Bismillah

Suatu senja, ketika aku pulang ke rumah. Letih, kusam, bau, pening, dan rasa penat tengah merayap di tubuhku. Belum lagi peluh yang membasahi pakaianku, ditambah percikan air hujan di wajahku benar-benar membuat kondisi memprihatinkan. Tahu-tahu ketika sampai di ruang makan, ada kotak ajaib yang seakan menghisap seluruh penderitaan hari itu dan kembali dihitung nol bahkan tergantikan dengan kebahagiaan. Walau hanya satu senti kebahagiaan. Kotak itu adalah akuarium!!
 
Aku segera menempelkan kedua telapak tanganku di dinding kaca akuarium yang disinari nyala biru dari lampu neon yang dipasang di atasnya. Subhanallah... Aku takjub dengan benda yang hanya berukuran 100 cm x 50 cm x 60 cm di hadapanku itu. 


Segera kuketuk pintu kamar orang tuaku, dan serta merta kepalaku menengok masuk seraya bertanya, "Bapak, kenapa ada akuarium di situ? Punya siapa?"
Bapakku tampak heran, "Akuarium yang mana? Tidak ada akuarium."
Mendengar itu aku segera kembali ke depan akuarium, menyentuhnya dan memastikan bahwa aku benar-benar tidak bermimpi dan ini bukan dunia maya atau semacamnya, ini dunia nyata. Akuarium itu nyata adanya. Yang benar saja masa hanya aku yang melihat akuarium itu.

Aku kembali bercakap dengan bapakku, "Ada, Bapak. Akuarium yang sangat cantik sekali di ruang makan."
Bapakku mengangkat bahu, "Oh, bukannya tadi Maya yang membawanya??"
Aku melongo. Sejak kapan aku membawa akuarium itu?!
Bapakku tertawa, "Akuarium magic"
Aku menautkan kedua alis dan tertawa kecil--meninggalkan bapakku yang senang sekali melihatku bingung--kembali ke depan akuarium yang menjadi pusat perhatianku itu. Benar-benar akuarium magic.


Nemo! Ada ikan nemo. Ya Allah.. cantik banget! 1..2..3.. ada 6 ikan badut. Terus ada yang mirip gill temennya nemo yang cool-leader fish itu loh. Ada juga yang hampir mirip dory si ikan pelupa berwarna biru itu. Lucuunya.. Selain itu ada juga patrick star.. Ada 2 bintang laut. Yang satu bersembunyi di bawah karang dan yang satu menempel di dinding akuarium. Benar-benar pemalas ternyata bintang laut. Ck. Ck. Ck. Kemudian ada ikan-ikan warna-warni lainnya yang aku tak tahu apa namanya. Selain ikan, ada juga jenis rumput laut dan terumbu karang yang merespon intensitas cahaya di sekitarnya. MasyaALLAH. Luar biasa sekali.

Setiap makhluk yang Allah Ta'ala ciptakan di dunia ini memang penuh dengan arti dan hikmah tersendiri.  Sampai-sampai rasa takjub itu tak hilang-hilang. Sebagai seorang muslimah, aku bertekad akan sangat menghargai alam sekitarku. Ya Allah, aku akan berhati-hati agar tidak lagi mencabut-cabut bunga di jalanan. Tidak lagi merusak dahan pohon dengan atau tanpa sengaja. Go Green...!!

Eh, tidak nyambung. Maunya kan bahas tentang Go Blue!! Tapi gak papa, kan sama aja. Semuanya adalah makhluk ciptaan Allah Ta'ala yang berhak menerima perlakuan yang pantas dari manusia. Ayo, sayangi alam sekitar.

Lovely...

View Post
Bismillah

Aku mengutip dari buku Istri-Istri Para Nabi karya Syaikh Muhammad Raji Kinas. Kisah Aisyah  yang sedang demam. Kisahnya sangat unik dan lucu, tetapi masyaALLAH membuat hati saya bergetar. Hehehe. 
 
