Penculikan yang Manis

Bismillah

Mungkin ini yang namanya pertolongan Allah Ta'ala secara tidak langsung. Bener deh. Gini ceritanya, suatu hari di Jumat siang ba'da bertemu dengan adek-adek berseragam putih abu-abu di Handayani. Aku berjalan kaki menuju jalan abdesir, harap-harap cemas lantaran kaki ini udah letih dan kepala nyut-nyut karena siraman terik matahari. Jujur saja, aku hampir kehabisan uang. Setelah ini masih mau menuju tempat yang sangat jauh dari pemukiman kota (read : hanya bisa ditempuh dengan ojek, alhamdulillah nomor HP ojek akhwat sudah siap sedia di HP aku) untuk mengajar privat. Qadarallah, memang memakan biaya pulang pergi yang tak sedikit. Hampir-hampir kafalah yang aku terima sebanding dengan perjalananku. Namun, insyaALLAH hal itu tak akan meredupkan jiwa ini untuk terus menyampaikan ilmu. Keep on fighting till the end. Kisah perjalananku itu akan kuceritakan di halaman yang berbeda.

Kembali ke cerita, di tengah-tengah dahaga yang menyeruak bangunan di sekitar jadi terlihat seperti puing-puing abadi sisa reruntuhan kuno saking kaburnya penglihatanku, tiba-tiba ada sebuah mobil kijang biru berjalan sangat pelan di sampingku. Kalau aku tidak berbaik sangka, mungkin aku pikir pengendara mobil itu mau menabrakku. Bukan saja berjalan pelan di sampingku seakan mau menyerempet, beberapa detik kemudian mobil itu berhenti tepat 2 meter di depanku. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa tak ada satupun penghalang yang menyebabkan mobil itu berhenti, lalu secepat kilat berpikir, "Ada apa gerangan ini?" Aku serta merta berhenti di tempat karena syaraf bahaya bergidik di belakang tengkukku. Aku benar-benar yakin tak ada lagi pejalan kaki di jalan itu. Jadi mobil itu berhenti untukku? Penculikan ?!!


Bodohnya aku, tenang tenang. Umur sudah kepala dua masih saja bertindak kekanakan. Ehem, aku berjalan 2 meter ke depan dan kini kaca mobil itu sederet dengan pandanganku. Hanya ada satu orang di dalam mobil itu, seorang ibu paruh baya--bermuka manis dengan jilbab biru mudanya--tengah duduk di kursi pengemudi, tak ada yang lain. Padahal kalau mau dibilang mobil itu mobil yang sangat besar, apalagi kalau hanya dipakai untuk satu orang saja. Aku tersenyum dan menyapanya. Ibu itu terlihat bingung, aku mendesah dalam hati, mau tanya alamat rupanya. Namun, tiba-tiba ibu itu membuka pintu di tempat duduk penumpang di sampingnya. Dia melambaikan tangannya lalu menyuruh masuk. Eh?

Ibu paruh baya : "Mau ke mana, Nak?"
Aku : "Mau ke ujung jalan ini bu"
Ibu paruh baya : "Ayo nak, ibu juga mau lewat jalan ini. Ibu Antar"
Aku : "Tapi ibu, apa tidak apa-apa?"
Ibu paruh baya : "Tidak apa. Naik saja nak!"

Belum-belum aku mencerna dengan baik apa yang terjadi, tanganku memegang knop pintu dan kaki kananku melangkah masuk. Glek! Lagi-lagi syaraf motorikku bergerak sebelum otakku rampung menganalisis. Ugh.. Aku hanya bisa banyak-banyak beristighfar apa gerangan yang tengah terjadi ini.

Ibu itu terlihat santai, jadi aku pun harus lebih santai. Masa di dalam hati lagi-lagi aku dipikir aku ini dilarikan atau semacamnya. Aku mengamati tiap gerak-gerik ibu itu dan aku sadar ibu itu bukan orang jahat. Malah, ibu itu seperti kesepian dan pengen teman bicara. Di perjalanan ibu itu menceritakan bahwa di Makassar ini hanya ada dia dan suaminya yang pensiunan lembaga keuangan. Hal itu menjelaskan kenapa ibu itu menyetir sendirian. Apalagi ini di tengah seusai Shalat Jumat jadi pastilah suami ibu itu ada di masjid dan tidak bersamanya. Ketiga anaknya sudah hidup di kota-kota besar lainnya. Anak yang bungsunya berusia 33 tahun dan baru pekan lalu melahirkan anak ketiganya. Dia bertemu dengan anaknya setiap akhir pekan. Beliau dan suaminya kadang kala mengunjungi anak-anaknya. Kadang kala pula anak-anaknya yang mengunjungi beliau. Walau kadang ibu itu memperlihatkan raut muka yang sedih, sambil bercerita beliau selalu tersenyum. Sosok ibu yang tegar tapi kesepian karena telah membesarkan anak-anaknya. Beliau menuturkan, keinginan beliau untuk mencari kegiatan-kegiatan amal atau hal-hal yang ringan tapi bermanfaat untuk mematikan waktu kosongnya. Aku benar-benar takjub dengan sosok ibu itu.

Benar-benar bodoh tadi aku sempat meragukan ketulusan hatinya. Wuihh, kan gak sangka dengan penampilanku yang aku tahu di tengah masyarakat malah dianggap aneh karena jilbab besar ini malah seperti disayang dan diperhatikan begitu, sama ibu yang tidak dikenal lagi. Aku hanya menduga-duga ibu itu mungkin punya kenangan manis dengan akhwat makanya aku pun diperlakukan sangat manis. Kalo pun tidak, berarti dari pandangan pertama, ibu itu sudah suka padaku dan menolongku. MasyaAllah, Allahu Akbar!! Benar-benar pertolongan Allah.

Sayangnya ibu itu harus belok kanan di pertigaan jalan racing. Sedangkan tujuanku masih jauh lurus ke depan. Ibu itu harus sampai beberapa kali memohon maaf padaku. Padahal aku yang numpang, jadi gak enak hati begini. Aku pun beberapa kali harus meyakinkan ibu itu bahwa aku akan baik-baik saja. Ibu itu bahkan sampai mau memberikan uang padaku. Ups, sadar diri sadar diri. Aku masih punya urat malu. Kutolak dengan senyuman lalu kuucapkan terima kasih yang benar-benar dari relung hatiku. Sebelum turun kutanyakan sapa nama beliau. Dengan manis, ibu itu menjawab, "Hj. Nurhaedah".

Perjalanan berikutnya pun aku lanjutkan sendiri. Sambil terkekeh-kekeh sendiri di tengah jalan mengenang peristiwa tadi. Surprise banget kan. Yaaahhh, hidup ini apa sih yang enggak.

4 comments:



  1. Bismillah,,

    MasyaaAllah, kisah yang menarik kakak,,
    percayalah, ada Allah disetiap langkah ta,,
    InsyaaAllah,,

    ReplyDelete
  2. kalau di culikki lagi kak...sms sy, ntar minta di culikka juga..biar ad temanta'..

    ReplyDelete
  3. hahaha,, mayaaaa....
    kangennn,, sini sy culikQ ^^

    ReplyDelete
  4. Bismillah

    adinda as-satrah, Iya Ingatlah, pertolongan Allah sangat dekat.

    adinda eky dan ukhti sari.. main culik-culikan nih yee :)

    Hehehe
    Semangat!!

    ReplyDelete