik hati, cekatan pula. Awalnya kupikir aku tak disukai, huhuhu. Habisnya mereka nggak pernah mengajak ngobrol sih. Eh pas aku bertanya sesuatu, mereka malah seratus persen memberikan perhatian. Aku baru sadar, orang Jepang tuh tipikal yang cuek tapi bisa diandalkan saat dibutuhkan. Keren ya?

Keesokan harinya, aku kembali menatap postcard yang kujejer di meja. Saat itu di laboratorium hanya ada Okazawa-san, Motegi-san dan Inoue-san. Maklum, lagi istirahat makan siang. Aku pun bertanya pada Okazawa-san mengenai kelanjutan perkara pos kemarin. Tanpa banyak omong, dia langsung mengulurkan tangan kanannya padaku. Eh?

Entah kenapa, aku jadi mengigau akan adegan ketika pangeran mengulurkan tangan untuk mengajak sang putri berdansa. Masa iya, aku diajak dansa? Hahaha, hampir saja aku kehilangan akal, ck! Lekas aku mengambil postcard dan meletakkannya di telapak tangan Okazawa-san. Dia lalu berjalan ke arah Motegi-san, pamit ke kantor pos. Aku masih bergeming, akhirnya dia pun melempar isyarat padaku untuk mengikutinya. Berarti dia akan mengantar ke kantor pos ya? Dalam hati aku membatin, wah ini tuh awkward moment yang manis. Ups, jantungku gatal.

Okazawa-san berjalan beberapa meter di depan. Ketika menuju elevator, aku nggak sadar, pintunya telah lama terbuka. Alhasil, pas melewatinya, kedua pintu elevator bersiap menjepitku. Secepat kilat -masih tanpa bicara- dia menekan punggungnya ke arah pintu diiringi dengan bunyi dentuman. Ugh, pasti sakit. Aku pun menanti reaksinya. Huh curang, kenapa tampangnya masih tetap cool? Aku kan jadi susah minta maaf.

JP Post
Yuubinkyoku - Post Office - Post Box

Kyaa, udara di luar ternyata menyelinap sampai ke tulang. Ya Allah, dingin banget. Saat melewati kotak pos, aku berhenti dan menatap benda itu lama. Okazawa-san bilang dia tidak tahu tentang prangko jadi tidak bisa menggunakan kotak pos, lebih baik langsung ke kantor pos saja. Aku mereponnya dengan anggukan. Uhm, tiba-tiba Okazawa-san berada di sisi kiriku. Loh bukannya tadi berjalan di sisi kanan? Nah, dia berjalan ke sisi kananku lagi. Aku menatapnya bingung. Detik berikutnya, aku terperangah ketika mengetahui alasan dia bersikap demikian.

Rupanya Okazawa-san berupaya membuatku nyaman saat berjalan. Ketika menyeberang jalan, dia berada di sebelah kanan karena kendaraan muncul dari sebelah kanan. Dan dia memilih berjalan di sebelah kiri ketika arus pejalan kaki begitu padat di sebelah kiri. Entah khawatir aku menabrak pejalan kaki lain atau takut aku nggak bisa berjalan mengikuti arus, jadinya aku diposisikan berjalan di sisi kanan yang lapang. Ehem apa sekarang aku sudah bisa bilang wow, gitu? Hahaha, habisnya tiba-tiba saja aku ngerasa layaknya seorang putri kerajaan karena ulahnya.

Sebenarnya aku pengen mengirim postcard dengan tanganku sendiri. Kan bakal lebih greget dan penuh sensasi. Cuma yah, Okazawa-san melakukan semuanya untukku. Dia malah memintaku duduk. Tapi saking penasarannya, aku tetap di sampingnya. Setelah berbicara dengan petugas pos, dia lalu membeli prangko seharga 70 yen untuk tiap postcard. Setelah postcard tersebut masuk proses pengiriman, dia tersenyum padaku. Entah bagaimana mengungkapkannya tapi yang jelas ketulusan Okazawa-san begitu terasa. Aku jadi nggak enak hati, merasa sangat merepotkannya. Aku bahkan belum berterima kasih dengan baik. Doaku, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikanmu jalan menuju Hidayah-Nya Insya Allah. Aamiin.

Sampai saat kisah ini dituliskan, postcard yang kukirim belum sampai juga. Mama malah bercanda bilang kemungkinan aku duluan yang sampai di Indonesia dibanding postcard itu. Ha-ha-ha! Kartu pos dari Jepang seharga prangko 70 yen. Sampai nggak ya? Yah, dipikirkan pun malah bakal pusing. Jadi kalau begitu, yang bisa dilakukan hanya menunggu kan? ^^


Di antara oranye yang berguguran,
16 Oktober 2012 Miladiyah 
30 Dzulqa'dah 1433 Hijriyah 

View Post