Habisnya mau bagaimana lagi. Demam untukku sudah seperti mendarah daging. Maklum, tubuhku yang memang rada-rada lemah ini sangat mudah disapa oleh demam. Nah, untuk tidak berlama-lama lagi. Ini kisahnya.
As-Sarakhsi meriwayatkan dari Anas, Rasulullah pernah melihat Aisyah ketika dia sedang bolak-balik. Beliau bertanya, "Kenapa kamu?"

Aisyah menjawab, "Demi ayah, engkau dan ibuku. Demam." Kemudian Aisyah menghina penyakitnya. Rasulullah berkata, "Wahai Aisyah, jangan menghinanya, karena ia diperintah. Jika mau, aku akan ajarkan kamu kata-kata yang jika kamu ucapkan Allah pasti akan menghilangkannya darimu."

Aisyah berkata, "Ya Wahai Rasulullah"

Beliau berkata, katakanlah :
"Ya Allah, kasihanilah kulitku yang tipis dan tulangku yang remuk karena panas yang membara. Wahai demam, jika kamu beriman kepada Allah, jangan kamu pecahkan kepala, mengubah susunan, makan daging, minum darah, berpindahlah dari orang yang menjadikan sekutu lain bagi Allah."

Aisyah berkata, "Aku pun membacanya sehingga demam hilang dariku."

--->>As-Samth Ats-Tsamin (91-91)

View Post
Bismillah

Mungkin ini yang namanya pertolongan Allah Ta'ala secara tidak langsung. Bener deh. Gini ceritanya, suatu hari di Jumat siang ba'da bertemu dengan adek-adek berseragam putih abu-abu di Handayani. Aku berjalan kaki menuju jalan abdesir, harap-harap cemas lantaran kaki ini udah letih dan kepala nyut-nyut karena siraman terik matahari. Jujur saja, aku hampir kehabisan uang. Setelah ini masih mau menuju tempat yang sangat jauh dari pemukiman kota (read : hanya bisa ditempuh dengan ojek, alhamdulillah nomor HP ojek akhwat sudah siap sedia di HP aku) untuk mengajar privat. Qadarallah, memang memakan biaya pulang pergi yang tak sedikit. Hampir-hampir kafalah yang aku terima sebanding dengan perjalananku. Namun, insyaALLAH hal itu tak akan meredupkan jiwa ini untuk terus menyampaikan ilmu. Keep on fighting till the end. Kisah perjalananku itu akan kuceritakan di halaman yang berbeda.

Kembali ke cerita, di tengah-tengah dahaga yang menyeruak bangunan di sekitar jadi terlihat seperti puing-puing abadi sisa reruntuhan kuno saking kaburnya penglihatanku, tiba-tiba ada sebuah mobil kijang biru berjalan sangat pelan di sampingku. Kalau aku tidak berbaik sangka, mungkin aku pikir pengendara mobil itu mau menabrakku. Bukan saja berjalan pelan di sampingku seakan mau menyerempet, beberapa detik kemudian mobil itu berhenti tepat 2 meter di depanku. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa tak ada satupun penghalang yang menyebabkan mobil itu berhenti, lalu secepat kilat berpikir, "Ada apa gerangan ini?" Aku serta merta berhenti di tempat karena syaraf bahaya bergidik di belakang tengkukku. Aku benar-benar yakin tak ada lagi pejalan kaki di jalan itu. Jadi mobil itu berhenti untukku? Penculikan ?!!


Bodohnya aku, tenang tenang. Umur sudah kepala dua masih saja bertindak kekanakan. Ehem, aku berjalan 2 meter ke depan dan kini kaca mobil itu sederet dengan pandanganku. Hanya ada satu orang di dalam mobil itu, seorang ibu paruh baya--bermuka manis dengan jilbab biru mudanya--tengah duduk di kursi pengemudi, tak ada yang lain. Padahal kalau mau dibilang mobil itu mobil yang sangat besar, apalagi kalau hanya dipakai untuk satu orang saja. Aku tersenyum dan menyapanya. Ibu itu terlihat bingung, aku mendesah dalam hati, mau tanya alamat rupanya. Namun, tiba-tiba ibu itu membuka pintu di tempat duduk penumpang di sampingnya. Dia melambaikan tangannya lalu menyuruh masuk. Eh?

