Bismillaahirrahmaanirrahiim

NIKAH, IBADAH YANG INDAH
Sunarti Alfurqani | Sun's Blog

my life is full love
N-I-K-A-H Ibadah yang Indah - sumber gambar

N = Nikmat
Kalian tahu nikmat? Pasti tahu dong! Saat kita lapar lalu terhidang makanan yang mengenyangkan, itulah nikmat. Saat kita sendiri lalu datang seorang kawan yang menemani, itulah nikmat. Demikian juga dengan pernikahan, saat seseorang terbiasa sendirian, saat semuanya dilakukan sendiri, lalu Allah Ta'ala hadirkan pasangan untuk mendampingi, melayani serta menemani mulai bangun tidur sampai tidur lagi, di situlah letak kenikmatannya.

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan
supaya kamu mengingat kebesaran Allah
(Terjemahan QS. Adz-dzaariyaat ayat 49)

I = Indah
Coba tanyakan pada mereka yang telah mengarungi bahtera pernikahan. Pada episode-episode perdana, semua terasa indah dipandang mata. Ya, semua terasa nikmat jika dirasa berdua, seolah tanah liat serasa coklat, gubuk derita serasa surga. Hahaha. Episode selanjutnya, terserah mau pilih yang mana, bahagia atau sengsara!

"Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu." (Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya)

K = Kamar
Kok kamar sih? Ups, ada yang mulai protes nih. Ya, kamar. Ada tidak orang nikah yang tidak butuh kamar? Nggak ada kan? Ayo, yang tadi protes, bayar! Hehehe. Kalau ada yang tidak membutuhkan kamar, disewakan saja!! Lho…?!

A = Aman
Aman dari gangguan, karena kini sudah ada bodyguard yang siap menemani kemanapun kita pergi. Aman dari keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi, karena kini sudah ada seseorang yang siap menanggung setiap kebutuhan dan pengeluaran. Lalu yang terpenting, aman dari kesendirian yang terkadang menyiksa perasaan, hohoho.

Abdullah Ibnu Mas'ud Radhiyallaahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami : "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu." (Muttafaq Alaihi)

H = Hangat
Ini dia nih yang agak sulit menjelaskannya. Yang pasti, menurut firman-Nya, pasangan kita itu adalah pakaian bagi kita, dan salah satu fungsi pakaian adalah untuk menghangatkan badan. Bukankah begitu? Nah, gitu aja deh. Paham kan?

"... mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka ..."
(Terjemahan QS. Al-Baqarah ayat 187)


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Sun adalah nickname dari Sunarti, seorang ibu rumah tangga sekaligus admin dari Sun's Blog yang beralamat di http://ummuhilya.blogspot.com/. Muslimah asal Kuningan, Jawa Barat ini tengah belajar menjadi seorang hamba yang sehangat mentari dan seindah surya. Menulis di blog  sejak Maret 2010 lalu adalah aktifitas sampingan yang selalu dilakukannya disela-sela mengurus anak-anak dan keluarga, sehingga sejauh ini tulisannya hanya berupa cerita-cerita singkat seputar kehidupan sehari-hari. Penulis bisa dihubungi lewat email di alamat sun_art@ymail.com
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

MENIKAHLAH DENGAN PENUH RASA CINTA
Wawan Setiawan | Penghuni 60

Ketahuilah, semua berawal dari cinta. Cinta diturunkan ke dunia ini dengan misi yang berat tetapi indah. Cinta diciptakan oleh Sang Pemberi Cinta untuk bisa menghiasi segala kedengkian, kebencian dan amarah. Sadarkah engkau, berapa kali cinta sudah menyelamatkan hidupmu saat kau berada di ujung kehancuran? Saat kau terjebak di antara kedengkian, kebencian dan amarah? Mungkin tak kan terhitung. Karena cinta, engkau pun terlahir ke dunia. Karena cinta, engkau tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang seperti saat ini. Dan karena cinta pulalah, engkau dipertemukan dengan jodohmu, dengan pasangan hidupmu.

Bagi kalian yang sudah siap untuk menikah, menikahlah dengan penuh rasa cinta. Karena dengan begitu, engkau akan merasakan betapa indahnya dunia ini dan betapa bahagianya dirimu saat berada di sisinya. Engkau akan merasa bahwa dunia ini hanya milik berdua. Menikahlah dengan penuh rasa cinta, karena sesungguhnya cinta itu akan membawamu kepada gerbang kebahagiaan dan keharmonisan.

Ketahuilah, pernikahan dibangun bukan atas dasar persamaan tetapi dibangun untuk menyatukan perbedaan. Sungguh naif sekali jika sebuah perceraian terjadi hanya karena sudah tidak cocok lagi. Sebuah perbedaan tentu masih bisa dikompromikan, mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai asal tidak bertentangan dengan agama. Perbedaan seharusnya menjadi dorongan agar kedua insan itu bisa saling melengkapi satu sama lain. Dan tahukah kalian, bahwa ternyata cintalah yang berperan aktif di belakang layar dalam menyatukan perbedaan tersebut.

ever and after love
Untuk Menyatukan Perbedaan - sumber gambar

Terhimpunnya dua insan yang sebelumnya hidup di tempat yang berbeda, kultur dan budaya yang berbeda, bahkan mungkin dua insan yang memiliki cara pandang dan pola pikir yang berbeda pula. Dari sinilah akar masalah mengapa sebuah keluarga tidak selalu harmonis. Tidak selamanya bahtera rumah tangga akan berlayar dalam lautan yang tenang. Tak jarang riak gelombang menghantam bahtera, membuat terpontang-panting tidak karuan. Dahsyatnya gelombang tersebut tak jarang membuat sebuah bahtera rumah tangga kandas di tengah jalan. Hancur berkeping-keping, sehingga tidak bisa berlabuh di dermaga kebahagiaan.

Ada kalanya, kehancuran itu bermula dari sebuah pertengkaran kecil. Pertengkaran yang seharusnya bisa diselesaikan tanpa menjadi awal dari sebuah kehancuran yang besar. Seharusnya bagi kalian yang sudah siap membina rumah tangga, harus siap pula dengan berbagai fenomena yang akan dialami. Tahukah kalian, apa yang sering kali dialami pasangan dalam kehidupan berumah tangga? Ya, pertengkaran. Jika kalian berdua bisa mengatasi pertengkaran-pertengkaran yang terjadi, niscaya akan langgenglah hubungan kalian.

