Bismillaahirrahmaanirrahiim


Dalam sejarah, tak ada seorang pesimis yang pernah menemukan rahasia bintang-bintang, atau berlayar ke pulau antah-berantah, atau membuka sebuah surga dunia untuk jiwa manusia.
(Helen Keller, 1880 - 1968)


Tanyakan pada siapa saja, apa rahasia kesuksesannya? Dijamin kau akan mendapatkan jawaban semacam, "Karena aku tahu aku bisa melakukannya."

Ini bukan sesuatu yang mengada-ada, bukan pula terobosan baru yang mengejutkan. Hanya kadang menjadi sesuatu yang gampang terlupakan. Fakta di lapangan menyatakan adanya kaitan erat antara optimisme dengan kesuksesan. Ya, tahukah kau? Riset menjumpai hubungan sebab-akibat dalam mencapai suatu keberhasilan. Oleh sebab percaya diri, ternyata bisa menimbulkan akibat dramatis dari pencapaian impian tersebut. Matematisnya, nilai optimisme selalu berbanding lurus dengan nilai kesuksesan.

Apa kau percaya, kau dengan kemampuanmu itu, bisa mengambil keuntungan dari peluang yang ada? Kau harus percaya. Karena itulah langkah pertamanya. Bedakan dengan asumsi kau selalu benar dan orang lain selalu salah. Itu jelas tidak sama. Boleh digarisbawahi bahwa keyakinan akan membawamu maju selangkah lebih dekat ke titik kesuksesan, tapi tidak diraih dengan cara merendahkan orang lain. Karena keyakinan adalah mesin yang memfungsikan persepsi diri, bukan trofi yang menjadikanmu sombong dan berhak meremehkan orang lain. Jadi gunakanlah keyakinan diri sebaik mungkin.

Keep calm and Heart it
Keep calm and Heart it - credit

Ingat juga bawah pikiran dapat membawamu pergi jauh. Tak jarang ada yang tersesat dalam otaknya, bahkan kehilangan peta dari nuraninya. Maka dari itu, tetaplah fokus dalam mengejar impian. Ya, berpikirlah positif, tetaplah membuka pikiran, lenyapkan rasa takut dan selalulah mencari sisi baik, hikmah terpendam, atau apapun yang dapat membuatmu tetap tegak jika terhimpit keadaan sulit. Jangan sampai kau merasakan hal yang paling menyedihkan, mengetahui bahwa kau sebenarnya bisa mencapainya di saat kesempatan tak lagi terbuka untukmu. Benar sekali, kau terlambat menyadari bahwa ternyata kau bisa melakukannya.

Ini hanya sekadar catatan untuk mengetahui, bahwa jauh di dalam dirimu, kau cerdas, mampu dan penuh potensi lain yang tak pernah terbayangkan olehmu. Kau jenius! Percayalah, karena ini benar. Jika kau tak punya kepercayaan diri untuk melakukannya, sudah, percaya saja padaku yang percaya bahwa kau bisa melakukannya. Nah, kini aku jadi bertanya-tanya, apa kalimat, "Hati-hati dunia, dia datang!" sudah bisa aku lontarkan? Semoga ya, Insya Allah.


Makassar, Februari 2013 Miladiyah - Rabiul Akhir 1434 Hijriyah
Untuk dan hanya untuk saudariku Ar Rifa'ah yang hari ini sidang apoteker.
Barakallahu fiik wa yassarallahu umuurakum, ukhtayya ^^

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

愛言葉

いつも  僕  の  子供  が
お世話  に  なって  いるよう  で
聴いて  くれた  あなた  方  に
感謝、 感謝。

この  ご恩  を一生  で  忘れない  うち  に
内  に  秘めた  想いと  とも  に
歌  に  して  みました。
愛  言  葉  は  愛  が  と  =  ありがとう

僕  とか  君  とか  恋  とか  愛  とか
好き  とか  嫌い  とか
また  歌う  ね。

今  君  が  好き  で
てか  君  が  好き  で
むしろ  君  が  好き  で
こんな  バカ  な  僕  を  君  は  好き  で
愛して  くれて。
こんな  歌  聴いて  泣いて  くれて
ありがとう。