Ibu paruh baya : "Mau ke mana, Nak?"
Aku : "Mau ke ujung jalan ini bu"
Ibu paruh baya : "Ayo nak, ibu juga mau lewat jalan ini. Ibu Antar"
Aku : "Tapi ibu, apa tidak apa-apa?"
Ibu paruh baya : "Tidak apa. Naik saja nak!"

Belum-belum aku mencerna dengan baik apa yang terjadi, tanganku memegang knop pintu dan kaki kananku melangkah masuk. Glek! Lagi-lagi syaraf motorikku bergerak sebelum otakku rampung menganalisis. Ugh.. Aku hanya bisa banyak-banyak beristighfar apa gerangan yang tengah terjadi ini.

Ibu itu terlihat santai, jadi aku pun harus lebih santai. Masa di dalam hati lagi-lagi aku dipikir aku ini dilarikan atau semacamnya. Aku mengamati tiap gerak-gerik ibu itu dan aku sadar ibu itu bukan orang jahat. Malah, ibu itu seperti kesepian dan pengen teman bicara. Di perjalanan ibu itu menceritakan bahwa di Makassar ini hanya ada dia dan suaminya yang pensiunan lembaga keuangan. Hal itu menjelaskan kenapa ibu itu menyetir sendirian. Apalagi ini di tengah seusai Shalat Jumat jadi pastilah suami ibu itu ada di masjid dan tidak bersamanya. Ketiga anaknya sudah hidup di kota-kota besar lainnya. Anak yang bungsunya berusia 33 tahun dan baru pekan lalu melahirkan anak ketiganya. Dia bertemu dengan anaknya setiap akhir pekan. Beliau dan suaminya kadang kala mengunjungi anak-anaknya. Kadang kala pula anak-anaknya yang mengunjungi beliau. Walau kadang ibu itu memperlihatkan raut muka yang sedih, sambil bercerita beliau selalu tersenyum. Sosok ibu yang tegar tapi kesepian karena telah membesarkan anak-anaknya. Beliau menuturkan, keinginan beliau untuk mencari kegiatan-kegiatan amal atau hal-hal yang ringan tapi bermanfaat untuk mematikan waktu kosongnya. Aku benar-benar takjub dengan sosok ibu itu.

Benar-benar bodoh tadi aku sempat meragukan ketulusan hatinya. Wuihh, kan gak sangka dengan penampilanku yang aku tahu di tengah masyarakat malah dianggap aneh karena jilbab besar ini malah seperti disayang dan diperhatikan begitu, sama ibu yang tidak dikenal lagi. Aku hanya menduga-duga ibu itu mungkin punya kenangan manis dengan akhwat makanya aku pun diperlakukan sangat manis. Kalo pun tidak, berarti dari pandangan pertama, ibu itu sudah suka padaku dan menolongku. MasyaAllah, Allahu Akbar!! Benar-benar pertolongan Allah.

Sayangnya ibu itu harus belok kanan di pertigaan jalan racing. Sedangkan tujuanku masih jauh lurus ke depan. Ibu itu harus sampai beberapa kali memohon maaf padaku. Padahal aku yang numpang, jadi gak enak hati begini. Aku pun beberapa kali harus meyakinkan ibu itu bahwa aku akan baik-baik saja. Ibu itu bahkan sampai mau memberikan uang padaku. Ups, sadar diri sadar diri. Aku masih punya urat malu. Kutolak dengan senyuman lalu kuucapkan terima kasih yang benar-benar dari relung hatiku. Sebelum turun kutanyakan sapa nama beliau. Dengan manis, ibu itu menjawab, "Hj. Nurhaedah".

Perjalanan berikutnya pun aku lanjutkan sendiri. Sambil terkekeh-kekeh sendiri di tengah jalan mengenang peristiwa tadi. Surprise banget kan. Yaaahhh, hidup ini apa sih yang enggak.