Semua yang sudah menikah dan hidup berumah tangga pasti akan mengalami fase pertengkaran. Tak perlu dipungkiri. Jika ada seseorang yang bilang, “Saya tidak pernah bertengkar dengan istri saya!” Ada dua kemungkinan, boleh jadi dia belum beristri, ataukah dia tengah berdusta. Yang jelas nikmatilah saat-saat bertengkar itu, sebagaimana dinikmatinya saat-saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Maka berusahalah agar bertengkar dilandasi dengan cinta. Lho, apa bisa? Bukankah bertengkar itu akan membuat lupa akan segalanya? Emang bisa mengingat cinta?

“Jika kalian tidak bisa mengingat cinta,
maka ingatlah Sang Pemberi Cinta itu sendiri.”

Ada 6 poin penting yang perlu kalian ingat ketika bertengkar. Jika kalian bisa menerapkan ke enam poin tersebut, Insya Allah hubungan kalian akan baik-baik saja. Berikut pemaparannya satu per satu :

my heart full of you
Poin Penting Ketika Bertengkar - sumber
1. Kalau bertengkar, tidak boleh berjama’ah.
Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Usahakan saat pertengkaran terjadi di antara kalian, salah satu harus bisa mengalah. Nggak perlu harus saling ngotot, saling mencaci, bahkan saling teriak yang bikin kuping para tetangga jadi ikut-ikutan panas karena imbas amarah kalian berdua.

Salah satu dari kalian, berusahalah untuk diam. Sungguh dengan diam itu pun, engkau telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak boleh berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah.

2. Marahlah untuk persoalan saat itu saja, jangan ungkit-ungkit yang telah berlalu.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok. Sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa dia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Toh harapan masih akan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun, diperlukan menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Marahlah untuk satu persoalan saja, persoalan yang kalian hadapi saat itu saja. 

Kalau suami terlambat pulang dan istri marah-marah, maka marahlah hanya pada keterlambatan itu. Sekeras apapun kecaman sang istri, sesungguhnya itu adalah ungkapan rindu. Namun bila marahnya dikaitkan dengan seluruh keterlambatan yang terjadi pekan lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan silam, maka hal itu justru akan membuat suaminya terpuruk jatuh.

Bila teh yang disajikan sang istri tidak manis, jadilah sang suami penimbun gula. Sepedas apapun marah sang suami, sesungguhnya itu adalah harapan untuk diperhatikan lebih tinggi. Namun kalau marahnya dihubungkan dengan kesalahan istri kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan, "Sudah tidak sayang lagi ya?" maka itu sama saja sang suami telah menjepit istrinya dengan hari yang telah pergi, mengubur istrinya di masa yang lalu, bahkan dia telah membunuhnya, membunuh cintanya.

3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga.
Ada sebuah pepatah, "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak". Marah kepada orang yang dicintai, lebih mudah dicari maafnya ketimbang marah pada orang asing. Dunia sudah di ambang pertempuran, jadi tidak usah ditambah dengan memusuhi mertua, ipar atau saudara yang lain. Cukup aku dan kau. Itu saja.

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak.
Ingatlah, anak adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Jadi STOP amarah kalian saat berada tepat di hadapan anak-anak. Berusahalah kembali tersenyum meskipun terpaksa. Seorang anak terlahir bukan dari pertengkaran, bukan dari amarah. Lantas mengapa mereka harus menonton ketegangan dalam berumah tangga? Anak yang melihat orang tuanya bertengkar, pasti akan bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi tak tega dengan bapaknya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
Ibu : “Saya ini capek! Saya bersihkan rumah, masak, ngepel, nyuci baju dan kamu datang main suruh begitu saja, emang saya ini babu?!!!”

Bapak : “Saya juga capek, kerja seharian banting tulang! Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Kamu minta ini itu dan saya harus mencari lebih banyak untuk memenuhinya, sementara ketika saya pulang, hormatmu gak ada sedikit pun, emang saya ini kuda?!!!”

Anak : “Yaaa, ibu saya babu, bapak saya kuda ... terus saya ini apa?”

Sekali lagi, harus berani bilang, “STOP! Hentikan pertengkaran!” Ketika anak datang, lihatlah mata mereka. Dalam binarannya, ada rindu yang membuncah. Dalam tawanya, ada jejak kebersamaan yang romantis. Haruskah mereka mendengar bahasa hati yang liar itu?

5. Kalau marah jangan pernah lebih dari satu waktu shalat.
Pada setiap tahiyyat, mulut selalu melantunkan, "Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin" yang  artinya semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh.

Nah andai setelah salam, muka kembali cemberut, masih memberi tatapan dengan amarah, maka dikemanakan hikmah do'a yang tadi? Jangan sampai lisan dan hati ini telah mendustai-Nya, padahal apalah daya diri, nyawa pun berada ditangan-Nya. Ingatlah selalu pada-Nya. Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba-hamba-Mu yang sholeh.

6. Kalau saling mencinta, harusnya bisa saling memaafkan.
Akhirnya, kembali lagi kepada cinta. Wahai suami, cintakah engkau pada istrimu? Wahai istri cintakah engkau pada suamimu? Kalau cinta, kenapa musti marah-marah? Maafkanlah dia. Jadikan pertengkaran ini sebagai cambuk yang akan terus memberikan kobaran api cinta untuk lebih memperat lagi tali kasih kalian, selamanya. Sesungguhnya, selama ada cinta di antara kalian, bertengkar itu hanyalah suatu proses belajar untuk mencintai lebih intens.

love is red
Kembali lagi kepada Cinta - sumber gambar

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api 
yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada

Semoga, bagi kalian yang ingin menikah, jadikan ini sebagai pengingat. Karena suatu saat, masa pertengkaran itu pasti akan terjadi. Menikahlah dengan penuh rasa cinta, karena cinta bisa mengalahkan segalanya.

“Jika kalian tidak bisa mengingat cinta,
maka ingatlah Sang Pemberi Cinta itu sendiri.”


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Wawan Setiawan adalah seorang muslim asal Cirebon yang tak segan menjadi pribadi yang unik. Menganggap dirinya masih bersekolah di kelas Nol Kecil alias selalu menempa semangatnya untuk terus belajar tanpa kenal usia. Penyuka artistic, mistery, history, legend, science and news of the world. Bergelar blogger piawai sejak Juli 2008 silam yang dilakukannya di sela-sela rutinitas kerja yang menumpuk. Kini tengah mengelola tiga buah website keren tentang hidup dan cinta di Penghuni 60, situs peretas kejadian ilmiah di Science Box  dan blog artistic review di Theatre 61. Bercita-cita untuk menjadi orang sukses meskipun dengan keterbatasan fasilitas yang ada. Motto hidupnya adalah, "Diam itu berpikir, banyak bicara itu penyesalan".  Ingin menghubungi penulis lebih lanjut? Silakan kirim email di waaoow.one@gmail.com.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

RAHASIA ALLAH DI BALIK JODOH
Irda Handayani | Rumah Blog Indonesia

Saya tidak tahu apakah saya yang terlalu lugu atau bodoh untuk merasakan perasaan cinta. Saya juga tidak tahu apakah saya harus memilih antara berbakti kepada orang tua atau mengikuti kata hati saya. Dan saat ini, setelah berbagai konflik hati, perasaan dan pemikiran, saya harus bisa berbakti kepada orang tua dan juga mengikuti kata hati saya dalam memilih calon suami.

Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu perjuangan dan pengabdian anak kepada orang tuanya, termasuk ketika memutuskan untuk memilih calon pendamping sesuai dengan keinginan mereka. Dijodohkan atau dikenalkan sudah pernah saya rasakan, bukan sekali dua kali, bahkan lebih. Apa yang saya lihat ketika itu adalah bentuk ujian yang diberikan oleh Allah kepada saya, karena saya tahu Allah itu selalu sayang kepada semua hamba-Nya.

Lovely Heart
Serius Menyatakan Niatnya - sumber gambar

Secara global, kita dapat mengetahui apakah seorang laki-laki benar-benar serius untuk menyatakan niatnya berumah tangga bila dia bertemu dengan orang tua si wanita, gentleman istilahnya.

Lelaki yang dijodohkan itu pun telah menunjukkan tindakan gentleman-nya kepada saya dan kepada orang tua. Saya pun percaya. Meskipun begitu, tidak ada jaminan sama sekali apakah saya dan dia benar-benar memiliki tujuan yang sama. 

Kenyataannya kami berpisah karena dia menduakan saya, karena rupanya saya hanyalah persinggahan sementaranya, karena saya ternyata tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkannya. Asa terputus. Siti Nurbaya ala dunia modern pun kembali menjalani hal yang sama hingga merasa tidak ada lagi tempat untuk perjodohan.

Satu masa telah berlalu, kembali saya membuka lembaran baru dengan seorang laki-laki yang mengaku jatuh cinta pada saya karena shaum yang saya lakukan. Cerita ini terjadi jauh sebelum ada novel-novel atau film-film Islami yang bertema sama, sehingga saya merasa bukan sebagai pencuri drama. Hahaha. Sosok laki-laki itu adalah orang yang baik, dia mengenalkan saya pada orang tua dan adiknya. Alhamdulillah mereka sangat welcome dan berharap agar kami segera menikah.

Suatu ketika, di salah satu malam Ramadhan, bertempat di Masjid Raya, dia menghampiri saya. Dengan gugup dan ekspresi tegang dia mengambil sebuah kotak mungil dari dalam kantong celana dan membukanya di hadapan saya. Subhanallah, ada sebuah cincin mungil di sana. Dia melamar saya di depan Masjid Raya! Suatu kenangan indah yang tidak akan pernah saya lupakan. Tentu saja saya menerimanya dan dia berjanji akan berbicara resmi dengan orang tua saya.

Ternyata, ibu tidak sependapat dengan rencana kami. Kembali saya berpusat pada birrul walidain lalu memutuskan proses dengannya. Demi orang tua dan demi restu yang tidak didapatkan, akhirnya kami berpisah. Cincin mungil yang sempat melingkar manis di jari pun, saya kembalikan padanya. Dia laki-laki paling baik yang pernah saya temui. Saya berharap dia akan bertemu dengan seorang wanita yang lebih baik dari saya. Lagi-lagi saya terjebak dalam kebodohan dan keluguan perasaan. Ya, suatu kenaifan diri tentang apa itu cinta, tentang apa itu rasa penasaran, tentang apa itu pengabdian. 

Lanjut cerita, saya kembali menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang tegas, keras, berkarakter dan sangat berkharisma. Dia membentuk saya menjadi seorang wanita yang tangguh, cerdas namun tetap lembut. Sangat banyak ilmu yang saya dapatkan darinya. Dia selalu dapat menempatkan diri menjadi pendamping, sahabat, teman, ataupun guru. Secara lisan dia memang telah melamar saya meski tanpa memberikan tanda mata. Kami sudah mengetahui kalau hubungan ini juga akan sulit mendapatkan restu dari kedua belah pihak orang tua, tapi dia tetap bersikukuh untuk mempertahankan saya. Karenanya, saya pun memintanya untuk segera bertemu orang tua.

Janji dan hanya janji yang selalu diungkapkannya. Kecewa demi kecewa saya dapatkan karena masih menunggu realisasi kebenaran semua perkataannya. Apakah dia sangat takut? Ya, dia mengakuinya. Lantas, apakah harus saya yang bertindak untuk memulai langkah masa depan hubungan ini? Saya tidak tahu karena semakin saya memikirkannya semakin kecewa perasaan saya. Hingga saat ini saya merasakan kejenuhan yang teramat sangat. Bukankah bila dia benar-benar serius untuk membangun rumah tangga maka dia akan melakukan apapun untuk meminta restu dari orang tua saya? 

Sementara, saya sendiri sudah tidak sanggup menahan keinginan untuk segera berumah tangga, menjadi istri yang sholehah dan menjadi ibu yang bijaksana. Ah, keinginan untuk menjadi seorang ibu benar-benar mengusik dan mengganggu benak saya.

Heart dan Brain
Tidak Sanggup Menahan Keinginan  - sumber gambar

Pernikahan memang terlihat tidak mudah karena kita hanya bergelut memikirkannya. Namun bila kita berani bertindak dan berani mengambil resiko serta tanggung jawabnya, Insya Allah akan selalu ada jalan atau solusi. Bukankah Allah juga telah menyatakan bahwa pernikahan akan membuka pintu rezeki, jadi mengapa harus takut menikah dalam keadaan tidak mapan? Bukankah menikah adalah tindakan yang mulia daripada terus menjalin hubungan yang tidak tentu arah?

Terlalu banyak pertanyaan yang ada di benak saya. Dan saya tidak pernah mengerti tentang ketakutannya untuk segera menyunting saya. Saya tidak tahu sampai kapan saya bisa bertahan untuk menunggu. Namun sepertinya saya lebih memilih untuk memberikan kesempatan ini kepada orang lain yang memang bisa bertindak berani dan bertanggung jawab. Telah lama saya pasrah dan istikharah, berharap keputusan yang terbaik dari Allah. Semakin saya fokus pada istikharah, semakin kuat pula rasa ragu di dalam hati saya. Apakah ini memang pertanda? Hati saya juga mulai berontak, tidak ingin terpaku pada janji-janji yang entah kapan akan terlaksana. 

