Bismillaahirrahmaanirrahiim

JODOH DI UJUNG DUNIA
Dina Desriany | My Precious Life

Kisah ini beranjak dari dua belas tahun yang lalu ketika umurku masih 15 tahun. Yeah, first grade on senior high school. Aku punya seorang sahabat sekaligus senior yang sudah seperti saudaraku sendiri. Namanya Amalia. Aku memanggilnya kak Ame. Kami berada dalam satu organisasi (pramuka, red) yang sama makanya keakraban itu mudah melekat. Kukatakan layaknya saudara sendiri karena aku sering mampir ke rumahnya bahkan tak segan untuk menginap.

Setahun berjalan, tak heran aku pun bisa akrab dengan keluarganya. Dan rupanya keakraban itupun menular ke orang tuaku dan orang tuanya. Keluargaku dan keluarganya sudah seperti satu keluarga besar. Karenanya saling mengunjungi kampung ketika lebaran sudah merupakan hal yang lumrah dilakukan, sampai-sampai para sepupu, om, tante, kakek dan neneknya pun tak ada yang terasa asing bagiku. Luar biasa. Hihihi.

full of dandelion
Seseorang yang menggetarkan hatiku - sumber gambar

Suatu ketika aku bertemu dengan dia. Seseorang yang menggetarkan hatiku. Pertemuan singkat itu terjadi di rumah kak Ame, setelah pulang dari kursus berenang. Namanya juga masih 16 tahun ya, masih ababil belia yang pas lihat cowok cakep langsung deh kelepek-kelepek. Hahaha. Eh, padahal hampir semua keluarga kak Ame aku ketahui tapi kok yang satu ini, mana keren lagi, bisa luput ya? Aku dengan berani bertanya ke kak Ame, “Siapa sih dia?”

“Sepupu satu kaliku, saudaranya Wanti.” jawab kak Ame ringan. Aku mengerutkan kening, mencoba membayangkan sosok Wanti. Hmm, ya aku tahu pasti siapa Wanti, berikut ibu bapaknya yang tinggal di Soppeng. Lalu entah keceplosan atau memang dorongan hati, lidahku seenaknya berseru, "Salam ya untuk dia." 

Menjelang maghrib, aku pun pulang ke rumah. Jika mengingat kejadian tadi, aku langsung senyam-senyum malu sendiri. Firasatku mengatakan kak Ame telah menyampaikan salamku untuknya. Wah, apa yang bakal terjadi selanjutnya ya?

Kring...!! Kring...!!

Telepon rumah berdering. Aku bergegas mengangkatnya, “Assalamualaikum, halo!”
“Wa'alaikumussalam.” suara pria terdengar di ujung telepon.
“Cari siapa ya?” tanyaku kemudian.
“Bisa bicara dengan Dina?” 

Eh, tenggorokanku tercekat. Siapa gerangan yang mencariku? Bingung pun menyerang. Seumur-umur aku tak pernah mendengar suara pria ini. Ya, suaranya tidak familiar di telinga. Ah, nanti juga aku tahu. Jadi kujawab, “Iya ini aku, Dina. Ada apa ya?”

“Enggak, cuma mau tanya. Apa benar Dina yang menitip salam untukku melalui Ame?”

What?! Er-rr, aku mohon jika ada lubang, cepat sembunyikan aku di sana! Waduh, wahai mukaku mulai detik ini entah mau ditaruh dimana engkau. Menutup malu, otomatis aku berseru, “Loh, kata siapa? Aku nggak nitip salam, tuh."

"Oh, iya. Aku mengerti. Terima kasih ya." tukasnya. Telepon pun ditutup.

Ya Allah, mana berani aku menjawab iya. Aku benar-benar ketangkap basah! Cuek, itulah solusi yang terpikir di kepalaku. Lagipula rasa-rasanya, aku nggak bakal ketemu dia lagi kok. Namun ketika usiaku genap 17 tahun, ketika aku mengundang kak Ame dan keluarganya untuk ke pantai, takdir mempertemukan kami kembali. Pertemuan kedua itu memberi sensasi yang menyegarkan. Dari situlah aku mengenalnya lebih dalam, Wanto namanya. Ngobrol dengannya sudah tak keteteran dan percikan di hati pun sudah mulai menyala.

love flower
Percikan di Hati - sumber gambar
Setelah lulus SMA, orang tuaku mulai cemas ketika putrinya memiliki teman lelaki. Ya, tidak ada istilah pacaran dalam kamus keluargaku. Akhirnya bapak berinisiatif, “Minta pemuda itu datang ke rumah, kalau perlu orang tuanya juga datang.”

Aku pun meminta ibunya Wanto untuk datang ke rumah. Saat para orang tua bertemu, aku pikir masih sekadar bicara ngalor-ngilur, eh nggak tahunya, sebuah lamaran! Sayang, mama tidak setuju. Mama pikir aku masih muda, sementara kuliah dan perjalanan hidup masih panjang. Lamaran ditolak.

Berselang beberapa bulan, akhirnya lamaran kedua datang lagi. Sayang beribu sayang, dengan gigihnya Mama tetap menolak lamaran itu. Ternyata eh ternyata mama kepengen aku dijodohkan dengan saudara laki-laki kak Ame, bukan sepupunya. Wah tapi gimana ya, aku hanya bisa bilang, "Saudara laki-laki kak Ame sudah seperti kakak sendiri. Tak ada rasa cinta setitik pun untuknya. Aku tidak bisa menikah dengannya. Maaf.”

Bulan berlanjut, tetap dengan semangat juang, Wanto memberanikan diri untuk melamar sendiri tanpa ditemani orang tuanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya Mama setuju. Alhamdulillah tepat tanggal 19 Oktober 2003, pernikahan pun berlangsung dengan penuh hikmat. Dengan umur 18 tahun yang terbilang masih sangat-sangat muda, aku menapaki bahtera rumah tangga. Masya Allah! Tak ada perasaan takut sedikit pun untuk mulai membina sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Saat itu aku malah merasa senang, haru dan berucap syukur, "Terima kasih ya Allah, ternyata dia adalah jodohku di ujung dunia."