View Post
Bismillah

K
esadaranku pulih sempurna ketika arus sungai yang deras menabrak wajahku dengan tepat. Sejenak aku terkikik, “Menyenangkan!” Lalu perhatianku teralih pada pak Bahrun yang dengan cemas meneriakkan kata-kata yang tidak bisa kumengerti, Husnul yang setengah mati meneriakkan namaku berulang kali dan pak Nawir yang berjalan cepat ke bebatuan di tengah sungai. Aku berpikir keras menganalisis peristiwa yang terjadi. Lantaran salah memilih batu pijakan—kaki kananku masuk di celah kecil antarbebatuan—menyebabkan aku jatuh ke dalam air terjun kecil sungai itu. Tangan kananku yang dipegang erat oleh Azka—yang kini berada tepat di depanku, memunggungiku—menjadi alasan utama mengapa Azka ikut jatuh bersamaku.
            Mendadak arus sungai yang seperti ombak kembali menghantam wajahku—membuatku berontak—menyebabkan seketika tangan kananku terlepas dari genggaman Azka. Aku terseret aliran sungai yang tidak bisa kubendung. Kurasakan aura kepanikan hinggap di pak Bahrun, Husnul dan pak Nawir yang mendengungkan kata-kata yang lagi-lagi telingaku tidak bisa mencernanya dengan baik. Azka mendesah cemas menolehkan pandangannya padaku. Ya Allah, jika Engkau masih menakdirkan hamba selamat, berikan hamba kekuatan.
            Sebelum air sungai menyelundupkan seluruh kepalaku, kedua tanganku memeluk pinggang Azka. Kakiku meraba-meraba pijakan stabil di dasar sungai berusaha melangkah mendekati batu di tengah sungai.
            “Raih tanganku!” Pak Nawir mengulurkan kedua tangannya. Aku menggeleng perlahan, aku pasti bisa mencapai batu di tengah sungai itu tanpa harus menggenggam tangan laki-laki yang bukan mahramku. Aku tahu aku sangat keras kepala. Suara-suara hati tentang keringanan dalam keadaan ketidakberdayaan menggelegar di kepalaku. Walaupun pak Nawir sudah berteriak marah dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksiku yang seakan tidak mau ditolong, tanganku tetap saja menolak meraih tangan bapak kepala desaku itu. Aku tidak bisa. Di saat seperti itu, aku masih saja membayangkan sebuah jarum besi tajam menusuk tepat di kepalaku.
            Entah bagaimana menggambarkan rasa ketika Allah Ta’ala menakdirkan tanganku sendiri mampu mencapai batu dan akhirnya mampu jua mengangkat badanku dari dalam sungai. Aku terengah-engah, mencoba menghirup udara sebanyak yang aku bisa. Detik berikutnya Azka yang masih di dalam sungai pun bisa naik ke atas batu dengan selamat.
            Aku menatap Azka bahagia, lalu mengalihkan pandangan terima kasih ke pak Nawir, pak Bahrun, dan Husnul yang telah mencemaskanku dari tadi. Mendadak hening pecah oleh tawa kami yang meledak di kaki gunung Bonto Daeng siang itu. Kami tertawa lepas. Sudah tidak kuhiraukan lagi keheranan Husnul yang melihatku masih tetap girang ketika terseret arus deras sungai, kepanikan luar biasa dari pak Bahrun, kepasrahan pak Nawir akan sifat keras kepalaku dan kebingungan Azka ketika aku lebih dulu berada di atas batu. Tawaku berhenti sejenak. Dalam hati aku bersyukur, Alhamdulillah aku masih hidup.
            Perjalanan pulang ke rumah dibarengi dengan tawa dan tanpa henti-hentinya membahas kejadian tadi. Aku dan Azka hanya bisa ikut menertawakan diri sendiri. Entah apa jadinya bilamana rombongan yang lain melihat kejadian tadi. Mungkin keadaannya akan lebih parah lagi.
            Yang jelas dari petualangan sehari ini aku belajar banyak hal, tentang rasa kecewa, rasa cemas, rasa takut, rasa histeris, rasa marah, rasa harap, rasa takjub, rasa malu, rasa lucu, rasa bahagia dan rasa cinta. Eh, kamu bertanya bagaimana rasanya? Ehm, bila kamu juga pernah mendaki gunung tinggi untuk berkebun, melihat antena pemancar yang sangat besar dan hanyut di sungai dalam sehari mungkin aku tidak perlu menjawabnya. Namun bila kamu tak pernah melakukannya, sinonim rasanya itu—walau tidak persis sama—seperti kamu melihat pelangi setelah basah kuyup karena kehujanan. Yah, mungkin seperti itu.
╣═╠