Bila dulu saya selalu menggunakan perasaan untuk mempertahankan hubungan ini, maka sekarang saya harus menggunakan logika secara penuh demi mewujudkan masa depan yang saya inginkan. Ternyata benar sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Bila Anda menjalin hubungan dengan seorang pria, maka gunakanlah perasaan. Tetapi bila Anda ingin menikah, maka gunakanlah logika.”

Jodoh itu salah satu rahasia terbesar dari Allah, tidak ada yang pernah tahu secara pasti siapa jodohnya. Pasrah bukanlah harga mati, sedangkan memilih juga bukan merupakan parameter mutlak dalam menentukan siapa yang pantas menjadi pendamping hidup kita.

Dengan bismillah, saya akan mengambil keputusan kembali dalam kehidupan perjodohan saya. Demi mencapai tujuan pernikahan, saya harus lebih selektif lagi menerima lamaran dari seorang laki-laki. Hanya Allah yang Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi, baik itu kebaikan ataupun keburukan. Semoga Allah mempermudah jalan saya untuk menikah. Aamiiin Yaa Robbal ’Aalamiin.


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Irda Handayani adalah seorang muslimah asal Medan, Sumatera Utara yang masuk ke dimensi blogsphere sejak Desember 2010 silam. Sangat tertarik dengan dunia media komunikasi yang berperan sebagai blogger, writer, graphic designer, design preneur dan web developer. Untuk kenal lebih dekat, silakan mengunjungi kedua blog yang diasuhnya. Ada Rumah Blog Indonesia yang khusus dibuat sebagai wadah pemberdayaan masyarakat akan dunia blog, baik itu untuk anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga ibu-ibu rumah tangga. Dan blog My Our Care yang mengangkat permasalahan kesehatan, keluarga, sosial, dan cerita sehari-hari yang mengandung makna. Sebagai bahan muhasabah diri dari hari ke hari, dia menukil perkataan Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu yakni, "Apabila kamu merasa kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya." Untuk menghubungi lebih lanjut, silakan kontak email irda.handayani@gmail.com.


View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

ISTIKHARAH, PETUNJUK TERINDAH
Annur El Karimah | Catatan Annur

Damai kurasakan saat mata ini menatap langit malam yang berhamburan bintang. Kerlap-kerlip menghiasi pemandangan alam, menghibur mataku yang terlalu jenuh memandangi layar monitor. Angin segar begitu nikmat kurasakan saat ini, sayangnya HP-ku berdering, mengusik ketenangan. Yah jelas saja, dia membangunkan dari rasa yang begitu tenang.

“Ukhti, aku ingin menikahimu.”

Jlepp! Suara hatiku kian risau dan tak menentu. Seperti membaca berita duka saja, ada rasa yang berpendar mengharu tak percaya. Senang rasanya jika seseorang berani menyatakan rasa ini apalagi tak banyak basa-basi. 

Namun, tidak seperti ini yang ingin kurasa. Bagaimana bisa seorang yang baru kukenal menyatakan hal seperti ini? Aku belum tahu dia, wataknya seperti apa, temannya seperti apa, keluarganya bagaimana. Pikiranku runyam, lelaki yang kusebut “sombong” malah menghampiri dan menyatakan berita hatinya kepadaku. Ah, kenapa su'udzon lebih dahulu mampir hanya karena melihat penampilannya yang begitu tenang dan tak ramah senyum.

Yeah, it's match!
Aku ingin menikahimu - sumber gambar

Aku merasakan risau yang istilah zaman sekarang dikenal dengan galau. Yah, inilah hati. Gundah gulana tak dapat bersatu menyentuh jalan keluar sesungguhnya.

“Istikharah ukh...”

Suara itu berbisik dalam hati, tapi entah kenapa begitu sulit bagiku untuk istikharah. Aku cinta ibadah, shalat malam pun rajin kulakukan. Mengapa untuk istikharah saja masih belum terjamah olehku? Yaa Allah, ampuni diriku ini yang selalu berbuat khilaf. Aku hanya bisa berdo’a dalam malam dingin-Mu.

Rindu bertepi 
Menanti hadirnya nanti 
Namun mimpi selalu menghantui 
Risau inikah jalan yang terbaik yang harus kupilih dan kulalui?

Selang sehari kemudian, aku membalas sms itu dengan penuh ketakutan. Antara cemas dan takut menghantui perasaanku. Semenjak kemarin aku tak bisa tidur. Dan kunyatakan untuk dia, "Jangan terlalu berharap banyak karena aku masih muda". Pikirku ini jawaban yang tepat. Namun, lambat laun dia merasa bersalah lalu tiba-tiba meminta maaf dan tak ingin mengangguku lagi.

Bagaimana bisa aku menyatakan perasaanku yang sesungguhnya? Tidak! Akhirnya kujelaskan bagaimana cara terbaik menjalani fase ini. Saat itu, kuterangkan secara singkat agar dia tetap berlapang dada kalaupun nantinya keputusanku tidak bisa menerimanya. Selanjutnya kutinggalkan secuil rasa untuk mengharapkan pada-Nya. 

Berlalu sudah satu bulan, aku tak pernah lagi mendapatkan pesan apapun darinya. Kupikir, dia mendengarkanku tentang mana jalan yang baik dan mana jalan yang buruk dalam menempuh sebuah pernikahan, syukurlah.


Suatu sore, kucoba tuangkan cerita yang begitu membelit hatiku itu pada ukhti terbaik yang pernah kukenal. Aku mulai bercerita sejengkal demi sejengkal.

Aku... Aku ragu padanya.
Hingga saat ini pun, aku tetap ragu tapi belum jua beristikharah.
Setahuku, dia bukan lelaki tarbiyah.
Setahuku, dia bekerja di luar pulau, jauh dari keramaian penduduk.
Setahuku, dia belum sempurna sesuai keinginanku.

Aku adalah seorang akhwat yang menginginkan ketenangan jiwa ketika berada dalam bahtera rumah tangga. Rasaku bergejolak, ingin mendapatkan lelaki yang tertarbiyah dan mengerti agama. Baru belajar dan mengajari pasangan akan membutuhkan ekstra kesabaran. Ya, di situlah dakwah yang begitu intens teruji. Sayangnya, bagiku sulit sekali mengatakan hal ini padanya.

Kerisauanku menyatakan ragu.
Dia… lelaki yang lebih muda setahun dariku, bisakah dia mengerti keadaanku? 
Dia… lelaki yang begitu mengharapkan wanita shalihah sebagai pasangannya.
Dia …lelaki yang ingin sekali membangun sebuah keluarga samara.

