Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pernah ada suatu masa, ketika papanya Mahdi melihat saya begitu tidak bersemangat, lalu dia mengenalkan saya pada COC. Hihihi aslii deh, lah kok malah dikenalin game. Lanjuutt... tahu donk, coc alias clash of clans fabrikan supercell yang dijuluki an epic strategy game di kelas android. Nggak tahu? Aish, coba tanya ponakannya deh, pasti ngerti, wkwk. Fenomenanya sih gitu. Semua suka, pun game ini lumayan booming dan kontroversial.

Iya, COC!
Hahaha. Super gila.

Beberapa lama kemudian, saya mulai paham alur mainnya. Yang saya gagal paham tuh cara warnya. Duh, gimana sih ini...(?) Kenapa kayaknya orang lain tuh guampang banget nyerang base saya. Nah pas giliran saya yang nyerang? Boro-boro menang, gatot teruus deh perasaan. Huhuhu.

Alhasil saya kerjanya grasak-grusuk nggak jelas, buka akun di saat sedang war (oops, sorry), nge-donate troops yang udah disiapin buat war (oops, sorry), upgrade troops atau defense pakai gems (oops, sorry), dan hal-hal nyebelin lainnya, hahaha. Eh papanya Mahdi nggak kapok, malah bikinin satu akun lagi. Ckckck.

Eh, inti tulisan ini apa sih?
Join clan Fania donk kakak!
Wkwkwk.


Nama clan: Fania
(kenapa bukan almahdi? em, mungkin biar bisa pakai bendera bernuansa pink manis)
Level clan: 1 (baru dibuat kemaren haha)

Hal-hal yang penting untuk diketahui:
trophy biasa, troops biasa, keahlian war masih kalem, chatnya nggak ramai, sejauh ini membernya cukup baik dan kooperatif, walau ada juga member kutu yaa nggak bisa dihindari.

Alasan bikin clan?
Emm.. nggak ada alasan khusus sih. Kepengen saja. Nah kalau kamu mau ikutan seru-seruan, join langsung ya. Eh tapi sayanya nggak on tiap saat, sesempatnya saja. Banyak kerjaan lain soalnya. Dan... kamu jugaa jangan on teruss, atur waktulah, hal-hal nyata di sekitarmu kan lebih berarti. So manfaatkan game seperlunya saja. Sip? Siiip. Udah dulu yaa. Bubbyee!



Makassar, 16 September 2016


View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Ehm ehm... Saya posting dari aplikasi blogger di android. Penasaran, gimana tampilannya ya. Aplikasinya sih bagus, super simple, sayangnya gak bisa masukin foto huu. Habis nulis ini, mau ngintip lewat pc ah.
Oh ya, walaupun very bery late post, tetep donk, taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin ya. Selamat berlebaran semua! Eh tapi sekarang pasti sudah kembali beraktivitas hihi.
Salam Ukhuwah
Eid Adha Mubarak!
1437 Hijriyah / 2016 Miladiyah
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

"Papa, jika kita bisa memutar waktu, kejadian apa di masa lalu yang ingin papa ubah?" tanya saya suatu siang di akhir pekan kami.

Memutar Waktu - picture from here

Papanya Mahdi terdiam, alisnya mulai mengerut, lalu menggeleng pelan.
Dia berkata, "Tidak ada."

"Hmm... kenapa?"

"Kita tidak bisa mengubah masa lalu."

Jaaaah, misalnya papaa.
Jika. Jika.

"Tidak ada. Jika papa mengubah sedikit saja suatu kejadian di masa lalu..." Papa terdiam, berdecak, lalu kembali bersuara, "...bisa saja papa tidak akan ada di sini sekarang, tidak ada mama, atau tidak ada Mahdi, apalagi Fania. Tidak. Papa tidak mau kehilangan satupun."

Ehem.

Hati saya memerah. Masya Allah papaa, jawabannya bikin mengharu biru. Namun daya khayal saya tidak mampu berhenti untuk usil, ups!