いつか  僕  の  子供  が  十万歳  の  誕生日
迎えた  とき、祝って  くれて  三十九  ました

この  ご恩  は  一生  で  限られた  時間  で
生まれる  曲  と  詩  に  乗せて
君  に  届ける  よ
これから  も  どうか  よろしく  ね

僕  とか  君  とか  恋  とか  愛  とか
好き  とか  嫌い  とか
まだ  足りない?
(笑)

じゃあ

昨日  何  食べた?
何  してた?
何回  僕  の  こと  思い出した?
こんな  こと  話して  みよう  か!

キミ  食べた。
ナニ  してた。
キミ  の  こと  なんか  忘れちゃった  よ。

君  が  好き  で
って  いう  の  は  嘘  で  (笑)
ホント  は  大好き  で。
傷  つけたくなくて

でも   君  が  好き  で
愛して  暮れて

こんな  歌  あった  ねって
君  と  笑いたいんだ

僕  みたい  な  君
君  みたい  な  僕
似てる  けど  違って
違ってる  から  似てる

好き  だよ  と  言う  度  に
増える  好き  の  気持ち は
僕  から  たくさん  の  君  へ  の

愛言葉   一   初音 ミク


Makassar, Februari 2013 Miladiyah - Rabiul Akhir 1434 Hijriyah
Walau sudah dikatakan, tapi karena tak bisa dimengerti...
Pada akhirnya tak ada kata yang tersampaikan.
Jadi pintaku, jangan salahkan aku.
Salahkan ketakutanmu.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Shalat Idul Adha di Chiba University

Ketika ibadah shalat memiliki kedudukan tinggi dalam Islam, maka seorang khalifah, Umar bin Al-Khaththab Al-Faruq radhiyallahu'anhu selalu memberi peringatan kepada para pegawai dan rakyat-rakyatnya akan pentingnya ibadah shalat, dia berkata:

"Sesungguhnya urusan kalian yang paling utama dan paling penting di depan saya adalah ibadah shalat, barangsiapa menjaganya maka ia benar-benar telah menjaga agamanya, dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, maka ia lebih menyia-nyiakan urusan yang lain."

Hadits diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa' (1/6)
dan Abdul Razzaq dalam Mushannaf-nya (1/536)


#Shalat, The Inspiring Story
Muhammad Ihsan Zainuddin

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim


This is the story of the most foolish traveler in the world. Once upon a time, long long long time ago, there was this foolish traveler, who had gone on a journey. Why was he foolish? Well because he was fooled by everyone he met.

Foolish Traveler
The Most Foolish Traveler - Credit

“Please, give me some money for medicine.” said an old lady.

And he gave money to her. Everywhere he went people made up all kinds of sad stories to tell him, and the traveler fell for every one of them.

“Help me, I have a sick younger sister.” a little girl said to him.
“I don’t have money to buy seeds to plant in my fields.” a man said to him.

And he gave to them each something of his. Pretty soon his money, his clothes, even his shoes had been cheated away from him. But the foolish traveler was always glad to help, and he always told people the same thing. He said, “I wish you happiness.”

I wish you happiness - Credit

But by this point though, the traveler was completely naked without clothes. And because with nothing left to cover himself, he decided to leave the main road and travel through the dense forest, where no one could see him. Soon he was discovered by the goblins that lived in the woods. The goblins wanted to eat the traveler’s body. So they begged, they pleaded, and they used kind words to try and trick him. Of course, the traveler was fooled. 

First he let the goblins eat one of his legs, then an arm, then more and more. Before it was over, all the traveler had left was his head. He’d even given his eyes away to the last of the goblins. And as that last goblin was eating the traveler’s eyes, he turned and said “Thank you traveler, in return I leave you this present."

I leave you this present - Credit

What the goblin left was a slip of paper with the word "fool" written on it. The traveler couldn’t see it, he didn’t know what it was, even so, tears began to float of his face.

“Thank you.” he said.