Makassar, 6 Februari 2011
Dusun Tamaona, Desa Bonto Daeng, Kabupaten Bantaeng
Kuliah Kerja Nyata Juli - Agustus 2010

View Post
Bismillah

B
rukk!! Tanpa mendapat perintah dari saraf otak, kaki kananku merosot masuk ke dalam celah kecil di antara bebatuan besar. Keseimbanganku goyah walaupun satu tangan sahabat baikku telah dengan sangat sigap dan susah payah memeluk dahan pohon dan tangan yang satunya lagi mencoba mempertahankanku agar tetap stabil di tempat. Detik berikutnya, badanku seolah terbang bebas seakan kertas yang tengah ditiup oleh angin. Entah harus senang atau sedih, kini aku sudah bersatu dengan derasnya air sungai. Rasa dingin menjalar sedikit demi sedikit dari ujung jari kakiku hingga mencapai belakang leherku. Kesadaranku mulai menipis. Sang gunung menggemakan teriakan kaget dan histeris panggilan namaku, “Aya…! A-y-a…!! AYA…..!!!”
╣═╠
            “Jangan meremehkan kami, Pak!” ujarku bersikeras pada pak Nawir, kepala desa kami. Hati-hati, aku melirik kepada Azka dan Husnul—kedua sahabatku—mengirimkan sinyal agar mereka juga segera mengucapkan kata-kata bujukan.
            Husnul hanya tersenyum simpul sedangkan Azka menarik nafas lalu berkata, “Walau kami perempuan, kami tidak selemah yang Bapak pikirkan. Percayalah, Pak!”
            Pak Nawir bergeming, tidak memberi reaksi. Ck, dalam hati aku meringis, padahal aku ingin sekali ikut berkebun di area puncak gunung desa kami. Terlebih lagi di puncak gunung itu ada stasiun relay antena pemancar yang sangat kusukai. Yahh, apa boleh buat kalau begini. Akhirnya kami bertiga memutuskan berkunjung ke rumah tetangga sebelah. Sesaat kemudian, tiba-tiba ada suara yang terdengar tergesa-gesa, memanggil nama kami. Eh? Ada apa?
            “Ayo cepat, kita sudah mau berangkat!!” Aku melongo mendengar kalimat itu. Saking tak percayanya, aku tidak bergerak sama sekali dari tempatku hingga kalimat yang berikutnya kudengar, “Kalian mau ikut kan? Atau mau ditinggal??”
            Hore! Kami jadi berpetualang ke puncak gunung Bonto Daeng dengan berjalan kaki. Rombongan petualang sehari ke puncak gunung ini terdiri dari pak Nawir, pak Bahrun, kedua anak pak Nawir yaitu Sulpi dan Fadhil, Kak Andy, Kak Wei, Sonny, Qadri, Eni, Azka, Husnul dan terakhir tentu saja aku.
╣═╠
            Aku membasuh peluh yang bercucuran dari keningku dengan nafas yang hampir habis. Yang benar saja, benar-benar perjalanan yang melelahkan. Pantas saja pak Nawir enggan membawa kami bertiga. Kalau tidak punya tekad yang kuat, pendakian ini akan memaksa jiwa-jiwa lemah untuk mengurungkan niatnya sampai ke puncak. Namun tentu saja saja, kami tidak selemah itu kan? Hehehe, iya baiklah, kami mengaku. Kamilah memang yang berada di barisan terbelakang karena paling banyak istirahatnya.
            Segala lelah, haus, lapar dan rasa sakit seakan hilang ketika sampai di puncak gunung letak kebun itu berada. Subhanallah, bila kamu mengangkat tangan seakan kamu bisa mencapai langit saking tinggi tempat tersebut. Seluruh desa kami bisa terlihat dari titik itu. Apalagi kami pun bisa meraba tower antena pemancar desa.