Sekarang sudah hampir masuk tahun ke sembilan masa pernikahan kami. Tabaarakallahu Ta'ala, masih dengan rasa cinta dan sayang yang sama bahkan Insya Allah tiap tahun semakin bertambah. Tertanggal 05 April 2005, lahirlah seorang putri yang cantik. Kuberi dia nama, Nabilah Az Zahra. Alhamdulillah Yaa Rabb, Engkau telah menyempurnakan diriku sebagai seorang wanita dengan memberikan anak yang cerdas dan sholehah serta suami yang senantiasa menemaniku dalam sakit maupun sehat.

Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana tips menjaga hubungan pernikahan?” Dengan renungan yang panjang, aku menjawab, “Menjalani kehidupan rumah tangga itu tidaklah mudah. Kadang senang, kadang sedih, kadang mulus dan kadang terbentur kerikil. Yang paling penting dari pernikahan adalah bagaimana menyikapi segala problema yang muncul dengan mengedepankan sikap saling mengerti dan menghargai.”

Lucunya, banyak orang yang spontan berucap bahwa aku memiliki mata yang serupa dengan suamiku. Katanya, wajah kami bagai pinang dibelah dua. Kalau kata orang Bugis sih, alosi ri polo dua. Bahkan beberapa di antaranya beranggapan suamiku itu saudaraku alias anaknya bapak. Loh? Hahaha. Kami berdua pasti merespon dengan tawa ketika pernyataan-pernyataan seperti itu muncul. Soalnya seseorang memang akan bertemu dengan jodoh yang wajahnya serupa. Walau di awal pernikahan wajah kedua mempelai tidak mirip, seiring dengan perjalanan waktu, wajah keduanya pasti akan mirip. Tidak percaya? Buktikan sendiri, hehehe.

Tulisan ini kupersembahkan untuk pasangan jiwaku dan untuk seluruh wanita yang sedang atau akan melangsungkan pernikahan. Yakin dan percayalah bahwa dia (sang calon suami) merupakan jodohmu di ujung dunia. Seperti kata pepatah bugis, idi’ni toto’ku lettu cappana ri lino alias engkaulah jodohku sampai ujung dunia. Insya Allah. Aamiin.


----------------
BIODATA PENULIS
----------------
Dina Desriany adalah seorang ibu satu anak yang berdomisili di kota Anging Mammiri, Makassar. Kesibukannya sehari-hari adalah sebagai seorang istri teruntuk suami tercinta, sebagai abdi negara yang mengajar di salah satu universitas swasta, sebagai mahasiswi pascasarjana Universitas Hasanuddin. Saat ini tergabung dalam forum layanan ipteks bagi masyarakat bernama FLipMAS Anging Mammiri di bawah naungan Pendidikan Tinggi (DIKTI). Tujuan hidupnya adalah wanna be a beneficial person for many people especially for her lovely family. Untuk mengenal pribadinya lebih lanjut, silakan mengunjungi blognya My Precious Life yang beralamat di http://deenayla.blogspot.com/. Mau bertanya kepada penulis? Boleh mengirim email ke alamat deenayla_cest@yahoo.com.
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

MENIKAH ITU TAK MELULU INDAH
Mugniar Marakarma | Sebuah Renungan

Tak ada ruginya mengamati banyak rumah tangga di sekitar kita. Bukan untuk dipergunjingkan, bukan. Tapi untuk mengambil hikmah yang banyak terserak di dalamnya. Tak ada ruginya yang sudah berumah tangga mengamati rumah tangga lain sebatas yang diamati, untuk mengambil pelajaran bagi rumah tangganya sendiri, selama tidak mengubek-ubek hal yang menjadi privasi rumah tangga yang tengah diamati itu.

Bagi para lajang, tak ada ruginya pula mengamati sekitar kalian. Amati rumah tangga kakak-kakak, orangtua, tetangga dan teman-teman kalian supaya kalian memiliki banyak bekal bila kelak melangkah ke jenjang yang sepintas oleh kalian terlihat seperti bertabur bunga, madu dan segala hal yang indah-indah itu. Rauplah sebanyak-banyaknya pengetahuan karena memasuki jenjang pernikahan itu ibarat menuju ke sebuah tembok tinggi yang di baliknya ada miliaran tanda tanya besar yang menunggu untuk dituntaskan.

Bagi adik-adikku, saudara-saudaraku, keponakan-keponakanku, tolong ingat dua hal ini :
  1. Menyegerakan menikah memang sunnah, tetapi tergesa-gesa itu dekat dengan mudharat. Namun bedakan antara menyegerakan dan tergesa-gesa. Ada orang-orang yang mengira sedang menyegerakan tetapi pada kenyataannya ia tergesa-gesa. Akibatnya banyak orang terdekat yang dirugikannya selama proses pernikahan bahkan selama ia berumah tangga karena ia tak dapat memikul tanggung jawab yang banyak pasca pernikahan.
  2. Tanggung jawab adalah hal yang akan berkali-kali dituntut dalam berumah tangga. Lihat saja, begitu banyak anak terlantar karena orangtua mereka yang tak siap menerima kehadirannya. Juga semakin banyak perceraian yang terjadi setelahnya karena berbagai sebab.
Mempersiapkan diri sebelum menikah bukan hanya persiapan fisik, organ reproduksi dan ilmu tentang malam pertama. Tetapi juga menyangkut kepemilikan akhlak yang baik. Buka mata kita. Ada orang-orang yang secara kasat mata terlihat begitu shalih tetapi setelah berumah tangga ia tega melakukan hal-hal yang tak baik, menyiksa istrinya dengan pukulan misalnya. Ini karena keshalihan perbuatannya tak merasuki batinnya. Teliti akhlak kalian. Sudah layakkah kita membuat pasangan kita menerima kita sebagai pribadi yang komplit, dengan kelebihan sekaligus kekurangan?

bunga hati
Sudah layakkah kita? - sumber gambar

Menikah itu tak melulu indah. Kolaborasi dengan pasangan akan membuka semua, tidak hanya kelebihan tetapi juga kekurangan kita. Jangan sampai ada pihak yang terzalimi kelak.