Aku  berhenti sejenak, menghela beberapa potong napas. Lalu momen itu digunakan dengan baik oleh ukhti yang sedari tadi mengenyam ceritaku.

it's beautiful, isn't it?
Akhwat yang menginginkan ketenangan jiwa - sumber gambar

Ukhtifillah berkata...
Saudariku yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sempatkanlah waktu untuk beristikharah. Ketika ragu menyerangmu, nyatakanlah hal itu kepada-Nya melalui shalat istikharah.

Ukhtifillah berkata...
Ingatlah, tidak semua akhwat tertarbiyah akan mendapatkan lelaki yang tertarbiyah pula. Fakta membuktikan, lelaki yang tarbiyah itu jumlahnya sedikit sekali, tidak sebanding dengan jumlah akhwat yang begitu banyak. Ketika mengharap lelaki yang tarbiyah pula, tentunya kita harus mempersiapkan hati untuk kemungkinan poligami kan? Berpikirlah dengan bijak wahai saudariku, lelaki yang buruk di matamu, bisa saja yang terbaik untukmu di mata Allah.

Ukhtifillah berkata...
Cobalah tetap tenang. Lalu apakah ada seseorang yang kau sukai? Jangan sungkan untuk memberitahu murobbiyah jika ada lelaki yang kau idamkan sebagai pendamping hidup. Hal itu bisa menjadi comblangan terbaik untukmu. Atau jika keadaan yang terjadi adalah sebaliknya, kau bisa meminta sang ikhwan untuk segera melamar. 

Aku tersenyum. Syukran Lillahi Ta'ala, ukhti. Aku kini berada di penghujung istikharah. Aku percaya inilah jalan terbaik, akan kulakukan terus-menerus hingga akhirnya mendapatkan petunjuk meyakinkan yang begitu menentramkan jiwa.


Untuk saudari-saudariku yang lain, izinkan aku menitipkan pesan. Wahai ukhti, jagalah hatimu hingga di penghujung penantian. Senantiasalah merapatkan hati kepada-Nya. Jika jodohmu telah dekat, bertasbihlah. Jangan pernah lengah dengan setumpuk kewajiban yang menantimu kelak. Persiapkan dirimu sebaik-baiknya.


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا 

كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ

 مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam mengajari kami shalat istikharah dalam setiap perkara/urusan yang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdo'alah…” (HR. Al-Bukhari)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai  sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. 
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Terjemahan QS. Al-Baqarah ayat 216

Tetaplah beristikharah, menunggu jawaban terbaik dari rasa gundah yang merisaukanmu. Ya, beristikharahlah ketika jawabannya masih meragu dan belum ditemukan. Karena istikharah merupakan petunjuk yang terindah.

Wallahu a'lam bisshowab. 
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian.


-----------------
BIODATA PENULIS
----------------- 
Annur El Karimah adalah pejuang tangguh, seorang manusia yang berkelana di kehidupan dunia fana ini. Penulis menuangkan pikirannya dari apa yang dirasakan hati, apa yang disaksikan mata dan apa yang didengarkan telinga. Dia seorang muslimah yang biasa saja, tipikal pemalu dan bekerja sebagai tenaga lepas. Selain itu, di sela-sela kesibukannya, dia gemar berwirausaha kecil-kecilan yang banyak memberi manfaat. Motto hidup yang dia junjung tinggi adalah, “Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidup dan Matiku hanyalah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala". Untuk mengenalnya lebih lanjut, silakan hubungi via email ke alamat cahaya_wanita@ymail.com atau kunjungi blog pribadinya Catatan Annur yang serba hijau di alamat http://limacahaya.blogspot.com/.

View Post

Bismillaahirrahmaanirraahiim

HANYA
Himawari.chu | Hima Rain

Seperti pohon-pohon perindu batin
Yang menunggu ranting mengaitkan lengannya di sini

Kuingin berjalan di sisimu dengan iman
Mengaitkan lenganku lenganmu dalam ikatan
Memeluk dirimu dalam satu keindahan
Menjangkau hatimu dalam sebuah sunnah

Cinta memandang manusia sebagai wadah
Manusia kemudian menggenggam dan memeluknya erat

Apa yang muda-mudi cari di dunia ini?

Semuanya terkisahkan rapi pada tinta dan lembaran Lauhul Mahfuz
Semua tulang-tulang rusuk akan kembali ke fitrahnya
Semua cinta akan kembali pada asal-Nya

Jika sepucuk surat dan doamu tak ada namaku
Maka patut bagi diriku untuk menunggu

Malam ini merangkai peristiwa esok yang tidak kutahu
Malam ini wajah dan hatiku merona
Sesekali mematut diri di depan cermin
Tersenyum simpul dengan rona merah madu

Penikmat hati menunggu saat wajahnya diperlihatkan padamu
Pasti ronamu tak lepas dari rona merah malu
Berjalan lintas takdir dalam lembar album hidup
Menunggu tinta takdir itu menetapkan imamku

Saat ini kucoba menghilangkan akal sehat dari pikiran kalutku
Mencoba keluar dari fitrah itu
Berjalan dengan iman atau tidaknya
Sampaikanlah cintamu cintaku hanya pada-Nya


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Hima Rain adalah nama pena dari seorang muslimah yang tidak berencana memberitahukan nama aslinya ke khalayak ramai. Dara kelahiran Ujung Pandang (nama jadul dari kota Makassar, red) ini punya hobi masak, makan, berkebun, crafting dan baca buku roman ketimbang novel. Aktifitas favoritnya adalah berkreasi flanel dan mengajar. Tercatat sebagai sarjana lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Cita-citanya suatu saat semoga dia bisa menjadi sosok guru idaman Insya Allah. Untuk melihat betapa manis produk buatan tangannya, silakan kunjungi online shop Airin Handicrabby miliknya di alamat http://airinhandicrabby.blogspot.com. Untuk menelaah dirinya, bisa melalui blog pribadinya Hima Rain di alamat http://www.hima-rain.web.id. Pengen tahu lebih jauh? Boleh kirim email ke alamat himawari.chu@yahoo.co.id.
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hikmah Lara Cintaku
Insan Robbani | Media Robbani