“This is the first present anyone’s ever given me. I’m so happy, I’m so happy. Thank you.” Even without his eyes, he cried and he cried great tears of joy. Then eventually the traveler died… the smile is still on his face.

***

I feel so sorry for him, see… lost, hardship, things like that, you can’t really focus on them. The traveler didn’t, he never thought about his own troubles at all. I imagine that it probably does sound foolish to some people, but not to me.

I don’t think he’s foolish at all, even though other people would probably think he was being tricked. I don’t think he was. I think he did exactly what he wanted to do… I think more than anything, he just wanted to make other people happy.

(Another tale from Momiji at Fruits Basket)

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Buku ini dipersembahkan untuk orang-orang yang spesial. Dikatakan spesial karena walau temanya kusam dimakan waktu, hikmahnya tak akan lekang dimakan ingatan. Ini untuk mereka, orang-orang yang mengasihi sosok yang telah mengandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari. Juga untuk mereka, orang-orang yang menyayangi sosok yang telah menyapihnya selama dua tahun. Sekali lagi, ini kisah tentang mereka, orang-orang yang memanggil sosok spesial itu dengan sebutan, Ibu. Aku Memanggilnya Ibu.

Aku Memanggilnya Ibu

Judul: Aku Memanggilnya Ibu
Penulis: Novela Nian, Risty Arvel, Achmad Arifin, Nindya Maharani, dkk
Desain Cover: Avet Batangparana
ISBN: 978-602-7880-13-9
Tebal: 221 hlm; 14x20 cm
Harga: Rp 35.000,- (belum termasuk ongkir)

Sinopsis:
Kisah tentang Ibu selalu menyentuh hati dan tak akan pernah ada habisnya. Setiap kita, selalu dapat dengan tulus menggambarkan sosok Ibu dalam cerita, baik kisah nyata maupun fiksi sekalipun. Tak salah jika kita menyebut Ibu adalah inspiratif abadi, karena letaknya ada di dalam hati kita masing-masing. Ibu bisa berperan sebagai Ibu, Ayah, teman, sahabat, pahlawan atau pun idola. Ibu adalah kasih, cinta, surga, luar biasa. Dan ketika tak ada tempat lain untuk pulang, maka Ibu selalu dapat menjadi rumah bagi setiap hati. Karena itulah aku, kamu, kita memanggilnya "Ibu".
-Kiky Aurora-

Cover Aku Memanggilnya Ibu

Kontributor:
Nurmayanti Zain, Mulyani Katiran, Aminah Bie, Gard Febria, Tomy M. Saragih, Nenny Makmun, Kiky Aurora, Iffah El Hasan, Haynannisa Ayano, Efierfita Sartuni, Finda Rahmadaniati, Mirna Rahmasari, Fuatuttaqwiyah El Adiba, Pertiwi Yuliana, Fitri Icha Masdita, Ens Asei Doci, Bondan Al-Bakasiy, Nina Erlina, Tri Oktaviani, Ria Hidayah, Ocha Thalib.


☆彡  ★彡  ☆彡  ★彡  ☆彡  ★彡  ☆彡  ★彡  ☆彡  ★彡 

Cara Mendapatkan Buku Aku Memanggilnya Ibu:
1. SMS ke Pustaka Jingga
Ketik : PESAN (Aku Memanggilnya Ibu) - nama - alamat - jumlah buku - no handphone
Kirim ke : 0856-4545-9192
Nanti akan mendapatkan balasan SMS berisi No. Rek dan jumlah biaya yang ditransfer.

2. Email ke Penulis
Tulis : PESAN (Aku Memanggilnya Ibu) - nama - alamat - jumlah buku - no handphone
Kirim ke : admin@nurmayantizain.com
Nanti akan mendapatkan balasan berisi No. Rek dan jumlah biaya yang ditransfer.