Waspada dan berdo’alah dari empat hal yang bisa merusak keharmonisan rumah tangga ini. Jangan sampai kita sendiri yang memilikinya. Sifat-sifat ini bisa ada pada siapa saja, bahkan pada orang-orang yang sepintas lalu terlihat shalih sekali pun :
  1. Konsumtif. Ada orang-orang yang tak bisa membedakan mana barang yang memang benar-benar dibutuhkan atau sekadar diperlukan. Sudah punya tiga tas yang masih bagus, masih saja tergiur dengan tas model baru yang harganya cukup menguras kantong. Kalau keadaan keuangan memungkinkan, okelah. Tapi kan bisa saja tak selamanya demikian? Lebih baik sifat konsumtif tidak dipelihara, masih banyak orang yang butuh disedekahi di dunia ini.
  2. Pembicara yang baik, bukan pendengar yang baik. Ada orang-orang yang sepintas bisa melenakan dan menghibur ketika berbicara tetapi ketika orang lain bahkan pasangannya sendiri yang berbicara tak diindahkannya. Tak bisa diajak bertukar pikiran, hanya mau menang sendiri. Diberi usulan saja tak mempan, apalagi didebat.
  3. Temperamental. Sekali dua kali pertemuan tak bisa membongkar watak seseorang temperamental ataukah tidak. Bayangkan jika kita seumur hidup terjebak dengan orang yang memiliki sifat ini, sedikit-sedikit marah. 
  4. Sulit membedakan yang penting dan tidak. Banyak sekali waktunya terbuang untuk hal yang sia-sia. Tanpa sadar waktu dan perkembangan zaman bisa menggilasnya. Ada orang-orang yang sibuk dengan hal-hal tak penting semisal ngobrol ngalor-ngidul, main catur, game, dan lain-lain selama berjam-jam.
Coba bayangkan kalau pasangan kita memiliki keempat-empatnya. Wuiii, seram ya? Tapi bagaimana kalau ternyata kita yang memiliki keempat-empatnya? Lah satu saja tapi kronis sudah menyusahkan orang lain. Iya kan?

Kalau kita ikhlas menerima apa adanya pasangan, syukurlah. Tapi yang namanya manusia, biasanya ada batasnya. Bayangkan saja kalau puluhan tahun sekamar dengan orang yang seperti ini? Lebih baik tidak berangan-angan mengubah orang lain. Sudah banyak kisah, orang-orang yang akhirnya hanya bisa memble karena gagal mengubah pasangannya. Lah kalau yang bersangkutan tak merasa ada yang perlu diubah pada dirinya, tak merasa ada yang salah pada dirinya, adakah kuasa orang lain untuk mengubahnya?

Menikah itu tak melulu indah. So, banyak-banyaklah berbekal. \(^__^)/


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Mugniar Marakarma adalah seorang muslimah berdomisili di Makassar. Lulusan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Istri dari Solihin Tahir. Ibu dari Affiq, Athifah dan Afyad (lahir tahun 2001, 2006 dan 2009). Hanya seorang sederhana penyuka menulis yang suka mendokumentasikan hidup dan renungannya ke dalam sebuah blog yang beralamat di http://mugniarm.blogspot.com/. Buku Lakon Fragmentaris (LeutikaPrio, 2012) adalah bukti nyata gemarannya menuangkan cuplikan-cuplikan realita dari kehidupannya. Mau mengenal penulis lebih dalam atau tanya-tanya lebih lanjut? Silakan kontak penulis via email di alamat mugniarmarakarma@gmail.com.
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Untuk sesaat aku ingin mengajakmu ke negeriku. Tak perlu berkhayal, toh ini terlalu nyata untuk sebuah dongeng. Ini kisah cinta di Kerajaan Zain, tentang Sleeping Beauty yang akhirnya terjaga dari tidurnya. Dan kau tahu, di antara puluhan kisah cinta, menurutku inilah kisah terbaik yang pernah kutuliskan. 

senja dan cinta

Sejak kecil, kerajaan begitu bangga memiliki ketiga putri yang manis dengan karakternya masing-masing. Sebutlah Sleeping Beauty, Cinderella dan Snow White. Kakunya, sang raja begitu protektif dalam mengasuh dan membesarkan putri-putrinya. Ya bisa diperkirakan, tak ada seorang pun pangeran yang berani mendekat. Jangankan bertamu ke istana, dengan menelepon saja akan membuat nyali pangeran manapun ciut karena dihardik raja. Jadilah para putri tumbuh besar tanpa benalu yang menghampiri.

Raja selalu bilang, "Cinta atas nama pacaran adalah pembodohan yang dikendalikan oleh kaum pria. Sebab mereka menginginkan manisnya wanita secara ilegal dan tanpa penghargaan yang sepantasnya".

Suatu hari, kejadian tak terduga terjadi. Raja menerima telepon bahwa Sleeping Beauty pingsan karena kelelahan. Beberapa pekan ini dia memang berkutat dengan buku-buku kedokteran. Ratu pun segera bergerak untuk menjemput Sleeping Beauty. Di depan pagar istana, tiba-tiba sebuah mobil Toyota Yaris berwarna merah menepi perlahan. Ketika pintu mobil terbuka, lunglainya tubuh Sleeping Beauty terlihat jelas.