Pernikahan merupakan penenang bagi jiwa, penentram hati, peneguh iman sekaligus sebagai sarana bagi suami istri mencurahkan kasih sayang, mewujudkan kerukunan, saling berbagi, saling nasehati dan bertoleransi, dengan harapan agar keduanya menciptakan suasana yang indah, berbahagia dan mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sungguh tidak pernah terpikirkan jika aku harus menikah di usia yang relatif muda. Ya, di usia dua puluh dua tahun aku dituntut harus menjadi seorang pria yang lebih mandiri bukan hanya memimpin diri sendiri tetapi harus menjadi pemimpin bagi istriku. Menikah di usia muda bukan hal yang mudah tapi bukan hal yang sulit juga jika kita mau belajar memaknai sebuah pernikahan.

sakinah mawaddah warahmah
Memaknai Sebuah Pernikahan - sumber gambar

Sudah sering kali perjalanan cintaku terbentur dengan kokohnya tembok sebuah adat istiadat di tanah kelahiranku. Perlakuan diskriminatif pun sering kualami ketika rasa cinta sudah berada di puncak titik keseriusan. Kalimat bebet, bobot, bibit dan babat kerap menjadi penghalang cinta yang sudah kupupuk bersamanya. Apalah artinya sebuah cinta bila tidak masuk kriteria yang empat tadi. Itulah mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan kepedihan cintaku.

Tidak ada yang harus disalahkan jika aku dilahirkan dari Ibu berdarah Jawa dan Ayah dari Jepang. Semua sudah menjadi takdir dari-Nya dan akupun tidak menyalahkan keluarga si dia jika masih belum sepenuhnya percaya dengan keislamanku. Dianggapnya hijrahku menjadi muslim menyimpan niat terselubung. Ya Allah hanya Engkaulah yang tahu ketulusan hatiku.

Dalam hatiku selalu bertanya, bukankah setiap muslim adalah sama? Punya kedudukan yang sama di hadapan Allah, lantas kenapa diskriminasi masih ada? Kenapa feodalisme masih tumbuh subur di hati manusia? Itulah pertanyaan yang tak pernah terjawabkan. Seolah harta, kedudukan dan kasta menjadi standard untuk menentukan sebuah perjodohan. 

Padahal belum pernah ada sebuah riwayat bahwa Rasulullah yang menanyakan, "Berapa penghasilanmu dalam sebulan? Atau berapa kekayaanmu di bank?" Akan tetapi yang ditanyakan adalah "Apa yang engkau punya untuk dijadikan mahar? Mungkin ia mempunyai cincin besi. Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih. Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran."

Ah, biarlah manusia punya pola pikir yang berbeda dan punya keputusan sendiri yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Akhirmya kutepis rasa kecewa dengan kalimat, "Mungkin dia belum jodohku." Sambil mencoba bersabar dengan ketentuan takdir yang diberikan padaku. Allah Maha Tahu dan Maha Mendengar. Kesabaranku dibayar tuntas dengan menurunkan dari langit seorang wanita cantik keturunan Jawa dan Arab untuk dipertemukan denganku.

Perkenalan kami hanya singkat karena kami dilarang berpacaran. Jika serius, harus langsung dipinang dan dinikahi. Lampu hijau sudah diberikan bahkan tanpa sepengetahuanku antara kedua orang tua sudah ada pembicaraan dan kesepakatan untuk menikahkan kami berdua. 

Ah! Bagai petir menyambar di siang bolong. Hampir tidak percaya dengan kata-kata Ayah yang disampaikan padaku. Agar aku segera menikah dengan Fatma seorang wanita yang sebenarnya belum lama aku kenal.

"Hah...!! Menikah...?" ucapku kepada ayah setengah kaget. Apakah aku akan sanggup menafkahi keluargaku dengan kondisi sekarang ini yang notabene baru beberapa bulan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Belum lagi ada tanggungan cicilan yang harus kuselesaikan.

"Jika pernikahan membuat manusia menjadi miskin, maka sedari awal Islam tidak akan mewajibkan umatnya untuk menikah."

Sebaris kalimat nasehat Ayah inilah yang sangat memotivasi diriku, membuatku merasa nyaman dan tenang untuk memenangkan hati yang bergejolak. Ya, betul apa yang disampaikan ayah, bukankah Allah sendiri berjanji akan menjamin rezeki hamba-Nya yang mau bertakwa kepada-Nya melalui firman-Nya :

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemahan QS. An-Nur : 32) 

sebuah perjalanan cinta
Tanpa keglamouran pesta pernikahan - sumber gambar
Dengan mengucap Bismillah kumantapkan hatiku, kuyakinkan diriku bahwa Allah telah memberikan yang terbaik padaku. Allah memberikan amanah yang harus kupegang teguh. Menjadi imam bagi istriku dan anakku kelak, bertanggung jawab sepenuhnya atas baik dan buruknya keluargaku. Maka dengan resepsi sederhana tanpa mengurangi nilai kesakralannya, aku pun duduk bersama istriku di pelaminan dihadiri saudara dan kerabat dekat tanpa keglamouran pesta pernikahan.

Hari ini, lima belas tahun usia pernikahanku dan Alhamdulillah kami dikaruniai satu anak laki-laki. Sebuah perjalanan cinta yang lumayan panjang. Dalam rentang waktu itu, bukan berarti tanpa riak-riak yang mengganggunya, bagaimanapun menyatukan dua karakter yang berbeda bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan pengorbanan. Berjuang melawan ombak dan badai agar bahtera rumah tangga tidak gontai bahkan tenggelam oleh arus yang deras. Berkorban untuk menyelaraskan dan mengendapkan ego masing-masing agar tidak ada dua nahkoda dalam bahtera tersebut.

Suami dan istri ibarat sebuah mata rantai yang saling memiliki keterkaitan dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Tiap-tiap diri punya peran dalam membentuk suatu mahligai rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Tidak ada yang saling diunggulkan dan tidak ada yang direndahkan, semua punya peran penting sesuai kodradnya. 

Tidak ada cara atau kiat yang baik untuk menjaga keselarasan berumah tangga selain menghadirkan nuansa Islami dalam kehidupan kita. Membiasakan shalat berjamaah minimal saat maghrib dan subuh adalah solusi yang tepat, karena dengan sholat bersama kita merasakan bahwa diri ini adalah hamba yang lemah di hadapan sang Maha Tinggi, sangat tidak pantas jika kita menyombongkan diri di hadapan-Nya.

Senantiasalah mengingat hakekat Syahadat sewaktu menjalankan ijab qabul. Dengan membaca dua kalimat syahadat berarti kita sudah berikrar dihadapan Allah dan Rasul-Nya untuk menjalani kehidupan keluarga berdasarkan syariat dan hukum-hukum yang sudah ditentukan Islam. Maka jangan pernah mencoba mengingkari janji yang sudah kita ikrarkan sendiri. Bagi sang suami, jadilah sosok moderat yang bisa melindungi dan menjadi panutan sang istri. Bagi sang istri, jadilah sosok yang hormat dan patuh kepada suami selama tidak melanggar ketentuan Allah.