"Papa, jika kita bisa memutar waktu, kejadian apa yang ingin papa ulang kembali?" kejar saya, sambil menaikkan alis dan mengedip-ngedipkan mata.

"Hmm..."

"Hmm...?"

"Masa-masa awal perkenalan kita."

Huaaa. Jleb. Jleb. Jleb.
Hati saya tertusuk panah asmara, wkwkwk. Gila, saya terkena ranjau yang saya pasang sendiri! Haha yes yes yes, saya mengakuuu. Alhamdulillah, lovely, dapat energi positif, suupeer. Full charging again!


Makassar, 31 Agustus 2016
#satusentikebahagiaan






View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hari ini saya akan mencoba mengenang kembali proses kelahiran anak kedua saya, bayi perempuan cantik, putri cahaya kami. Ada yang penasaran? Hehehe yuk cekidot.

Saat kontraksi itu datang, usia kandungan saya terhitung 40 weeks kurang dua hari, yaitu 39 weeks 5 days. Hari Rabu, tanggal 22 Juni 2016 atau bertepatan dengan 17 Ramadhan 1437 Hijriyah. Saya sudah menantikan kelahirannya sejak memasuki 36 weeks. Sayangnya hari demi hari terlewati dengan buaian kontraksi palsu. Tak disangka, ternyata jatuhnya hari ini. He em, bayi memang selalu punya waktu sendiri untuk lahir.

Lanjut, menjelang adzan subuh hari itu, saya merasakan kontraksi teratur namun rasa sakitnya masih bisa saya tahan. Khawatir hanya kontraksi palsu, saya tidak memberitahukannya pada siapapun, termasuk Papanya Mahdi. Qadarullah, Papanya Mahdi sedang sakit, sedikit meriang dan batuk, akhirnya memutuskan istirahat dengan meminta izin tidak masuk kantor. Mau bagaimana lagi, kemungkinan besar virusnya menular dari kami (saya dan mahdi, red) soalnya sejak sepekan lalu kami berdua sudah sengsara setengah mati dengan flu dan batuk yang menyerang.

Anehnya, kontraksinya tidak berhenti.
Semakin kuat. Semakin sakit. Semakin tak tertahankan.

Pukul 08.00 pagi saya mulai berpikir ini kontraksi asli. Saya mulai bersuara ke Papanya Mahdi, "Papa, sepertinya mama mau melahirkan."

"Kapan?"

Saya terdiam. Kalau ditanya kapan, saya juga tidak tahu. Soalnya tidak ada tanda klinis apapun. Tidak ada bloody show, tidak ada lendir darah, tidak ada ketuban pecah. Bingung. Bisakah kontraksi teratur kali ini dipercayai sebagai tanda lahiran?

"Ya, pembukaan 2 sempit. Insyaa Allah lahirannya sebentar lagi, bisa sore atau malam." kata Bundanya Nasya setelah melakukan pemeriksaan dalam.

Pukul 10.00 pagi, berbekal sari kurma, madu, telur rebus dan teh manis hangat, saya mencoba mengatur napas. Ya Allah, kontraksinya semakin kuat, sepertinya bayi mulai mendorong ke bawah, mencari jalan lahirnya. Alhamdulillah ala kulli haal, kondisi lemah yang bertambah-tambah, semakin membuat saya kepayahan.

Dan yap! Sampailah pada titik dimana saya tidak bisa menahannya. Rasanya sudah tidak bisa digambarkan. Ya Allah, tolong saya.

"Papaaa...!"

Butuh sejam lebih untuk bersiap-siap. Pukul 11:15 siang kami ke rumah sakit. RSIA Khadijah di jalan kartini. Sepanjang jalan, pikiran saya dipenuhi tasbih, tahmid dan tahlil sebagai pertolongan pertama ketika kontraksinya datang. Ya, relaksasi dzikir dalam proses persalinan. Sungguh, itu sangat membantu mengontrol fokus dan kesadaran diri. Walaupun rasa sakitnya masih tetap ada, setidaknya tidak ada teriakan dan jejeritan yang terlontar.