Selang beberapa hari kemudian, kondisi Sleeping Beauty tidak kunjung membaik. Dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Seakan kehilangan asa dan tak punya selera untuk hidup. Karenanya, tanpa kenal waktu, ratu selalu mendampingi, menjaga dan merawat Sleeping Beauty dengan penuh doa. Sebenarnya aku begitu trenyuh melihat ratu dengan mata terkantuk tetapi tetap bersikeras duduk di samping Sleeping Beauty. Aku sangat tahu bahwa Sleeping Beauty tengah sakit sekarang. Namun, rasa sesak menyerang ketika menyadari kondisi ratu juga semakin merapuh.

Ratu berkata, "Ingatlah hal ini, seorang ibu akan rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya. Tak bisa tak peduli pada anaknya walau sekejap mata pun. Itulah cinta atas nama ketulusan seorang ibu. Bahkan menit dan detik ini, jika diridhoi oleh-Nya, Ibu siap menghadap kepada Rabb Semesta Alam sebagai tebusan atas sembuhnya kakakmu".

Dengan goyah, aku melangkah ke arah jendela. Sembari mencari kemilau cahaya di langit pekat, gemuruh dada akhirnya berhasil meneteskan air di mataku. Mencoba menahan tangis, aku memindahkan pandanganku ke bawah. Eh? Ada siluet seseorang yang berdiri di depan pagar istana. Saat aku berusaha melihatnya lebih seksama, dia berlari menghilang. Siapa dia?

Esok hari, raja mengadakan sayembara cinta untuk sang putri. Jangan berpikir terlalu jauh, ini hanya perjodohan kecil. Sleeping Beauty pernah mengatakan, "Cinta itu obat. Penyembuh dari segala macam penyakit. Bahkan seseorang yang tidak bisa terobati secara medis pun bisa sembuh karena cinta". Mungkin hal inilah solusi terbaik yang dipikirkan raja untuknya. Apalagi usia Sleeping Beauty memang telah sesuai untuk masa pernikahan.

Apa?! Aku ternganga melihat bergugurnya satu per satu pangeran yang mengikuti sayembara cinta. Sadar atau tidak, raja sendirilah yang mengusir mereka pergi. Katanya tak ada yang sesuai. Wah, yang benar saja. Bukankah tadi ada pria yang mantap agamanya? Sayang, dia tak berakhlak mulia. Bukankah tadi ada pria yang baik budinya? Maaf, wajahnya tidak menawan. Bukankah tadi ada pria yang tampan? Dia bukan seorang pewaris tahta. Bukankah tadi ada pria kaya raya? Tapi dia tak berhasil membangunkan Sleeping Beauty dari tidurnya. Lalu mau sosok yang bagaimana?

Ketika aku mengalihkan pandangan, lagi-lagi ekor mataku menangkap siluet seseorang di balik pagar istana. Spontan aku berlari ke arahnya. Ah, dia lebih cepat dariku. Sosoknya sudah tak terlihat lagi. Aku mendesah kecewa. Detik berikutnya, aku mendengar desahan yang sama. Aku berbalik dan melihat raja yang terengah-engah. Oh, kok bisa? Raja bergumam pelan, "Dia hanya pemuda biasa yang tempo hari mengantar Sleeping Beauty pulang. Si Pangeran Yaris Merah".

Aku tertegun. Begitu banyak tanya bermunculan dalam kepalaku. Namun aku tetap bisu, menanti raja melanjutkan penjelasannya. Raja memegang bahuku, tangannya gemetar. Lambat-lambat, raja bertutur, "Tak perlu tahta, tiada berguna wajah tampan, biar saja perangainya buruk, kurangnya pengetahuan agama pun tak mengapa, asal dia bisa menjadi pangeran untuk putri. Asal dia bisa membuat Sleeping Beauty terjaga dari tidurnya. Itu sudah lebih dari cukup".

Dengan intens, raja berusaha mencari tahu siapa gerangan Pangeran Yaris Merah. Tak hanya sampai di situ, raja berani membuang segala beda lalu mengundangnya makan malam di istana. Yang terhebat, raja memintanya segera melamar Sleeping Beauty dengan mahar sesuai dengan kemampuannya. Hari ini aku melihat raja melepaskan egonya. Semurni butiran bening yang mengalir di pipiku, raja tersenyum mendapat pelukan dari Sleeping Beauty.

Pangeran Yaris Merah atau boleh kumenyebutnya sebagai pengagum rahasia Sleeping Beauty. Seorang senior co-ass di rumah sakit yang selalu memperhatikan gerak-gerik Sleeping Beauty dari jauh. Awalnya dia terlihat sombong karena perawakannya yang tenang dan tegas. Namun saat Sleeping Beauty mengalami kesulitan, kebaikan hatinya akan terpancar jelas. Dia anak saudagar yang toko dan jualannya terkena musibah kebakaran beberapa hari lalu. Selain tak ada yang tersisa darinya, rasa tidak sepadan pun membuatnya tidak berani mengikuti sayembara cinta untuk putri.

Rasanya tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari mendengar bahwa lamaran atas Sleeping Beauty telah dijatuhkan. Dan itu berarti, sudah tidak dibolehkan bagi para pangeran lain untuk melirik Sleeping Beauty. Kabar baiknya, Pangeran Yaris Merah benar-benar telah membangunkan sleeping beauty dari tidurnya.

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, "Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang di atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau peminang mengizinkan kepadanya".
(HR. Bukhari dan Muslim)

Alhamdulillahi Rabbil 'Aalamin. Segala sesuatu terjadi untuk yang terbaik. Dan ini benar-benar berkah tersendiri untuk Kerajaan Zain. Aku benar-benar yakin, dibanding cerita cinta fiksi buatan anak manusia, skenario cinta dari langit memang hal yang begitu menakjubkan dan datang dari arah yang tak disangka-sangka.

Dari keramaian massa, aku bertanya penuh harap pada sepoi angin, "Apakah kejadiannya akan tetap seindah ini bila kelak orang yang menemukan sepatu kaca untuk Cinderella bukanlah seorang pangeran melainkan hanya seorang gelandangan lagi pemulung?"