            Ketakjuban tak berhenti sampai di situ. Di perjalanan pulang—di akhir petualangan kami—pak Nawir dan Pak Bahrun mengajak aku, Azka dan Husnul menyeberang sungai tanpa jembatan sebagai jalan pintas. Eh? Jangan tanya mana rombongan yang lain. Saat ini dengan hampir menyamai kecepatan bunyi, mereka mungkin telah sampai di rumah dengan jalur yang biasa. Apalagi kak Andy yang kebelet BAB, hehehe, pasti kecepatannya setara kecepatan cahaya.
            Aliran sungai yang deras seakan saling berlomba mencapai hilir begitu mempesonaku. Aku tertawa saat kutengok kedua sahabatku—dengan mata yang berbinar—memperhatikan air terjun kecil yang dihasilkan dari bebatuan besar di sungai itu. Kami akan sampai ke seberang jalan dengan melewati bebatuan sungai yang menciptakan air terjun kecil di bawahnya.

            Pak Nawir menyeberang dengan mudah lalu menatap kami, “Letakkan kaki kalian pada batu-batu yang besar. Gunakan dahan pohon di samping sungai untuk berpegangan.” Kami bertiga mengangguk bersamaan. Azka yang pertama memegang dahan pohon lalu melompati beberapa batu dan tiba di tengah-tengah sungai. Aku takjub, “Keren!! Sangat menyenangkan!” Aku pun melangkah maju untuk mengikuti gaya Azka.
            Perlahan aku menginjak salah satu batu lalu ketika berniat melompat ke batu yang lain, sebuah suara di kepalaku menghentikanku. Badanku dikerumuni syaraf ketakutan ketika melihat jarak antarbatu yang akan kulompati cukup jauh. Azka menghentikan lamunanku, “Aya, ayo! Injak batu yang itu lalu berpeganganlah padaku!” Aku terdiam menatapnya. Dengan satu tangan Azka pun mengambil dahan pohon dan mengulurkan tangannya yang lain, “Jangan ragu. Ayo!”
╣═╠

View Post
Bismillah

Pertama kali memutuskan nama blog ini, aku mengambil dari nama blog "Himawari" yaitu Satu Senti Kebahagiaan... Er-rr, Himawari itu tokoh fiktif, seorang gadis belia yang menyukai matahari, sosok rapuh yang berjuang keras keluar dari kegelapan tanpa teman. Akhirnya Himawari mempu membuktikan eksistensi dirinya dengan slogan "Kokoni Iruyo ~ I am here" dan memiliki banyak teman. Ehem, berkat siapa? Yaa berkat dirinya, bunga matahari dan tentu saja orang-orang yang menyayanginya  (^__^)/  Jadi aku pikir bakal keren tuh kalo misalnya blog Satu Senti Kebahagiaan beneran ada di dunia maya yang nyata. Eh, aneh nih kalimatnya.. Hahahaha, biarkan sajalah.

Tahu-tahu... Pas lagi buka YM terus iseng masuk ke sebuah room --> Indonesia:4 <-- Jadi dapat sesuatu yang menarik. Tentang nama. Hohoho.. Ini dia..

[1] Yang pertama ada seseorang, hm ID-nya sudah tidak kuingat lagi, dia typing di room "Sapa sih yang punya nama nurmayantizain <--- nama kampung banget. Hahahaha ?" Apaan tuh kenal juga tidak, masa tiba2 ngatain nama pemberian mama dan papa. Wahh.. gak bener nih. Tapi aku gak ladenin jadi tidak menimbulkan masalah baru kok.

[2] Yang kedua nih, ID-nya juga sudah lupa, ada seseorang yang langsung typing, "Nama yang bagus -->  nurmayantizain = kemilau cahaya emas" Wahh sumringah lihatnya!! Aku sangat sangat sangat ter-ter-ter-ter-terkesan!! Maka jadilah aku mengubah nama blog ini yang sebelumnya Satu Senti Kebahagiaan menjadi Kemilau Cahaya Emas.