Pukul 11:45 siang kami tiba. Papanya Mahdi langsung membawa saya ke IGD (Instalasi Gawat Darurat, red). Hanya ada kami berdua. Qadarullah lagi-lagi saya melahirkan tanpa didampingi orang tua. Perawat meminta Papanya Mahdi untuk mengurus administrasi tapi Papanya Mahdi bergeming, memilih mendampingi proses lahiran anak kedua kami terlebih dahulu.

"Pembukaan lengkap" ucap perawat usai melakukan pemeriksaan dalam.

Saya menatap mata perawat dan berkata tegas, "Saya tidak mau ditangani oleh laki-laki, baik dokter maupun perawatnya."

Tiba-tiba wajah perawat tersebut berubah pias, "Aduh bagaimana, residen jaganya laki-laki."

"Pokoknya tidak bisa!" Sebelum saya buka suara, Papanya Mahdi sudah keburu terpancing emosi. Nada bicaranya sudah naik satu oktaf, hehe.  Subhanallah.

Saya mengerti. Ketika kondisi saya sudah tidak mampu ke kamar bersalin, dan itu berarti proses lahiran akan dimulai di sini, Papanya Mahdi mulai sedikit uring-uringan. Bagaimana tidak, kondisi IGD sangat-sangat-sangat tidak nyaman. Begitu riuh-redam suara oleh banyaknya pasien, pendamping pasien dan para perawat yang kasak-kusuk, ditambah lagi privasi kami hanya dibatasi oleh gorden yang mudah sekali terbuka. Lengkap deritanya.

"Laailahaillallah!" spontanitas saya berteriak, seakan ada balon meletus keluar dari rahim saya. Olala, ketuban saya pecah!

Perawatnya panik, "Bu jangan mengedan dulu, dokternya ibu masih dalam perjalanan."

What?! Apa saya nggak salah dengar? Pembukaan 10, ketuban pecah, kontraksi kuat, dan sekarang masih disuruh menunggu? Ckckck mana bisa! Ya Allah, bayinya sudah siap lahir detik itu juga.

"Eggghh---" saya mengedan.

Saya tersenyum haru saat mata saya bertatapan dengan mata Papanya Mahdi. Posisinya begitu menandakan rasa cintanya. Papanya Mahdi berdiri melentangkan kedua tangan, memegang 2 sekat gorden di tiap tangan, menjaga agar tidak ada celah gorden yang terbuka ketika privasi saya terbuka.

Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya berpakaian merah muda datang, yang nantinya saya ketahui bernama Bidan Ina. "Bu, ini kepalanya sudah di pintu, ayo Bu yang kuat mengedannya."

Kontraksi berikutnya datang, dan... "Oek... oek... oek..."

Doa Perlindungan untuk Anak

Masya Allah, lahirlah Putri Cahaya kami. Saya langsung mendekapnya dalam proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini) dengan durasi yang lamaaa, Alhamdulillah, karena sembari melahirkan plasenta dan menunggu dokter saya datang untuk menjahit perineum yang ternyata robek. Di atas puncak kesyukuran, saya masih tidak percaya begitu mulusnya bayi kami meluncur keluar. Begitu cepat seakan tanpa jeda. Dan hanya dua kali mengedan. Super Allahu Akbar!

Nurfania Qurani Helmi lahir pada hari Rabu, 22 Juni 2016 atau 17 Ramadhan 1437 Hijriyah pukul 12:00 siang dengan berat 3,2 kg, panjang 49 cm dan lingkar kepala 33 cm. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Papanya Mahdi datang mendekat, memeluk dan memberi kecupan kepada kami berdua. Detik berikutnya, Bundanya Nasya pun datang. Di saat itu barulah Papanya Mahdi mengurus administrasi, sedang Bundanya Nasya mengurus saya dan ponakan barunya, Fania.

Eh, Mahdi? Mmh... saya juga kangen Mahdi. Sedari tadi dia ada di luar ruangan kok, menunggu dengan tidak sabar untuk segera masuk ke kamar perawatan. Dan sekarang saya yang tidak sabar melihat reaksinya ketika melihat adik Fania-nya. Jehehehe.