Dalam Beningnya Cinta Orang Tua
Makassar, Syawwal 1433 Hijriyah
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim 

TENTANG NIKAH
Nurul Fadilah | Welcome to My Zone 

Dulu, seseorang bertanya kepadaku apa judul postingan di blogku yang isinya serba serbi tentang aku, suami dan pernikahan kami. Aku tertegun sebentar kemudian menjawab, “Tidak ada.” Dan di lain waktu ketika aku kepayahan dalam menuliskan tentang pernikahan, seseorang yang lain berkata, “Kamu kan sudah menikah, seharusnya mudah saja menuliskannya.” Tapi kata-kata itu seolah membentur dinding dan kembali kepadaku tanpa membawa apa-apa, aku mati gaya! 

Lalu setapak demi setapak aku resapi kembali perjalanan cinta kami, dan ternyata semua yang terjadi memang begitu anggun dirancang oleh-Nya. Dia Yang Maha Kreatif mempertemukanku dengan dia di suasana yang tak terduga, ah memang yang terjadi di dunia ini kadang-kadang di luar dugaan kita, bukan? Pahit getir atau manisnya bahagia selalu saja mengiringi perjalanan cinta dua orang manusia. Tapi yakinlah kalau Ridho-Nya adalah tujuan maka semua susah dan senang akan berbuah manis di penghujungnya.

for you my love
Berbuah manis di penghujungnya - sumber gambar

Menurutku bukan hal-hal besar yang mempertahankan pernikahan, tapi justru hal-hal kecil. Bagaimana kedua insan tersebut saling memandang ketika yang lainnya berbicara, menelepon di sela-sela bekerja hanya untuk menanyakan, “Sudah shalat dan makan?” atau tidak banyak mengeluhkan kebutuhan hidup yang meningkat. Rasa nyaman, itulah yang membuat sepasang suami istri bertahan.

“Aku bukan orang yang romantis!” begitu pembelaanku ketika seseorang menyuarakan kekakuanku dalam menulis romansa pernikahan. Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya benar, aku romantis kok –dengan perbuatan, bukan untuk dikisahkan– aku terbiasa mengatakan cinta di setiap harinya, selalu menggandeng tangannya ketika kami berjalan di tempat umum, atau ... ah sudah sudah aku tidak mau lebih banyak menuliskan hal seperti itu. Bagiku itu seperti makanan empuk untuk muda mudi yang suka menghayal. Eehh ... biarlah nanti mereka merasakannya sendiri, termasuk mengaplikasikan keromantisan ala Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam.

Ketika memainkan jemari di atas keyboard, spontan di pikiranku terbersit kata-kata yang langsung aku torehkan dalam tulisan, "Pernikahan dalam Islam itu bagaikan sebuah rumah yang nyaman lagi berberkah! Cinta kepada Allah adalah atapnya, rasa malu dan menjaga aib pasangan adalah jendela dan pintunya, ibadah keduanya adalah lentera".

Indah tidak? Hmm ... semoga saja bisa seperti itu ya dan semoga bisa menjadi pakaian untuknya seperti dalam Al-Qur'an surah Al Baqarah ayat 187 yang artinya, "... mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka ..."

Ya Allah, gugurkanlah dosa-dosa kami lewat genggaman jemari tangan.
Pandanglah kami penuh kasih sayang seperti kami berdua saling memandang.
Jadikanlah kami penyenang hati dan penjaga kehormatan bagi satu sama lain.
Kumpulkanlah kami dan keturunan kami di Jannah-Mu yang Indah.
Aamiin Allahumma Aamiin.


---------------
BIODATA PENULIS
---------------
Nurul Fadilah hanyalah manusia biasa yang menyalurkan hobi menulis lewat blog. The author of Welcome to My Zone di alamat http://www.nufadilah.blogspot.com/. Seorang muslimah yang suka menulis dan telah menorehkan ceritanya di empat buku antologi. Tersebutlah Bimbang (NulisBuku, 2011), Baby Says (Nulis Buku, 2011), Love The Way You Lie (NulisBuku, 2011) dan Banyak Nama untuk Satu Cinta (Leutikaprio, 2012). Juga sebuah buku Serpihan Kaca (NulisBuku, 2012) berisi kumpulan cerita tentang keseharian. Kata-kata favortinya adalah, "Dengan menulis kau akan abadi dan Menulislah dari hati". Untuk mengenal penulis lebih lanjut, silakan kontak via email di alamat yuyu_nf@yahoo.co.id.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

UNTUKMU YANG BERBAHAGIA
Siti Rahmadayanti | Catatan SU

Kemarilah
Sudah saatnya kita berbicara
Sebelum janji itu benar-benar terucap

Ingin kukatakan padamu
Cita-cita itu masih sama dan kekal di hati
Menjadikan A-Qur’an dan Sunnah sebagai warna kehidupan

Barangkali, di hari-hari kemudian
Kau akan menemukan hal yang tak sesuai harapan
Semoga tak ada gurat sesal tentang aku yang apa adanya

Walaupun sungkan
Aku ingin mendiskusikan cinta 
Inilah benih yang akan dipupuk bersama
Hingga umur bertindak siapa yang lebih dulu

Ingin kutitipkan padamu
Sebuah puisi tentang harapan

Ubahlah sesukamu
Karena setelah janji itu terucap
Aku akan selalu hadir di sampingmu
Membersamaimu menapaki hari-hari perjuangan
Atau sekedar membuatkan teh manis sebelum berangkat kerja

Aku akan menjadi pendatang baru dalam hari-harimu
Sungguh, begitu banyak beda antara aku dan kau

Namun tiada masalah
Beda akan mencipta kebersamaan
Saling melengkapi dalam mengarungi lautan hidup


Di hari-hari depan nanti
Akan banyak keluh-kesah dan pertengkaran kecil
Tapi tak mengapa, asal tak ada yang pergi dari kedudukannya

Di hari-hari depan nanti
Akan banyak riak-riak penguji kesabaran
Semoga hati bisa besabar dengan kesabaran terbaik

Di hari-hari depan nanti
Kuingin masa itu tak berakhir
Berharap akan pertemuan yang lebih kekal
Dengan pakaian terbaik, duduk di atas dipan-dipan

Di suatu tempat yang mengalir sungai-sungai di bawahnya
Bersamamu merajut hari-hari yang telah terlewati
mengenang janji yang kokoh
Mitsaqan Ghaliza

Puisi manis yang tertoreh dari hati istri untuk sang suami. Siapa sangka, puisi itu akan terlebih dulu cocok menempel di kehidupanmu. Ya, tahun ini akan menjadi gerbang awal dari hari-hari barumu kelak wahai saudari yang kucintai karena Allah. Berdirilah dengan berani sebab cerita lama membawa kabar bahwa kehidupan setelah janji itu penuh romantika, manis sekali.

