Siang yang Terlewatkan

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bahagia itu sederhana. Sesederhana menu makan siang yang tengah saya siapkan. Sesederhana jawaban iya dari Papanya Mahdi, saat saya tanyakan, "Nanti makan siang di rumah, Pa?"

Yang jelas, makan siang hari ini terasa dua kali lebih enak, eh tidak, tiga-bahkan-empat kali lebih enak! Iya, soalnya menu biasa menjadi luar biasa, bermodal nasi dipadu tumis kangkung pedas dan ikan mairo goreng. Nyam-nyam-nyam, Alhamdulillah! Makan bersama keluarga memang selalu berhasil menaikkan parameter kebahagiaan. Setuju kan?

Seusai makan, bayi mahdi yang mengantuk mulai merajuk manja. Wah wah, sabar ya Mahdi, mama mau bantu papa siap-siap balik ke kantor dulu, bisa?

Huwaaa!
Mahdi menggila.

Papanya Mahdi menggeleng, mengisyaratkan agar saya tidak perlu membantunya beberes dan segera menyusui Mahdi saja. Kebiasaan tidur siang yang susah terlewatkan, katanya.


Detik berikutnya, mata Mahdi sudah terpejam namun mulutnya masih refleks menyusu. Saya mengalihkan pandangan ke Papanya Mahdi yang berdiri di depan cermin, kelihatannya hampir selesai bersiap.

Klik.

Saya mengerjapkan mata lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Bingung. Tidak saya dapati sosok yang saya cari. Papanya Mahdi kemana ya?

Saya bangun perlahan-lahan, mencoba agar Mahdi -yang berada di samping saya- tidak merasakan goncangan kasur. Yup, dia masih terlelap dalam mimpinya.

Saya berjalan ke luar kamar, mendapati pintu ruang tamu dalam posisi terkunci. Saya mengintip dari balik jendela. Suasana di luar terlihat dingin, motor biru milik Papanya Mahdi tidak terparkir di sana. Bagaimana ini? Hati saya semakin resah menerka-nerka apa yang terjadi.

Saya mengambil handphone, lalu mencoba menghubungi Papanya Mahdi. Tut tut tut. Panggilan saya tidak terjawab. Saya tambah bingung.

Kringgg!
Papanya Mahdi menelpon!

"Papaaa- papa dimana?"
"Di kantor. Ada apa, Ma?"

Loh. Nada suara Papanya Mahdi kok tenang begitu ya? Terus sejak kapan ada di kantor? Kok bisa ya, saya tidak menyadari kejadian ini?

"Mama... Mamaaa- halooo?"
"Pa..." saya berusaha memilah kata, "Kok bisa papa sudah ada di kantor?"

"Papa minta maaf, Ma. Tadi papa langsung pergi."
"Kok?"

"Mama dan Mahdi tidur, Papa nggak mau mengganggu."
"Hah?"

"Mama baik-baik saja? Mahdi masih tidur?"
"Eh... i-iyaa, Pa. Alhamdulillah. He em, Mahdi masih tidur."

"Alhamdulillah. Kalau begitu, sudah dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum."
Tut tut tut.

Papaaa! Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Ya Allah Pa, kok nggak bangunin Mama. Ya Allah, pantas saja saya tidak merasakan kejadiannya. Siang yang terlewatkan. Saya ketiduran! Dan kerennya, Papanya Mahdi menganggapnya sebagai hal yang mengganggu kalau membangunkan kami.

Masya Allah.
Papanya Mahdiii, tiba-tiba saja mama kangen banget.



Makassar, Mei 2015 Miladiyah - Sya'ban 1436 Hijriyah
Sorry nge-spam di bulan Ramadhan (-^.^-)
Happy Fasting ya Guys!

0 komentar:

Post a Comment