☆彡  ★彡  ☆彡  ★彡  ☆彡  ★彡  ☆彡  ★彡  ☆彡  ★彡


Behind The Scene:
Alhamdulillah Tabaarakallahu Ta'ala. Aku lagi senang bukan main #hambur-hambur bunga. Tambah satu lagi namaku terpampang di buku keroyokan keluaran penerbit indie. Hohoho. Kalau gitu, mari kita かんぱい!!Bravo (ღ˘⌣˘ღ) ♫・*:.。. .。.:*・ Kampai! Ah, sudah ah, aku tahu. Ini berlebihan. Jadi anggap saja yang tadi itu bentuk kesengajaan yang bodoh. Fiuuhh, yang jelas ini buku Antologiku yang ke lima. Masya Allah!

Aku Memanggilnya Ibu - Nurmayanti Zain

Buku ini hasil proyek gotong royong ke sepuluh yang diadakan warung antologi. Bisa ditebak, tema yang diangkat adalah ibu. Terdapat 25 penulis yang turut andil di dalamnya. Besar harapan semoga buku yang berisi 25 kisah ini mampu memberi arti tentang betapa tak terhitungnya kasih sayang seorang ibu Insya Allah. Aamiin.

Aku Memanggilnya Ibu adalah kisah nyata yang kutulis. Nggak nyangka bakal terpilih sebagai judul buku antologi ini. Aish, sesuatu kan? Alhamdulillah. Jadi teringat, waktu pertama kali mengirim naskah ini, penanggung jawabnya sempat komentar, "Sastra banget ya! Hanya orang tertentu yang bisa memahami."

Aku terdiam memikirkan kata-kata beliau. Bahkan sempat terpikir untuk mengganti naskah dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Eh tapi ujung-ujungnya tidak jadi. Aku tetap membiarkan naskah dengan bahasa kaku itu. "Biar ada yang beda, gitu." penuturan penanggung jawab proyek antologi inilah yang membuatku sedikit berbesar hati. Sekali-sekali beda, tidak mengapa kan?

Bagi teman-teman yang sudah menjejaki blogku sih, pasti sudah tahu gimana anehnya gaya tulisanku. Hahaha, aku sadar diri kok. Namun bagi yang pertama kali kenal, mungkin akan banyak celah untuk menilai dengan persepsi yang salah. Yah, bukankah kesemuanya itu termasuk proses pembelajaran? Jadi tidak mengapa ^^ yosh! Silakan menikmati buku ini!

.:: Salam Ibu ::.

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pernahkah kau merasa seperti seekor kecoak terbang yang terjepit di ketiak pintu? Ya, kecoak yang terbang begitu liarnya tapi dengan bodohnya malah berakhir di ketiak pintu. Pernahkah? Er-rr, aku tidak berharap akan merasakannya. Namun, ketika kau berada di ruang kuliah, duduk di bangku terdepan, tatapan dosen tertuju padamu -yang parahnya pura-pura mengantuk pun tidak membuatmu lepas dari perhatian- sedang kau terus melirik daun pintu, berharap perkuliahan segera berakhir lalu ngacir ke luar kelas. Fiuuhhh... rasanya benar-benar seperti kecoak terjepit. Ugh, tapi bukan kecoak mati ya.

Jarum jam yang menunjukkan waktu dhuhur sudah lewat sejam, membuat gerakku semakin gelisah. Wahai bapak dosen yang baik hati, mari kita break shalat dhuhur dulu. Aku berharap bisa berkata demikian dengan suara lantang. Sayangnya, suaraku tercekat di tenggorokan. Alhasil aku pun hanya bisa menyampaikan hal itu lewat isyarat tubuh. Eh, tapi kayaknya berhasil tuh. Menit berikutnya, aku sudah melanglang buana, mencari teman jalan ke mushalla. He eh, kuliahnya sudah selesai.

Tak lama, aku dan beberapa teman pun berjalan beriringan, memenuhi koridor kampus merah hitam. Tiba-tiba saja sebuah suara nyaring, messo sopran dan dayu memanggil namaku. Aku langsung tahu suara itu milik sekretaris pascasarjana teknik elektro. Aku memisahkan diri dari teman-teman lalu masuk ke ruang administrasi. Melihat kedatanganku, ibu paruh baya itu segera merespon, "Mau kemana Maya?"