Untukmu yang berbahagia, akhirnya kau menemukannya. Atau dia yang menemukanmu? Kalian dipertemukan, kurasa itu kalimat yang pas. Bukankah tulang rusuk itu pasti tepat? Toh yang memilihkan adalah Sang Pencipta, bukan?

Aku tahu kau tak bisa lagi tidur nyenyak dalam detik-detik menjelang pernikahanmu. Kali ini aku yakin kau akan paham tentang cinta yang pernah kuceritakan. Ya, cinta yang bisa menautkan hati walaupun kata tak terucap.

Mungkin saat ini banyak hal yang membuatmu kuatir. Ah, sosok baru itu berhasil membuatmu resah. Hahaha. Lucu juga, tapi tak perlulah berharap sosok sempurna seperti ceritamu di tengah malam buta beberapa bulan yang lalu. Biarkan dia sedikit kurang karena kehadiranmu akan mengisi hidupnya dengan lebih indah. Sebaliknya, ketika kau merasa tak lengkap maka biarkan dia sebagai pelengkapnya. Ingat ya, jangan terlalu perkasa sebab aku kuatir dia akan merasa lemah. Namun jangan juga teralu lemah agar dia tak terbebani. Itulah kesempurnaan dalam kekurangan.

Mencintaimu
Kesempurnaan dalam Kekurangan - sumber gambar

Tahu tidak, pernikahan adalah keberanian untuk melepaskan kebebasan. Setelah menikah, kebebasan akan berkurang sedikit atau bahkan berkurang hampir seluruhnya. Hal ini aku dengar dari cerita mereka yang sudah mengalaminya. Maka patutlah hal tersebut menjadi pertimbangkan untuk menggores langkah mantap di kehidupan mendatang.

Apapun yang akan terjadi, berbahagialah! Pernikahan itu akan membuatmu bertemu banyak rasa.  Pelajarilah baik-baik secara perlahan. Kelak kesabaranmu pasti akan teruji. Sudah fitrahnya untuk menemui rintangan ketika akan menyatukan dua insan yang berbeda, pita suara yang berbeda, olah pikiran yang berbeda dan lain sebagainya.

Hari-hari selanjutnya, dialah yang akan menjadi orang pertama yang akan kau ajak bicara. Baik kau mendapati dirimu dalam kesusahan maupun kesenangan. Namun biarkan aku sedikit egois untuk tetap menjadi teman yang mengambil sedikit andil. Kalau sempat, hubungilah aku sesekali. Memang kelihatan lebay tapi aku mohon jangan lupakan aku.


----------------
BIODATA PENULIS
----------------
Siti Rahmadayanti adalah seorang muslimah lulusan sarjana teknik elektro Universitas Hasanuddin Makassar. Saat ini berdomisili di Bekasi untuk mencari sesuap nasi dan bekal pengalaman. Catatan SU yang beralamat di http://srahmadayanti.blogspot.com/ adalah blog yang dirintisnya sejak bulan Januari 2012 lalu. Sangat suka jalan-jalan, lari pagi, membaca, berenang, berkebun dan semua tentang listrik. Piawai menuliskan kisah perjalanan, kenang-kenangan hidup, mimpi-mimpi, semangat anak muda dan bagian-bagian kehidupan yang tidak penting. Untuk mengenal penulis lebih lanjut, silakan menghubungi via email di alamat srahmadayanti@gmail.com.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

SANG PENAWAN HATIKU
Arrabby Ahmady | Indah dan Nikmatnya Berbagi

Kali pertama melihat dirimu
Terpancar hati yang rupawan dibalik wajah jelitamu

Kala aku berkata bahwa aku mencintamu apa adanya
Kau justru berkata cintamu padaku karena Allah semata

Saat kupinang kau dengan mahar berlimpah
Kau tersenyum, menggeleng perlahan lalu menolaknya
Kau bilang hanya butuh iman dariku, tanggung jawab yang utuh untukmu

Saat kuucap ijab qabul di hadapan penghulu, wali dan saksi
Kau berurai air mata dan berucap doa dengan khusyuk 

Ya Allah berilah kekuatan bagi hamba 
untuk berbakti kepada suami tanpa keluh di hati

Saat kureguk manisnya dunia bersamamu
Kau ingatkan aku bahwa akhirat lebih abadi

Jika hanya dunia yang dikejar, sungguh betapa tidak adilnya
Padahal Allah telah berjanji memberikan kenikmatan tak terperi
Untuk hamba yang senantiasa mengingat-Nya lagi beramal shaleh

Jika Allah memberi kemudahan rezeki
Akan kuberi bulan madu yang kau idamkan jauh hari 
Ke tanah suci, memenuhi panggilan Engkau Yaa Ilahi Rabbi

Saat amanah seorang bayi laki-laki hadir
Derita yang kau alami seolah luluh tak berbekas
Senyum dan sujud syukurmu mengucap puji pada-Nya

Yaa Allah Yaa Rabb
Andaikan semua ini layak bagi kami
Cukupkanlah permohonan ini dengan ridha-Mu