Kalau katanya Shakespears yang diungkapkan oleh Romeo Montague waktu kenalan sama Juliet Capulet sih, "What is in the name?" --- Apa arti sebuah nama? Seakan-akan itu nama gak berarti sama sekali... Mana bisa begitu. Nama itu penting. Nama adalah doa. Kalo tiap kali dipanggil dengan nama buruk maka akhirnya akan menjadi buruk seperti nama panggilannya. Ck.ck.ck.

Apalagi sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam, memanggil nama saudara kita dengan panggilan yang baik dan panggilan yang ia sukai. "Ada tiga perkara yang menggambarkan kecintaanmu kepada saudaramu: kamu mengucapkan salam kepadanya ketika bertemu dengannya; meluaskan tempat untuknya dalam majelis; memanggilnya dengan nama yang paling disukainya (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)".

--Jadi bukan hanya sembarang nama loh.

Kalo dari mama papa sih, namaku --> nurmayantizain berarti cahaya yang hangat. Mama papa berharap aku bisa jadi putri yang bercahaya hangat dan saking hangatnya bisa membuat orang lain bahagia selalu. Asikk.. Amin Ya ALLAH...


-----------------------------------------
Ngomong-ngomong tentang nama Himawari, aku mengenal seseorang yang menggunakan nama Hima juga di blognya tepatnya Hima Rain. Ketika pertama kali mengunjungi blognya, aku pikir apa pemiliknya juga mengambil nama Himawari dengan alasan yang sama denganku ya...(?) Hmm, masih misteri sih~ Karena ada kemungkinan malah bukan karena tokoh Himawari melainkan karena arti namanya, sun flower alias bunga matahari. Nah, karena namanya Hima Rain itu berarti bunga matahari dan hujan, dua hal yang pasti sangat disukainya, aku yakin  (>__<)/  *over PD

Hima Rain lagi ngadain giveaway dengan judul Clover Giveaway. Wah, manis sekali~ Clover itu kan semanggi berdaun empat yang selalu dijadikan icon lucky a.k.a keberuntungan. Ng, dengan demikian bisa ditebak kan hadiahnya? Iyaaa, salah satu hadiahnya adalah sesuatu yang berbentuk clover  (>//<)b  super cantik, strap phone clover made from felt. MasyaAllah :)

Hima Rain bilang, aku boleh menggunakan postingan jadul -jaman dahulu kala- jadi aku benar-benar menggunakan postingan tahun lalu loh  ~(^_^)~  tetapi walau begitu aku bener-bener mau ikutan giveawaynya kok =D hihihihi, makasih Hima Rain atas kesempatannya. Salam Manis nan Cantik.

PS.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Clover Giveaway yang diselenggarakan oleh Hima Rain


UPDATED 16 JANUARI 2012
Alhamdulillah Tabaarakallahu Ta'ala, postingan ini menang \(^-^)/
Pengumumannya dapat dilihat di Clover Giveaway : Pemenang
Postingan ini dapat hadiah hiburan strap phone clover yang super manis
Alhamdulillah, sesuatu sekali  =D  sangat sangat suka <3
Big hug and thanks to Hima Rain :)

View Post
Bismillah

KKN ~ Kuliah Kerja Nyata

Seumur-umur baru kali itu aku tinggal di rumah orang lain, di daerah pula, dalam jangka waktu yang sangat lama. Seharusnya waktu yang ditargetkan untuk menetap di sana adalah 2 (dua) bulan. Namun sayangnya aku hanya mampu 1 (satu) bulan saja. Sisa 1 (satu) bulannya harus rela aku berikan untuk hari-hari penyembuhan dan perawatanku baik di rumah maupun di rumah sakit yang ceria karena ternyata ketika aku kembali ke home sweet home pas 1 (satu) bulan itu, tiba-tiba aku tumbang.