"Ke mushalla di lantai 3, Bu."
"Waduh jauh sekali kan? Mending Maya shalat di sini saja."

Di sini? Loh, kan tidak ada ruang untuk shalat. "Tidak begitu jauh kok, Bu."
"Masuk saja ke ruangannya Prof. Di sana ada sajadah dan mukena punya Ibu. Kiblatnya menghadap ke pintu. Sudah punya wudhu belum? Tuh ada kunci wc, pakai saja."

Deg! Shalat di ruangan ketua prodi pascasarjana? Well, aku masih waras. "Makasih banyak, Bu. Tapi nanti tidak enak sama Prof. Lebih baik kalau-"
"Tidak apa-apa. Lagipula sedari tadi Prof. tidak ada, kok. Sudah sana, bergegaslah!"

Aku mati kutu. Rasanya seperti kejepit dua kali. Tak mampu berkilah lagi, akhirnya aku masuk ke ruangan Prof. Memilih spasi di belakang kursi tamu, aku menggelar sajadah. Menghadap kepada Rabb Yang Maha Agung, menunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba. Shalat dhuhur pun kutegakkan.

Sejujurnya ada rasa aneh yang timbul usai melaksanakan shalat dhuhur di tempat ini. Halo, ini ruang kerja loh. Parahnya lagi, ini ruang orang nomor satu yang harus kusegani. Antara mau tertawa atau tertekan, tapi bagaimanapun diam adalah pilihan bijaksana. Lagipula dalam hatiku, terpatri sebuah hadits Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu’anhu yang menyatakan, "Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, iringilah kesalahan dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi). Jadi aku pun tidak ambil pusing dengan pikiran-pikiran aneh yang sedari tadi membuntutiku. Tak ragu, aku segera berdiri lagi untuk melaksanakan shalat sunnah rawatib.

Drap! Tap! Tap! Tap!

Eh, bukankah itu suara langkah kaki? Bukankah itu bunyi gesekan antara sepatu pantofel dengan lantai porselen? Bukankah itu-?  Otakku kehabisan napas. Aku tak mampu berpikir. Drap! Tap! Tap! Aku masih dalam posisi shalat ketika sesosok pria dengan rambut nyaris tak berakar lagi di kepalanya, bertubuh jangkung, berkumis tipis dan beraroma jeruk lemon memasuki ruangan. Profesor datang! Tamatlah riwayatku. Goodbye, days!

Tidak, aku belum mati. Astaghfirullah yang benar saja, jantungku nyaris copot! Ide-ide luar biasa bertaburan secepat kilat. Apa aku harus segera menyapa profesor yang melihatku dengan sorot kaget tak tertahankan itu? Hai Prof. Apa aku harus membatalkan shalat sunnahku lalu melengos kabur? Permisi Prof. Apa aku harus pura-pura tak melihat, tak mendengar dan tak merasakan apapun? Maaf Prof.

Ck, aku tidak melakukan satu pun dari ide tersebut. Yang terjadi adalah aku memakai teknik kekosongan pikiran. Sebisa mungkin aku mengatur napasku, begitu pula dengan debaran jantungku. Hingga aku menuntaskan rakaat shalatku. Tak kuhiraukan lagi percakapan yang terjadi antara Prof. dan ibu sekretaris tentang pembagian mata kuliah yang mulai menggaung di dalam ruangan.

teknik kekosongan pikiran
Masih dalam mode teknik kekosongan pikiran - Credit

Seusai shalat, aku cepat-cepat melipat sajadah. Masih dalam mode teknik kekosongan pikiran, aku mencari-cari ponsel dan kunci mobilku yang tadi kuletakkan di atas kursi tamu. Tapi kok nggak ada ya? Aku berdiri dan mengedarkan pandangan. Gejolak histeris melejit dari mataku yang membelalak. Teknik kekosongan pikiranku terpatahkan. Celaka dua belas! Ponselku... kunci mobilku... ada di atas meja profesor. Sekedar informasi, barang-barangku hanya berjarak lima sentimeter dari tangan profesor. Aku baru ingat, merk dan tipe ponselku sama persis dengan milik profesor. Mungkinkah profesor mengira ponsel milikku adalah miliknya? Yaa Allah Yaa Rabb. Sesuatu banget ya. Aku gelagapan.