Jadikanlah kami sebagai suami istri yang saling menyempurnakan ibadah
saling mencintai di kala dekat, saling menjaga kehormatan di kala jauh
Saling menghibur di kala duka, saling mengingatkan di kala suka
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan 

Allahumma Aamiin


-----------------
BIODATA PENULIS
-----------------
Arrabby Ahmady yang lahir di Sinabang pada tanggal 01 April 1978 adalah seorang pegawai negeri sipil. Menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Mutasi, Formasi dan Rekruitmen di Bidang Pengembangan Sumber Daya. Saat ini sedang tugas belajar dari instansi untuk mengikuti Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Unsyiah Banda Aceh. Menikah sejak tahun 2009 dan telah dikaruniai seorang putra. Indah dan Nikmatnya Berbagi di alamat http://formulakerjaonline.blogspot.com adalah blog yang dikelolanya dengan apik. Untuk menghubungi penulis lebih lanjut silakan kirim email ke alamat formulakerjaonline@gmail.com.
View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

NANO-NANO PERNIKAHAN
Alaika Abdullah | My Virtual Corner 

Menikah itu gimana ya rasanya?

Ho-ho-ho! Pertanyaan apa ini? Udah pasti menikah itu rasanya menyenangkan dan membahagiakan donk! Gimana sih?

Jawaban spontan ini tentu saja meluncur bebas penuh binar indah dan renyah dari pasangan kekasih yang baru saja meng-upgrade level hubungan mereka ke ranah yang sah dan diridhoi, baik oleh Allah Sang Pencipta maupun hukum negara. Rona merah jambu seakan tiada henti membias di pipi cantik sang mempelai wanita. Yup, gembira ria menyeruak di dada keduanya. Tak sabar ingin mereguk romantisme malam pertama serta bahagianya menjadi pasangan suami istri. Badai pernikahan? Ah, mana ada?! J-a-u-h.

Kami kan saling sayang dan cinta! Dan kami komitmen kok untuk merawat cinta kasih dan kesetiaan kami dengan sepenuh hati.

Jawaban seperti ini juga pasti akan seragam mengalir damai dari pasangan suami istri yang sedang menikmati indahnya romantika pernikahan. Tentunya dengan umur pernikahan yang masih relatif muda.

Namun, coba tanyakan pertanyaan yang sama pada pasangan suami istri yang rumah tangganya sedang diterpa badai kehidupan. Jawaban mereka tentu kurang lebih akan seperti ini :
  • Huh! Menikah itu ibarat masuk neraka! 
  • Menikah? Awalnya memang indah, tapi lihat kehidupanku sekarang? 
  • Menderita! Dia nggak bisa dipercaya! Dia membohongiku! Dia mengkhianatiku!
  • Menikah? Ribet! Terbelenggu dan bikin merana!
Dan macam-macam jawaban lainnya yang mengarah pada kesedihan dan ketidaknyamanan. Pertanyaan di atas pun akan berbeda lagi jawabannya jika ditanyakan pada pasangan suami istri yang telah lama menikah dan hubungannya tetap harmonis, nyaman dan damai. Berikut beberapa penuturan tersebut :
  • Menikah adalah satu-satunya cara membentuk suatu keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. 
  • Menikah? Bagi kami menikah adalah jalan keluar terindah yang Allah Ta'ala gariskan! Membuat kami bebas mengekspresikan rasa cinta dan kasih tanpa takut melanggar aturan agama. 
  • Menikah membuat kami tenang, meningkatkan kemampuan dalam memikul tiap-tiap tanggung jawab untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga. 
  • Menikah, membuat saya memiliki orang-orang terkasih, yang setiap saat menyayangi dan mencintai saya. Yang memotivasi saya untuk giat mencari nafkah dan memberikan yang terbaik bagi istri dan anak-anak. 
  • Menikah, menjadikan saya seorang istri dan ibu, yang membuat saya menjadi sempurna sebagai seorang wanita. Membuat saya bersemangat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab saya bagi keluarga.
See? Faktanya, beragam jawaban tercipta dengan sendirinya jika pertanyaan ini ditujukan pada subject yang berbeda. Tak bisa disamakan begitu saja, kan?

Rasa Permen Hati!
Tak Hanya Manis Belaka - sumber gambar

Kehidupan pernikahan ibarat air di laut, kalau menurutku sih. Ada pasang naik dan ada pasang surut. Ibarat rasa. Ada asam, asin, manis dan pahit. Silih berganti. Bohong besar jika ada yang berani bilang bahwa rumah tangganya bebas dari terpaan badai kehidupan. Setidaknya, walau bukan gelombang, riak kecil tentu pernah menyapu beranda atau malah sempat masuk hingga ke dapur rumah tangga. Namanya pernikahan, tentu ada pahit dan getirnya, ada asam dan garamnya. Tak hanya manis belaka, ya nggak? Makanya telinga terasa begitu familiar dengan istilah asam garam kehidupan berumah tangga alias pahit getirnya dunia pernikahan.

Lalu bagaimana cara memadukan agar porsi dari tiap-tiap rasa itu menjadi pas dan mantab untuk dijalani? Sehingga rasa yang dominan dari nano-nano kehidupan perkawinan ini adalah segar dan gurih? 

Nah, berikut ini ada beberapa hal yang harus dipelajari, disikapi dan diterapkan dengan bijak oleh setiap pasangan suami istri. Bukannya bermaksud menggurui loh! Tapi pengalaman adalah the best teacher dan lesson learnt terbaik, yang akan membuat tegar dan makin semangat dalam menapaki jalanan kehidupan. Yuk disimak beberapa resep cinta agar rasa manis dalam kehidupan perkawinan tetap manis hingga ke tetes terakhir!