Daerah yang kuperoleh berjarak 120 KM dari tempat tinggalku. Itu berarti ini termasuk daerah safar (bepergian jauh). Hukum safar sendirian bagi seorang wanita jelas diharamkan. Aku berpikir keras bagaimana supaya bisa mendapatkan perjalanan yang dirahmati Allah Ta'ala. Bagaimana tidak, aku harus tinggal di daerah orang selama 2 (dua) bulan dan aku memulainya dengan sesuatu yang dimurkai Allah Ta'ala? Tidak.. Tidak.. Tidak.. Keinginan yang kuat dan usaha yang penuh perhitungan sudah aku jalankan. Akhirnya Alhamdulillah, orang tua mengizinkan adik laki-laki yang berumur 1 tahun di bawahku mau mengantarku menggunakan mobil pribadinya. Eh, pihak kampus? Ya, MasyaALLAH tidak masalah sama sekali.

Hari-hari KKN sangat keras bagiku. Apalagi jumlah perempuan hanya 2 orang termasuk aku. Dan lagi aku harus tinggal bersama laki-laki sebanyak 9 orang. Belum terhitung tuan rumah yang kami tinggali rumahnya beserta istri dan anaknya sebanyak 4 orang. Huftt, kalau bukan karena pertolongan Allah, aku tidak akan menjadi aku lagi saat ini.

Hari-hari KKN mengajariku bagaimana harus memasak makanan, membersihkan rumah, pergi berkebun, memanen hasil kebun, bermain bahkan hanyut di sungai (haha), tiada hari tanpa silaturahmi ke rumah tetangga, pergi ke puncak gunung, naik delman, berbelanja di pasar, jalan kaki di bebatuan, terpeleset di area perkebunan, mengajar anak SD, memahami orang lain, mencari solusi dari pertengkaran, dan menjadi dewasa. Cukup mengesankan, huh? Hehehe

Sejujurnya kondisiku di sana tidak terlalu baik, dalam artian banyak penyakit yang kuderita karena kesulitan adaptasi. Apalagi imun tubuhku sangat lemah. Pekan pertama aku kena diare, pulang balik kamar mandi, perut tak henti-hentinya berkontraksi. Pekan kedua aku kena penyakit kulit, gatal-gatal, ada benjolan merah kecil-kecil yang sangat gatal. Awalnya aku pikir itu karena kutu tapi ternyata itu karena kondisi air yang dipakai sehari-hari, ya itu air sungai. Pekan ketiga aku kena sakit mata. Awalnya mata sebelah kiriku yang merah darah kemudian sembuh lalu mata sebelah kananku lagi yang merah darah. Sampai aku kembali ke home sweet home, mata kananku tidak pulih-pulih padahal sudah diberi obat sakit mata. Tak tahunya itu bukan sakit mata melainkan pendarahan dalam. Entah di suatu tempat aku terbentur keras sehingga menimbulkan pendarahan dalam. Kemungkinan besar waktu aku terhanyut di sungai. Pekan ke empat aku tumbang kelelahan.

Lalu akhirnya aku pulang ke rumah untuk temu kangen dengan papa mama dan saudara-saudaraku. Namun sayangnya aku drop dan dokter mendiagnosis aku terkena maag akut, gejala tipes, dan gejala liver. Hari-hari selama 1 bulan berikutnya kulewati dengan kondisi antara hidup dan mati. Benar-benar nikmat kesehatan itu hanya bisa dirasakan ketika kita menderita sakit.

Yahhh... KKN yang penuh derita dari sudut pandang papa dan mamaku. Sejujurnya aku sendiri sangat menyedihkan kisah ini walau banyak hikmah yang bisa aku raih karenanya. Betapa tidak, masa sakitku itu adalah masa-masa Ramadhan. Masa-masa yang tidak sembarang orang bisa menjumpai bulan ampunan nan penuh rahmat itu. Namun, aku merasa ketidakberdayaan yang mendalam karena kualitas diriku waktu itu sangat mundur dibandingkan dengan tahun lalu. Aku bahkan tidak berpuasa selama 21 hari. Bukan jumlah yang biasa bukan? Namun, dipikir berapa kalipun tak akan menyelesaikan apa-apa. Yang aku tahu adalah aku yakin bahwa semua terjadi untuk yang terbaik. Dan ternyata dengan itu, semua masalah bisa selesai.

View Post