"Maaf, Prof. Permisi..." kataku sepelan mungkin hingga aku hampir tak mendengar suaraku sendiri saat mengambil barang-barangku dari atas meja. Ternyata aku tak perlu khawatir diperhatikan, karena detik ini juga aku bak miss invisible. Yup, pasalnya Prof. dan ibu sekretaris tengah larut dalam persiapan rapat antardosen. Dengan hati-hati, aku langsung keluar dari ruangan. Apa kau tahu bagaimana rasanya begitu kakiku memijak petak pintu keluar? Layaknya seorang narapidana yang baru saja bebas dari penjara, aku merasa begitu lega. Aku mengembuskan napas kencang-kencang.

"Tunggu...!!" suara barito Prof. menghentikan denyut legaku. Glek! Aku menelan ludah. Perlahan aku membalikkan badan dan berusaha menyunggingkan senyum, "Iya, Prof?"

"Tolong gantikan saya mengajar di kelas mahasiswa S1, mata kuliah material elektroteknik, semester ganjil ini. Bisa kan?"

Eh, apa? Prof. mengangkatku sebagai asistennya? Nggak salah nih? Ah seseorang, tolong cubit aku sekarang. Katakan aku sedang bermimpi. Katakan ini tidak nyata. Ya, katakan ini ilusi. Aku memandang profesor dalam diam. Membuyarkan lamunanku, Prof. mengulang pertanyaannya,"Bisa kan?"

Tergagap, aku menjawab, "...i-i-iya Prof. Insya Allah."

Refleks, Prof mengeluarkan senyum tipis. Aku lalu mengangguk dan pamit undur diri. Kali ini, aku benar-benar melangkahkan kakiku keluar dari ruangan. Masya Allah, hari ini aku benar-benar dibuat terpana oleh skenario hidup dari langit. Begitu lembut, kaku dan tak disangka-sangka. Pertanyaan terkeren hari ini adalah memangnya Prof. tidak marah ya, aku menggunakan ruangannya untuk shalat?

Tiba-tiba saja rasa haru dan kagum bercampur menjadi satu. Profesor menjadi sosok pemimpin yang begitu besar di mataku. Seperti khalifah Umar bin Al-Khattab Al-Faruq yang selalu berkata lantang kepada rakyatnya, "Sesungguhnya urusan kalian yang paling utama dan paling penting di depanku adalah ibadah shalat, barangsiapa yang menjaganya maka ia benar-benar telah menjaga agamanya, dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya maka ia lebih menyia-nyiakan urusan yang lain." (HR. Imam Malik).

Alhamdulillah Tabaarakallahu Ta'ala. Hari ini hatiku senang. Bukan karena tidak kena marah atau karena dipercaya sebagai asisten dosen. Ini lebih karena orang-orang di sekitarku begitu menghangatkan, laksana cahaya di atas cahaya. Subhanallah, selalu memberikan motivasi dan fasilitas dalam berbuat kebaikan. Ditambah lagi, tak pernah luput menomorsatukan akhlak yang baik. Ah betapa nikmatnya hidup berukhuwah.

Suasana hatiku begitu riang. Bahkan ketika ada yang mengetuk kepalaku, aku tak akan gusar tuh. Syalalala. Eh tunggu dulu. Tadi Prof. bilang mata kuliah apa? Material elektroteknik, huh? Ma-te-ri-al? Sepupunya medan elektromagnetik yang berisi rumus mematikan beserta turunannya itu? Uhuk, gawat! Itu mata kuliah yang dulu paling kubenci. Gila, tingkat stressku sepertinya meningkat. Arghhh!


Makassar, 26 Januari 2013 M / 14 Rabiul Awal 1434 H
*) Tulisan ini kudedikasikan untuk Peri Aurora.
Bagaimana, apa aku sudah sedikit berubah?
Hahaha, peace!


“Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Senangnya Hatiku”

View Post
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Peri Cahaya menggigit bibir bawahnya. Sedikit gusar, dia berteriak kepada pengawalnya. Dia meminta segala akses ke istana cahaya diputus. Tak peduli apapun yang terjadi, tak seorang pun diizinkan untuk berkeliaran. Bahkan dia mewanti-wanti, tak boleh ada jejak-jejak cahaya yang tersisa. Sehingga tak akan ada yang tahu dimana keberadaannya sekarang. Ah sebenarnya itu mustahil, toh Peri Cahaya sudah terlambat untuk bersembunyi. Apalagi ini sudah masuk masa genting. Dan dia seperti mati rasa. Untuk sementara waktu, satu-satunya solusi yang terpikir olehnya adalah mengisolasi diri dari negeri luar.

Ini Genderang Perang!
Dia seperti mati rasa - Credit

"Apa kau tahu kenapa dia il-feel padamu?" tanya Peri Aurora. Perlahan, Peri Cahaya menggeleng. Kedua manik matanya memandang lurus, tak memberikan jawaban. Tak lama, Peri Aurora mendesah dan melanjutkan bicaranya, "Menggores langit yang bermandikan cahaya dengan tinta absurd, lengah dan terperdaya oleh omongan troll, meninggalkan jejak di hutan terlarang dan bertingkah laku di luar tata krama peri. Sungguh prestasi yang menyesakkan. Maka pantaslah jika dia menginginkan sosok yang lebih baik darimu."

Peri Cahaya tersenyum kecut. Huh, maka janganlah memaksakan diri untuk mendekat. Dia tahu, dia bukan makhluk sempurna. Dia bahkan punya banyak celah. Namun tak disangkanya, dia akan dicela sesempurna itu. Dia kesal tapi tak bisa marah. Toh sekuat apapun dia menyangkal, orang-orang hanya akan melihat apa yang terlihat dari luar, dan menurut mereka itulah yang benar.

Seperti yang Harper Lee katakan dalam buku To Kill A Mockingbird, "Kau tak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya." 

Nah di atas semua itu, hey kau yang begitu mudahnya mengobrak-abrik pribadi seseorang dan menilainya hanya dengan sebelah mata. Pernahkah kau sungguh-sungguh ingin tahu bagaimana rasanya menjalani hidup orang lain? Pernahkah kau sungguh-sungguh ingin tahu bagaimana seorang Peri Cahaya menjalani hidupnya sehingga kau bisa dengan mudahnya mengatakan dia seperti ini dan seperti itu? Lucu sekali, situasi ini benar-benar membuat jantung gatal!

Kedua pipi Peri Cahaya merona, dia menahan getaran tak terdefinisi. Kemudian seulas senyum tersinggung di bibirnya, dia menatap Peri Aurora dan berkata, "Sampaikan terima kasihku padanya. Ternyata ada orang yang begitu peduli padaku. Sayangnya, bukannya memenangkan hatiku. Dia malah benar-benar berhasil mempermalukanku. Tahukah kau, aku merasa begitu terhina." 

"Tapi bagaimanapun, kau harus tetap introspeksi diri. Ini serius, untuk hal-hal yang berkelanjutan di masa yang akan datang nanti." kata Peri Aurora lembut.

Peri Cahaya mengangguk lemah. Tentu saja tak akan berakhir di sini. Bukankah ini baru awal?  Dia melipat tangan di depan dada lalu bertutur, "Hanya saja, aku tak bisa secepat itu berubah. Dan yang lebih penting lagi, aku tak akan berubah hanya karena dia! Hanya karena seorang manusia!" 

Teriakan Peri Cahaya memecah peredaran jantung. Dia pun berusaha mengontrol napasnya. Ada segurat rasa yang tak bisa dia jelaskan. Terus terang, dia kecewa. Bukan karena dia dinilai secara sembrono lalu dipaksa untuk berubah sesuai nilai yang dianggap lebih pantas. Bukan karena itu. Sama sekali bukan. Dia kecewa karena tidak dipercaya. Bagaimana mungkin kesan pertama bermula dari kecurigaan tak beralasan? Rasanya benar-benar menyedihkan.