Makassar, 30 Agustus 2016
#KisahKelahiranPutriCahaya



View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

NURFANIA QUR'ANI HELMI. Subhanallaah, nama itu lamaaa rilisnya, bahkan H-1 aqiqah, kami masih juga bergelut dengan keyword nama bayi perempuan islam di situs pencari google, hahaha. So far so good, akhirnya nemu juga yang pas di hati. Alhamdulillah. Nah, selanjutnya mau cerita sedikit tentang asal-muasal nama tersebut.


Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, Allah Maha Baik, kami diberi bayi perempuan. Dengan demikian, lengkaplah keluarga kami dengan sepasang anak laki-laki dan perempuan. Kerennya lagi -terkhusus untuk saya pribadi- julukan putri cahaya saat ini sudah bener-bener terwariskan huehehe. Putri cahaya saya yang cantik sudah turun dari langit. Alhasil, namanya harus ada kata cahayanya. Dialah nur.

Nur (cahaya).

Kami (saya dan papanya Mahdi, red) selalu memikirkan tiga suku kata untuk merangkai nama. Suku kata pertama dan kedua adalah namanya, suku kata ketiga nama papanya. Kenapa? Biar gampang ngurus paspor dan visa ke Baitullah, hehehe. Plus biar enak baca namanya.

Nama Fania muncul setelah ratusan kali mengeksekusi nama bayi perempuan islami dari A hingga Z, burr-rr, ya sampai otak pegal meramu huruf demi huruf. Pas kesebut fania, tringg! Sayanya suka, papanya Mahdi klop. Oke deh, bungkus! Eh tunggu, kok Fania, kedengarannya sedikit aneh...(?) Lah, justru ituu... karena namanya unik, nggak familiar, berarti nggak pasaran kan ya. Wkwk, antimainstream.

Fania (kebebasan).

Fania dalam bahasa arab faa-ni-yaa berarti kebebasan. Saya mengusulkan Nur Fania Helmi tapi papanya Mahdi nolak mentah-mentah. "Nur dan fania harus disambung", katanya. Okay jadilah Nurfania. Cahaya Kebebasan. Sekarang, mikir kata lagi buat nama tengahnya.

HPL (Hari Perkiraan Lahir) Insyaa Allah di bulan Ramadhan. Bagaimana kalau Ramadhani? Nurfania Ramadhani Helmi. Terdengar cukup bagus tetapi sangat mainstream alias banyak samanya. Eh, kakek neneknya sudah suka dan heboh dengan nama itu. Sayangnya, papanya Mahdi belum setuju banget, belum klop, minta nyari padanan kata yang lain lagi. Sayanya sudah ngos-ngosan. "Sudah, itu saja ya."

H-2 aqiqah, saya mulai nyebar undangan elektrik ke teman-teman. Tiba-tiba ada teman yang nanya namanya, pas saya bilang, "Nurfania Ramadhani Helmi". Dianya ngasih tahu, "Eh itu 22 huruf loh, nanti akan disingkat / dipotong di akta kelahirannya, karena maksimal jumlah huruf pada nama hanya 20 huruf."

Saya melongo.
Whaaatt?!!

Rugii bangeet, nama bagus-bagus malah disingkat bahkan dipotong! Nggak mau, harus ganti! Ayo otak berpikirlah, berpikirlah, berpikirlah. H-1 aqiqah.

Qurani (Alqur'an).

Oh iya, hari lahirnya kan tepat 17 Ramadhan alias saat Nuzulul Qur'an. Bagaimana kalau Qurani? Nurfania Qurani Helmi. Jeng jeng jeng! Total 19 huruf! Pas dikasihtahu, ternyata semua sukaa dan setuju. Alhamdulillaah, akhirnya nemu yang bener-bener pas dan sesuai di hati,

Helmi (ramah, bijaksana, cerdas).