Dan terakhir aku berharap semoga adikku Maya selalu dibimbing Allah dalam kehidupannya. Terdapat berkah dalam pernikahannya nanti. Poin pentingnya, semoga dalam berumah tangga kelak, bisa bahu-membahu dalam kebenaran yang mengantarkan menuju surga-Nya. Aamiin.

Surabaya, 23 Agustus 2012.


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Insan Robbani bukanlah seorang penulis yang hebat, bukan pula seorang yang pandai merangkai kata indah, dia hanya seorang manusia yang ingin menyuarakan indahnya Islam yang dikemas dalam sebuah blog sederhana. Dilahirkan di kota Pahlawan Surabaya dari keluarga non muslim, menuai kisah perjalanan hidayah yang tidak mulus hingga kemudian membawanya berhijrah menuju indahnya Islam. Maka tidak heran jika dia selalu meneriakkan kalimat, “Aku bangga menjadi muslim.” Dan motto itulah yang tersematkan di header blog www.mediarobbani.com. Untuk menghubungi penulis lebih lanjut, silakan kirim email ke alamat media_robbani@yahoo.com.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Menikah : Bertemu dengan Cara yang Indah

Ia tidak lagi ingat betul, kapan tepatnya ia mengikrarkan janji itu. Sebuah janji pada suatu malam yang hening, sebelum benar-benar terkatup matanya untuk terlelap. Yang ia ingat hanyalah, setelah itu, ia tidak pernah lagi berpikir akan menjalani hubungan sebagaimana yang umumnya dijalani oleh kawan-kawan seusianya. Ya, malam itu ia telah berjanji, untuk tidak akan pernah pacaran seumur hidupnya. Ia berjanji bukan kepada siapa-siapa melainkan kepada dirinya sendiri. Juga kepada Allah yang ia yakini Maha Menyaksikan.

Maka malam itu, tanpa pemahaman agama yang benar-benar menyeluruh, dan tanpa landasan dalil-dalil apapun, ia telah memutuskan hal tersebut. Suatu keputusan yang di masa depan menjadi sebuah tonggak yang akan selalu ia syukuri. Keputusan yang selanjutnya terus ia upgrade sehingga tidak hanya sekadar menjadi janji-tanpa-alasan, namun lebih dari itu, sebuah jalan hidup yang memiliki kejelasan tuntunan.

bagaimana penyair merangkai kata,
untuk sebuah perjumpaan saat kita pertama kali saling bersitatap
lalu dengan yakin, jiwa kita sungkurkan
pada bukti tanda kebesaranNya
pada bukti sebuah perjanjian agung
mitsaqan ghaliza...*)

tentang cinta dan jodoh
Ini Tentang Janji, Cinta dan Sebuah Pertemuan - sumber gambar

Saat itu, cukup baginya pengalaman-pengalaman yang dicurhatkan sahabat-sahabatnya kepadanya. Cukup dengan itu, ia mengambil kesimpulan bahwa tidak ada sama sekali manfaat yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan pacaran. Hal-hal yang katanya indah itu, ternyata semu. Bahwa segala kesenangan itu, akan berakhir pada titik yang mengenaskan, patah hati. Maka, ia tidak pernah lagi memikirkannya. Meski tidak begitu jelas baginya, namun ia menduga bahwa pasti ada jalan lain untuk mengekspresikan perasaan  cinta. Ya, cinta. Sebuah kata yang mungkin hingga saat ini, tidak pernah benar-benar ia pahami maknanya.

sebab ini pun dimulai dengan cinta
cintaNya yang meneguhkan masing-masing langkah kita di jalan cahaya
lalu siapa yang mengira
jika kemudian alur kita saling bersinggungan di sebuah masa
di titik yang teramat indah
maka sebagaimana ia dimulai
semoga demikian pula kelak ia selesai;
dengan cinta *)

Hingga akhirnya ia mengerti, bahwa jalan itu ada dan telah disiapkan sebagai sebuah solusi yang teramat indah. Bahwa Islam, agamanya, tidak hanya sekadar melarang sebuah jalan, tanpa menunjukkan adanya jalur lain sebagai solusi. Maka, ditutupnya jalan ke arah zina (semacam pacaran), menemukan solusinya pada jalur pernikahan. Pernikahan menjadi jawaban atas ekspresi cinta yang secara fitrah dimiliki oleh setiap manusia. Pernikahan adalah sebuah langkah untuk menjadikan hal-hal yang sebelumnya haram menjadi berberkah.

Maka layaknya juga rejeki dan maut, pernikahan pun merupakan sebuah misteri yang benar-benar hanya dapat terjawab oleh takdir. Tidak ada yang benar-benar tahu dengan siapa ia akan menikah kecuali setelah pernikahan itu telah terjadi. Lalu segalanya pun akan menjadi manis, saat kita menjadi saksi bagaimana Allah dengan teramat indah menyusun skenario hidup seorang hamba yang tidak pernah dapat tertebak itu.

Ia pun berpikir, apakah jodohnya adalah seseorang yang saat ini berada jauh darinya, sama sekali belum ia kenal dan mengenalnya, dan wajahnya menjadi teramat asing? Layaknya apa yang Allah takdirkan pada seorang sahabatnya yang dipinang oleh seorang pemuda yang bermukim di pulau yang berbeda. Lalu kemudian mereka melalui proses yang sesuai syariat, hingga kemudian bersatu dalam sebuah pernikahan.

maka jika saja kita menghitung berbagai nikmat ini
lalu menakarnya dengan selaksa kesalahan diri
maka tidak layaklah lagi ada ruang untuk berdusta
bahwa atas segalanya,
termasuk dengan perjumpaan kita,
tidak ada yang tertakdir dengan sia-sia*)

Ataukah ternyata jodohnya adalah seseorang yang saat ini berada di dekatnya. Telah familiar wajahnya, atau bahkan pernah terlibat lama dengannya di bangku sekolah masa lampau atau interaksi formal semacamnya. Seperti yang terjadi pada seorang kerabatnya yang harus menjalani penantian panjang menuju pernikahan, namun pada akhirnya ternyata menikah dengan seseorang yang pernah satu sekolah dengannya, dulu. Ah, semua itu tentu belum dapat tertebak saat ini.