Detik berikutnya, Peri Cahaya kembali berseru, "Lalu apa? Satu-satunya cara melumpuhkan kekacauan yang terjadi adalah..." perkataannya tertahan di tenggorokan, ada haru yang menyeruak tiba-tiba. Setelah menghela napas, Peri Cahaya menuntaskan kalimatnya, "...adalah dengan melenyapkan Kemilau Cahaya Emas tanpa sisa. Meruntuhkannya. Membumihanguskannya atau apalah namanya. Menghapusnya."

"Tidak! Apa-apaan itu? Kalau kau menghancurkannya lalu bagaimana denganku? Langit yang bermandikan cahaya adalah tempat yang nyaman bagiku. Apa kau tega menghilangkan satu-satunya tempatku melepas rindu ketika aku tidak bisa bertemu denganmu?" cerca Peri Bulan yang tiba-tiba muncul. Nuansa kaget menyelimuti udara kala itu. Peri Cahaya tersenyum canggung.

Dengan lincah, Peri Bulan mengguncang bahu Peri Cahaya. Dia berseru tegas, "Pikiran yang salah, ngawur dan asal-asalan! Memangnya dia siapa? Benar-benar menyebalkan. Hey, ayolah buka matamu lebar-lebar dan lihat sekitarmu. Begitu banyak orang-orang yang terinspirasi karenamu. Begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari tulisanmu. Kalau begitu saja dia tidak mengerti, dia tidak pantas mendapat perhatianmu!"

Mendengar raung Peri Bulan yang hampir frustasi, Peri Cahaya merasakan kehangatan. Well, dia tersadar, dia tidak boleh berpangku tangan. Memang ada hal-hal yang harus dimodifikasi dari tingkah lakunya, seperti yang dikatakan Peri Aurora. Namun dia juga tidak bisa meninggalkan Kemilau Cahaya Emas begitu saja, seperti yang dikatakan Peri Bulan. Dia harus menyatupadukan keduanya.

Dum! Durudum! Dum!

"Hey, apa kalian dengar suara itu?" tanya Peri Cahaya yang dijawab kedua peri lain dengan rona wajah kebingungan. Peri Cahaya mengerutkan alis, tak percaya. Jelas-jelas tadi ada suara berisik yang cetar membahana badai. Ah yang benar saja, masa hanya dia yang mendengarnya? Setelah memastikan ternyata Peri Aurora dan Peri Bulan benar-benar tidak mendengar suara asing itu, Peri Cahaya tertawa geli.

"Biar kuulangi untuk kalian. Dengarkan baik-baik. Dum! Durudum! Dum!"
"Iya, iya dengar kok. Apaan sih memangnya?"
"Ini genderang perang!"
"Haaaaaaaaah?"

"Aku bukan orang bodoh yang akan berdiam diri saja setelah diintimidasi begini. Aku tahu, aku lemah lagi tukang takut, tapi aku mau mencoba bersikap berani! Ya, karena keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan merampungkannya, apapun yang terjadi. Makanya aku akan memberanikan diri tetap mempertahankan ciri khasku dengan meminimalisir celaan yang timbul."

"Bagaimana caranya?"
"Entahlah. Yang jelas, sebagai langkah awal, aku akan membangun tembok tak terlihat."
"Faktanya, kau ini benar-benar bodoh, tahu!"
"Oh, terima kasih."
"Dan sinting."
"Yup."

Peri Aurora dan Peri Bulan melirik Peri Cahaya yang asyik dengan pikirannya sendiri. Spontan, mereka mencubit pipi Peri Cahaya dengan gemas. Tak ayal lagi, Peri Cahaya tertawa terbahak-bahak. Karena tertawa itu menular, Peri Aurora dan Peri Bulan pun akhirnya menghiasi udara dengan tawa.


Makassar, dengan membawa balutan luka transparan
22 Januari 2013 Miladiyah / 9 Rabiul Awal 1434 Hijriyah
Kalau menginginkanku, tunjukkan bahwa kau memahamiku

View Post