Nurfania Qurani Helmi. Putri Cahaya yang ramah, bijaksana dan cerdas, si Cahaya Kebebasan dari Alqur'an. Semoga dirimu kelak menjadi sosok seperti namamu ya nak. Insyaa Allah. Aamiin.


View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim


Welcoming Fania
NURFANIA QURANI HELMI
Very berry late post guys (=^-^=)/
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bahagia itu sederhana. Sesederhana menu makan siang yang tengah saya siapkan. Sesederhana jawaban iya dari Papanya Mahdi, saat saya tanyakan, "Nanti makan siang di rumah, Pa?"

Yang jelas, makan siang hari ini terasa dua kali lebih enak, eh tidak, tiga-bahkan-empat kali lebih enak! Iya, soalnya menu biasa menjadi luar biasa, bermodal nasi dipadu tumis kangkung pedas dan ikan mairo goreng. Nyam-nyam-nyam, Alhamdulillah! Makan bersama keluarga memang selalu berhasil menaikkan parameter kebahagiaan. Setuju kan?

Seusai makan, bayi mahdi yang mengantuk mulai merajuk manja. Wah wah, sabar ya Mahdi, mama mau bantu papa siap-siap balik ke kantor dulu, bisa?

Huwaaa!
Mahdi menggila.

Papanya Mahdi menggeleng, mengisyaratkan agar saya tidak perlu membantunya beberes dan segera menyusui Mahdi saja. Kebiasaan tidur siang yang susah terlewatkan, katanya.


Detik berikutnya, mata Mahdi sudah terpejam namun mulutnya masih refleks menyusu. Saya mengalihkan pandangan ke Papanya Mahdi yang berdiri di depan cermin, kelihatannya hampir selesai bersiap.

Klik.

Saya mengerjapkan mata lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Bingung. Tidak saya dapati sosok yang saya cari. Papanya Mahdi kemana ya?

Saya bangun perlahan-lahan, mencoba agar Mahdi -yang berada di samping saya- tidak merasakan goncangan kasur. Yup, dia masih terlelap dalam mimpinya.

Saya berjalan ke luar kamar, mendapati pintu ruang tamu dalam posisi terkunci. Saya mengintip dari balik jendela. Suasana di luar terlihat dingin, motor biru milik Papanya Mahdi tidak terparkir di sana. Bagaimana ini? Hati saya semakin resah menerka-nerka apa yang terjadi.

Saya mengambil handphone, lalu mencoba menghubungi Papanya Mahdi. Tut tut tut. Panggilan saya tidak terjawab. Saya tambah bingung.

Kringgg!
Papanya Mahdi menelpon!

"Papaaa- papa dimana?"
"Di kantor. Ada apa, Ma?"

Loh. Nada suara Papanya Mahdi kok tenang begitu ya? Terus sejak kapan ada di kantor? Kok bisa ya, saya tidak menyadari kejadian ini?

"Mama... Mamaaa- halooo?"
"Pa..." saya berusaha memilah kata, "Kok bisa papa sudah ada di kantor?"

"Papa minta maaf, Ma. Tadi papa langsung pergi."
"Kok?"

"Mama dan Mahdi tidur, Papa nggak mau mengganggu."
"Hah?"

"Mama baik-baik saja? Mahdi masih tidur?"
"Eh... i-iyaa, Pa. Alhamdulillah. He em, Mahdi masih tidur."

"Alhamdulillah. Kalau begitu, sudah dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum."
Tut tut tut.

Papaaa! Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Ya Allah Pa, kok nggak bangunin Mama. Ya Allah, pantas saja saya tidak merasakan kejadiannya. Siang yang terlewatkan. Saya ketiduran! Dan kerennya, Papanya Mahdi menganggapnya sebagai hal yang mengganggu kalau membangunkan kami.

Masya Allah.
Papanya Mahdiii, tiba-tiba saja mama kangen banget.



Makassar, Mei 2015 Miladiyah - Sya'ban 1436 Hijriyah
Sorry nge-spam di bulan Ramadhan (-^.^-)
Happy Fasting ya Guys!

View Post