Maka ia pun akan selalu takjub dengan bagaimana Allah menggambarkan pernikahan dengan frasa ‘mitsaqan ghaliza’, perjanjian yang kokoh. Deretan kata yang hanya muncul tiga kali dalam kitab suci, pertama saat Allah mengambil perjanjian dengan Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi ‘Isa dalam Al Ahzab ayat tujuh. Kedua, seperti yang terabadikan dalam An Nisa ayat 154, ketika Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia padaNya. Dan yang terakhir, saat Sang Rabb menggambarkan tentang pernikahan dalam An Nisa ayat 21. Hal ini tentu menunjukkan, betapa mitsaqan ghaliza  pada pernikahan ini tentu bukanlah senda gurau belaka.

pernikahan penuh makna
Atas apa yang telah terkokohkan - sumber gambar

Pernikahan, bukanlah sekadar bertemunya lelaki dan wanita untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka. Pun bukan cuma masalah mempertahankan spesies agar tidak punah. Lebih dari itu, dalam sebuah pernikahan, terdapat sebuah tanggung jawab besar nan berat. Bukan hanya dalam lingkup sebuah keluarga kecil yang baru saja terbentuk itu. Namun lebih luas lagi, bahkan ia merupakan tanggung jawab kepada ummat ini. Seolah setelah ijab dan qabul ditunaikan, ummat ini akan segera menagih; atas apa yang telah terkokohkan saat itu, apa kontribusi yang dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas?


Huff, menegangkan yah?

Bagaimana tidak! Seorang lelaki yang sebelumnya melajang, setelah menikah akan bertanggung jawab atas wanita yang dipilihnya, juga atas anak-anaknya. Ia harus mencari nafkah, dan memastikan setiap bulir nasi, keping uang, dan tegukan air itu adalah halal dan berkah. Ia harus melindungi, memberikan rasa aman, keadilan, dan kelembutan dalam waktu yang bersamaan.

Seorang wanita, setelah menikah akan mengalihkan ketaatannya dari yang sebelumnya kepada kedua orang tuanya, beralih kepada lelaki yang menjadi suaminya. Ia harus dapat mengurus rumah tangganya dengan apik, memberikan ketenangan, menjaga harta dan kehormatan suaminya saat ditinggal, dan menjadi permata hati yang senantiasa membawa keindahan.

Sepasang suami dan istri, bagaimanapun kondisi mereka, dituntut untuk mampu menghadirkan generasi-generasi penerus untuk ummat ini. Mendidik anak-anak mereka dengan teladan yang baik. Menanamkan nilai-nilai dasar yang menjadi bekal mereka menghadapi hidup ke depannya dan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya manusia.

Namun, jika kedua insan yang menyatukan dirinya dalam ikatan suci tersebut telah memiliki komitmen untuk saling membangun, maka tugas peradaban itu insyaAllah bukanlah momok yang perlu untuk ditakuti. Bahkan mungkin, langkah kaki yang bergantian itu akan semakin ringan, selaras, dan menyenangkan, saat ia dilalui dengan ilmu dan keyakinan yang kuat. Juga dengan cinta. Ah, kata itu lagi.

Ya, cinta yang tumbuh karena kecocokan jiwa, bukan hanya permasalahan waktu. Cinta yang dibangun dengan komitmen dan pemahaman, bukan hanya pemuas nafsu. Cinta yang dijaga dengan landasan iman, sehingga seiring dengan perjalanan masa, ia tidak mudah goyah oleh hal-hal remeh yang tidak lagi terlihat indah, sebab digerus oleh usia.

jika kau memilihku,
untuk membersamai hingga tua menggamit dalam rambut-rambut beruban
juga kulit yang mengeriput oleh masa
semoga nanti tidak akan ada yang berubah
pada jiwamu,
satu-satunya tempat yang tidak akan termakan usia
juga janjimu,
sebab Allah yang menjadi saksinya *)

Love is Cinta
Ah, Kata itu Lagi. C.I.N.T.A - sumber gambar

Dengan semua itu, semoga sebuah pernikahan bisa menjadi salah satu dari begitu banyak tanda-tanda kebesaran Allah yang begitu mengagumkan. Pernikahan dapat membawa pada ketenangan jiwa dalam indahnya sakinah. Gelora cinta dalam memikatnya mawaddah. Dan kesejatian kasih sayang dalam segala rahmah.

Maka ia pun melayangkan imajinasinya. Sekiranya ia dapat melihat segalanya dari atas, lalu memandang bagaimana tiap orang akan semakin didekatkan dengan jodohnya masing-masing, tanpa pernah ia sadari. Titik-titik yang saling berkesesuaian itu mungkin akan beredar ke berbagai jalur dan arah, namun di suatu masa, keduanya akan saling bersinggungan dalam perjumpaan yang indah. Bahwa setiap mereka yang menjaga dirinya, tentu akan dipertemukan pula dengan ia yang terjaga. Bahwa tugas dari masing-masingnya adalah dengan terus memperbaiki diri, sehingga berjumpa pula dengan ia yang melakukan hal yang sama. Hingga titik-titik yang berwarna selaras itu menjalani takdir mereka, meski pada akhirnya pun akan terpisah sesuai dengan kehendakNya. Atau mungkin, titik-titik itu tidak akan pernah bertemu di dunia, namun mereka akan selalu yakin dengan janji Tuhannya; jika bukan di sini tempat mereka saling menatap wajah, maka mungkin nanti, di sebuah tempat yang jauh lebih indah. Syurga, namanya.

maka kumulai pertemuan ini
dengan kekata yang mungkin juga dipendam rembulan pada gemintang
seperti hujan yang menyapa tanah kering yang merindukannya
"telah sempurna celah diantara jemariku dengan dekap telapakmu,
semoga ia menjadi sebab
kelak dikumpulkannya kita di tempat yang penuh keindahan, Cinta." *)

Makassar, 4 Syawal 1433 H
*) sajak Perjanjian Agung, Ar Rifa’ah


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Ar Rifa’ah lahir di Ujung Pandang, 21 Juli 1989. Saat ini menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi di program studi pendidikan apoteker Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Makassar. Seorang muslimah pecinta kata-kata yang mencoba memotret dan merekam kenangan lewat kata. Jadi tak heran punya hobi menulis, masih menulis, dan akan terus menulis, Insya Allah. Buku pertamanya sebuah kumpulan puisi dan esai renungan berjudul Jeda Sejenak (Leutika Prio, 2012) mengawali debut karirnya di dunia penulisan. Silakan mengunjungi ketiga blog pribadinya di Sajak yang Berhamburan, Rumah Tafakkur, dan Jejak Pena untuk mengenal dan menelaah sosoknya lebih dekat. Atau bisa kirim email ke alamat diena_rifaah@yahoo.com untuk mengontak penulis.

View Post