1. Saling Percaya.
Tahu tidak, saling percaya memendam kekuatan yang luar biasa dahsyat loh! Karena percaya adalah pondasi utama. Memang, kalo tidak diniatkan dengan sepenuh hati, pondasi paling utama ini akan sering goyah oleh godaan setan yang terkutuk. Yup, kerap kali begitu gampangnya su'udzon menghampiri. Misal mencurigai si dia yang pulang kerja terlalu larutlah, yang bersikap agak lainlah, yang kok sepertinya kurang perhatianlah dan berbagai pikiran buruk lainnya. Padahal mungkin si dia sedang dirundung masalah berat di pekerjaannya, mungkin begitu lelah dan lunglai, bisa juga sakit, atau alasan lain yang tak nampak secara kasat mata.

Karenanya, agar pondasi saling percaya ini kokoh-gagah menjulang tinggi, yuk tambahkan rasa pengertian di dalamnya. Coba pupuk kedua rasa ini dengan memancing pikiran untuk selalu berpikir positif terlebih dahulu. Telaah dengan baik dan sikapi dengan bijak jika terjadi friksi-friksi dalam kehidupan pernikahan.  Cekcok kecil adalah hal biasa, anggap itu sebagai bumbu penyedap agar rasa manis menjadi gurih.

Bahasa Hati
Mulai dari Bahasa Hati - sumber gambar

2. Saling Komunikasi. 
Ini juga merupakan kebutuhan primer dalam menciptakan indahnya dunia perkawinan. Paksakan diri untuk tetap punya komunikasi yang baik dengan pasangan, walau hanya sebentar. Bagi yang pasangannya memang tinggal serumah, hal ini tentu mudah untuk dilakukan.

Update berita kehidupan internal rumah tangga, perkembangan anak, dsb. Hal ini bisa dilakukan sambil nonton TV misalnya, saat bersantai, atau malah di tempat tidur? Asyik kan? Susah? Si dia terlalu lelah? Atau si dia sedang dibelit masalah ekonomi yang pelik? Percaya deh, jawabannya ada di komunikasi. Bicara. Tapi dengan etikanya tersendirilah. Musti cerdas memanfaatkan peluang dan jeli mengambil format. Mulai dari bahasa hati penuh cinta lalu utarakanlah dengan komunikatif.

Bagi yang jauh? Pasangan berada di luar kota atau luar negeri? Long Distance Relationship (LDR)? Manfaatkan teknologi yang kian canggih. Video call on skype, YM dan berbagai electronic media lainnya.

3. Saling Perhatian.
Sejalan dengan bertambahnya usia perkawinan, banyak orang yang beranggapan bahwa memberikan perhatian-perhatian kecil pada pasangan sudah tidak penting lagi, bahkan dianggap lebay. Misal sebuah SMS bagi yang tinggal terpisah, "Sayang, jangan lupa makan siang ya", atau "Dik, udah minum obat?" atau "Mas, gimana pekerjaan hari ini?" dan berbagai sms senada lainnya.

Bagi yang serumah, sebuah pujian di pagi hari akan berbuah manis. Misalnya saat si dia hendak berangkat kerja, atau saat sudah selesai berpakaian. Ucapkanlah, "Wah, baju itu cocok banget di papa!" atau "Mama tambah cantik deh berbalut baju itu!" dan lain sebagainya.

Yakinlah bahwa perhatian-perhatian kecil seperti ini adalah bumbu penyedap yang teramat sangat dibutuhkan untuk menstimulasi hubungan berumah tangga tetap mesra dan harmonis.

4. Saling Berterima Kasih.
Terkadang, karena pasangan adalah milik sendiri, ucapan sederhana tapi penuh makna ini sering terlupakan. Merasa bahwa sebuah bantuan apalagi jika hanya sebuah hal kecil maka tak perlu berterima kasih. Beranggapan karena itu adalah kewajiban si dia. Padahal membiasakan diri untuk selalu berterima kasih atas bantuan sekecil apapun, akan menciptakan rasa hormat dan apresiasi tersendiri. Ini juga menjadi umpan balik yang terbaik. Coba deh. Ucapan terima kasih ini otomatis akan membuat si pasangan tambah sayang dan makin senang mengulurkan tangan untuk membantu. 

5. Saling Mengingatkan.
Beranikan diri untuk mengingatkan jika si dia melakukan kesalahan. Siapa lagi yang akan mengintrospeksi  sang suami jika bukan istrinya sendiri? Ataupun sebaliknya. Jangan biarkan justru orang lain yang melakukannya! Karena jika itu yang terjadi, kepercayaan dari pasangan akan menghilang loh!

Teorinya begini, jika teguran atau introspeksi justru didapat pasangan dari orang lain, dia akan merasa bahwa orang itu malah lebih perhatian dan sayang padanya dibandingkan anda, pasangannya. Anda tidak peduli, makanya tidak mengingatkannya. Jadi? Saling mengingatkan adalah suatu hal yang juga harus masuk dalam resep mempertahankan cinta kasih.

Well, itulah sedikit resep ajaib yang menurutku sih, akan mampu membuat kombinasi rasa di kehidupan pernikahan menjadi nano-nano. Yup, menjadi segar dan gurih, dimana asam, asin, manis dan getir terasa begitu pas. Semoga bermanfaat yaaaa!


----------------
BIODATA PENULIS
----------------
Alaika Abdullah asal Banda Aceh adalah seorang blogger sejak tahun 2009 lalu. Blog bertajuk My Virtual Corner yang beralamat di http://www.alaikaabdullah.com adalah sudut lain sisi hatinya, yang menyimpan berjuta hasrat untuk tetap berbagi informasi dan saling berinteraksi antarsesama tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Menurutnya, menulis adalah cara mencurahkan segala rasa yang ada di hati. Itulah alasan mengapa dia begitu senang menulis, tak peduli bagus atau tidaknya tulisan tersebut. Selama bertahun-tahun bergelut di dunia industri dengan profesi sebagai chemical engineering. Lalu memenuhi panggilan hidup untuk menjadi sosok humanitarian worker. Kini bergabung dalam lembaga dunia United Nation Development Programme Banda Aceh. Faktanya dia tidak ingin selamanya berkarier. Impian terbesarnya adalah being a working at home mom.
View Post